
"Sayang, kamu harus di hukum.."
"H-aahh? Kok di hukum sih? Memang nya aku punya salah apa?" Tanya Sherena, kepala gadis itu menyembul dari balik kaos yang di kenakan oleh pria tampan itu.
"Kesalahan mu? Karena sudah membuat si junior bangun, itu semua ulah mu, Babe!" Ucap Darren yang membuat kedua mata Sherena membulat. Gadis itu benar-benar terkejut karena ternyata dia sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
"Tapi, itu karena junior kamu yang terlalu sensitif. Kena senggol dikit doang langsung bangun, baperan amat deh."
"Ckkk, artinya junior ku masih berfungsi dengan baik, Babe. Memang nya kamu mau kalau semisal junior ku gak bisa bangun hmm?" Tanya Darren yang membuat Sherena refleks menggelengkan kepala nya.
Kalau Darren impoten, dia tidak akan mau pada pria itu seperti nya. Jika junior tidak bisa bangun, dia takkan bisa merasakan nikmat nya sodokaan senjata milik Darren yang besar dan panjang.
"Enggak mau, kalau tahu kamu impoten ya aku gak bakalan mau. Enak saja, ngapain punya pacar kalau itu nya gak bisa bangun dong? Gak bisa anu-anuan dong nanti."
"Oke, jadi junior aku bangun karena gesekan mu itu artinya wajar bukan?" Tanya Darren, Sherena menganggukan kepala nya.
"Iya, wajar sih. Tapi kan harus nya dia gak se sensitif itu, aku cuma dusel-dusel manja di perut kamu doang. Bukan mainin junior."
"Tetap saja, jadi sekarang ayo tunaikan hukuman mu, Babe." Ucap Darren, dia tersenyum licik membuat nyali Sherena menciut. Kalau sudah begini? Apa dia bisa kabur? Rasa nya tidak. Secepat apapun dia bisa berlari dari terkaman serigala, pada akhirnya akan tertangkap juga kan? Jadi, sebaiknya mendingan pasrah saja dari pada harus berlarian jauh berusaha kabur, membuat lelah saja.
Tanpa banyak bicara lagi, Darren langsung menerkam Sherena. Pertama-tama, dia mengecupi leher gadis itu, menyesap nya dengan kuat hingga meninggalkan banyak tanda kepemilikan. Sherena meringis, nyata nya sesapan bibir pria itu di leher nya cukup perih juga.
"Pelan-pelan dong, issshhhh.."
"Maaf, sayang. Leher mu terlalu wangi, membuat aku bernafssu." Jawab Darren, dia pun menggendong Sherena ala bayi koala yang menempel di induk nya, dan membawa nya ke kamar untuk melakukan hukuman nya. Meskipun sebenarnya, ini bukan sepenuhnya kesalahan Sherena bukan? Tapi ya nama nya juga, nafssu sudah di ubun-ubun, membuat Darren pandai memanfaatkan situasi sekecil apapun.
Malam hari nya, Darren terlihat sedang menyendiri di balkon. Beberapa jam yang lalu, dia dan sang gadis baru saja melakukan kegiatan nikmat berbagi keringat bersama di atas ranjang. Saat ini, Sherena sudah tertidur karena kelelahan seperti nya setelah hampir satu jam dia hajar dengan berbagai gaya yang baru dia pelajari dari video haram di ponsel nya.
Darren menyesap rokok yang terselip di antara dua jemari nya, kepala nya mendongak menatap langit malam yang terlihat sangat cerah. Bulan dan bintang terlihat bersinar dengan terang, angin sepoi-sepoi membuat suasana malam ini terasa jauh lebih indah.
Pria itu merapatkan simpulan tali bathrobe yang dia kenakan. Angin malam membuat tubuh nya merasa sejuk, entahlah suasana hati Darren saat ini sedang tidak baik-baik saja. Itulah yang membuat pria itu betah menyendiri di balkon.
