
"Bagiku sekarang, kau tidak lebih dari sekedar sampah, Rita. Dan kau tahu apa yang menyukai sampah? Lalat, hanya lalat yang menyukai sampah."
"Darren!"
"Jangan pernah sekali-kali kau meninggikan suara mu di depan ku, Rita. Dulu, memang aku tunduk padamu. Tapi sekarang, jangan mimpi aku akan kalah. Aku bisa saja menghancurkan mu hanya dengan sekali jentikan jari." Darren mengatakan ancaman itu dengan suara datar, juga wajah nya. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, alias datar seperti tembok.
"Kau lupa kalau dulu kau juga pernah menjadi lalat, Darren."
"Ya itu dulu, tapi sekarang lalat itu telah berubah menjadi lebah yang hanya mendekati bunga, bukan sampah." Jawab Darren membuat Rita mati kutu. Dia kebingungan harus mengatakan apa lagi pada Darren.
"Tak bisakah kita seperti dulu lagi, Darren?" Tanya Rita, akhirnya malah ucapan konyol seperti itu yang keluar dari mulut Rita. Tentu saja, itu membuat Darren tertawa begitu mendengar ucapan Rita yang terdengar sangat lucu bagi Darren.
Dulu, wanita itu sendiri yang menyia-nyiakan nya, bahkan membuang nya demi pria lain yang lebih kaya dari nya. Lalu sekarang, dengan tidak tahu mu nya dia kembali dan meminta Darren untuk seperti dulu? Semudah itu? Jawaban nya tidak.
"Tidak, Rita. Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak mau mengulang lembaran kelam bersama mu. Kau terlalu materialistis dan ambisius."
"Aku bisa mengubah nya kalau kau mau kembali bersama ku, Darren." Ucap Rita tanpa rasa malu sedikit pun. Kalau wanita terhormat, pasti akan malu. Tapi seperti nya itu tidak berlaku bagi Rita.
"Cihhh, tidan akan pernah. Aku takkan mau kembali padamu, itu sama saja seperti aku membuat perjanjian untuk kematian lebih awal."
"Darren, apa maksud mu?" Tanya Rita lagi, dia menatap Darren yang juga tengah menatap nya dengan wajah datar nya. Tatapan tajam menghunus seperti samurai yang siap merobek kulit mangsa nya.
"Kembali bersama mu itu seperti aku mencari penyakit. Jadi maaf, aku lebih memilih bersama Sherena dari pada kau!"
"Darren, apa bagus nya sih gadis itu? Hingga kau selalu membanggakan nya di depan ku, bagiku dia hanya gadis ingusan." Tanya Rita lagi, membuat Darren tertawa. Wanita itu sudah beberapa kali mengajukan pertanyaan seperti ini, Darren juga sudah mengatakan semua keunggulan Sherena di bandingkan dengan nya. Tapi, semua nya terus berulang-ulang. Seolah Rita tidak pernah puas dengan jawaban yang di berikan oleh Darren.
"Pertanyaan murahaan, sama seperti yang mengajukan pertanyaan." Sinis Darren, dia pun mengambil gagang telepon dan memencet tombol-tombol angka disana.
Hanya beberapa menit berselang, dua orang pria berseragam keamanan masuk ke ruangan Darren dan menyeret paksa wanita itu dari hadapan Darren. Pria itu tersenyum smirk melihat Rita meronta saat di seret oleh petugas keamanan yang sengaja Darren hubungi.
"Lepaskan aku, sialan. Aku bisa sendiri."
"Baiklah, kalau begitu."
Dughh..
Mereka melepaskan cekalan tangan nya di tangan Rita, tapi dengan kasar hingga membuat tubuh wanita itu terdorong ke depan dan tak sengaja lutut nya mengenai ujung meja resepsionis.
"Awwhsss.." wanita itu meronta, tapi seperti nya petugas keamanan pun tidak peduli, mereka kembali menyeret wanita itu hingga di pintu keluar perusahaan.
