
Sore hari nya, Sherena dan Darren pergi ke bandara untuk mengantarkan orang tua Sherena. Mereka akan pergi ke luar kota selama beberapa hari, sampai keadaan nenek nya Sherena sedikit membaik.
"Hati-hati ya, Ma, Pa." Ucap Sherena, sebenarnya dia merasa berat hati untuk melepaskan kedua orang tua nya untuk pergi, tapi mau bagaimana lagi. Akan sangat tidak mengenakan kalau semisal Arya tidak pulang sekedar menjenguk orang tua nya yang sakit keras.
"Iya, sayang. Kamu jangan nakal sama Darren ya? Jangan minta macam-macam, jangan ngerepotin Darren." Nasehat Arumi, dia memeluk putri nya cukup lama, lalu membingkai wajah cantik Sherena dan mengecup kening putri kesayangan nya itu dengan hangat.
"Iya iya, Ma." Jawab Sherena, kedua mata nya berkaca-kaca, mengingat kalau selama beberapa hari ini dia pasti akan sangat merindukan kedua orang tua nya.
"Udah, jangan nangis dong. Jangan cengeng, malu tuh sama calon suami kamu." Ucap Arya dengan senyum menggoda nya. Entahlah, sekarang dia memang sangat suka menggoda putri nya.
"Ihhhh, Papa!" Rengek Sherena membuat Arya terkekeh, dia pun meraih putri nya ke dalam dekapan hangat nya.
"Jangan nakal ya? Nurut apa kata Darren." Ucap Arya lirih, sambil mengusap puncak kepala putri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya, Pa. Sheren gak bakalan nakal kok, janji."
"Baguslah kalau begitu." Arya tersenyum lalu mengecup kening Sherena singkat lalu melerai pelukan nya.
"Darren, saya titip Sherena dulu ya. Tolong kamu jaga dia dengan baik, kalau misalnya dia nakal dan sulit di atur, bilang saja sama saya." Arya memeluk Darren ala pria, dia merasa cukup nyaman saat bicara dengan Darren. Mungkin karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh, membuat Arya merasa ada teman nya.
"Baik, Pa."
"Ya sudah, sebentar lagi pesawat kami akan take off." Ucap Arya sambil tersenyum.
"Hati-hati, Ma, Pa. Kalau sudah sampai langsung kabarin Sheren ya?"
__ADS_1
"Iya, sayang." Jawab Arumi, kedua nya pun pergi dengan Arya yang sibuk membawa koper berisi perlengkapan mereka selama beberapa hari disana.
Sherena melambaikan tangan nya, dia menatap punggung kedua orang tua nya yang perlahan menjauh lalu menghilang. Hati Sherena cukup sakit, andai saja Nenek nya melihat dirinya sebagai cucu dan tidak membeda-bedakan nya, pasti hubungan mereka akan sangat dekat seperti kebanyakan nenek dan cucu lain nya.
Tapi ya sudahlah, ini juga bukanlah kemauan nya. Gadis cantik itu pun terlihat murung. Darren datang dan langsung memeluk nya dengan erat.
"Hanya sementara, sayang. Sabar ya? Doakan saja agar nenek nya segera sembuh dan kedua orang tua kamu cepat pulang, oke?" Ucap Darren, Sherena pun menganggukan kepala nya.
"Kamu mau makan sesuatu? Misal nya, es krim?" Tanya Darren sambil tersenyum, Sherena mendongak menatap wajah tampan Darren dengan mata yang berbinar cerah karena dia memang sedang ingin makan es krim hari ini.
Sudah sore hari, bahkan hampir petang tapi cuaca nya masih sangat panas. Bahkan Sherena menggunakan dua kali sunscreen untuk melindungi wajah nya dari sengatan cahaya matahari.
"Mauuuu.."
"Dih, kamu ini bisa aja. Dasar buaya!"
"Heh, siapa yang kamu katai buaya hmm? Gini-gini juga aku ini pacar sekaligus calon suami kamu lho." Ucap Darren, dia pun mengacak rambut Sherena dan merangkul gadis itu dari samping.
"Iya iya, si paling calon suami."
"Ciee, sayang ku.." Goda Darren sambil terkekeh kecil, sedangkan Sherena hanya memutar mata nya jengah menanggapi godaan sang kekasih.
"Btw, sejak kapan kamu makin pendek? Ini kok perasaan makin pendek aja deh."
"Heh! Aku tahu, aku pendek kok. Jadi gak usah ngeledekin, bikin sebel aja." Ucap Sherena ketus, membuat Darren terkekeh. Dia gemas hingga mencubit gemas bibir Sherena yang sedang manyun-manyun karena kesal dengan godaan kekasih nya itu.
__ADS_1
"Yang, mau beli es krim nya dimana?" Tanya Darren.
"Di tempat biasa aja, lagi pengen makan es krim green tea nya, pasti enak."
"Oke, sekalian jalan-jalan di mall. Kamu harus beli pakaian dinas, oke?" Ucap Darren membuat Sherena membulatkan kedua mata nya. Mereka baru saja duduk di mobil dan Sherena sedang memasangkan seat belt nya begitu Darren mengatakan hal yang membuat gadis itu benar-benar terkejut.
"P-pakaian dinas?"
"Iya, sayang. Lingerie seksii gitu."
"Ngapain pakai pakaian seperti itu? Nanti juga bakalan di buka. Mendingan pake baju biasa aja, nanti juga bakalan telanjaang, iya kan?" Tanya Sherena membuat Darren terkekeh. Seketika otak kotor nya mulai bereaksi. Dia mulai membayangkan tubuh molek sang gadis berada di atas ranjang nya, pasti sangat wah.
"Ya sudah kalau begitu, aku setuju-setuju aja. Lagian nanti juga bakalan di buka, bener juga."
"Hmmm, jadi kamu harus nyogok aku dulu biar aku kasih itu. Gimana?" Tanya Sherena. Darren terkekeh pelan, dia pun menghidupkan mesin mobil nya lalu mulai melajukan nya dengan kecepatan rata-rata.
"Di sogok apa hmm? Jajanan, chiki, es krim atau apa?"
"Hehe, lagi pengen beli tas. Boleh ya?" Tanya Sherena. Jujur saja, saat ini dia sedang mengincar sebuah tas keluaran terbaru dengan harga yang cukup mahal.
"Boleh, aku belikan sekalian sama toko nya."
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1