Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 41 - Masa Lalu Darren


__ADS_3

"Aku lagi menstruasi hari pertama." Jawab Sherena. Darren mengernyitkan kening nya, memang nya apa hubungan nya sakit perut dengan menstruasi hari pertama?


"Memang nya apa hubungan nya, Bby?" 


"Gak tahu, tanyain aja sama dokter." Jawab Sherena ketus.


"Sayang.."


"Apa?"


"Kok ngambek sih? Kamu kenapa?" Tanya Darren, membuat Sherena kesal setengah mati. Tau sendiri lah ya, seperti apa mood wanita yang sedang datang bulan bagaimana? Apalagi ini hari pertama. 


"Di bilangin aku sakit perut."


"Mau di gimanain? Aku kesana ya, apa aku panggilan dokter?" Tanya Darren, dia bertanya hal ini sebagai bentuk perhatian. Tapi, entahlah di telinga Sherena itu malah terdengar menyebalkan.


"Udahlah, gak usah." Ucap Sherena, masih dengan nada kesal nya. Lalu, tanpa bicara lagi gadis itu mematikan sambungan telepon nya. Dia memilih berbaring menelungkup, sambil merasakan nyeri di perut nya yang semakin terasa. Ini memang menyiksa, tapi mau bagaimana lagi dia gadis yang sehat dan normal, jadi pasti kedatangan tamu setiap bulan nya. 


Darren mengernyitkan kening nya, tak biasa nya Sherena seperti ini. Dia heran, apa menstruasi mempengaruhi mood? Harus nya tidak kan? Tapi, fakta nya itu sangat berpengaruh. 


Karena penasaran, pria itu pun membuka situs pencarian untuk mencari tahu dan memastikan, apakah datang bulan hari pertama itu mempengaruhi mood? Dan ternyata jawaban nya adalah iya. Jadi, Darren harus benar-benar menjaga mood Sherena yang sedang kedatangan tamu bulanan nya. 


Pria itu juga mencari tahu, bagaimana cara untuk menyembuhkan rasa sakit yang di akibatkan oleh menstruasi, setelah menemukan jawaban nya, dia pun bergegas membuat nya dan tanpa pikir panjang, dia pergi ke rumah Sherena. Beginilah kalau punya pacar yang rumah nya cuma kehalang jalan raya, apa-apa langsung datang ke rumah. Gak usah pake motor atau mobil, jalan kaki juga cepat sampai.


Darren mengetuk pintu rumah sang kekasih, tak membutuhkan waktu lama Arumi langsung membukakan pintu. Wanita itu tersenyum pada Darren yang terlihat rapih dengan menenteng sesuatu di tangan nya. 


"Darren, ayo masuk."


"Eehmm, Sherena nya ada, Tan?" Tanya Darren dengan senyum canggung. Sialnya, dia tidak menyiapkan alasan kenapa dia datang kemari. Harusnya dia memikirkan nya bukan? Tapi, rasa khawatir nya pada Sherena membuat nya blank. Yang dia inginkan, datang pada Sherena dan membuat sakit di perutnya sembuh, itu saja. 


"Ada di kamar, dia lagi datang bulan hari pertama. Jadi nya di kamar aja."


"Kenapa, Tante?" 


"Sheren tuh kalo lagi menstruasi, apalagi hari pertama, selalu ngurung diri di kamar. Soalnya perut nya sakit katanya." Jawab Arumi. 


"Ohh, begitu ya, Tante?"


"Iya, Sheren juga sering marah-marah kalo lagi menstruasi kayak gini."


"Ohh, pantesan dia sensitif banget tadi." Gumam Darren, sambil menganggukan kepala nya. Dia benar-benar tidak tahu kalau seberpengaruh itu menstruasi di hari pertama. 


"Ada apa, Nak Darren kesini?" Tanya Arya, membuat Darren gelagapan. Tapi, dengan cepat otak nya berpikiran sesuatu. 


