Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 122 - Kebahagiaan April


__ADS_3

"Yang, ini kenapa?" Tanya Sherena sambil menunjuk pergelangan tangan sang suami yang memerah, juga telapak tangan nya.


"Si Sarah megang tangan aku kenceng banget, aku hempasin terus aku tampar. Kalau gak percaya, ada cctv kok." Darren menunjuk ke arah kamera pengawas yang ada tepat di atas kepala sang istri.


"Hmm, aku percaya sama kamu. Kalau aku gak percaya, mana mungkin aku membiarkan kamu bicara sama wanita berduaan." 


"Iya, sayang. Ini perut kamu kembung kenapa?" Tanya Darren sambil mengusap perut Sherena yang sedikit membuncit karena sedang hamil plus ke kenyangan seperti nya.


"Kamu lupa? Kan aku lagi hamil, Mas."


"Astaga, sayang. Hehe, iya ya kamu lagi hamil." Ucap Darren sambil cengengesan.  Bisa-bisa nya dia lupa kalau istrinya ini tengah mengandung buah hati mereka.


"Ckk, suami macam apa yang melupakan kalau istri nya tengah mengandung? Padahal, aku begini juga gara-gara ular kamu yang nyembur sembarangan."


"Dih, mana ada nyembur sembarangan. Udah bener itu nyembur nya disana, jadinya kan disini ada adik bayi." Jawab Darren sambil tersenyum, dia mengusap perut buncit sang istri yang terlihat sangat menggemaskan di mata nya. 


"Yaudahlah, itu makanan nya udah ada. Cepat makan, nanti keburu dingin." Ucap Sherena, Darren pun tersenyum kecil. Dia membuka bungkusan makanan nya, dia makan siang dengan steak dan potato wedges yang terlihat sangat enak bagi Sherena. Dia tiba-tiba saja merasa lapar kembali, padahal tadi dia sudah makan bersama Ayra. Tapi sekarang dia lapar lagi, aneh tapi ya nama nya juga bumil.


"Kenapa ngeliatin kayak gitu, kamu mau?" Tanya Darren. Sherena menganggukan kepala nya, makanan yang ada di depan nya ini terlihat sangat menggugah selera dan membuat perut nya lapar kembali.


"Hehe, iya.."


"Yaudah, ayo makan." Jawab Darren sambil mendorong pelan steak ke arah sang istri.


"Kamu?"


"Aku juga makan, aku pesen dua porsi. Soalnya aku yakin bumil ku akan lapar lagi." 


"Baguslah, kamu peka sekali." Jawab Sherena sambil terkekeh, dia pun memakan steak nya dengan lahap. Sebelum nya, Darren sudah memotong-motong steak itu menjadi seukuran gigitan agar sang istri tidak perlu repot-repot untuk mengiris-iris nya terlebih dulu.


"Enak?"


"Heem, enak banget. Suka, Mommy sama Baby nya suka, Dad. Thank you."


"Omong-omong soal nama panggilan, aku lebih suka kamu memanggil ku Daddy deh."


"Kamu suka panggilan Daddy? Ya sudah, aku akan memanggil mu Daddy."


"Baiklah, Daddy akan memanggil mu Mommy. Bagaimana?"


"Aku menyukai nya, Dad." Jawab Sherena sambil tersenyum. Darren juga melakukan hal yang sama, kedua nya pun kembali makan dengan lahap. Sherena terlihat sangat anteng saat meminum Boba choco hazelnut kesukaan nya. Dia suka meminum Boba, tapi setelah pacaran dengan Darren dia sedikit mengurangi kebiasaan nya, karena Darren melarang nya. Menurut pria tampan itu, meminum Boba yang terlalu banyak itu tidak sehat padahal Sherena menyukai nya. 


Maka dari itu, sering kali Sherena membeli minuman Boba itu secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Darren karena bisa di pastikan kalau dia mengetahui kalau Sherena minum minuman seperti itu, bisa-bisa dia kena hukuman. Tapi sekarang, tanpa dia minta pun suami nya itu membelikan nya dengan suka rela. Bukankah itu bagus? Ya, benar-benar bagus. 


