
"Isshh, mama sama papa apaan sih." Ucap Sherena sambil menutup wajah nya yang memerah seperti tomat matang. Arya dan Arumi kompak tertawa saat melihat tingkah putri mereka. Senang sekali menggoda Sherena yang memang tengah di landa kebucinan pada duda tetangga itu.
"Cieee, lihat wajah nya merah deh, Pah." Goda Arumi lagi sambil terkekeh.
"Mama ihhhh.." Rengek Sherena, membuat kedua nya langsung terdiam. Mereka suka menggoda putri mereka, tapi tak mau kalau gadis itu marah.
"Udah-udah, Ma. Anak nya marah tuh, berabe nanti."
"Yaudah, mama sogok pake pie buah, gimana?" Tanya Arumi sambil tersenyum menggoda. Tentu saja, ini adalah cara yang ampuh untuk membujuk Sherena. Berikan saja dia makanan yang manis-manis, maka dia akan luluh.
"Mau mau.."
"Yaudah, yuk makan. Baru aja matang pie nya, mumpung masih hangat." Ucap Arumi, Sherena pun langsung menganggukan kepala nya tanpa keraguan.
"Oke, Ma." Jawab Sherena, dia pun pergi ke dapur bersama sang ibu. Dia tersenyum tak sabar saat menunggu Arumi menyajikan pie buah nya.
"Silahkan, sayang."
"Makasih, Mama ku sayang."
"Sama-sama, sayang." Jawab Arumi, dia terkekeh saat melihat Sherena makan dengan lahap. Bahkan hingga belepotan kemana-mana. Arumi mengusap sudut bibir putri nya yang belepotan itu dengan tissu.
"Kamu ini, udah gede malahan udah punya pacar, tapi kok makan nya masih belepotan sih? Malu sama ayang kamu."
"Isshh, Mama." Rengek Sherena, membuat Arumi tergelak.
"Tadi ngapain aja di rumah nya Darren, sampe pulang nya sore begini?" Tanya Arumi, membuat Sherena sedikit terkejut dengan pertanyaan sang ibu. Dia menelan pie buah yang ada di mulut nya, lalu tersenyum manis.
"Sheren masak nasi goreng seafood buat sarapan, terus nemenin ayang kerja, terus tidur siang. Nah, setelah tidur siang Sheren masak capcai, setelah itu Sheren pulang setelah selesai beres-beres." Jelas Sherena panjang lebar, membuat Arumi menganggukan kepala nya.
"Gitu dong rajin, jangan jadi anak yang pemalas. Malu sama calon suami, jangan rajin nya cuma di rumah Darren doang. Sekali-kali bantu Mama juga."
"Hehe, iya Ma." Jawab Sherena sambil nyengir. Dia pun kembali menikmati pie buah nya dengan lahap, setelah itu dia pun berpamitan untuk ke kamar. Di dalam kamar, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Gadis itu berdiri di bawah guyuran shower, hari ini dia sedang tidak ingin berendam di air hangat. Dia justru ingin mengguyur tubuh nya dengan air dingin, sangat menyegarkan.
Sherena membersihkan area bawah nya, saat dia menyentuh nya, seketika tubuh nya menegang terasa seperti ada aliran listrik yang membuat gadis itu terdiam.
"Tadi, dia menjilati nya kan?" Gumam Sherena, wajah nya seketika merona saat membayangkan bagaimana Darren membuat nya mengalami klimaaks untuk pertama kali nya. Sungguh, itu adalah pengalaman yang membuat Sherena malu. Dia tidak akan pernah melupakan ini, yang tadi terjadi itu benar-benar membuat nya lupa diri. Dia bahkan mendesaah keras tak terkendali.
Sudah pasti, dia akan sangat malu kalau dia bertemu dengan Darren keesokan hari nya. Saat melihat wajah tampan nya, sudah bisa di pastikan kalau ingatan-ingatan tentang kejadian tadi akan terbayang dalam benak nya. Dan dia, pasti akan sangat malu. Benar-benar malu.
"Aaaaa, Sheren! Kenapa kau sangat mesuum." Rutuk Sherena, dia pun segera membersihkan tubuh nya, lalu segera keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bath robe berwarna biru, kesukaan nya.