"Ini, mau nganterin tugas Sherena. Kemarin ketinggalan." Jawab Darren sambil menunjukkan buku, untung saja dia membawa buku milik Sherena yang kemarin ketinggalan di mobil nya. 


"Ohh, yaudah. Anterin aja ke kamar nya, ya?"


"E-eehhh.." 


"Gapapa, kamar Sheren ada di lantai atas." Jawab Arya, dia mendukung juga hubungan Darren dan Sherena. 


"O-oke.."


"Iya, Nak Darren." Pria itu pun pergi menuju kamar Sherena, dengan meniti satu persatu anak tangga. Meskipun dia merasa canggung, tapi ya syukurlah orang tua Sherena tidak melarang sama sekali. Mereka malah terlihat memberikan respon yang baik untuk nya, semoga saja hubungan nya dan Sherena semakin membaik setelah ini.


Tok.. tok.. tok.. 


Darren mengetuk pintu kamar yang dia yakini adalah kamar milik Sherena. Dari tiga pintu yang ada di lantai atas, entahlah feeling nya begitu kuat dengan kamar yang satu ini. 


"Masuk aja, pintu nya gak di kunci." Jawab Sherena dari dalam, Darren hafal benar kalau itu adalah suara sherena. Ternyata, feeling nya cukup bagus juga ya. Dia langsung tahu yang mana kamar Sherena, padahal ini adalah pertama kali nya dia datang kesini. 


Dengan perlahan, Darren membuka pintu kamar Sherena dengan perlahan. Pria itu mengedarkan pandangan nya, kamar yang rapih, nyaman dan wangi. Meskipun kamar nya tidak terlalu besar, tapi bisa membuat orang yang berada di kamar ini merasa nyaman. Bisa di jamin, kalau habis bepergian, pasti akan merindukan tempat ini. 


Pria itu melihat kalau Sherena tengah berbaring menelungkup, terlihat jelas kalau gadis itu tengah kesakitan. 


"Sayang.." Panggil Darren, Sherena langsung berbalik dan menatap tak percaya kalau saat ini Darren berdiri di hadapan nya. Dia tak menyangka kalau Darren akan benar-benar datang ke sini. 


"Lho kok, kamu bisa kesini?"


"Bisa dong, aku nyogok Mama sama papah kamu." Jawab Darren sambil tersenyum, dia berjalan mendekat dan meletakan barang yang dia bawa di meja nakas yang ada di dekat ranjang. 


"H-ahh, di sogok pake apa?"


"Pake apa ya? Hmmm, gak tahu. Tapi pas aku bilang mau ngasih buku ini ke kamu, Mama sama Papah kamu langsung nyuruh aku anterin aja ke kamar kamu langsung." 

__ADS_1


"Hmm, udah dapet lampu hijau gak sih ini?"


"Iya, sayang. Mana yang sakit?" Tanya Darren lagi. Sherena menunjuk perut nya dengan manja, Darren terkekeh lalu gantian kini dia yang mengusap perut gadis itu. 


"Panas gini ya? Sakit banget, sayang?" Tanya Darren, Sherena mengangguk pelan. 


"Yaudah, di usap gini enakan gak?" Tanya Darren.


"Iya, enakan. Tangan kamu hangat, bikin nyaman deh." Jawab Sherena sambil tersenyum manis. 


"Sayang.."


"Iya, yang. Kenapa?" Tanya Darren, Sherena tersenyum kecil lalu melingkarkan kedua tangan nya di leher Darren. 


"Mau peluk." Jawab Sherena. 


"Yaudah, peluk ya." Darren pun memeluk Sherena, dia tidak keberatan sama sekali saat gadis itu meminta nya untuk memeluk. 