"Boba nya enak, Dad."


"Suka?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil. 


"Suka banget, makasih Daddy."


"Oke, sama-sama istriku." Jawab Darren. Dia mengusap puncak kepala Sherena dengan lembut, dia juga mengecup kening Sherena dengan mesra.

__ADS_1


"Daddy, apa Daddy bisa pecat Sarah?"


"Kenapa lagi?"


"Aku bilang kan, aku gak suka sama tuh cewek."


"Iya iya, Daddy denger kok. Daddy udah pecat Sarah tadi, jadi kamu gak usah khawatir lagi, okey?" Tanya Darren membuat wajah Sherena berbinar. Dia senang karena akhirnya wanita itu menyingkir dari perusahaan suami nya. 


Artinya, dia tidak perlu khawatir lagi dengan suami nya karena ulat bulu yang gatal itu sudah pergi dari perusahaan. Bukan artinya dia senang karena wanita itu di pecat dan kehilangan pekerjaan nya, karena dia tahu kalau Sarah punya anak yang masih bisa di bilang kecil, usia nya sekitar lima tahunan. Masih memerlukan kasih sayang dan juga biaya, juga untuk membeli susu untuk putri nya. Karena setahu nya, anak dari Sarah itu perempuan. 


"Syukurlah, aku gak bakalan pusing mikirin gimana cara nya biar dia gak godain kamu." 


"Hmmm, aku gak mau bikin kamu cemburu. Nanti aku juga yang susah kalau kamu nya rewel." Jawab Darren membuat Sherena mendelik kesal.


"Dih, memang nya siapa yang rewel? Aku ya?"


"Bukan, Baby nya kali yang rewel." Jawab Darren sambil mengusap perut Sherena yang membuncit lucu. 


"Enggak ya, Baby aku gak ada rewel. Adik kamu yang sering rewel tuh."


"Hehe, sekarang juga rewel pengen anu." Jelas Darren sambil tersenyum kecil.


"Anu anu, apaan hmmm?"


"Vitamin, Mom."


"Males aahh di kantor, Dad. Gak bebas, Dad." Jawab Sherena menolak keinginan suami nya untuk meminta jatah harian nya di kantor. Dia malas jika harus bermain di sini, meskipun di sini ada alat peredam suara jadi sekeras apapun orang berteriak dari dalam, tidak akan bisa di dengar dari luar. Tapi tetap saja, Sherena merasa tidak bebas aja.


"Gapapa dong, main cepet aja gimana?"


"Beneran nih? Gak bohong?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil. 


"Bener deh, dari pada main disini. Aku gak mau, nanti lagi enak-enak nya malah ada yang masuk kan sebel." Jawab Sherena membuat Darren tertawa. 


"Ohh iya, Dad. Besok aku harus ke sekolah."


"Ngapain?" Tanya Darren sambil memakan steak nya yang masih tersisa beberapa potong lagi. 


"Cap tiga jari sama ngambil ijazah, Dad."


"Sama siapa?" Tanya Darren lagi.


"Ya, biasa itu trio wekwek. Sekalian reuni, sebelum April menikah."


"Menikah?"


"Iya, beberapa hari lagi April mau nikah terus ikut suami nya ke luar kota." Jawab Sherena sambil tersenyum manis.


"Ohh, yaudah kalau begitu. Daddy percaya kalau sama mereka, meskipun temen-temen kamu agak sengklek, tapi mereka adalah teman yang baik." 


"Hahaha, kamu ini Dad. Iya mereka tuh temen-temen aku yang paling baik, mereka tuh tulus berteman tanpa melihat sesuatu apapun." Jelas Sherena sambil tersenyum kecil. 

__ADS_1


"Hmm, baguslah. Kamu tidak salah memilih teman, Mom."


"Iya, Daddy." Jawab Sherena. Dia tersenyum manis, benar apa kata suami nya. Dia bersyukur karena memiliki teman seperti ketiga nya. Walaupun sering kali bertindak konyol seperti kata Darren tadi, mereka adalah teman yang sengklek tapi mereka selalu mendukung apapun keputusan yang di ambil oleh Sherena. Mereka selalu jadi garda terdepan saat gadis itu merasa ada sesuatu yang salah dengan sahabat mereka. 