Gadis itu akan berpakaian saat tiba-tiba saja sebuah suara membuat gadis itu berbalik dan melihat ada siapa di kamar nya. Seketika itu juga, Sherena membulatkan mata nya saat melihat kalau Darren ada di kamar nya.
"Ehem.."
"Lho, kok sayang disini?" Tanya Sherena, dia beringsut mundur menghindari Darren yang mulai berjalan mendekat ke arah nya secara perlahan.
"Iya dong, aku kesini buat ngasih ponsel kamu yang ketinggalan." Jawab Darren sambil merogoh celana bahan nya, dia menunjukkan ponsel milik Sherena yang tertinggal di rumah nya tadi.
"Aaaahhh, iya. Aku lupa membawa ponsel ku."
"Hmm, untung saja tertinggal di rumah ku. Jadi aku ada alasan agar bisa bertemu dengan mu lagi, sayang."
"Isshh, kamu ngapain ke kamar aku hmm? Gak sopan." Ucap Sherena sambil merapatkan bathrobe yang dia pakai, masalah nya dia tidak memakai apapun di balik bathrobe itu, sama sekali tidak ada. Dan dia tahu kalau Darren sedang dalam mode ngebet menginginkan hal itu, jadi tidak menutup kemungkinan kalau dia akan menelanjangi nya bukan? Meskipun bisa saja dia berteriak meminta bantuan pada orang tua nya.
"Kok gak sopan? Aku aja gak masalah tuh, kamu juga kan masuk ke kamar ku tadi."
"Tapi, kan kamu yang bawa aku kesana. Bukan inisiatif aku sendiri buat masuk ke kamar kamu, yang." Jawab Sherena membuat Darren terkekeh.
"Kamu kenapa sih? Kok keliatan nya ketakutan gitu. Aku gak gigit kali, yang."
"Iya sih, kamu emang gak gigit. Tapi menjilat!" Gadis itu mendelik kesal ke arah Darren yang sudah menyunggingkan senyum mesuum nya.
"Mau di jilat lagi itu nya?" Tanya Darren, sontak saja mendengar pertanyaan itu, tubuh Sherena kembali menegang. Tapi, kali ini inti nya ikut basah, serasa ada cairan yang mengalir membasahi area sensitif nya itu, tapi bukan air. Lalu cairan apa dong?
"Sayang, plis jangan mesuum dong."
__ADS_1
"Aku gak mesuum, sayang. Hanya saja aku itu pria normal yang punya nafssu." Jelas Darren sambil berjalan mendekat dan menarik Sherena untuk duduk di pangkuan nya.
"Aawww, sayang pelan-pelan dong." Ringis Sherena saat Darren mendudukan nya sedikit keras.
"Sakit ya? Utututu.." Ucap Darren sambil meremaas pantaat berisi milik Sherena.
"Astaga, tangan kamu nakal banget sih."
"Bukan nakal, sayang. Tapi dia tahu tempat, buktinya ini." Sherena mengikuti arah pandang Darren, benar saja satu tangan nya berada di dada kenyal Sherena. Gadis itu menepuk pelan lengan sang pria, membuat Darren terkekeh.
"Kalau aku tahu kamu semesuum ini, aku gak bakalan nekat buat ngejar kamu waktu itu."
"Hushh, jangan bicara seperti itu, sayang. Gak baik, nanti aku marah lho."
"Ya, habis nya kamu tuh emang mesuum gini." Ucap Sherena, membuat Darren tersenyum kecil. Dia pun menarik tengkuk Sherena dan mencium bibir gadis nya dengan lembut. Pria itu memejamkan mata nya, dia melumaat bibir Sherena bergantian atas bawah dengan nikmat nya.
Sherena juga awalnya terkejut, tapi lama kelamaan dia juga hanyut dalam kenikmatan bertukar saliva. Dia juga mengalungkan kedua tangan nya di leher Darren. Kedua tangan Darren juga berada di pinggang ramping Sherena, dia memeluk nya dengan posesif.
"Ummhh.." Sherena melenguuh pelan dalam ciuman itu saat Darren menggigit pelan bibir nya dan menelusupkan lidah nya.
"Sa-yang.."