"Pergilah, kalau bisa jangan datang kemari lagi. Kedatangan mu membuat kami kerepotan." Ucap nya dengan sinis. Memang petugas keamanan itu banyak tugas nya kan, kalau Rita datang dan membuat onar maka pekerjaan mereka akan semakin bertambah. Belum lagi, mereka harus siap menerima ocehan Darren.
"Kalian cuma petugas keamanan, jangan terlalu bangga. Saat aku kembali menjadi istri Darren, kalian adalah orang yang akan pertama kali aku pecat!" Ancam Rita. Tapi, bukan nya takut kedua petugas keamanan itu malah cekikikan, merasa lucu dengan apa yang wanita tak tahu malu itu ucapkan.
"Kalau mau halu jangan disini, Mbak. Malu-maluin tau gak."
"Halu nya jangan ketinggian, Mbak. Kalau jatuh sakit nya sampai di dunia nyata." Celetuk mereka, membuat Rita terpojok dan akhirnya dia memilih pergi dari perusahaan Darren dengan membawa hati yang dongkol.
Sedangkan di sekolah, ke empat gadis cantik itu berjalan bersama-sama di lorong sekolah, mereka baru saja menyelesaikan makan siang nya di kantin. Hingga saat di lorong yang cukup sepi, terlihat Agnes dan beberapa teman nya menghadang jalan Sherena dan teman-teman nya.
"Wah, gak ada kapok-kapok nya tuh orang. Udah gue gampar juga, apa harus gue tampar lagi ya?" Ucap Meysa sambil melihat-lihat tangan nya.
"Udah, biarin aja dulu. Jangan riweh mau gaplok orang aja Lo." Peringat April, barulah Meysa menurut dan memilih diam. Dia benar-benar diam, tidak bicara lagi.
__ADS_1
"Langsung kicep dia, Prill." Ucap Arin.
"Biarin aja, bagusan kalo dia diem biar gak ngerecok." Acuh April sambil mengendikan bahu nya, toh Meysa takkan bisa berdiam diri lama-lama. Paling beberapa menit lagi, dia sudah mengoceh kembali.
Hingga posisi mereka sudah saling berhadapan, April berada di depan bersama Sherena. Sedangkan Arin dan Meysa berada di belakang kedua gadis itu.
"Hai, Sheren."
"Hmm, ada apa?" Tanya Sherena dengan wajah datar nya. Dia tidak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa pada gadis angkuh di depan nya. Agnesia Marrol, adalah putri tunggal dari pasangan Hans Marrol dan Rita Samnia.
Hans adalah pria yang membuat Rita mau meninggalkan Darren dulu, dan sekarang dia sudah meninggal karena suatu penyakit yang menggerogoti tubuh nya selama beberapa tahun hingga akhirnya dia tidak bisa bertahan. Seluruh kekayaan nya di wariskan untuk Rita dan juga Agnes dengan masing-masing terbagi dua.
Agnes tersenyum sinis saat dia berhadapan dengan Sherena, nyata nya Sherena memang gadis yang cukup menonjol di bandingkan tiga teman nya yang lain. Wajah nya juga paling cantik jika di banding yang lain, apalagi di kelas. Seperti nya Sherena adalah gadis yang tercantik.
"Tidak ada, aku hanya ingin meminta nomor ponsel calon papa tiriku."
"Maksud mu apa?" Tanya Sherena dengan tenang, meskipun dalam hati dia sudah mengumpat tidak karuan karena kesal melihat wajah menyebalkan Agnes, belum lagi senyuman nya yang terlihat jelas kalau dia sedang mengejek nya.
"Darren akan kembali dengan ibu ku, dia akan merebut nya dari mu. Otomatis, dia akan menjadi ayah tiriku bukan?" Ucap Agnes. Jujur saja, Sherena terkejut mendengar ucapan gadis itu. Tapi, sedetik kemudian dia tertawa.
"Aku rasa itu hal yang tidak mungkin bahkan terdengar mustahil, Agnes."
"Apa maksud mu hah?" Tanya Agnes nyolot, tapi April dan Meysa langsung berdiri di depan Sherena. Kedua gadis itu melindungi Sherena, kalau sampai gadis itu terluka atau tergores sedikit saja, bisa di pastikan saat itu juga mereka akan menghadapi kemarahan seorang Darren.
