
"Jujur sama aku, kamu habis nonton apaan?" Tanya Darren sambil menatap Sherena dengan tatapan tajam, membuat nyali gadis itu menciut seketika. Dia beralih menunduk dan bermain-main di dada bidang Darren, mengukir pola-pola abstrak disana.
"Sayang.."
"Issshh, aku habis nonton drama Korea yang banyak adegan itu nya. Terus kata April juga rasa nya nagih." Jawab Sherena, membuat Darren mengernyit.
"April? Dia udah gak virgin?"
"Gak usah heran, temen-temen aku udah pada gak V lagi, sayang." Jelas Sherena lirih.
"Meysa, Arin?"
"Kecuali yang dua itu deh kayaknya, soalnya mereka jomblo. Tapi kalo April sih udah punya pacar, terus pacar nya itu berapa tahun lebih dewasa dari dia gitu. Terus, mereka udah tunangan. Habis lulus sekolah, rencana nya mereka mau nikah sih." Jelas Sheren.
"Sudah aku duga, bergaul sama temen-temen sengklek itu membuat otak kamu terkontaminasi seperti ini."
"Isshh, apaan sih yang. Masa di sekolah aku gak punya temen sih?" Tanya Sheren sedikit ketus.
"Kamu tahu kalo April udah gituan dari siapa?"
"Dari orang nya langsung, bukan denger dari orang lain. Tapi katanya baru dua kali, soalnya pacar nya tuh kerja di luar kota, jadi jarang ketemu." Jelas gadis itu.
"Jadi, kamu nyobain? Temen kamu aja belum nikah udah gak perawaan."
"Takut.."
"Sakit awalnya doang kayaknya, kesana nya enak." Jelas Darren membuat Sherena terlihat memikirkan sesuatu. Tangan Darren juga sudah mulai nakal merayap ke arah dada sang gadis dan memainkan.
"Tapi kalo April kan dia udah tunangan, hubungan mereka udah melibatkan keluarga masing-masing."
"Kita? Orang tua kamu udah ngasih lampu hijau lho, yang." Jawab Darren.
"Aaaaa, jangan pengaruhi aku ya."
"Lah, kamu sendiri yang mulai. Aku sedari tadi diam lho kalo kamu gak duluan." Jawab Darren, membuat Sherena terdiam. Iya sih bener, Sherena yang memancing duluan untuk membahas hal ini. Tapi setelah Darren menanggapi, dia malah menuduh nya mempengaruhi nya.
"Hehe, aku masak dulu ya.."
"Kamu mau menghindar, hmm?" Tanya Darren, tatapan nya mulai tak bersahabat. Membuat Sherena memalingkan wajah nya, tak berani menatap wajah tampan sang kekasih. Tapi sungguh, Darren yang sedang dalam mode seperti ini, sangat menakutkan bagi Sheren.
"Sa-yang.."
"Aku cuma minta vitamin aku, minum susu pagi hari sangat menyegarkan, sayang." Jawab Darren, tanpa basa basi lagi dia menyibak kaos yang di kenakan oleh Sherena dan menyusu seperti biasa di dada Sheren.
__ADS_1
"Huffftt, bayi besar ku mulai lagi." Gumam Sherena, tapi ya biarkan saja selama Darren tidak meminta yang di bawah sana.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Darren selesai dengan kegiatan nya. Dia pun bangkit dari atas tubuh Sherena dan membantu gadis nya untuk merapikan kembali pakaian nya. Dia membereskan ranjang lagi, membuka jendela dan gordeng nya sekalian agar udara segar bisa masuk ke kamar.
"Aku mandi dulu ya, sayang?"
"Iya, mandi yang bersih. Aku mau masak di bawah."
"Masak sambel cumi, yang." Ucap Darren, Sherena menganggukan kepala nya. Jadi menu sarapan pagi ini adalah sambel cumi, tumis kangkung dan bakwan jagung.
Gadis itu berkutat dengan alat masak, dia juga sibuk memotong-motong sayur sambil tetap mengaduk sambel di dalam wajan yang sudah hampir matang. Di kulkas juga ada sosis dan bakso, jadi dia tambahkan ke sambel nya sebagai campuran.
Darren yang baru saja turun dari kamar seketika mencium aroma yang menguar dari arah dapur. Pria itu tersenyum saat melihat Sherena tengah sibuk saat ini.
