Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 134 - Uang Merubah Semuanya


__ADS_3

"Mereka terlihat saling mencintai.." Lirih nya sambil menundukan kepala nya.


"Ya, kau melihat nya sendiri bukan? Lalu, apakah kau akan tega untuk memisahkan sepasang insan yang saling mencintai? Aku yakin, kau tak sejahat itu kan?" Tanya Andy pada Mecca. Ya, pria itu membawa Mecca ke rumah sakit untuk melihat sendiri bagaimana keadaan Arina. Andy sendiri belum mengetahui kalau ternyata Arina sedang mengandung saat ini. 


"Maaf, sekarang keputusan ku sudah bulat. Aku akan membantu anda, Tuan. Maaf karena aku sempat ragu dan berubah pikiran." Ucap Mecca. Ya, dia sempat ragu dan akhirnya berubah pikiran. 


Namun, siapa yang menyangka kalau Andy ternyata bisa dengan mudah menemukan nya, menemukan rumah tempat dia tinggal. Padahal, dia tidak pernah mengatakan dimana dia tinggal. Tapi pria itu dengan mudah mengetahui nya. Benar-benar, kalau orang berpengaruh dan berkuasa, mengetahui tempat tinggal seseorang, bukanlah hal yang sulit. 


Kalau ada yang bertanya, kenapa Mecca menjadi orang yang seolah di telantarkan oleh kedua orang tua nya, karena mereka tidak menyukai hubungan nya dengan Ari. Itu saja. Lalu, siapakah kedua paruh baya yang datang ke rumah dan mengaku-ngaku orang tua Mecca?


Mereka hanya orang yang di bayar oleh Sintia untuk berakting seolah mereka adalah orang tua Mecca yang menuntut pertanggung jawaban dari pria yang telah menghamili putri nya. Memang sejauh itu Sintia merencanakan semua nya, rencana untuk menghancurkan putra nya sendiri. Gila bukan? Dimana ada ibu yang jahat seperti Sintia, rasa nya tidak ada.


Jika orang lain menginginkan yang terbaik untuk putra nya, maka lain hal nya dengan Sintia. Dia tidak suka putra nya bahagia, entah punya dendam apa pada Marvin padahal dia lahir dari rahim nya. 


"Tidak apa-apa, aku masih punya waktu untuk menunggu." Jawab Andy, dia tersenyum kecil lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. 


"Kita pergi sekarang, ada yang ingin bertemu dengan mu." 


"Baik, Tuan." Jawab Mecca. Wanita dan kekasih nya itu mengekor di belakang Andy, kedua nya saling bertatapan tapi kemudian kompak menundukkan kepala mereka. 


Di dalam ruangan itu, Marvin sedang menyuapi Arina makan. Perempuan yang tengah hamil muda itu makan dengan lahap, sungguh membuat Marvin senang. Karena biasa nya yang dia tahu itu, kalau wanita hamil apalagi hamil muda akan sulit makan karena selera makan nya akan sangat berkurang. Pengaruh morning sickness juga akan sangat berpengaruh, karena membuat ibu hamil akan malas makan karena ujung-ujungnya makan juga pasti keluar lagi. 


"Enak bubur nya?"


"Enak, sayang." Jawab Arina sambil tersenyum kecil. 


"Kamu gak makan?" Tanya perempuan itu. Marvin menggelengkan kepala nya, dia memang belum lapar saat ini. Tapi dia senang saat melihat sang kekasih makan dengan lahap. Baguslah, setidaknya dia tidak akan terlalu lemas karena ada makanan yang sudah masuk ke dalam perut nya.


"Aku nanti aja, lagi pengen makan yang pedes sama rujak." Jawab Marvin sambil cengengesan. 


"Kamu ngidam ya?" Tanya Arina sambil terkekeh. 


"Hehe, kayaknya sih iya. Wajar-wajar aja kan kalau papa nya si Baby yang ngidam?"


"Wajar kok, sayang. Bahkan, ada beberapa pakmil yang mengalami morning sickness, Tuan Darren misalnya."


"Lho, dia begitu?"


"Iya, kata Sherena tuh Tuan Darren selalu muntah-muntah setiap pagi sampai dia lemes tapi setelah siang gitu dia baik-baik saja." Jelas Arina sambil tersenyum. 


"Seriusan? Pria sedatar Tuan Darren juga morning sickness, yang?"


"Astaga, dia juga manusia kali, sayang. Lagian, katanya kalau laki-laki yang mengalami morning sickness itu, katanya si cowok cinta banget sama istrinya. Tapi, kamu kok enggak ya? Apa kamu gak cinta sama aku ya?" Tanya Arina membuat Marvin memutar mata nya dengan jengah. Dia tahu kalau pertanyaan ini akan memberikan api perdebatan, masalah kecil bisa jadi besar kalau di layani. 