"Aku rasa, Darren tidak akan tergoda dengan bekas nya sendiri. Itu saja." Jawab Sherena dengan senyum mengejek nya, gantian kini Sherena yang menunjukkan senyum itu. Berganti, wajah Agnes terlihat sangat terkejut saat ini.
"Jaga kata-kata mu, Sheren. Ibu ku bukan wanita seperti itu!" Sewot Agnes membuat Sherena terkekeh.
"Seperti itu dalam artian apa hmm? Aku hanya mengatakan kalau Darren tak mungkin berminat dengan bekasan nya sendiri. Bukankah itu benar adanya? Nyonya Rita alias ibu mu adalah mantan istri tunangan ku." Jawab Sherena, dengan senyum kecil nya dia menunjukkan cincin berlian yang tersemat manis di jari manis nya.
"Tunangan?"
"Hmmm, dia melamar ku. Kalau semisal dia memang akan kembali pada ibu mu, jelas tidak mungkin rasa nya kenapa Darren malah melamar ku? Mari berpikir secara logis, jangan bertindak boddoh. Karena pada dasarnya, otak itu di gunakan untuk berpikir bukan hanya sekedar pajangan isi kepala." Jawab Sherena sambil tersenyum. Dia pun berjalan dan dengan sengaja menyenggol pundak Agnes.
"Jangan macam-macam dengan ku, atau kau akan tahu akibat nya. Selama ini aku diam karena aku menjaga nama baik ku dan Darren di sekolahan ini. Tapi, jika kau masih berusaha memojokan aku seperti ini, maka tanggung akibat nya sendiri. Paham?" Bisik Sherena membuat tubuh Agnes menegang.
Setelah mengatakan hal itu, Sherena pun pergi bersama teman-teman nya, meninggalkan Agnes dan teman nya di lorong yang sepi itu.
"Gilaaa, Sheren Lo keren banget sih kata gue." Ucap Meysa sambil merangkul Sherena dari samping.
"Bener, si Agnes langsung kicep." Arina membenarkan apa yang di katakan oleh Meysa.
"Temen gue keren sih." April juga ikut bicara.
"Dahlah, ini kepala gue membesar gara-gara kalian muji gue kayak gini. Takut meledak atau terbang gitu." Celetuk Sherena, membuat ketiga teman nya itu kompak tertawa. Ada-ada aja Sherena ini, masa ada kepala membesar kayak di pompa ya? Padahal kan bukan balon ya.
"Sini gue tambahin angin nya." Ucap Meysa.
"Enak aja, kepala gue gak kempes ya."
"Bener sih, kepala Sheren itu berisi. Otak nya encer banget, sampe kita iri anjir." Ucap April sambil terkekeh. Selain famoush di sekolah karena kecantikan nya dan masuk di geng yang tepat, Sherena juga menjadi salah satu siswi yang cerdas. Jadi, jangan heran kenapa Sherena banyak di kenal oleh adik-adik kelas nya.
Mereka pun masuk ke kelas dan kembali mengikuti pelajaran hingga sore hari. Setelah selesai dengan pelajaran terakhir, ke empat gadis itu berkumpul di dekat gerbang. Biasa nya Sherena akan pulang naik ojek online, tapi hari ini kebetulan Darren pulang lebih awal. Jadi sekalian dia akan menjemput sang kekasih di sekolah.
__ADS_1
Tapi, tentu nya teman-teman nya takkan meninggalkan Sherena sendirian. Jadi mereka menemani Sherena menunggu Darren datang. Marvin juga ada disana, dia belum pulang karena menunggu kekasih nya, Arina.
Solidaritas yang di tunjukkan dari pertemanan ke empat gadis itu benar-benar terjalin dengan kuat. Disaat suka maupun duka, mereka saling mendukung satu sama lain. Mereka tahu benar-benar arti nya berteman seperti apa, dan Sherena menyukai teman-teman baru nya ini.
