
Pria tampan itu mengikuti langkah Sherena, gadis itu juga terlihat malu-malu. Ya jelas malu lah, membeli barang pribadi seperti itu bersama seorang pria? Iya sih, Darren memang kekasih nya, tapi tetap saja dia malu.
"Sayang.."
"Iya?" Tanya Darren sambil mendekat, Sherena mendapatkan batok kelapa gandeng yang ukuran nya cocok dengan nya.
"Yang ini bagus kan ya?"
"Bagus, besok pakai ya? Biar lebih menantang, beli yang merah juga sekalian, sayang." Celetuk Darren yang membuat wajah Sherena bersemu kemerahan. Bagaimana bisa pria itu bertindak seolah hal yang dia katakan itu tidak membuat gadis nya malu?
"O-okey.." Sherena pun mengambil dua pasang batok kelapa gandeng lengkap dengan segitiga bermuda nya, setelah itu Darren juga lah yang membayar nya. Setelah itu, mereka pun berjalan ke arah supermarket untuk membeli beberapa barang juga.
"Sayang.." panggil Darren pada Sherena, gadis itu melirik ke arah sang pria.
"Kenapa, sayang?"
"Kamu kenapa beli batok kelapa yang baru?" Tanya Darren, jujur saja dia penasaran kenapa gadis nya membeli batok kelapa gandeng.
"Yang lama udah gak muat, seperti nya ini efek karena kamu terlalu sering memainkan nya, sayang." Jelas Sherena, membuat Darren manggut-manggut. Akhirnya, dia tahu alasan kenapa Sheren membeli batok kelapa yang baru.
"Berarti, secara langsung kamu bilang usaha ku untuk membuat nya mengambang itu berhasil kan?"
"Sshhtt, diamlah.."
"Tapi iya kan?" Tanya Darren lagi, membuat Sheren akhirnya mau tak mau harus melayani pertanyaan konyol sang kekasih.
"Iya, sangat berhasil. Puas?"
"Hehe, puas sekali." Jawab Darren sambil cengengesan, Sheren memutar mata nya dengan jengah. Dia pun langsung menarik tangan Darren untuk pergi ke supermarket membeli apel. Arumi berencana membuat Apple pie besok, tapi apel nyabgabus di makan oleh Sheren. Sedangkan besok, akan ada beberapa ibu-ibu arisan yang datang ke rumah.
"Wahh, ada banyak stroberi disini." Ucap Sheren, kedua mata nya berbinar saat melihat ada banyak kap stroberi yang di import langsung dari Korea.
"Mau? Beli saja, sayang."
"Serius nih boleh? Hari ini aku sudah banyak menghabiskan uang mu."
"Tidak apa-apa, sayang. Aku kekasih mu dan memang kewajiban ku untuk membuat mu senang." Jawab Darren sambil tersenyum, Sherena langsung mengecup pipi kanan Darren sebagai bentuk rasa terimakasih nya.
"Terimakasih, sayang. Kalau kamu ingin tahu, aku sangat menyukai buah stroberi." Jawab Sheren. Darren pun tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
"Ya sudah, ambillah beberapa cup. Bisa di simpan di kulkas nanti."
"Oke, sayang." Sherena pun menurut dan mengambil beberapa kotak berisi buah berwarna merah dan beraroma manis itu.
"Sudah?"
"Udah, yang." Jawab Sherena sambil tersenyum, lagi-lagi Darren mengacak rambut sang gadis dengan mesra. Mereka pun kembali berjalan-jalan sambil melihat-lihat buah yang ada.
"Ada yang mau di beli?"
"Mau ini, boleh?" Tanya Sherena sambil memperlihatkan buah naga, tapi jika biasa nya buah itu berwarna merah atau putih, tapi yang kali ini warna nya kuning.
"Boleh, ambil aja."
"Satu aja ya, mahal soalnya." Ucap Sheren, dia pun memasukan buah itu ke dalam troly. Setelah itu, mereka pun sampai di rak yang menjual beberapa jenis apel.
"Tidak masalah, kalau itu bisa membuat mu senang, sayang." Jawab Darren. Sherena menggelayut manja di lengan besar pria itu, kedua nya pun kembali berjalan-jalan sambil melihat-lihat sekira nya ada barang yang di inginkan.
