Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 131 - Arina Hamil


__ADS_3

Di sebuah cafe, seorang perempuan sedang duduk di salah satu meja sambil memainkan ponsel nya. Dia sedang bertukar pesan dengan sang kekasih, sesekali dia tersenyum manis saat membaca isi pesan yang di kirimkan oleh sang kekasih. Ya, dia memang sedang hamil saat ini dan dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pernikahan.


Namun pernikahan nya di sembunyikan untuk memperlancar rencana nya dengan seseorang. Kenapa dia mau melakukan hal ini? Jawaban nya karena uang, ya dia memerlukan uang yang tidak sedikit, mengingat mereka akan menikah dan juga memerlukan uang untuk bekal persalinan. 


"Kau sudah lama?"


"Sudah, kenapa kau lama sekali? Aku bisa saja berakar disini." Jawab Mecca, ya perempuan yang sedari tadi menunggu disini, di cafe ini adalah Mecca. Dia sepakat untuk bertemu dengan Sintia malam ini. 


"Ckk, kau pikir jalan kesini itu macet nya bukan main?" 


"Sudahlah, jadi kenapa kau meminta ku untuk bertemu jam segini? Ini sudah terlalu malam." Ucap Mecca, dia menatap Sintia yang baru saja duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan nya. Perempuan itu merasa ada hal yang mungkin darurat. 


Sintia adalah wanita paruh baya yang licik, dia yang sudah merencanakan semua ini. Alasan nya? Tentu saja, karena dia tidak menyukai Arina karena bagi nya Arina adalah gadis kampung, level nya berada jauh di bawah nya. Mereka tidak setara, karena Sintia tahu seperti apa keluarga perempuan yang menjadi kekasih putra nya. 


Karena ketidak sukaan itu, akhirnya membuat Sintia merancang rencana sejahat ini agar putra nya bisa berpisah dengan Arina dan akhirnya dia hancur. Kenapa Sintia bisa sejahat itu pada anak kandung nya sendiri? Semua karena harta, dia tidak ingin harta warisan Rama yang melimpah ruah itu jatuh ke tangan Marvin. Dia ingin memiliki nya seorang diri, benar-benar wanita yang serakah. Entah dimana Rama bisa bertemu dengan wanita ular seperti Sintia.


Selain serakah, Sintia juga bermuka dua. Kenapa bermuka dua? Ya, karena di depan suami dan putra nya, dia bertingkah seolah dia mendukung niatan putra nya untuk melamar Arina. Tapi di belakang, dia benar-benar tidak menyukai gadis itu. Penampilan nya saja terlihat udik dan kampungan, dia bahkan heran sendiri kenapa Marvin bisa menyukai gadis seperti itu. 


Padahal kalau dia mau, Marvin bisa mendapatkan yang jauh lebih baik, dari segi penampilan dan juga kekayaan nya. Bahkan, anak-anak teman sosialita nya ribut menanyakan Marvin dan status nya yang masih single atau sudah memiliki kekasih, mereka sudah jelas terjamin karena dia berteman dengan orang tua mereka. 


"Rencana kita terancam gagal, Mecca!"


"Kok gagal? Kenapa? Bukankah itu sudah membuat Marvin putus dengan Arin, bahkan Om Rama sudah percaya kalau aku ini sedang hamil anak nya." Jawab Mecca. Benar, memang awalnya semua berjalan seperti rencana. 


Tapi sekarang, semua nya seolah berbalik. Bahkan Rama, sekarang sudah mulai memberontak. Dia tidak lagi bisa di kendalikan seperti dulu. Seperti nya dia sudah mulai sadar dengan apa yang salah pada dirinya sekarang. 


"Sekarang berbalik, Mecca. Bahkan Rama sekarang sudah tidak mau aku atur lagi. Jadi, kita harus bagaimana sekarang?"


"Ya mana saya tahu?"


"Sialan, aku meminta mu untuk datang kesini ya buat membicarakan tentang rencana kita, aku gak mau kalau sampai rencana ini gagal berantakan, Mecca."


"Jadi, kita harus gimana?"


"Jalan satu-satunya adalah, kita harus melenyapkan Arina. Perempuan itu adalah sumber dari masalah ini."