"Tapi berat, jangan gini meluk nya." Pinta Sherena, Darren pun terkekeh. Pasti berat lah, karena Darren berada di atas tubuh Sherena saat ini. Tubuh mereka juga berbeda, Sherena dengan tubuh kecil hampir mungil, sedangkan Darren dengan tubuh tegap, tinggi dan besar. Sangat jauh dengan Sherena.


"Yaudah, geser kamu nya." Sherena menurut, dia pun menggeser tubuh nya hingga Darren bisa berbaring di samping nya. 


Darren pun berbaring miring, dengan tangan yang terus mengusap-usap perut rata Sherena yang terasa hangat. Mungkin saking sakit nya, jadi sampai hangat seperti ini. 


"Kamu kalo datang bulan gini, perut nya selalu sakit?"


"Iya, sakit banget. Kadang aku pingsan, saking sakit nya." Jawab Sherena, dia merasa nyaman dengan usapan halu di perut nya. Tangan Darren benar-benar seperti obat yang ampuh bagi Sherena, terbukti rasa sakit di perutnya mulai reda hanya karena usapan dari Darren. 


"Sesakit itu ya?" Tanya Darren, Sherena menganggukan kepala nya. Dia tak tahu apakah orang lain juga merasakan hal yang sama atau tidak, tapi dirinya sering merasakan sakit yang luar biasa kalau kedatangan tamu, apalagi di hari pertama, kedua dan ketiga. Pasti perut nya akan selalu sakit seperti ini. 


"Maafin aku ya? Jujur aja, aku gak tahu kalau rasanya sesakit ini." Jawab Darren lirih.


"Gapapa kok, tadi kamu bawa apa di kresek?" Tanya Sheren.


"Aku tadi searching di go*gle, katanya biar rasa sakit nya mendingan, di kompres air hangat sama minum teh jahe. Jadi, itu aku bikin kamu teh jahe." 


Sungguh, demi apapun Sherena merasa speechless dengan penjelasan Darren. Dia sampai mencari di aplikasi pencarian, hanya untuk dirinya?


"Lalu?" Tanya Sherena dengan senyum manis dan pipi nya yang merona, dia merasa malu, tapi di sisi lain dia juga merasa bahagia karena sudah di istimewa kan oleh Darren. Ternyata, inilah enaknya punya pacar yang usia nya lebih dewasa ya? Tak perlu di minta pun, langsung mengerti. 


"Ya, setelah aku menemukan jawaban nya, aku langsung kesini nyamperin kamu." Jawab Darren sambil mencubit pelan hidung Sherena. 


"Hmm, biasa nya kan wanita ingin di mengerti. Iya kan?"


"Jelas." Jawab Sherena, dia malah ikut berbaring miring dan memeluk Darren. Saat ini, posisi mereka berhadapan dengan Darren yang melingkarkan tangan nya di pinggang Sherena, padahal tadi tangan nya ada di perut Sherena, mengusap perut nya. Sekarang kok pindah ke pinggang ya?


"Yang.."


"Hmm, iya sayang?" Jawab Darren, dia menatap Sherena dengan intens, lalu mengecup kening sang gadis dengan mesra. Cukup lama dan dalam, seperti nya pria itu mulai jatuh cinta pada Sherena. Terbukti, dari semua tindakan dan cara nya memperlakukan Sherena. 


"Kamu sudah mulai mencintaiku kan?"


"Kenapa kamu nanya kayak gitu, yang?" Tanya Darren pelan. Dia menatap Sherena dengan tatapan yang sulit di artikan, meskipun belum sepenuhnya yakin kalau ini cinta, tapi Darren harus berani mengambil keputusan bukan? Dia tak mungkin selama nya terjebak dengan kisah masa lalu nya, mau sampai kapan menyesali nya? Itu tidak akan pernah ada habisnya. 


"Enggak sih, cuma penasaran aja." 


"Harusnya, kamu bisa tahu sendiri dari bagaimana cara aku memperlakukan mu, sayang. Masa sih kamu gak peka?" 