"Sayang.."
"Iya, kenapa?" Tanya Darren, sudah bisa di pastikan kalau Sheren salah fokus dengan buah lain.
"Biasanya apel yang sering di pake buat bikin Apple pie yang mana ya?" Tanya Sherena, dia benar-benar kebingungan karena disini banyak sekali jenis apel. Dari yang murah, sedang sampai ada yang mahal.
"Aku gak tau, yang." Jawab Darren membuat Sherena semakin bingung.
"Yaudah, yang ini aja deh." Sheren mengambil empat cup berukuran sedang apel merah. Setelah itu dia juga mengambil apel hijau satu kap.
"Selesai, sayang." Jawab Sherena sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah, kita pulang yuk." Ajak Darren sambil kembali mengandeng tahan sang gadis dengan erat.
"Bayar dulu.."
"Hahaha, iya dong sayang." Jawab Darren sambil terkekeh. Pria tampan itu pun membayar belanjaan nya, setelah mereka pun memutuskan untuk makan di sebuah food court yang memang tersedia.
"Sayang.."
"Pengen makan es krim, kan?" Tebak Darren membuat Sherena tersenyum kecil.
"Hehe, iya. Boleh ya? Satu aja." Bujuk Sherena sambil menunjukkan wajah lucu nya.
"Astaga, baiklah. Satu saja, tapi ya?"
"Yee, makasih sayang. Janji deh, besok aku kasih susu." Ucap Sherena, membuat Darren berbinar ketika mendengar yang nama nya susu.
"Oke, aku tagih besok ya."
"Siap.."
"Ya sudah, sekarang mau makan apa dulu? Kita belum makan malam bukan?" Tanya Darren, Sherena menarik tangan sang pria ke restoran ramen.
"Mau makan ramen.."
"Boleh, sayang." Jawab Darren, dia pun menuruti keinginan sang gadis. Mereka pun memesanslaah satu jenis ramen yang terlihat sangat menggugah selera, tak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan pun datang. Kedua nya langsung makan dengan lahap, bahkan gadis itu beberapa kali memuji ramen yang terasa sangat enak.
"Ramen nya enak.."
"Kamu suka, sayang?" Tanya Darren, Sherena menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia memang menyukai ramen nya.
"Aku bakalan lebih suka kalau rasanya sedikit pedas."
"Boleh, tapi sedikit saja." Jawab Darren. Sherena tersenyum kesenangan, dia pun menambahkan bubuk cabai di mangkuk ramen miliknya. Dia kembali memakan nya dengan lahap, keringat membanjiri kening nya karena kepedasan. Padahal, dia hanya menambahkan sedikit bubuk cabai, tapi kenapa rasanya bisa sepedas ini? Astaga, dia menyesal menambahkan cabai di ramen nya.
"Pedes ya?"
"Iya, sayang. Tapi enak.."
"Hehe, ini terlalu pedas."
"Iya, sini tukeran sayang." Jawab Darren sambil tersenyum. Dia pun mengambil mangkuk ramen milik Sherena dan memberikan ramen miliknya pada sang gadis.
"Tapi, itu kan bekas aku, sayang."
"Memang nya kenapa?" Tanya Darren acuh, dia sedang menyiap ramen itu.
"Kamu gak jijik gitu? Mungkin aja ada ingus aku yang beler kesitu, yang."
"Hahaha, enggak kok. Mana ada aku jijik, ludah kamu aja aku telen." Jawab Darren membuat wajah Sherena memerah, tapi dalam hati gadis itu, dia merasa bahagia karena Darren memperlakukan nya dengan cara yang paling baik, hingga membuat nya merasa di istimewa kan oleh pria tampan itu.
"Makan yang banyak, sayang. Katanya, kalau lagi datang bulan, selera makan wanita itu bertambah dua kali lipat."
"Ya ampun, sayang nyari tahu sampai sedetail itu?" Tanya Sherena dengan wajah terkejut nya. Ya, mana ada gadis yang tidak terkejut sih saat pria nya mengatakan hal ini dan itu memang benar. Saat menstruasi, nafssu makan seorang wanita akan bertambah. Seringkali, mereka juga merasa ingin makan sesuatu seperti orang yang tengah mengidam.