Sherena terbangun karena tenggorokan nya terasa kering, gadis itu membuka kedua mata nya dengan perlahan karena masih terasa berat karena rasa kantuk. Jujur saja, dia sangat kelelahan melayani nafssu sang kekasih yang seolah tiada habis nya. Dia selalu minta lagi dan lagi.
Bahkan, seringkali Darren tidak puas dengan satu ronde saja. Dia akan meminta tambahan ronde, hingga membuat Sherena benar-benar kelelahan. Kadang, gadis itu ketiduran saat Darren masih asik bermain dengan tubuh nya. Kalau sudah begitu, ya sudahlah biarkan saja pria itu bermain dengan tubuh nya, sepuasnya. Dia kalau lelah, ya tidur saja.
Gadis itu meraba kasur di samping nya, ternyata kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang kekasih, karena kasur di samping nya sudah terasa dingin. Artinya, pria itu sudah lama meninggalkan ranjang, bukan?
"Lho, dia kemana malam-malam begini?" Gumam Sherena. Dia pun membuka selimut yang menutupi tubuh nya, mengambil bathrobe yang menggantung lalu memakai nya dengan cepat. Gadis itu berjalan perlahan, dia merasakan hembusan angin malam yang membuat tubuh nya menggigil.
Sherena akhirnya tahu, kalau pria itu ada di balkon. Benar saja, Sherena bisa melihat siluet sang kekasih yang sedang berdiri menatap bulan yang tergantung dengan indah, bersinar dengan cerah di temani ribuan bintang-bintang yang bertebaran di atas langit.
"Lagi ngapain disini, sayang?" Tanya Sherena sambil mendekat. Dengan cepat, Darren memutar rokok nya yang masih tersisa cukup panjang ke dalam asbak.
Pria itu berbalik dan tersenyum kecil saat melihat Sherena mendekat padanya. Darren merentangkan kedua tangan nya, dengan cepat Sherena menghambur ke dalam pelukan sang kekasih dan menduselkan wajah nya di dada bidang Darren, seolah tidak ada kapok nya.
Tadi, dia juga melakukan hal itu dan berakhir dengan hukuman di atas ranjang selama satu jam. Sekarang dia melakukan nya lagi.
"Kamu bau rokok.." Lirih Sherena sambil mengendus aroma asap rokok yang menempel di bathrobe yang di kenakan oleh Darren.
"Kamu bisa mencium nya, Babe?"
"Tentu saja, aku kan punya hidung." Jawab Sherena sambil menatap wajah tampan sang pria, meskipun harus mendongak karena tinggi mereka yang berbeda jauh.
"Hahaha, bukan begitu maksud ku, sayang."
__ADS_1
"Lalu?"
"Tidak ada kok, kenapa kamu bangun?" Tanya Darren sambil mengusap wajah cantik Sherena lalu berniat untuk mengecup kening gadis itu, tapi Sherena malah menghindar.
"Gak usah mengalihkan pembicaraan ya, jawab pertanyaan aku dulu. Kamu ngerokok?" Tanya Sherena, kedua mata nya memicing menatap pria di depan nya.
"Iya, Babe. Gak banyak kok, satu batang juga gak habis. Tuh di asbak." Darren menunjuk puntung rokok di asbak, memang yang tersisa masih cukup banyak.
"Aku gak peduli ya kamu mau ngerokok banyak atau sedikit, tapi aku mau tahu alasan kamu ngerokok kayak gini."
"Memang nya ngerokok harus ada alasan nya ya, sayang?" Tanya Darren.
"Tentu saja ada. Kamu bukan tipe laki-laki penggila batang bernikotin seperti itu, jadi kalau kamu ngerokok kayak gini, udah bisa di pastikan kalau kamu ada masalah, iya?" Tanya Sherena, membuat Darren terlihat terkejut. Kenapa Sherena mengetahui kalau hal ini? Dari mana? Seingatnya, dia belum pernah menceritakan hal ini dan kebiasaan buruk nya ini pada Sherena. Tapi, gadis itu tahu tentang hal ini?