"Hehe, ya gak gitu yang. Aku perempuan, jadi aku butuh pengakuan gitu." Jawab Sherena yang membuat Darren terkekeh.


"Pengakuan seperti apa, hmm?" Tanya Darren, dia menatap Sherena dengan dalam. Jelas saja, itu membuat wajah Sherena kembali merona. 


"Seperti ucapan aku mencintaimu." 


"Begitu?" Tanya Darren lagi, Sherena tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya. 


"Bagaimana?"


"Aku mencintaimu, Sheren." 


"H-aahhh? Tolong ucapkan sekali lagi, plis." Ucap Sherena. Akhirnya kata-kata yang ingin dia dengar dari Darren, hari ini dia benar-benar mendengar nya dengan jelas. Sangat membahagiakan, sungguh. 


"Aku mencintaimu, sayang ku. Kalau bahasa Korea nya itu saranghae gak sih?" Tanya Darren membuat Sherena terkekeh. Ada-ada saja pria nya itu.


"Iya, nado saranghae." Jawab Sherena sambil tersenyum, dia langsung memeluk Darren dan menyembunyikan wajah nya di dada bidang Darren. Pelukan Darren memang sangat nyaman, apalagi aroma tubuh nya yang wangi. Membuat nya nyaman meskipun harus memeluk Darren 24 jam nonstop, dia takkan bosan sama sekali.

__ADS_1


"Gemes.." Darren memeluk Sherena dengan erat, dia juga melayangkan kecupan-kecupan mesra di puncak kepala gadis cantik itu. 


"Ayang, pelan-pelan meluk nya. Aku gak bisa nafas ini."


"Hehe, maaf sayang. Kamu nya enak banget di peluk, hangat." Jawab Darren sambil cengengesan. 


"Besok, kamu mau di buatin sarapan apa?" Tanya Sherena.


"Gak usah ya? Keadaan kamu lagi gini, aku gak mau bikin kamu kecapean." Darren mengusap lembut wajah Sherena, dia juga merapikan anak rambut gadis itu dan menyelipkan nya ke belakang telinga. 


"Gapapa, ini kan udah kewajiban aku sebagai calon istri kamu." 


"Cieee, calon istri gak tuh." Goda Darren sambil tersenyum menggoda, membuat wajah Sherena langsung memerah kembali. 


"Issshh, diem. Aku malu!" 


"Hahaha, iya iya, sayang. Padahal dulu, pas awal-awal kita ketemu, aku gak nyangka kamu bakalan semanja ini deh." Ucap Darren sambil terkekeh.


"Kamu pikir aku gadis barbar gitu?"


"Iya, soalnya kamu langsung ngejar aku. Padahal kita kan baru ketemu sekali. Gimana gak aneh tuh." 


"Kamu juga pasti ilfeel kan sama aku? Jujur aja, iya kan?"


"Iya, aku ilfeel sama kamu awalnya. Tapi kelamaan kok kamu ngangenin, jadinya yaudah aku ajak kamu ke rumah, pas banget kamu minta nomor ponsel." Jelas Darren, tangan nya membelai lembut wajah Sherena terus menerus. 


"Terus? Apa kamu mikir aku gak bakalan datang, hmm?"


"Hahaha, ketebak banget ya, yang?"


"Iyalah." Jawab Sherena. 


"Hmmm, tapi aku bersyukur karena berkat kamu, aku jadi percaya kalau gak semua wanita itu menyakiti." 


"Maksud kamu?" Tanya Sherena, dia memang belum mengetahui seperti apa masa lalu Darren dengan mantan istrinya.


"Aku punya masa lalu yang cukup menyakitkan dengan mantan istri ku, sayang. Yahh, dia meninggalkan aku karena aku miskin." Jawab Darren membuat Sherena terhenyak. Pantas saja pas awal-awal dia mendekati Darren, pria itu terkesan cuek dan seperti tidak tertarik pada wanita. Ternyata, ini kah jawaban nya? Ya, Darren trauma dengan wanita. 