"Iya dong."
"Astaga, seperti nya aku adalah perempuan yang sangat beruntung karena punya kekasih seperhatian dan pengertian seperti kamu, yang."
"Ya, aku juga beruntung memiliki kamu, sayang." Jawab Darren, dia melempar senyuman manis yang membuat Sherena salah tingkah. Senyuman yang sangat manis hingga mampu mengalahkan manis nya gula.
Setelah selesai makan, lagi-lagi Darren yang membayar makanan nya. Kedua nya pun melanjutkan dengan mengantri di salah satu stand es krim yang cukup terkenal. Darren berdiri di samping sang gadis dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam celana, sedangkan satu nya lagi menenteng belanjaan sang gadis.
Sherena asik menggelayut manja di sebelah lengan Darren, pria itu juga kelihatan nya tidak keberatan sama sekali. Dia membiarkan saja gadis itu bermanja-manja di lengan nya, bahkan dengan senyum nya dia mengusap kepala Sheren yang bersandar manja di pundak nya.
"Lama ya ngantri nya.." lirih Sherena.
"Sabar ya? Sebentar lagi kamu bakalan bisa makan es krim lho."
"Hehe, iya." Jawab Sherena, dia tidak sabar untuk menikmati makanan penutup yang dingin itu. Dia menyukai es krim stroberi dan coklat, tapi terkadang dia juga menyukai es krim vanilla. Kali ini, gadis itu memesan ketiga rasa paling favorit itu.
__ADS_1
"Darren.." Seseorang memanggil nama nya, pria itu berbalik dan seketika itu juga dia membulatkan kedua mata nya saat melihat wanita yang sungguh demi apapun tidak ingin dia lihat lagi.
"Rita.."
"Hai, kamu disini? Ngapain, bukan nya kamu gak suka es krim?" Tanya Rita, sebagai mantan istri dari pria yang kini berdiri tegap di depan nya, Rita tahu benar kalau Darren tidak menyukai es krim. Tapi, kali ini dia malah bertemu dengan pria itu di salah satu toko es krim yang cukup terkenal. Saking terkenal nya sampai mengantri beberapa jam.
"Sayang, dia siapa?" Tanya Sherena sambil menatap wajah sang pria dengan wajah manis nya. Darren mengecup bibir Sherena singkat, tanpa rasa malu sedikit pun. Padahal di depan nya ada Rita, mantan istri nya.
"Nanti aku jelaskan ya, kamu mau es krim kan?"
"Iya, sayang." Jawab Sherena sambil tersenyum manis, dia tetap menggelayut manja dia lengan besar Darren. Sedangkan Darren, dia berbalik tanpa menjawab pertanyaan Rita yang menurut nya tidak penting.
Rita menatap punggung kedua nya dengan tangan terkepal, dia merasa di acuhkan. Dari dulu, dia tidak suka saat ada yang mengacuhkan nya. Haruskah dia protes, atau bahkan marah karena Darren tidak menanggapi pertanyaan nya? Tapi, memang nya dia siapa?
"Darren.." Panggil Rita lagi, Darren melirik sekilas lalu tanpa bicara dia kembali bercanda ria dengan sang kekasih. Tanpa mempedulikan Rita yang menurut nya adalah orang asing.
"Sayang, Tante itu manggil kamu terus. Aku duluan aja ya, kamu bicara aja dulu sama dia. Kali aja penting." Ucap Sherena membuat Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Dia tak penting bagiku, sayang. Hanya kamu saat ini, tidak ada lagi yang lebih penting dari pada kamu." Jawab Darren sambil mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut dan penuh cinta.
"Tapi.."
"Sudah, biarkan saja." Jawab Darren, dia malas bicara dengan Rita. Memang nya mau apa lagi sih wanita ini? Kenapa pula harus muncul disaat dia sudah benar-benar melupakan wanita itu dengan susah payah. Bukan tentang orang nya yang sulit dia lupakan, tapi luka yang sudah dia berikan. Rasa nya sangat sakit, bahkan hingga saat ini.
