
"Hari ini kita pulang ya?" Ajak Darren. Semalam dia bersikukuh untuk tetap berada di rumah sakit, sedangkan kedua orang tua Sherena memilih pulang dulu. Saking percaya nya kedua orang tua Sherena pada Darren.
"Hmm.." Jawab Sherena. Dia enggan melihat wajah sang kekasih, dia selalu memalingkan wajah nya dari Darren. Hal itu, tentu saja membuat Darren keheranan. Ada apa dengan sang kekasih? Kenapa dia seolah enggan melihat wajah nya, padahal tadi malam mereka baik-baik saja. Bahkan kedua nya tidur dengan saling berpelukan, meskipun harus berdesakan di ranjang yang sempit itu.
"Babe, are you okay?"
"Ya, i'm okay. Why?" Balik tanya Sherena. Darren pun meraih wajah sang gadis lalu membuat nya menatap ke arah nya. Kedua mata gadis itu membeliak saat melihat wajah tampan sang kekasih, biasa nya dia menyukai nya tapi kenapa sekarang dia malah muak melihat wajah itu?
"Kenapa kamu tidak mau menatap wajah ku, sayang? Ada apa?" Tanya Darren.
"Aku bosan melihat wajah mu." Jawab Sherena, benar-benar jawaban yang di luar perkiraan. Bosan katanya? Yang benar saja.
"Bosan? Kamu bercanda, sayang?"
"Tidak, aku muak melihat wajah mu itu. Membuat aku mual."
"Apa aku sejelek itu, sayang? Hingga membuat mu merasa mual seperti itu?" Tanya Darren lagi, namun Sherena masih memalingkan wajah nya, gadis cantik itu masih enggan menatap wajah Darren.
Pria itu mengambil ponsel dan membuka aplikasi kamera. Dia melihat-lihat wajah nya, masih tampan seperti dulu. Wajah tampan pujaan para gadis, termasuk Sherena. Gadis itu begitu mengagumi ketampanan, bahkan gadis itu juga seringkali memuji ketampanan nya. Tapi kenapa sekarang dia malah berubah?
'Apa wajah ku benar-benar membosankan? Sampai-sampai Sherena mengatakan hal itu ya?' Batin Darren.
"Sudahlah, aku ingin segera pulang. Aku tak nyaman berada di tempat ini, bau obat." Ucap Sherena.
"I-iya, sebentar aku mau manggil perawat dulu buat lepasin infusan nya." Jelas Darren. Sherena mengangguk, tapi masih tanpa menatap wajah nya. Itu membuat Darren menggelengkan wajah nya.
Darren keluar dari ruang perawatan sang kekasih, lalu pergi untuk memanggil perawat di bagian depan. Setelah selesai, dia pun kembali ke ruangan sang kekasih. Ternyata keadaan nya masih sama, begitu mendengar pintu terbuka, gadis itu langsung memalingkan wajah nya.
"Hufftt.. Salah apa aku selama ini? Perasaan gak ada salah, tapi dia terlihat membenciku saat ini. Aneh kan? Padahal semalam dia baik-baik saja bahkan bersikap manja, tapi pagi ini dia bertingkah aneh. Ada-ada saja bumil yang satu ini." Gumam Darren. Dia memasukkan beberapa barang ke dalam tas.
Setelah perawat datang, dia pun langsung melepas infusan di punggung tangan Sherena. Kedua nya pun pulang, Sherena masih mau menggenggam tangan Darren, tapi wajah nya tetap berpaling ke samping.
"Gini ya rasa nya di cuekin sama calon bini, jalan sih pegangan tangan tapi.."
"Gak usah banyak omong, kalau kamu mau aku tatap, besok-besok pakai masker."
"Kok masker sih, Bee?"
"Kamu jelek!"
"H-aahh? Jelek apa nya? Aku ganteng begini lho, Bee. Gini-gini aku masih laku sama gadis SMA."
"Ohh, masih laku ya? Yaudah sana, gak usah deketin aku." Ucap Sherena dengan ketus, dia bahkan melepaskan genggaman tangan Darren.
"Aihhh, sayang. Yang aku maksud gadis SMA itu kan kamu, Bee."
"Tapi sekarang aku sudah lulus, jadi bukan anak SMA lagi." Ketus Sherena, membuat Darren menggelengkan kepala nya dengan keheranan.