"Lagian nih ya, kenapa sih Tante itu gak mau lihat dulu seperti apa sosok gadis yang di cintai sama Marvin, siapa tahu dia memiliki kelebihan." Ucap Mecca sambil meminum jus di gelas nya, berhadapan dengan nenek sihir seperti Sintia ternyata menguras tenaga dan juga membuat nya haus. 


"Kelebihan apa? Yang dia miliki hanya kekurangan, dia miskin dan tak pantas untuk bersama Marvin."


"Tak pantas atau memang Tante yang egois dan tak mau mencoba untuk mencari tahu yang sebenarnya tentang Arina?"


"Kenapa kau jadi seolah menyudutkan aku hah? Bukankah dari awal kau juga setuju untuk melakukan hal ini karena uang." Ucap Sintia mendebat perempuan di depan nya. 


"Jujur saja, aku sedikit merasa bersalah pada Marvin. Dia berhak bahagia dengan pilihan nya sendiri, Marvin sudah dewasa dia bisa memilih dan memilah mana yang baik dan tidak, Tante. Ada baiknya kalau Tante batalkan saja rencana ini dan cobalah untuk mulai menerima Arina."


"Tidak, tidak akan pernah, Mecca! Kenapa kau jadi begini hah?" Tanya Sintia. Dia tidak suka saat mendengar perempuan itu seolah membela Marvin dan Arina sekarang ini. Padahal, dari awal dia sudah setuju untuk melakukan rencana ini sebatas hubungan kerja sama. Kalau rencana nya sudah selesai dan sama-sama mendapatkan apa yang mereka tuju, mereka akan bertindak seolah tidak pernah mengenal satu sama lain. 


"Aku hanya merasa jahat, karena uang aku menjadi seperti ini. Itu saja."


"Ohh, baiklah. Kau ingin membatalkan kerja sama kita ini di tengah jalan, begitu? Oke, aku tidak masalah. Tapi aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang setelah ini, kau akan menderita hingga kau memohon sendiri untuk kematian!" Ancam Sintia membuat kedua bola mata perempuan itu membulat sempurna. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan bagaimana cara wanita itu berpikir. 


Dia benar-benar terlihat sangat jahat, sungguh demi apapun dia merasa ikut andil merasa jahat dengan melakukan hal ini. Tapi saat dia ingin membatalkan semua nya, sudah terlambat apalagi setelah mendengar ancaman yang di ucapkan oleh Sintia. Secara langsung, dia akan membuat hidup nya berantakan. Dia tidak ingin hal itu, dia tidak mau kelak anak nya lahir disaat keadaan nya sangat buruk. 


"Jangan berani macam-macam, apalagi melakukan hal-hal nekat yang akan membuat dirimu sendiri berada di dalam bahaya, Mecca. Lakukan rencana awal kita dan buat hubungan Marvin juga Arina kandas! Kau paham?" 

__ADS_1


"Ckk, baiklah." Jawab Mecca. Setelah mengatakan hal itu, dia pun pergi tanpa sepatah kata lagi. Dia berjalan angkuh, menjauh dari cafe itu dengan menenteng tas mahal nya. 


"Hufftt, maafkan aku Vin. Aku mantan yang buruk ya karena merusak hubungan baru mu dengan wanita baru juga." Gumam Mecca. Dia pun menunduk lalu meminum jus nya dengan rakus. Nama nya juga bumil ya kan? Dia sedang hamil tiga bulan sekarang ini. Tapi bukan dengan Marvin, tapi dengan kekasih nya.


Tak lama kemudian, seorang pria datang dengan wajah kusut nya. Wajah nya terlihat sedikit lebam, apa yang terjadi?


"Sayang.."


"Kamu datang juga akhirnya, gimana? Udah dapet kerjaan nya?" Tanya Mecca dengan antusias. Pria di depan nya terlihat menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia sudah banyak menyebar surat lamaran kerja, namun hingga saat ini belum ada yang tertarik untuk memanggil atau menjadikan nya karyawan.


"Maaf, sayang.."