"Gak usah mancing-mancing perdebatan ya, sayang."


"Lho, siapa emang nya yang mancing? Aku enggak tuh."


"Ckk, nanti kamu marah-marah gak jelas."


"Aku cuma nanya, apa kamu gak cinta sama aku apa gimana. Gitu doang kok." Jawab Arina sambil cemberut. Marvin menggelengkan kepala nya. 


"Tuhkan, gini aja kamu udah badmood. Kamu gak bisa merasakan ya kalau aku ini beneran cinta dan sayang sama kamu hmm? Dengerin ya, aku gak mungkin lawan orang tua aku kalau semisal aku gak cinta sama kamu, sayang."


"Bener?"


"Iya, beneran dong." Jawab Marvin sambil membelai wajah cantik Arina dengan lembut lalu mengecup pipi kanan nya. 


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah anggun nya. Pasangan itu menatap kedatangan wanita itu dengan senyum kecil mereka. 


"Apa kabar, sayang? Bagaimana keadaan mu, sudah membaik?" Tanya nya sambil memeluk Arina. Perempuan itu menerima nya dengan senyuman manis, dia juga membalas pelukan hangat wanita itu dengan hangat. 

__ADS_1


"Sudah lebih baik kok, Ma."


"Syukurlah, Mama senang mendengar nya, sayang. Apa yang sakit?" Tanya Sintia. Ya, wanita itu adalah Sintia. Dia memang jahat, tapi dia tidak ingin membuat putra nya curiga. Jadi disinilah dia sekarang, berpura-pura khawatir dan datang menjenguk Arina untuk memancing simpati. Disaat semua orang tahu kalau dia adalah dalang dari semua kejahatan itu, pasti tidak akan ada yang menyangka nya. Pasti akan membuat semua orang terkejut karena kegilaan nya. 


"Hanya kepala saja, masih sedikit pusing, Ma." Jawab Arina, masih dengan senyuman manis nya. 


"Sudah minum obat? Apa kata dokter?"


"Sebenarnya.." 


"Tidak apa-apa kok, Ma. Arin hanya kelelahan saja, tidak perlu khawatir. Nanti sore juga Arin bisa pulang." Jawab Arina. Dia mencegah Marvin mengatakan yang sebenarnya, entahlah feeling nya tidak enak saat bertemu dengan Sintia. Namun, dia masih berusaha untuk berpositif thinking pada sosok wanita itu. 


"Kamu harus banyak istirahat, Nak."


"Iya, Ma. Terimakasih atas perhatian nya, Arin senang melihat Mama seperti ini sama Arin."


"Sama-sama, maafin Mama untuk kejadian hari itu ya?" Tanya Sintia dengan wajah yang di buat sememelas mungkin. Cuih, kalau semisal kedua nya sudah tahu seperti apa Sintia, percayalah mereka takkan mau melihat wajah Sintia sama sekali. 


"Iya, Ma. Gapapa kok, Arin juga mengerti. Arin udah maafin Mama kok." Jawab Arina sambil tersenyum. 


"Kamu gadis yang baik, Nak. Pantas saja Marvin begitu berat melepaskan kamu." Ucap Sintia sambil mengusap lembut wajah Arina. 


"Terimakasih, Mama." 


'Ckkk, kalau saja aku tak ingin semua orang curiga padaku. Aku takkan sudi datang kesini, apalagi harus memeluk mu seperti tadi. Bersikap ramah tamah seperti ini membuat aku muak!' Batin Sintia. Namun dia menahan semua rasa benci nya pada Arina karena tidak ingin membuat Marvin atau Arina curiga. Itu saja.


Di tempat lain, Mecca, Ari dan juga Andy tengah menunggu kedatangan seseorang. Wajah Mecca terlihat pucat pasi, begitu juga dengan Ari. Sungguh, dia tidak tahu siapa yang mereka tunggu sekarang. Sudah lima belas menit berlalu, tapi orang itu belum datang juga. 


Tapi tak lama kemudian, Andy mendapatkan sebuah telepon dari seseorang. Pria itu merogoh ponsel nya dan segera mengangkat nya.


"Ya, hallo Tuan.."


'Andy, aku sedikit terlambat ada kemacetan. Katanya sih kecelakaan di depan, paling satu jam lagi. Bagaimana?' 


"Kalian bersedia menunggu satu jam lagi?" Tanya Andy pada kedua nya. 


"Tentu, kami pengangguran." Jawab Ari sambil tersenyum kecil. 


'Baiklah, Tuan. Kami akan menunggu, hati-hati di jalan.'


'Oke, pesan makanan saja. Aku yang bayar.' Pinta Darren. 


"Baik, Tuan." Jawab Andy. Dia pun mematikan sambungan telepon nya dan setelah itu kembali meletakan kembali ponsel nya ke dalam saku. 