"Astaga, sayang. Iya maaf-maaf, aku gak bakalan berpaling dari kamu kok."
"Aku masih marah."
"Hmm, mau di sogok apa, Bee?" Tanya Darren, biasa nya Sherena akan luluh jika mendengar kata sogokan. Biasa nya, Darren akan menyogok sang kekasih dengan makanan. Itu adalah cara yang paling ampuh dulu, entah kalau sekarang.
"Gak usah."
"Sayang, maaf dong.."
"Gak bakalan aku maafin!"
"Sayang, please. Aku mohon.." bujuk Darren sambil menggerakan tangan sang kekasih.
"Gak mau, sanaan ih." Usir Sherena sambil mendorong Darren agar sedikit menjauh dari nya.
"Bee, aku.."
"Kamu bau, aroma nya bikin aku mual."
"Astaga, tadi wajah ku membuat bosan sekarang aroma tubuh? Aku memang belum mandi, tapi perasaan aku gak bau." Ucap Darren sambil mengendus aroma tubuh nya, terutama di bagian ketiak nya. Tapi dia tidak mengendus aroma yang aneh apalagi bau, tidak sama sekali.
Padahal biasa nya, Sherena malah suka mendusel di ketiak nya, tapi sekarang dia malah mengatai tubuh nya bau? Ada apa dengan gadis nya? Hidung nya bermasalah atau apa?
"Bau, sanaan."
"Sayang, please.."
"Ayo pulang!" Ajak Sherena. Darren pun menganggukan kepala nya, dia pun menggenggam kembali tangan sang kekasih, otomatis tubuh mereka berdekatan, saat itu juga Sherena langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada di lorong.
__ADS_1
Hueek.. huekk..
Sherena mengeluarkan semua isi perut nya di wastafel, Darren datang dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia memijat pelan tengkuk Sherena agar merasa lebih lega.
"Sayang.."
"Keluar, jangan masuk kemari. Nanti kamu jijik." Ucap Sherena lirih.
"Tidak, tidak apa-apa, sayang. Aku tidak jijik sama sekali, karena aku yang sudah membuat kamu seperti ini. Maafkan aku, sayang." Darren terus saja memijat tengkuk sang kekasih dengan perlahan. Untung saja, dia membawa minyak kayu putih dan mengoleskan nya di tengkuk Sherena agar merasa lebih lega.
"Lemes, Bee?" Tanya Darren sambil memeluk tubuh Sherena yang terkulai lemas.
"Heem, tenggorokan aku rasa nya pahit banget deh."
"Kita cari minuman ya?" Ajak Darren sambil menggandeng tangan sang kekasih ke luar dari kamar mandi.
"Mau es jeruk peras, kayaknya enak deh."
"Iya, kita cari sambil jalan ya." Ajak pria itu, dia pun membopong tubuh lemas Sherena menjauh dari area kamar mandi.
"Mual lagi.." Lirih Sherena, tiba-tiba saja perut nya terasa mual. Perut nya terasa di aduk-aduk.
"Tahan sebentar, aku beli kantong kresek dulu ya?"
"Iya, cepetan." Pinta Sherena. Darren pun berlari ke warung terdekat dan membeli kantong kresek, meninggalkan Sherena di parkiran dekat mobil nya yang terparkir sejak semalam.
Tak lama kemudian, Darren datang dengan membawa segelas es jeruk peras dan juga kantong kresek.
"Kamu kalau mual lagi, tampung aja dulu kesini ya."
"Hmm, iya.." Darren pun membopong tubuh Sherena ke dalam mobil dan membiarkan gadis nya duduk di kursi kosong di samping kemudi. Darren memberikan es jeruk nya pada Sherena.
"Sayang, ini es jeruk nya."
"Terimakasih."
"Sama-sama, kalau mabuk lagi muntah nya di kresek aja dulu ya." Sherena menganggukan kepala nya. Pria itu pun mengusap pelan rambut sang kekasih, lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukan nya dengan kecepatan rata-rata.
Sesekali, pria itu menatap wajah cantik sang kekasih yang terlihat pucat. Dia khawatir, benar-benar khawatir dengan keadaan Sherena sekarang ini. Tapi, ini adalah sebuah kewajaran karena Sherena sedang hamil muda. Jadi wajar kalau dia mengalami morning sickness bukan?