"Dia pergi bersama pria lain yang lebih punya segala nya di bandingkan aku, kamu tahu, sayang? Dia meninggalkan aku bersama pria itu disaat aku baru saja berduka karena kedua orang tua ku meninggal karena kecelakaan." Jelas Darren, lagi-lagi membuat Sherena terkejut bukan main.


"Kok ada sih wanita kayak gitu? Suami nya lagi berduka, bukan nya di kuatkan malah di tinggalin sama cowok lain? Astaga, gak habis pikir aku."


"Ya, tapi itulah fakta nya. Dia pergi dan sampai sekarang, aku tak tahu bagaimana kabar nya. Lagi pun buat apa, itu tidak penting juga." Jawab Darren sambil tersenyum.


"Maaf, kalau aku membuat mu sedih, sayang."


"Tidak, tidak apa-apa. Harusnya kamu memang sudah tahu tentang masa lalu ku, agar tidak terjadi kesalah pahaman nanti nya." 


"Terimakasih sudah mau jujur, sayang." Jawab Sherena, Darren tersenyum lalu mengangguk. 


"Minum teh jahe nya ya? Biar perut kamu hangat, nanti sakitnya bakalan berkurang kan?"


"Nanti aja, yang."


"Nanti teh nya keburu dingin, sayang." Jawab Darren. 


Cup.. 


Sherena mengecup bibir Darren sekilas, lalu tersenyum. Darren terkekeh, lalu menarik kepala Sherena dan mencium bibir nya dengan rakus. Sherena juga dapat mengimbangi permainan pria itu karena sudah terbiasa dengan ciuman Darren yang cepat dan menuntut.


Tangan besar Darren menyusup ke dalam kaos yang di kenakan oleh Sherena, tangan nya merayap nakal mencari pegangan hidup nya, buah kenyal nan ranum itu dia remaas dengan lembut, membuat Sherena tak bisa kalau dia tidak mendesaah.


"Aaahh, pelan-pelan sayang.." Pinta Sherena, Darren tersenyum lalu kembali memainkan buah kenyal milik gadis itu. Selain di dada, bibir nya juga bermain-main di leher Sherena memberikan motif cantik di leher gadis itu. Membuat bercak-bercak kemerahan yang membuat Sherena terlihat seperti macan tutul karena ulah Darren.


Tok.. tok.. tok..


Disaat situasi makin memanas, Darren sudah sangat bernafssu, tiba-tiba saja mereka mendengar kalau pintu di ketuk. Darren langsung menyudahi permainan nya, dia menarik tangan nya dari kaos yang di kenakan Sherena. Begitu pun dengan Sherena, dia sibuk merapikan pakaian nya, juga menutupi tanda kemerahan yang di buat oleh Darren dengan rambut.


"Masuk.." Ucap Sherena. Pintu terbuka perlahan, Arumi tersenyum kecil saat melihat kedua nya. Tapi ada yang aneh, kenapa wajah mereka terlihat memucat? Apalagi Darren yang berdiri mematung tak jauh dari ranjang.


"Kalian kenapa? Kok pucat?" Tanya Arumi, membuat Darren salah tingkah, begitu juga dengan Sherena. Tapi, saat melihat liptint putri nya yang berantakan, Arumi bisa menyimpulkan kalau mereka pasti habis silaturahmi. Iya gak sih? Silaturahmi bibir maksudnya.


"H-aahh, enggak kok Ma." Sherena mencoba mengelak, tapi Arumi hanya tersenyum lalu meletakan secangkir teh dan kopi lalu kembali keluar. 


Darren dan Sherena saling melempar tatapan, lalu kompak menghela nafas. Syukurlah mereka tidak ketahuan. Kalau ketahuan, habis sudah. Bisa-bisa dia di tuntut untuk menikahi Sherena dalam waktu dekat. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2