"Iya, sayang. Ada apa? Mau yang lebih panas?" Tanya Darren menyeringai, dia pun membuka simpul bathrobe yang di kenakan oleh Sherena, hingga terpampang sudah keindahan dunia. Dua buah kenyal yang terlihat ranum, menggantung indah di depan mata.
Tangan Darren langsung tahu apa tugas nya, dengan feeling nya dia meremaas buah itu dengan gemas. Jadi jangan heran kalau ukuran nya lebih besar sekarang, karena Darren hobi memainkan buah kenyal milik Sheren itu.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar ketukan lirih, membuat kedua nya yang masih saling mencium itu pun langsung terlepas. Sherena berlari ke ruang ganti, sedangkan Darren merapikan pakaian nya yang sedikit kusut karena perbuatan nya bersama Sherena baru saja.
"Iya, masuk.."
Pintu pun terbuka dengan perlahan, Darren duduk di sisi ranjang seperti tadi seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jantung nya berdetak dengan kencang saat ini. Ini bukan pertama kali nya, disaat sedang enak-enak nya, pasti ada saja gangguan nya.
"Eehh, Tante.." sapa Darren dengan senyum canggung nya.
"Iya, Sheren nya mana?"
"Ohh, ya sudah. Bilangin dia, kalau sudah selesai langsung turun buat makan malam ya."
"Baik, Tante." Jawab Darren sambil tersenyum kecil, Arumi pun pergi tanpa merasa curiga sedikit pun. Padahal, dari ekspresi saja sudah bisa di tebak kalau Darren habis melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada Sherena.
'Astaga, kenapa aku sangat mesuum? Benar kata Sherena, aku terlalu mesuum.' Pria itu membatin, dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu mesuum.
"Lho, masih disini? Ngapain bengong, kamu kesambet, yang?" Tanya Sherena sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.
"Enggak kok, udah selesai?"
"Iya, udah dong. Tadi Mama ngomong apa?" Tanya Sherena sambil mengambil vitamin rambut dan memakai nya.
"Katanya kalau kamu udah selesai, langsung ke bawah makan malam."
"Ohh, yaudah. Tapi dia gak curiga kan, yang?" Tanya Sheren.
"Kayaknya sih enggak, tapi gak tahu deh."
"Hmmm, baiklah." Jawab Sherena, dia pun mengambil sisir dan menyisir rambut nya.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Sherena sambil menatap wajah tampan sang kekasih.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu kayak gitu, kamu punya salah sama aku atau gimana?" Tanya Sherena lagi, dia menyadari tatapan sendu Darren padanya.
"Apa aku semesuum itu ya?"
"Iya sih, kamu mesuum nya udah di tahap mengkhawatirkan." Jawab Sherena tanpa berfikir dua kali.
__ADS_1
"Beneran?"
"Haha, sayang. Aku ngerti kok, kamu kan udah lama puasa? Jadi wajar-wajar aja sih, aku cuma bercanda aja kok. Kamu bisa nyalurin nya sama aku, cuman aku belum siap kalau semisal kamu meminta penyatuan." Jelas Sherena, bukankah kalau saling mencintai itu harus saling melengkapi satu sama lain? Darren kekurangan belaian dan kehangatan di atas ranjang, tapi Sherena belum bisa memberikan nya karena dia merasa belum siap dan juga dia belum yakin sepenuh nya pada pria itu.
Apalagi sekarang, masa lalu nya kembali dengan status janda. Dia khawatir kalau wanita itu berbuat nekat untuk merebut kembali Darren, tapi dia percaya pada Darren. Seperti nya dia sudah tidak lagi tertarik untuk kembali pada mantan istri nya, terbukti dari cara nya berbicara pada wanita itu beberapa hari yang lalu.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti, maaf kalau aku terlalu menuntut."
"Tidak apa-apa, sayang." Jawab Sherena sambil membelai manja rahang tegas sang pria.
"Jangan tersenyum seperti itu."
"Memang nya kenapa? Aku hanya tersenyum biasa." Jawab Sherena, dia merasa tidak ada yang aneh dengan senyuman nya, tapi kenapa Darren malah mempermasalahkan nya?
"Tapi, senyuman mu itu membuat aku bergairaah, sayang."