"Bee, kamu baik-baik saja?"
"Minum es jeruk nya dong."
"Iya, terimakasih." Jawab gadis itu. Dia merasa lemas, benar-benar lemas karena separuh energi nya benar-benar terkuras habis karena muntah-muntah tadi di rumah sakit tadi.
"Sama-sama, sayang."
"Yang, aku lemes.."
"Mau gimana? Mau makan lagi?"
"Enggak, kalo aku makan nanti aku muntah-muntah lagi, Yang." Jawab Sherena sambil menatap wajah tampan sang kekasih.
"Tapi kamu harus makan, Bee. Nanti adik bayi nya kelaparan di dalam sana." Ucap Darren.
"Yaudah, aku mau bakso aja."
"Iya, juta beli di warung kesukaan kamu ya. Tapi jangan pedes-pedes ya?"
"Kenapa emang nya? Padahal lagi mual-mual gini, enak nya tuh makan bakso pedes." Jawab Sherena dengan wajah kesal nya.
"Nanti kamu sakit perut, adik bayi di perut kamu nanti kepanasan, kamu mau adik bayi nanti sakit?" Tanya Darren.
"Memang nya bisa begitu?"
"Ya iya dong, kalau kamu makan pedes nanti, adik bayi nya juga kepedasan, sayang."
"Ohh, yaudah. Dikit aja sambel nya, boleh kan? Biar gak enek doang."
"Iya boleh, tapi sedikit aja. Jangan lebih dari satu sendok, oke?"
"Hmmm, gak pedes dong." Lirih Sherena membuat Darren menatap sekilas ke arah sang kekasih.
"Makan bakso satu sendok sambel atau enggak sama sekali?"
"Iya iya, issh nyebelin!" Ketus Sherena membuat Darren mengacak rambut Sherena dengan gemas.
__ADS_1
"Tapi aku begini kan buat kebaikan kamu juga, sayang."
"Iya, bawel, cerewet!" Ketus nya lagi, lalu memalingkan wajah nya ke arah yang berlawanan sambil meminum es jeruk nya. Padahal kan, dia cerewet seperti ini kan demi kebaikan nya juga.
"Gapapa deh aku di katain cerewet." Jawab Darren. Dia pun memilih diam dan fokus mengemudi. Setelah cukup lama berkendara di jalanan, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Darren pun berhenti di sebuah kedai bakso.
"Ayo turun, sayang." Ajak Darren. Sherena pun turun dengan menggenggam tangan sang kekasih. Kedua nya pun berjalan pelan ke dalam kedai dan memesan bakso nya.
Sore hari nya, Darren kembali datang ke rumah sang kekasih dengan membawa pesanan makanan dan cemilan untuk sang kekasih.
"Ma, Darren nitip ini buat Sheren ya. Kalau dia nanyain, bilang aja Darren pergi dulu ada urusan. Nanti malem kesini lagi, sekalian mau ada yang Darren bicarakan." Ucap Darren pada Arumi, wanita paruh baya itu pun langsung menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Hati-hati, Nak. Kalian sebentar lagi mau pengantenan, harus jaga kesehatan."
"Iya, Ma. Darren ada urusan sebentar yang harus di selesaikan terlebih dulu, kalau tidak di selesaikan segera, Darren khawatir urusan ini akan semakin rumit nanti nya setelah Darren menikah dengan Sheren."
"Baiklah, selesai kan dulu urusan itu, Nak."
"Iya, Ma. Darren pamit dulu, bilangin sama Sheren ya, Ma." Arumi menganggukan kepala nya.
"Nanti Mama sampaikan kalau anak nya udah turun."
Darren pun hanya mengiyakan saja, lalu pergi dari kediaman keluarga Sherena. Dia akan pergi ke penjara saat ini, tentu nya bersama Andy. Tapi, seperti nya Andy malah mengatakan hal itu pada Meysa, akhirnya gadis itu merengek ingin ikut. Karena sudah bucin akut, akhirnya Andy tak bisa melarang, jadilah disini mereka saat ini, di kantor polisi.
"Kenapa dia mengintil?" Tanya Darren pada Andy begitu melihat ada Meysa di belakang pria yang menjadi asisten nya.
"Katanya mau lihat muka nya si Ono." Jawab Andy sambil terkekeh.