"Ada yang bisa aku bantu, sayang?" Tanya Darren sambil memeluk Sherena dari belakang dengan mesra, dia juga menyandarkan kepala nya di pundak Sherena.
"Tidak ada, sudah hampir selesai. Tinggal goreng bakwan jagung dan selesai. Kamu duduk aja di sana, nanti aku siapin kalo udah matang semua." Jawab Sherena, Darren pun menurut dan menunggu di kursi meja makan.
Bisa di bayangkan sebahagia apa Darren saat ini karena memiliki Sherena di samping nya. Selain cantik dan usia nya yang masih muda, kini Sherena juga menjelma menjadi koki yang selalu memasak makanan enak untuk nya. Gadis itu benar-benar dengan ucapan nya yang akan belajar untuk menjadi tipe ideal nya.
Darren mengatakan dia suka wanita yang bisa memasak, Sheren melakukan nya. Jadi, tak ada alasan lagi bagi Darren untuk tidak serius dengan Sherena. Terlebih orang tua sang gadis juga sudah memberikan restu alias lampu hijau nya dari awal mereka bertemu seperti nya.
Sherena mulai meletakan makanan di meja, Darren menatap takjub dengan menu sarapan nya pagi ini. Semangkuk sambel cumi, sepiring cah kangkung dan bakwan jagung yang masih hangat. Terlihat sangat menggugah selera, perut Darren yang memang sudah keroncongan sedari tadi, langsung berbunyi dengan riuh.
"Sayang, perut kamu bunyi.." ucap Sherena sambil terkekeh kecil.
Keesokan hari nya, Sherena berangkat sekolah bersama Darren seperti biasa. Tapi ada yang aneh dengan pria itu, biasa nya dia akan menyambut gadis itu dengan senyuman manis nya dan akan langsung bermanja dengan nya, tapi sekarang pria itu terlihat acuh bahkan sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah, suasana di dalam mobil hanya ada keheningan.
Sherena paham, mungkin saja Darren sedang badmood. Dia juga tidak berani untuk bicara lebih dulu, dia membiarkan saja pria itu diam. Hingga suasana di kamar itu terasa sedikit canggung ya karena aksi saling diam-diaman itu. Padahal biasa nya mereka akan bicara kesana kemari, membicarakan hal random.
'Duh, si ayang kenapa ya? Kok jadi pendiem gini?' Gadis itu membatin, dia kebingungan dengan perubahan sikap sang pria. Dia merasa tidak punya salah apapun pada Darren, tapi pria itu berubah. Kira nya ada apa ya?
Hingga kedua nya sampai ke sekolah, Darren masih diam. Bahkan pagi itu, Darren tidak meminta jatah vitamin nya. Untuk sekedar cium kening saja tidak sama sekali, dia membiarkan Sherena keluar dari mobil nya tanpa acara kecup kening terlebih dulu.
Sherena masuk ke sekolah dengan membawa mood yang kurang baik. Di dalam mobil, Darren juga menghembuskan nafas nya dengan kasar. Rasanya sangat sulit mendiamkan sang gadis. Dia tidak suka saat di diamkan seperti itu, benar-benar canggung rasa nya.
"Sial, apa yang di pikirkan Sherena karena aku diam ya? Ckk, kalau saja bukan karena rencana teman-teman nya, aku gak bakalan mau di suruh diamin Sherena seperti ini." Gerutu Darren.
Ya, dia dan teman-teman sengklek sang gadis alias geng trio wekwek itu sepakat untuk mendiamkan Sherena demi surprise birthday yang akan mereka lakukan nanti malam. Darren juga mengatakan kalau dia akan sekalian melamar Sherena di moment pergantian usia nya.
Mereka terkejut, sangat terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Darren akan melamar Sherena dalam moment ini, mereka membayangkan akan sebahagia apa Sherena nanti?
Tapi akhirnya mereka sepakat untuk ikut andil dalam semua nya, untuk memeriahkan acara nanti malam sekalian makan gratis, wkwk.
__ADS_1
Sherena berjalan di koridor, disana dia bertemu dengan Arina yang juga tengah berjalan sendirian.
"Arin.." Panggil Sherena, Arin terlihat terkejut, tapi itu hanya berlaku beberapa detik saja sebelum wajah nya kembali datar menatap ke arah nya.
"Hmmm, apa?"
"Gak sih, ayo barengan." Jawab Sherena, Arina pun menganggukan kepala nya. Kedua nya pun berjalan berdampingan, tapi lagi-lagi Sherena merasakan ada yang aneh dengan Arina. Dia juga diam, padahal biasa nya dia yang paling bawel dan banyak omong. Aneh bukan saat dia tiba-tiba saja diam seperti ini?
Jelas itu membuat seorang Sherena kebingungan. Belum selesai menebak-nebak alasan di balik diam nya Darren, sekarang dia di pusingkan dengan diam nya Arin.
Sesampai nya di kelas, Sherena menggaruk kepala nya yang tak gatal sama sekali. Sebenarnya ada apa dengan teman-teman nya, bahkan April dan Meysa juga ikut diam seperti Arin.
Apa mungkin mereka sudah tidak ingin berteman dengan nya lagi? Itukah alasan nya? Tapi, apa salahnya? Perasaan dia tidak membuat kesalahan pada siapapun. Dia tidak bertengkar atau berdebat dengan Darren, bahkan kemarin saja mereka masih bermesraan. Tapi sekarang beda lagi.
Teman-teman nya juga begitu, perasaan dia tidak membuat kesalahan apapun. Tapi kenapa hari ini semua nya nampak aneh, malahan tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, padahal hari ini dia ulang tahun yang ke 19 tahun.
'Mereka pada kenapa ya? Enggak Mas pacar, bestie juga pada diem mendadak. Kenapa ya? Gak mungkin kan kalau mereka kena kutukan jadi diem gini kayak di film upin-ipin yang bayang-bayang nya di ambil monster?' Batin Sherena, tapi akhirnya dia pun melupakan nya dan fokus belajar saat guru nya datang dan mulai mengajar.
Sherena memang selalu fokus, tapi kali ini berbeda saja. Karena biasa nya ada Arin yang akan merecoki nya saat belajar, sekarang tidak lagi. Dia malah memilih diam, begitu juga dengan April dan Meysa.
Saat jam istirahat, Sherena juga memilih untuk ke kantin sendirian. Tentu nya hal itu membuat teman-teman nya yang lain keheranan, karena biasanya kemana-mana mereka pasti selalu berempat. Tapi sekarang ada yang misah satu.
"Lah, tumben pisah?"
"Hmmm, lagi pengen aja." Jawab Sherena lirih sambil mengaduk-aduk jus alpukat di dalam gelas nya. Dia sama sekali belum meminum nya.
"Yaudah, kita kesana dulu, mesen."
"Yoii." Jawab Sherena pelan. Dia pun kembali dengan kegiatan nya, dia merasa sendirian sekarang. Biasa nya juga di jam istirahat seperti ini, Darren akan menghubungi nya, entah lewat pesan atau telepon. Tapi sekarang ponsel nya tidak menerima notifikasi apapun.
"Bingung, gue punya salah apa sih sebenernya? Jangankan pada ngucapin ulang tahun, ngomong aja kagak." Gumam nya sambil menyedot jus nya dengan perlahan.
Sedangkan di meja lain, April tengah memberikan edukasi pada kedua teman nya tentang rencana mereka nanti malam, untuk surprise itu.
"Inget, jangan ada yang ngajak ngomong Sheren!"
"Oke, tapi sumpah gue kasian tahu liat Sherena bengong aja sendirian." Ucap Meysa.
"Bener, tadi aja dia keliatan bener kalau dia tertekan gitu. Sumpah gue gak tega, tapi akhirnya gue inget rencana kita gak boleh gagal." Arina juga ikut bicara. Kesuksesan surprise mereka ada disini, mereka harus membuat Sherena berpikir kalau tak ada yang mau menemani nya lagi.
"Iya, gue tahu. Keliatan bener kalau dia lagi mikir keras apa kesalahan nya yang bikin kita kompak diemin dia." Ucap April, kedua teman nya mengangguk mengiyakan. Memang sih ini cukup menguras emosi, terutama mereka yang tak bisa mendiamkan Sherena. Tapi, demi kesuksesan surprise itu, mereka pun harus menahan nya dan menguat-nguatkan diri agar tidak mengajak Sheren bicara duluan.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