"Gak usah heran, sekarang jawab. Apa masalah yang bikin kamu ngelampiasin nya pada rokok? Kamu tahu kan kalau rokok itu gak baik buat kesehatan?"
"Iya, aku tahu Babe."
"Lalu, kenapa kamu masih menyesap nya hmm?" Tanya Sherena membuat Darren bungkam. Dia bingung harus menjawab apa pada Sherena. Baru kali ini, Darren merasa mati kutu saat di tanya oleh seseorang. Masalah nya, yang bertanya itu adalah kekasih nya. Kalau salah jawab pasti berabe urusan nya, pasti akan panjang sepanjang jalan kenangan.
"Maaf, Bee."
"Kamu tahu kan apa konsekuensi nya? Aku aja dusel-dusel di dada kamu dapet hukuman, sekarang kamu ketahuan ngerokok, aku hukum juga ya!"
"Hukuman apa, sayang?"
"Gak ada jatah seminggu ke depan."
"Lho kok gitu, aku gak mau, sayang. Jangan gitu dong."
"Sayang, heyy.."
"Tidak menerima protes apapun, jadi gak usah bujuk aku." Jawab Gadis itu, lalu memilih untuk berbaring di atas ranjang dan menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
Jujur saja, Sherena merasa kesal pada sang pria. Darren bukan pria yang suka merokok tanpa alasan. Dia pasti punya alasan tertentu kenapa dia sampai merokok, pasti nya dia menyembunyikan sebuah masalah yang membuat nya seperti itu.
Sherena kesal karena merasa tidak di anggap, dia tidak suka karena Darren masih belum terbuka padanya. Dia ingin pria itu jujur dan bercerita kalau semisal nya ada masalah yang membuat nya tak nyaman. Tapi, Darren malah melampiaskan nya dengan cara merokok. Padahal Darren tahu, kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatan.
"Babe, jangan marah dong. Aku minta maaf.."
"Diam, berisik. Aku ingin tidur, kalau kamu mau melanjutkan merokok mu itu, lakukan di tempat lain. Jangan disini, asap nya masuk ke kamar!" Ketus Sherena, membuat Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia menyesali keputusan nya untuk merokok malam-malam.
"Hufftt, alamat puasa lama ini mah. Seminggu itu tujuh hari kan ya?" Gumam pria itu, dia pun pasrah saja seperti yang selalu di lakukan oleh Sherena. Gadis itu selalu pasrah saat tanpa merasa bersalah apapun, tapi tiba-tiba dia harus di hukum tanpa tahu alasan nya. Padahal, junior yang bangun kan bukan kesalahan nya.
Pria itu pun memilih untuk berbaring di samping sang gadis, tapi saat dia berbaring dan bersiap untuk menarik selimut nya, Sherena berganti posisi menjadi memunggungi nya. Satu hal yang tidak pernah gadis itu lakukan selama mereka tidur bersama. Karena biasa nya, Sherena akan langsung memeluk dirinya dan tidur disana dengan nyenyak. Tapi sekarang? Tiba-tiba saja ada yang terasa kurang malam ini.
"Babe?" Panggil Darren, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis nya. Darren pun mencoba untuk fositif thinking saja, mungkin saja Sherena sudah tidur. Itu alasan kenapa dia tidak menjawab panggilan nya.
Darren pun memejamkan mata nya dan tertidur dengan lelap. Begitu juga dengan Sherena, meskipun kedua nya berada di posisi yang berbeda. Biasa nya mereka tidur dengan posisi yang mesra, tapi sekarang malah tercipta sebuah jarak yang memisahkan kedua nya.
Keesokan pagi nya, Sherena bangun lebih dulu. Dia langsung menguncir rambut nya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya, lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Pagi ini, Darren harus ke kantor untuk bekerja.
Sherena memasak menu yang sederhana saja untuk pagi ini, dia hanya memasak tumis buncis dengan saus tiram dan ayam goreng saja. Dia juga menyiapkan secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Darren. Pria itu selalu meminum kopi seperti itu saat pagi hari, sehabis sarapan.
"Sayang.." Panggil Darren, Sherena yang sedang menyapu ruang tengah pun menoleh. Pria itu nampak sudah rapih dengan pakaian kantor nya, jas berwarna biru navy dengan kemeja putih di dalam nya.
__ADS_1
"Selamat pagi, sayang ku.."
"Pagi." Jawab Sherena singkat, lalu kembali fokus menyapu ruang tamu.
"Yang, untuk masalah semalam. Aku.."
"Gak usah di bahas, lagi gak mood. Sarapan saja, keburu kopi nya dingin." Ucap Sherena sedikit ketus.
"Temenin dong, Babe."
"Ya." Jawab Sherena, dia pun berjalan mendahului langkah sang pria menuju ke meja makan.
Darren menggelengkan kepala nya lalu menyusul sang gadis dan duduk di kursi yang kosong. Tapi, semarah apapun Sherena pada Darren, gadis itu tetap melayani nya dengan baik. Dia mengambilkan nasi dan lauk untuk sang kekasih, lalu makan dengan lahap tanpa menatap ke arah nya.
Pagi ini, semua nya terasa berbeda. Bahkan Sherena masih tidak mau bicara, kalau pun bicara hanya seperlu nya saja. Darren juga harus memaklumi bukan? Ya, ini juga karena salah nya. Terlebih lagi, Sherena masih dalam usia remaja yang pasti pikiran nya masih agak plin plan.
"Hari ini, aku pulang sore."
"Ya, biasa nya juga gitu." Jawab Sherena tanpa menatap ke arah Darren sama sekali, gadis itu hanya fokus dengan makanan yang ada di depan nya.
"Mau di bawain apa, Babe?"
"Pabrik rokok." Jawab Sherena dengan maksud untuk menyindir Darren.
"Babe.."
"Diam, lagi makan."
Lagi-lagi, Darren hanya bisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, dia juga menggelengkan kepala nya. Dia bingung harus dengan cara apa lagi dia membujuk Sherena yang tengah merajuk.
"Maaf.." tiba-tiba saja, kata itu melintas di dalam benak nya.
"Tidak apa-apa, memang nya aku siapa?"
"Babe, apa maksud mu?"
"Tidak." Jawab Sherena, dia pun sudah selesai dengan makanan nya, lalu membawa piring kotor bekas nya makan ke belakang dan mencuci nya.
"Hari ini, kamu ada rencana?" Tanya Darren lagi, pria itu belum menyerah untuk bisa membuat Sherena mau bicara dengan nya.
"Ke mall."
"Sama siapa?" Tanya Darren membuat Sherena mendelik. Padahal, tanpa di tanya pun, harus nya Darren sudah tahu dengan siapa dia akan pergi. Karena kemana-mana pun, pasti Sherena bersama ketiga teman nya, siapa lagi kalau bukan April, Meysa dan Arina.
"Trio wekwek."
"Oke, kalo gitu aku transfer ya?"
"Gak usah, duit ku masih banyak." Jawab Sherena, dia mencuci tangan nya lalu melengos pergi melewati meja makan yang masih ada Darren disana, terduduk manis dengan sepiring makanan yang belum dia habiskan. Melihat hal itu, Darren hanya bisa menghela nafas nya, ternyata begini ya kalau punya pacar yang sedang merajuk.
"Astaga, jadi begini ya jadi cowok? Serba salah banget, gak di bujuk nanti marah, di bujuk juga jawab nya judes. Harus kayak gimana aku tuh? Ada yang punya solusi nya? Bagi dong." Gumam Darren sambil mengusap wajah nya dengan frustasi.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1