"Daddy makan nya kayak anak kecil deh, belepotan." 


"Benarkah?" Tanya Darren sambil mengusap sudut bibir nya yang terkena saus steak. Tapi Sherena langsung menyeka saus di sudut bibir suami nya dengan tissu. 


"Habisin makan nya, terus balik kerja."


"Kamu pulang nya barengan sama Daddy kan?"


"Iya, tapi aku bawa motor, Dad." Jawab Sherena membuat kedua mata pria tampan itu membulat sempurna. Dia dengan jelas melarang istrinya untuk mengendarai sepeda motor, tapi sekarang dia malah mendengar kalau istri nya membawa motor sendiri.


"Kamu bawa motor sendiri?"


"Iya, kan kamu lihat tadi aku dateng sendirian. Jadi ya aku bawa motor nya sendiri, Dad. Memang nya kenapa?"


"Astaga, Mom. Daddy kan udah bilang kamu jangan pernah naik motor sendiri, dari pada naik motor lebih baik naik taksi." Tegas Darren sambil menatap Sherena dengan tajam. 


"Hehe, Mommy lupa. Maafin ya, Dad." Jawab Sherena sambil cengengesan, tapi Darren hanya memutar kedua mata nya dengan jengah. 


"Mommy harus Daddy hukum!" Tegas Darren, dia pun langsung menggendong Sherena ke kamar yang ada di dalam ruangan pria itu.


Sedangkan di lain tempat, April sedang merasa berbunga-bunga saat ini. Tinggal menghitung hari lagi, dia dan Tomi akan resmi menjadi pasangan suami istri. Hari ini, Tomi mengajak kekasih sekaligus calon istri nya itu untuk pergi ke butik untuk fitting gaun pernikahan mereka.


"Sayang, yang ini sangat cantik. Bisakah aku mencoba nya?" Tanya April saat melihat gaun berwarna putih gading yang terlihat sangat sederhana. Gaun dengan aksen bunga-bunga itu terlihat sangat cantik, dengan belahan dada yang tidak terlalu lebar. 


"Try it, baby." Jawab Tomi. April tersenyum antusias, lalu mencoba nya di temani oleh staff butik yang sedari tadi menemani nya dari awal mereka masuk ke butik ini. 


Selang beberapa menit kemudian, April keluar dengan gaun itu. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang membentuk tubuh nya, gaun dengan model mermaid itu terlihat sangat cantik dan pas di kenakan oleh April. 


"Sayang, bagaimana penampilan ku?" Tanya April dengan senyum manis nya, Tomi menatap penampilan sang kekasih dari atas sampai ke bawah, bahkan dia nyaris tak bisa berkedip saat melihat April keluar dari change room. 


"Look so beautiful, babe!" Puji Tomi, dia benar-benar kagum melihat kecantikan yang di pancarkan oleh sang kekasih.


"Really?" Tanya April.


"Yes, Babe."


"Jadi, gaun nya yang ini saja bagaimana?" Tanya April, dia sudah sangat cocok dengan gaun ini. Padahal, dia masih belum mencoba gaun lain nya, tapi hati nya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Kamu suka?"


"Yes, i like it."


"Ya sudah, itu saja." Jawab Tomi. Dia juga menyukai gaun itu, cantik dan elegant. 


"Benarkah? Aaaa, terimakasih." Jawab April. Akhirnya, mereka pun mengambil gaun itu juga lengkap setelan tuxedo untuk Tomi. Mereka berdua pun menyelesaikan pembayaran, lalu pergi ke toko perhiasan. Mereka harus membeli cincin pernikahan juga, ini adalah hal yang tidak ada dalam agenda sebenarnya, tapi sekalian keluar jadi mereka memutuskan untuk mencari cincin pernikahan sekalian. 


Tidak bisa di bayangkan sebahagia apa April saat ini, dia sangat bahagia. Sungguh demi apapun, kebahagiaan nya saat ini tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Akhirnya, perjuangan nya LDR alias hubungan jarak jauh bersama Tomi membawa hasil yang baik. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2