"Astaga.." Sherena menggelengkan kepala nya sambil menepuk kening nya pelan, ada-ada saja pria ini.
"Sudahlah, ayo turun. Aku laper.."
"Baiklah, sayang." Jawab Darren, Sherena pun tersenyum lalu tanpa ragu dia segera menggandeng tangan besar pria itu, menyatukan jemari mereka, seperti layaknya pasangan kekasih yang romantis.
Keduanya pun keluar dari kamar dengan tangan yang masih saling bertaut mesra, bahkan kedua nya saling melempar tatapan mesra dan senyuman manis, membuat Arya dan Arumi sedikit khawatir begitu melihat pemandangan ini.
"Ma, apa mereka terlalu dekat?" Tanya Arya, Arumi menganggukan kepala nya.
"Iya, Mama juga merasa begitu."
"Papah rasa, papah harus menanyakan tentang kejelasan dan keseriusan Darren sama Sherena, Ma."
"Tapi, apa itu tidak terlalu cepat? Sherena kan masih sekolah." Ucap Arumi membuat Arya mengangguk.
"Tapi, bukan menikah. Mereka bisa bertunangan lebih dulu sambil menunggu Sheren lulus sekolah, papah khawatir terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Meskipun papah yakin kalau Darren adalah pria yang baik." Jawab Arya, membuat Arumi terlihat setuju dengan usulan sang suami.
"Iya, pah. Kalau begitu bicara sama Darren secepatnya."
"Hmmm, sebaiknya kita bicara empat mata saja ya?" Tanya Arya.
"Iya, sebaiknya mungkin begitu, Pah."
"Ya sudah, besok biar papah bicara dengan Darren." Jawab Arya lagi, kedua nya pun menyudahi pembicaraan saat kedua anak manusia itu mulai mendekat ke arah mereka.
"Malam, ma, pah." Sapa Sherena dengan senyum manis nya.
"Malam, sayang." Balas kedua nya, sedangkan Darren hanya bisa menahan rasa iri di hati. Karena dia tidak bisa seperti ini lagi karena kedua orang tua nya telah tiada. Jauh sebelum dia menjadi pria yang seperti saat ini, dulu dia hanya seorang ojek online.
Tapi, berkat kerja keras dan kegigihan nya, akhirnya Darren bisa berdiri dengan kaki nya sendiri, bisa di lihat seperti apa dia sekarang. Pria tampan, muda, berbakat dan pandai dalam urusan bisnis, menjadi incaran para gadis-gadis karena status nya. Itu semua dia dapatkan setelah orang tua nya pergi untuk selamanya. Andai saja dia sukses lebih awal, mungkin orang tua nya akan bisa menikmati hasil kerja keras nya.
Dia juga takkan merasa rindu setiap saat pada kedua nya, kalau mereka masih hidup. Tapi sayang sekali, orang tua nya malah pergi meninggalkan nya disaat dia masih menjadi Darren yang kere. Seperti yang di katakan oleh Rita dulu.
"Lho sayang, kenapa kamu bengong?"
"Hmmm, tidak sayang. Aku hanya merasa rindu kehangatan seperti ini." Jawab Darren sambil tersenyum kecut.
"Maksud mu, kamu merindukan orang tua kamu, sayang?" Tanya Sherena, dia menatap wajah tampan sang kekasih dengan tatapan khawatir.
"Iya, sayang."
"Kamu masih punya kami, jangan merasa kesepian, Darren." Ucap Arumi.
"Iya, dia benar. Kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini kan? Berarti kami juga orang tua mu, Darren." Arya juga ikut angkat suara, membuat hati pria itu terenyuh. Apa yang tak dia miliki, Sherena memiliki nya. Bukankah ini juga melengkapi apa yang kurang dari hidup nya?
"Terimakasih, om dan Tante."
"Panggil nya mama, papah saja." Ucap Sherena sambil tersenyum manis. Dia tidak keberatan kalau harus berbagi kasih sayang orang tua nya dengan Darren.
"Terimakasih, sayang. Kamu sangat beruntung karena memiliki keluarga yang masih lengkap, sedangkan aku adalah pria yang paling beruntung karena memiliki gadis sebaik dirimu."
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻😅