Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 96 - Nilai Terbaik


__ADS_3

Sherena bertemu dengan ketiga sahabat nya, dia tersenyum kegirangan karena akhirnya dia bisa bertemu dengan ketiga teman somplak nya.


"Kangen banget sama kalian bestie.." Ucap Sherena sambil memeluk ketiga sahabat nya dengan erat. 


"Ya, kami juga. Kenapa kemarin gak masuk sekolah?" Tanya April sambil menatap wajah Sherena dengan senyum kecil nya.


"Di kurung sama Om Duda." Jawab Sherena sambil tertawa.


"Katanya nyokap sama bokap Lo ke luar kota kan, jadi sekarang tinggal sama siapa?" Tanya Meysa penasaran.


"Sama ayang.." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil.


"What?" Tanya ketiga nya dengan kompak, Sherena tertawa lalu menggandeng sahabat nya ke kelas.


"Gak usah kaget gitu, nanti aku ceritain setelah selesai pengumuman kelulusan." Jawab Sherena, teman-teman nya pun menganggukan kepala mereka dan guru pun masuk dengan membawa beberapa amplop di tangan nya. 


Seketika itu, suasana menjadi hening karena mereka masuk ke dalam suasana canggung. Dalam hati mereka pasti menerka-nerka, apakah mereka lulus atau tidak. Termasuk Sherena, dia ingin melihat apakah hasil belajar nya sia-sia atau tidak. Harus nya sih tidak, karena dia sampai rela tidak bertemu dengan Darren selama satu minggu dan fokus belajar untuk ujian, akan sangat mengesalkan kalau semisal hasil nya tidak memuaskan. 


"Gugup gue, Rin." 


"Sama, gue juga Sher. Gimana kalo gue gak lulus ya?"


"Ya terpaksa Lo tinggal kelas disini setahun lagi, Rin." Jawab Sherena sambil terkekeh pelan. Arina menepuk pelan lengan Sherena membuat sahabat nya itu langsung terdiam. 


Surat pengumuman pun di bagikan dengan amplop berwarna putih, Sherena membuka nya dengan perlahan, dia takut kalau hasil nya tidak sesuai dengan apa yang sudah dia perjuangkan selama ini. 


"Lulus, yee gue lulus.." Ucap April heboh sambil bersorak kegirangan.


"Gue juga, Prill." Meysa dan April tersenyum lalu kedua nya berpelukan. Kini giliran Arina dan Sherena, kedua nya bersorak juga saat melihat hasil nya yang benar-benar memuaskan.


"Harap tenang, selamat untuk kalian semua yang sudah lulus. Sekarang, Ibu akan mengumumkan siapa yang mendapatkan nilai terbaik ujian akhir ini." Ucap nya, dia adalah wali kelas yang selama tiga tahun ini menemani mereka. Tapi hanya beberapa bulan saja untuk Sherena, itu terlalu singkat bukan?


Tapi, Sherena merasakan banyak dan berbagai perasaan saat mereka berada di sekolah ini, karena dia bisa mendapatkan teman yang sangat baik-baik, guru-guru nya juga baik, adik kelas yang santun terhadap kakak kelas dan masih banyak lagi moment-moment yang membuat Sherena menyukai suasana sekolah ini. 


"Selamat untuk Sherena, kamu mendapatkan nilai ujian yang tertinggi di kelas dengan rata-rata yang bagus." Ucap nya, membuat Sherena menganga. 


"Yee, selamat bestie ku.." Ucap Arina sambil merangkul Sherena dari samping. 


"Selamat Sheren.." Heboh April, Sherena yang di nobatkan sebagai siswa yang mendapatkan nilai terbaik selama ujian, tapi ketiga teman nya itu yang heboh. Padahal Sherena masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan, dia bahkan dia tidak bermimpi akan mendapatkan predikat itu. Berarti hasil belajar nya selama ini tidak sia-sia bukan?


Pengorbanan nya untuk tidak bertemu dengan Darren selama satu minggu lebih itu tidaklah sia-sia, dia lulus dengan nilai terbaik. Dia masih bengong, membuat ketiga teman nya langsung memeluk Sherena.


"Udah oy, bengong aja Lo.." Ucap April sambil mengusap wajah Sherena.


"Beneran ini?"


"Benerlah, ya kali ibu wali kelas bercanda sama Lo, Sher. Udah tuh sama maju, ada hadiah katanya." Ucap Meysa lirih, Sherena pun maju pun ke depan untuk menerima sertifikat dan beberapa hadiah yang di berikan oleh wali kelas. 

__ADS_1


"Terima ini sebagai kenang-kenangan ya, Sherena."


"Terimakasih, Bu. Saya menerima nya dengan senang hati." Ucap Sherena sambil tersenyum. 


April dan Meysa langsung mengabadikan moment itu, tak lupa Arina juga. Meysa mengirimkan foto yang dia dapatkan pada Andy dan meminta nya menunjukkan foto hasil jepretan nya itu pada Darren.


"Tuan.." Panggil Andy, membuat Darren yang sedang sibuk bekerja itu langsung menatap asisten nya dengan wajah datar seperti biasa nya.


"Hmm, apa Andy? Aku sibuk, jadi jangan membawa obrolan-obrolan tak berguna mu itu kesini. Aku sedang tidak mood untuk mendengarkan nya." Ucap Darren, biasa nya Andy datang ke ruangan nya untuk bercerita banyak hal yang menurut nya tidak penting sama sekali. Dia bosan mendengar nya, jadi hari ini dia langsung mengusir pria itu dari ruangan nya sebelum sempat bicara. 


"Tapi ini tentang Nona Sherena, Tuan." Jawab Andy, barulah Darren terlihat tertarik dengan topik pembicaraan yang di bahas oleh asisten nya itu.


"Apa? Ada apa dengan gadis ku?" Tanya Darren.


"Nona Sherena lulus dengan predikat lulusan dengan nilai tertinggi, Tuan. Ini foto dari Meysa." Ucap Andy sambil memperlihatkan foto Sherena yang sedang menerima hadiah dan piagam pada Darren. Pria itu tersenyum kecil lalu merebut ponsel milik Andy dengan cepat.


"She is perfect.." gumam Darren, saat seperti ini sherena benar-benar terlihat sangat sempurna. Sudah cantik, pintar memasak dan juga pandai di atas ranjang. Pokoknya gadis itu nyaris sempurna, bukan nyaris lagi tapi sudah di tahap sempurna bagi Darren. 


"Kirim foto nya ke ponsel ku, lalu tanyakan pada kekasih mu, jam berapa mereka pulang sekolah." 


"Baik, Tuan." Andy pun langsung membalas pesan dari sang kekasih, lalu menunggu beberapa detik hingga balasan pun muncul.


'Sore aja kayak biasa nya, soalnya kita mau kumpul dulu udah lama. Bilangin sama Om Darren, kita pinjem Sherena nya bentar. Janji gak bakalan lecet atau tergores sedikit pun, sama kita dia aman.' Balas Meysa panjang lebar.


"Oke, terimakasih informasi nya, Andy. Sebagai ucapan terimakasih, aku akan mentraktir mu makan siang, bagaimana?"


Di sekolah, tepatnya di kantin ke empat gadis itu sedang asik berbincang sambil makan-makan. Sesekali terdengar suara gelak tawa yang membuat seisi kantin sekolah itu tampak lebih ramai karena kehadiran empat gadis remaja yang baru saja lulus sekolah itu. 


"Rencana mau kuliah dimana? Plis, disini aja lah kuliah nya, biar kita barengan terus." Usul April. 


"Gue sih ngikut Meysa." Jawab Arin membuat Meysa mendelik lalu terkekeh.


"Lo tahu gue pengen di kampus favorit gue, di kampus Raflesia." Jawab Meysa.


"Wanjir, itu kan salah satu universitas favorit. Gue denger test nya aja susah, iya kan?"


"Hmmm, maka dari itu gue jadi ragu gitu." Jawab Meysa lirih sambil menyesap minuman di gelas nya dengan sedotan. 


"Ragu kemana sih, Mey?" Tanya Sherena.


"Gue kan bodooh, Sher. Udah nethink duluan takut gak lulus test, kalo Lo sih pasti lolos kan ya?"


"Gak tahu juga, tapi gue mutusin buat gak kuliah."


"H-aahhh?" Tanya ketiga nya kompak, bahkan hingga muncrat kemana-mana karena kebetulan ketiga nya sedang kompak minuman mereka masing-masing. Kalo udah bestiean lama, melakukan apapun pasti barengan seperti ini, seperti ada refleksi di antara mereka satu sama lain. 


"Kenapa? Sayang banget kalo Lo gak kuliah, Sher. Nilai Lo bagus gitu." Ucap April.

__ADS_1


"Gue mau fokus aja ngurus laki gue."


"Maksud Lo?" Tanya Meysa. 


"Seminggu setelah acara perpisahan nanti, gue bakalan nikah sama Darren. Dia larang gue kerja, tapi dia gak larang tuh buat gue lanjutin pendidikan gue, tapi gue ngerasa gak bakalan kuat kalo semisal gue nikah sambil kuliah."


"Terus nih, gue males mikir. Hehe." Celetuk Sherena sambil tertawa. 


"Seminggu? Gila itu Om duda ngebet banget apa yakk nikah sama Lo, Sher. Apa jangan-jangan kalian udah making love?" Tanya Meysa membuat Sherena tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutan nya, apa itu terlalu mudah di tebak ya?


"Nah, beneran kan? Lo udah anu-anuan sama tuh si om duda kan? Habis di apain Lo, Sher?"


"Hahaha, kalian pasti ngertilah. Terlebih sekarang, nyokap sama bokap gak ada kan, plus gue malah di titipin sama dia, apa itu gak ngasih kesempatan nama nya?" Tanya Sherena sambil tersenyum kecil. 


"Wah, Sherena gue gak nyangka kalo Lo sama Om duda udah making love."


"Hmm, alesan kenapa gue gak sekolah kemarin lusa ya karena gak bisa jalan habis di unboxing sama Darren." Jelas Sherena membuat teman-teman nya bertambah shock saja di buat nya. 


"Pantesan aja jalan Lo beda, sekarang gue tahu jawaban nya, meskipun dari awal udah curiga duluan, wkwk." Ucap Arina sambil terkekeh. 


"Serius?"


"Bukan cuma si Arin doang yang curiga, kita juga. Tapi mau nanya langsung, kita takut Lo tersinggung, itu doang." Jelas April membuat Sherena tertawa.


"Oke, sekarang kalian udah tahu jawaban nya kan?"


"Iya, jujur aja kita-kita masih agak sedikit gak percaya kalo hubungan kalian udah sejauh itu, Sher."


"Gue nepatin janji gue, gays." Jelas Sherena. Ketiga nya kompak menganggukan kepala masing-masing, paham akan apa yang di ucapkan oleh Sherena. Memang, kalau sudah berjanji ya harus di tepati.


"Tapi, gue sekarang agak takut deh."


"Takut kenapa? Gak mungkin si om duda gak mau tanggung jawab kan?" Tanya Meysa sambil menyuapkan bakso ke dalam mulut nya.


"Bukan itu, kalo dia gak mau tanggung jawab gue tinggal bawa polisi aja. Tapi ini bukan tentang itu, Mey."


"Terus?"


"Gue takut hamil woy, mana dia kalo main pasti keluar nya di dalem." Jelas Sherena membuat ketiga nya kompak tersedak. Seperti biasa, Sherena memang gadis yang tak bisa di tebak seperti sekarang, ucapan yang membuat ketiga nya langsung tersedak makanan yang sedang mereka makan.


"Lah, gue kira cuma pas ngomong doang barengan. Sekarang, malah tersedak barengan." Ucap Sherena dengan enteng. 


"Ini semua gara-gara Lo!" 


.....


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2