"Kalian sudah sarapan?"


"B-belum, Tuan." Jawab Mecca.


"Kau masih canggung padaku? Santai saja, harusnya kau canggung itu saat bertemu dengan dia nanti nya. Dia yang lebih menakutkan di banding aku." Celetuk Andy sambil terkekeh pelan, membuat sekujur tubuh Ari dan Mecca merinding seketika. 


"B-benarkah?"


"Tentu tidak, dia hanya sedikit menakutkan. Itu saja." Jawab Andy sambil tersenyum kecil. 


"Sudahlah, nanti kalian yang nilai sendiri. Tidak usah takut, dia pria yang baik tapi sedikit menakutkan kalau sedang marah, itu saja. Jadi, kalian makan saja dulu."


"Makanan disini terlalu mahal, Tuan."


"Jangan memikirkan harga nya, akan di tanggung oleh Tuan Darren." Jawab Andy. Akhirnya mereka pun memesan makanan lalu makan dengan lahap. 


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya orang yang di tunggu-tunggu pun datang. Darren datang dengan wajah datar nya, setelan jas berwarna hitam nampak melekat di tubuh nya. 

__ADS_1


"Maaf, aku terlambat.." Ucap Darren, membuat semua orang menoleh. Mecca membulatkan mata nya, begitu juga dengan Ari. Tentu saja, mereka tidak menyangka kalau Darren yang sering mundar mandir di balik kaca televisi yang Andy maksud. 


"Tidak apa-apa, Tuan. Silahkan duduk.." Andy menarik kursi untuk Darren dan pria itu pun duduk disana masih dengan wajah datar nya. 


"Wajah mereka kenapa? Apa mendadak sakit?" Tanya Darren, bahkan suara nya saja sudah terdengar menakutkan bagi Mecca dan Ari. Jadi begini cara Darren menghadapi masalah? Benar-benar menakutkan, malahan suara nya saja terdengar menakutkan apalagi wajah nya yang kelewat datar. 


"Tidak, Tuan. Mereka hanya speechless bertemu dengan anda." Jawab Andy. 


"Hmm, begitu kah?" 


"Iya, Tuan." Jawab Andy sambil tersenyum kecil.


"Suatu kehormatan untuk kami bisa bertemu dengan anda, Tuan Darren."


"Aku hanya manusia biasa, jangan terlalu seperti itu." Ucap Darren. 


"Maaf.."


"Ckk, aku hanya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Sintia."


"Nyonya Sintia meminta saya untuk mengatakan kalau saya tengah hamil anak Marvin dan beliau akan memberikan sejumlah uang sebagai bayaran nya." Jelas Mecca lirih. 


"Berapa bayaran nya?"


"250 juta, Tuan."


"Bagaimana kalau aku membayar empat kali lipat untuk kejujuran mu seperti kesepakatan mu dengan Asisten ku, Mecca. Dan, calon suami mu ini pria pengangguran bukan? Aku juga akan memberikan nya pekerjaan di perusahaan ku sebagai resepsionis, bagaimana?" Tanya Darren sambil bersedekap dada. 


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Hanya bicara jujur pada Rama, itu saja. Kau harus mengatakan semua nya dengan jujur. Itu saja, mudah bukan?"


"Tuan, wanita itu mengancam Mecca." Ucap Andy menimpali.


"Apa itu benar?" Tanya Darren sambil menatap tajam ke arah Mecca juga Ari.


"B-benar, Tuan."


"Ancaman seperti apa? Jujur saja padaku!"


"Kalau aku membatalkan semua nya, dia akan membuat hidup ku dan juga anak ku menderita, Tuan."


"Ckkk, memang nya dia siapa? Tanpa harta Rama, dia hanya gelandangan." Darren berdecak sambil tersenyum smirk. 


"Tak perlu takut, aku akan melindungi mu."


"Benarkah, Tuan?"


"Asal kau bersedia untuk bicara jujur, maka aku akan melindungi mu, aku serius dengan ucapan ku."


"Baiklah, Tuan."


"Baguslah kalau begitu, tapi dimana kau bisa bertemu dengan wanita semacam Sintia, Mecca?"


"Hari itu saya sedang bekerja paruh waktu untuk membantu Ari, dia datang untuk makan siang dan mengenali saya. Karena dulu, saat saya berpacaran dengan Marvin beberapa kali dia mengajak saya datang ke rumah nya, Tuan."


"Lalu kau dengan cepat menyetujui permintaan gila nya itu?" Tanya Darren masih dengan wajah datar nya. 


"Saya butuh uang saat itu dan berpikiran pendek, Tuan."


"Ya, uang memang membuat semua nya gila. Bahkan mengabaikan kemanusiaan hanya demi uang. Uang memang bukan segala nya, tapi segala nya butuh uang."

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2