"Hmm, ya tapi jangan mengganggu. Kau membawa semua bukti-bukti nya, termasuk rekaman cctv di cafe hari itu kan?"
"Tentu, semua nya sudah saya siapkan."
"Ya sudah, baguslah. Ayo masuk." Ajak Darren. Andy dan Meysa pun mengekor di belakang Darren. Meysa celingukan, suasana di penjara benar-benar agak dingin bagi nya. Tentu saja terasa dingin, karena isi nya adalah para kriminal yang sedang menebus kesalahan nya.
"Saya ingin bertemu dengan Rita dan Agnes." Ucap Darren pada sipir yang berjaga di bagian depan.
"Baik, silahkan tunggu sebentar. Tapi maksimal hanya boleh dua orang saja, selebihnya bisa melihat dari balik kaca disana." Ucap nya. Terpaksa lah, Meysa yang tinggal. Niat hati nya, dia hanya ingin melihat kedua nenek sihir itu. Tapi kalau tidak di izinkan ya tidak masalah, dia bisa mengata-ngatai kedua nya dari balik kaca.
"Mari, Tuan." Ucap penjaga sel, kedua pria itu pun mengekor di belakang nya. Hingga sampai di ruangan yang hanya ada meja dan beberapa kursi, khusus orang yang ingin menjenguk tahanan.
Tak lama kemudian Rita dan Agnes keluar dari sel dengan di bawa oleh sipir, kedua tangan mereka di borgol.
"Darren.."
"Hmm, selamat sore." Jawab Darren dengan wajah datar nya.
"Lepaskan aku dari sini, tempat ini benar-benar tidak sesuai untuk ku. Aku tak betah berada disini, aku mohon!"
"Tidak akan pernah, tempat ini adalah tempat yang paling cocok untuk penjahat seperti mu, Rita." Jawab Darren membuat kedua mata Rita membeliak, beruntung saja tidak sampai melompat keluar dari tempat nya.
"Darren, aku tidak melakukan apapun. Kenapa kau bisa mengatakan kalau aku ini penjahat?"
"Kau penjahat terkejam yang pernah aku kenal, Rita. Kau hampir membuat anak ku tak bisa bertahan karena ulah gila mu itu."
"Anak? Apa maksud mu?"
"Sherena sedang mengandung anak ku sekarang dan dia hampir saja keguguran karena mu, Rita. Harus nya kau bersyukur karena aku masih mempunyai hati dan mengingat kalau anak dan calon istriku baik-baik saja sekarang. Kalau sampai anak ku tak bisa di selamatkan, aku sendiri yang akan memenggal kepala mu untuk menggantikan nya!" Tegas Darren membuat wajah wanita itu memucat seketika.
Dia baru melihat sisi Darren yang seperti ini, sungguh dia tidak menyangka kalau Darren begitu mengerikan saat dia marah seperti ini. Padahal dulu, dia nyaris tidak pernah melihat Darren marah meskipun dia mengata-ngatai nya miskin atau bahkan menghina nya. Tapi sekarang, dia benar-benar terlihat marah, mata nya mengkilat akan amarah.
"Oh, jadi dia sedang hamil sekarang? Ternyata Sherena muraahan juga ya." Celetuk Agnes.
"Jaga ucapan mu, aku tahu kau simpanan om-om. Kau lebih murah di bandingkan sendal jepit!" Bukan Darren, tapi Andy yang menjawab dengan sewot.
"Jangan mengatakan hal yang mustahil, mana ada aku begitu."
"Benarkah? Kau ingin aku menunjukkan nya? Kau ingin aku memutar video nya di televisi besar itu?" Tanya Andy.
"Ckkk, inti nya kita sama-sama murahaan. Tapi aku aman tuh, gak sampai hamil kayak si Sherena." Jawab Agnes dengan senyum jahat nya.
"Agnes.." panggil Rita. Tapi, Agnes hanya memutar mata nya dengan sebal lalu memalingkan wajah nya ke samping.
"Darren, aku mohon bebaskan kamu berdua."
"Tidak, kalian harus di hukum sesuai dengan perbuatan kalian!"
"Tapi, aku tidak melakukan apapun." Jawab Agnes. Benar, dia tidak melakukan apapun. Yang membuat Sherena terjatuh pun itu ibu nya, bukan dirinya.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