"Belum ya? Tidak apa-apa, tadinya aku udah ngarep banget lho, yang."


"Kenapa, sayang?"


"Aku gak mau lanjutin kerja sama aku sama Tante Sintia, sayang. Aku ngerasa jahat banget kalau semisal aku hancurin hubungan Marvin sama Arina." Ucap Mecca dengan lirih. 


"Kan aku juga sudah bilang, aku bakalan usahakan untuk biaya hidup, biaya pernikahan dan juga persalinan. Tapi kamu malah memutuskan untuk bekerja sama dengan tante-tante itu." Ucap Ari, dia adalah kekasih Mecca. Mereka sudah menjalani hubungan selama beberapa tahun, mereka juga sama-sama menempuh pendidikan di Australia.


Beda nya, Mecca menggunakan jalur umum sedangkan Ari menggunakan jalur prestasi alias beasiswa. Dia mendapatkan beasiswa untuk bisa menempuh pendidikan di sana sampai lulus. 


Disana juga, dia bertemu dengan Mecca secara tidak sengaja saat dia bekerja paruh waktu untuk biaya hidup di negeri orang yang semua nya serba beli. Hingga hubungan mereka berlanjut dan disini lah sekarang. 


Ari adalah kating bagi Mecca, kedua nya pulang dua bulan lalu dengan tujuan untuk meminta restu karena saat itu Mecca memang sudah hamil. Tapi ternyata orang tua Mecca menolak keras dan akhirnya mereka memutuskan keluar dari rumah dan hidup mereka sengsara sekarang.


"Maaf, sayang. Aku tergiur dengan uang yang sudah di janjikan oleh Tante Sintia." Lirih Mecca. Tanpa kedua nya sadari, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan semua nya dari awal, pria itu tersenyum menyeringai.


"Bagaimana kalau aku bersedia membayar empat kali lipat jika kau jujur?" Sontak saja, kedua nya menoleh ke arah asal suara. Pria itu tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pasangan kekasih itu.


"M-maksud nya?"


Dia tidak perlu mencari informasi lagi, karena semua informasi yang dia inginkan, bisa dia dapatkan semua nya disini. Itu sedikit meringankan pekerjaan Andy. 


"250 juta, Tuan."


"Panggil saja Andy, nama ku Andy. Aku asisten Tuan Darren."


"Tuan Darren? Pemilik perusahaan.." belum juga Ari menyelesaikan ucapan nya, Andy sudah menyela lebih dulu.


"Ya, Darren yang itu." Jawab Andy membuat Ari mengangguk-anggukan kepala nya.


"Tapi, apa hubungan nya Tuan Darren dan Marvin?"


"Dia kekasih dari teman istri nya." 


"Arina?"


"Ya, kau mengenal Arina?" Tanya Andy membuat Mecca menggelengkan kepala nya. Dia jujur, karena dia memang tidak mengenal siapa Arina. Bahkan wajah gadis itu saja, dia tidak mengetahui nya. Hanya tahu nama nya saja, itu pun dari Sintia. 


"Tidak, wajah nya saja saya tidak tahu."


"Ckk, bagaimana bisa kau berniat menghancurkan sebuah hubungan tanpa tahu siapa saja dan seperti apa orang yang terlibat di dalam nya." Ucap Andy sambil menggelengkan kepala nya. Dia pun mengambil ponsel nya dari saku jas nya dan menunjukkan foto Arina yang sedang tersenyum manis. Disana juga ada Sherena yang berpose di belakang Arina.


"Yang depan adalah Arina, yang satu nya lagi Sherena, istri Tuan Darren." 

__ADS_1


"Cantik sekali, pantas saja Marvin mencintai Arin. Dia memang cantik dan terlihat seperti gadis baik-baik."


"Ya, dia memang gadis yang baik. Dia juga teman dari calon istriku." Jawab Andy sambil kembali mengantongi ponsel nya.


"Maksud nya, Tuan?"


"Istri Tuan Darren, kekasih Marvin dan pacar ku bersahabat, ada satu lagi April nama nya." Jelas Andy. 