Jika melihat wajah wanita itu, membuat dia teringat akan luka yang sudah dia berikan. Anggap saja dia gagal move on, bukan move on pada orang nya, karena sekarang dia sudah punya Sheren, gadis yang membuat nya melupakan kalau dia pernah di sakiti oleh sosok wanita itu.
Sherena pun tersenyum kegirangan saat berhasil mendapatkan es krim nya, Darren tersenyum lalu mengecup kening sang gadis. Di negara ini, ciuman semacam ini sudah biasa dan di legalkan. Banyak pasangan-pasangan lain yang juga mengumbar kemesraan mereka, bahkan lebih dari sekedar kecupan tanda kasih sayang seperti yang di lakukan oleh Darren pada Sherena.
"Enak, sayang?"
"Heem, enak banget. Mau?" Tawar Sherena, Darren terkekeh lalu menggelengkan kepala nya perlahan. Dia memang tidak terlalu menyukai makanan atau minuman yang dingin.
"Kenapa?"
"Tidak terlalu suka saja, sayang. Kamu aja yang makan ya? Kita pulang yuk, udah malem ini. Nanti aku di marahin papah kamu lho."
"Hehe, iya sayang. Ayo pulang." Ajak Sherena, Darren pun menggandeng tangan Sherena. Kedua nya terlihat sangat serasi, saling melengkapi satu sama lain.
"Darren, tunggu.." Teriak seseorang, Darren menghela nafas nya lalu berbalik. Benar saja, Rita lah yang memanggil nama nya. Saat ini, kedua nya sedang berada di parkiran mall.
"Kamu masuk duluan ya, sayang?"
"Oke, sayang." Jawab Sherena, dia pun masuk ke dalam mobil dan dengan duduk dengan nyaman, sambil memakan es krim yang sudah di belikan oleh Darren. Sedangkan pria itu, dia masih berada di luar bersama dengan seorang wanita yang entah siapa.
Sherena tidak berniat untuk bertanya tentang siapa wanita itu secara langsung, dia akan menunggu Darren menjelaskan semua nya, sesuai dengan apa yang dia katakan tadi saat berada di toko es krim.
"Ada apa lagi, Rita?" Tanya Darren dengan suara datar nya.
"Siapa gadis itu? Dia terlihat lebih muda dari mu dan kau memanggil nya dengan sebutan sayang."
"Apa urusan mu? Kau tidak berhak ikut campur tentang urusan ku sekarang!" Tegas Darren.
"Darren, kau sudah melupakan aku?"
"Sudah lama, aku sudah lama melupakan mu. Sejak kau meninggalkan aku sendirian, tanpa belas kasihan dan memilih pergi bersama pria lain, Rita!"
"Darren, aku minta maaf. Dulu, akh khilaf melakukan itu semua. Dia yang merayu ku, jadi jangan salahkan aku." Ucap Rita, membuat Darren menyeringai. Harusnya dia tidak boleh menyalahkan pria yang sudah mati bukan?
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu, meskipun kau berlutut atau kau mencium telapak kaki ku sekalipun. Kau dengar itu? Dan untuk masalah perselingkuhan mu dulu, jika pun dia merayu mu kalau kau wanita yang setia, kau takkan tergoda. Jadi, apa lagi yang ingin kau katakan? Bagiku, semua nya sudah jelas!"
"Darren, kenapa kau berubah? Dulu kau begitu mencintaiku."
"Itu dulu saat aku masih buta, setelah mendapatkan donor mata, aku pun sadar kalau tak ada guna nya mencintai sampah. Bagiku, kau tak lebih dari sekedar wanita muraahan, Rita."
"Darren, jaga kata-kata mu! Aku bukan wanita seperti itu." Ucap Rita dengan berapi-api, membuat Darren tergelak. Dia merasa lucu dengan wanita di depan nya ini.
"Apa ada wanita terhormat yang meninggalkan suami nya sendiri disaat dia baru saja berduka karena kehilangan orang tua nya hmm? Lalu memilih pergi dengan pria lain? Itu bukan perilaku seorang wanita terhormat, Rita. Itu adalah kelakuan seorang wanita muraah yang tak memiliki kualitas apapun!" Jawab Darren, membuat Rita terdiam seketika.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