Dulu di sekolah lama nya, tidak ada persahabatan seperti ini, mereka terlalu memandang uang dan penampilan. Terkadang Sherena di jauhi hanya karena dia pintar dan teman nya merasa tersaingi, jadilah dia jadi bahan bully. Tapi disini, tidak ada yang seperti itu ya kecuali yang hari itu di keluarkan dan juga Agnes, dia masih beruntung saja hari itu hanya kena skors satu minggu.
"Nah, itu dia mas-mas ganteng punya Sheren." Ucap Meysa saat melihat mobil sedan berwarna putih itu mulai mendekat. Sheren tersenyum kecil begitu melihat ucapan Meysa.
Darren membunyikan klakson dan Sherena pun langsung berpamitan pada teman-teman nya untuk pulang lebih dulu.
"Gue duluan ya, makasih banget kalian udah mau nemenin gue."
"Yaelah, santai aja kali. Kayak sama siapa saja, lagian kita gak bakalan tega biarin Lo nunggu sendirian." Ucap Arina, Sherena terkekeh. Lalu dia pun masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Darren.
Sherena menurunkan kaca jendela nya, lalu melongokkan kepala nya dan melambaikan tangan nya pada teman-teman nya saat mobil itu perlahan mulai menjauh. Setelah memastikan Sherena pulang bersama pria nya, semua nya pun pulang. Arina pulang bersama Marvin dengan berboncengan motor, sedangkan Meysa dan April naik mobil jemputan.
"Sayang.."
"Hmmm, apa sayang?" Tanya Darren tanpa menoleh, dia fokus mengemudikan mobil nya karena di daerah ini ada sedikit jalan yang cukup jelek.
"Bagaimana pekerjaan di kantor, lancar?"
"Lancar-lancar aja sih, kalau aja gak ada tamu tak di undang." Jawab Darren.
"Tamu tak di undang? Memang nya siapa, yang?"
"Rita."
"Lho, wanita itu gak tahu malu apa gimana sih? Kok berani-berani nya datang ke kantor kamu sih?" Tanya Sherena. Dia sendiri tidak habis pikir dengan pemikiran wanita bernama Rita itu.
"Mana aku tahu, yang."
"Aaahhh, aku tahu ini. Pasti dia ngajakin kamu buat balikan lagi gak sih?" Tanya Sherena membuat Darren menoleh ke arah sang gadis yang juga tengah menatap nya.
"Ya, tebakan kamu benar, sayang."
"Terus, kamu mau? Harusnya kalau kamu mau balikan lagi sama mantan istri kamu, gak usah lamar aku, yang. Biar aku nya gak besar kepala."
"H-aahh, apa maksud kamu, sayang? Aku lamar kamu ya karena aku bersungguh-sungguh dengan hubungan ini, sayang." Jelas Darren.
"Agnes bilang kamu mau balikan sama mantan istri kamu, sayang."
"Agnes itu anak nya Rita sama Hans kan?" Tanya Darren, dia menoleh sekilas ke arah sang gadis.
"Hmmm, iya.."
"Wahh, udah gak bener ini, sayang. Aku gak ada bilang mau balikan sama dia lho, amit-amit. Aku cinta sama kamu, jadi mana ada aku bakalan balik sama dia. Aku gak sebodooh itu juga kali, yang." Ucap Darren membuat Sherena terkekeh. Dia yakin kalau Darren juga takkan berminat untuk kembali pada Rita setelah apa yang wanita itu lakukan padanya bertahun-tahun silam.
Wanita yang sudah memiliki kecacatan seperti Rita, tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti dia akan kembali melakukan hal yang sama kalau saja melihat orang yang lebih kaya atau terlihat sempurna, pasti dia akan datang mendekat dan mengabaikan rasa malah nya demi bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti saat ini. Dia bahkan menjelma seperti seorang wanita yang tidak tahu malu plus tidak tahu diri.
"Jangan percaya, sayang. Itu hanya akal-akalan Rita saja, aku sama sekali tidak berminat untuk mengulang semua kenangan pahit bersama nya, apalagi untuk kembali bersama nya. Anggap saja itu adalah hal yang mustahil terjadi."
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