"Berarti dia gadis yang memiliki kelebihan karena bisa dekat dan berteman dengan istri Tuan Darren." Lirih Mecca. Tiba-tiba saja dia merasa rendah sekarang ini, apalagi saat melihat wajah cantik Arina. Pantas saja Marvin memperjuangkan nya habis-habisan, karena Arina memang layak di perjuangkan seperti itu karena dia memiliki semua yang tidak dia miliki.


"Tentu saja, jadi bagaimana dengan penawaran ku?"


"Apa?"


"Tidak sulit, kau hanya harus berkata jujur di hadapan Rama dan membongkar semua kebusukan wanita bernama Sintia itu."


"Tapi, aku tidak ingin aku atau anak ku hidup dalam ancaman, Tuan."


"Ancaman apa? Apa ancaman wanita itu?" Tanya Andy. Mecca menganggukan kepala nya, dia benar-benar takut saat wanita itu mengancam nya. Bagaimana kalau dia hidup menderita, tidak masalah kalau hanya dirinya yang menderita karena dia bersalah dalam hal ini. Tapi dia tidak ingin anak yang saat ini berada di dalam kandungan nya merasakan hal yang sama, dia ingin anak nya hidup dengan baik. 


"Iya, Tuan."


"Wanita itu takkan bisa apa-apa tanpa uang nya, lagi pula dia bukanlah siapa-siapa jika bukan karena Rama yang memodali nya."


"Tapi.."


"Tidak perlu khawatir, kau akan mendapatkan uang 4 kali lipat dari yang di janjikan oleh wanita itu. Bukankah itu besar dan tugas mu juga mudah? Hanya tinggal bicara dengan jujur di depan Rama. Itu saja." Jawab Andy membuat kedua nya terdiam. Apalagi Ari, sedari tadi dia hanya diam saja menyimak percakapan antara kekasih dan juga orang yang entah siapa. 


"Kau juga memerlukan pekerjaan bukan? Aku bisa membantu mu. Kau hanya perlu bicara secara langsung dengan atasan ku, bagaimana?"


"Baiklah, aku akan berusaha."


"Tapi, ingat jika semisal wanita itu menekan mu atau dia meminta mu melakukan apapun, lakukan saja. Jangan membuat wanita itu curiga, biarkan saja dia merasa di atas awan sekarang."


"Baiklah, Tuan."


"Kau bisa di percaya, bukan?" Tanya Andy, Mecca dan Ari menganggukan kepala nya. Dia tidak bisa melakukan hal yang jahat lagi, dia ingin berubah. 


"Tentu saja."


"Aku percaya padamu, kalau kau berbohong, lihat saja aku lebih menakutkan dari wanita itu." Jawab Andy dengan tatapan tajam nya, membuat kedua nya kompak menelan ludah nya dengan kepayahan karena takut akan tatapan pria itu. Tentu saja, Andy jauh lebih berkuasa di bandingkan dengan Sintia yang mengandalkan harta sang suami. 


"Baiklah, aku harus pergi. Ini nomor ponsel ku." Andy pun menyimpan nomor ponsel nya dan segera pergi. Meninggalkan pasangan kekasih itu yang masih kebingungan dengan situasi nya sekarang ini.


Sedangkan di rumah sakit, saat ini Marvin sedang berada di ruangan tempat sang kekasih di ruangan rawat.


"Tuan.."


"Iya, sus. Ada apa? Bagaimana keadaan nya?"


"Dia hanya kelelahan saja, apa anda kalau dia sedang mengandung?" Tanya perawat itu, membuat kedua mata Marvin membulat. 


"Dia sedang hamil?" Tanya Marvin, perawat itu menganggukan kepala nya. Sungguh, ini kabar yang mengejutkan. Dia harus bereaksi seperti apa sekarang? Dia merasa sangat bahagia, tentu saja. Tapi di sisi lain, dia memiliki masalah yang sangat besar sekarang ini. Mempertaruhkan hidup nya, sungguh dia harus apa sekarang? 


'Bagaimana ini? Satu nya mengaku-ngaku sedang hamil anak ku, lalu sekarang Arina juga hamil? Maaf, bukan aku tidak menerima kabar baik ini, tapi aku bingung sekarang. Harus bagaimana?'

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2