
"Apa anda tidak mendengar kalau Marvin mengatakan kalau dia tidak bersalah? Bagaimana bisa, anda lebih percaya pada orang asing di bandingkan putra anda sendiri?" Tanya Darren yang membuat Rama maupun Sintia langsung terdiam seketika.
Kedua nya saling bertatapan, mungkin kedua nya merasa kalau ucapan Darren itu ada benar nya. Bahkan mereka langsung main hakim sendiri pada putra dan bahkan dengan berani menampar gadis yang di cintai oleh putra mereka. Bukankah ini terlalu tidak adil?
"Dia memiliki bukti, bagaimana bisa kami mengabaikan hal itu? Sudah jelas kalau Mecca sedang hamil anak mu, Marvin! Jangan mengelak."
"Bagaimana bisa dia hamil anak ku, sedangkan aku dan wanita sialan itu tidak pernah bertemu bertahun-tahun. Aku hanya pernah mencium nya, itu saja. Tidak lebih, kalau Papi dan Mami lupa kami menjalin hubungan saat aku masih duduk di kelas dua SMP." Ucap Marvin lagi. Benar, dia memang tidak pernah bertemu lagi sejak kedua nya putus hari itu.
Kedua nya memilih melanjutkan sekolah di negara yang berbeda, Mecca pergi ke Australia untuk melanjutkan pendidikan nya dan Marvin menetap di negara kelahiran nya hingga akhirnya dia menjalin hubungan dengan Arina.
"Apa mungkin bisa hamil tanpa melakukan apa-apa? Apakah ciuman saja bisa membuat hamil? Tolong, berpikir logis lah. Itu sebuah ketidak mungkinan." Ucap Marvin dengan suara lirih. Dia tidak tahu harus dengan cara seperti apa lagi untuk menjelaskan kalau dia tidak bersalah disini, dia tidak melakukan apapun dengan Mecca.
Kedua nya menjalin hubungan singkat, hanya beberapa bulan saja semasa sekolah, Marvin juga merasa ketakutan untuk melakukan hal-hal di luar batas seperti melakukan hal itu. Berbeda dengan sekarang, dia menjadi lebih berani karena dia merasa sudah dewasa.
"Tolong pertimbangkan lagi, anda tidak bisa terus menyalahkan putra anda sendiri. Ingatlah, hati manusia tidak ada yang tahu. Bahkan orang terdekat pun bisa menjadi musuh mematikan." Ucap Darren, dia tersenyum licik membuat Sintia terlihat sedikit terkejut. Tapi tiba-tiba saja..
Brukk..
Suara benda terjatuh, tapi ternyata suara itu bukan berasal dari benda. Semua orang menoleh, termasuk Rama dan Sintia.
"Arinnnn.." Pekik Marvin saat melihat tubuh sang kekasih tergeletak begitu saja di lantai. Pemuda itu langsung berlari dan membawa kepala sang kekasih ke pangkuan nya, dia menepuk-nepuk pipi sang kekasih namun ternyata gadis itu tidak kunjung sadarkan diri juga.
"Sayang, bangun. Tolong, bangunlah. Aku mohon.." Ucap Marvin dengan khawatir, dia panik saat melihat kekasih nya tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri padahal tadi dia terlihat baik-baik saja. Apa mungkin dia kelelahan setelah ikut andil meramaikan acara pernikahan sahabat nya seharian ini?
"Kita bawa Arin ke rumah sakit.." Putus Darren. Marvin menganggukan kepala nya, dia langsung menggendong tubuh lemas sang kekasih dan membawa nya ke dalam mobil mewah nan mahal milik Darren.
Sedangkan Sherena, dia sudah menangis sesenggukan karena merasa khawatir dengan keadaan sahabat nya. Dia tahu kalau fisik Arina memang lemah sejak awal, tapi melihat keadaan ini pasti membuat nya shock. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa Arina tak sadarkan diri.
Rama berniat untuk menyusul mobil Darren yang sudah melaju kencang meninggalkan bangunan mewah yang berdiri kokoh di depan mereka. Tapi dengan cepat Sintia mencekal lengan suami nya.
"Mau kemana, Mas?" Tanya Sintia membuat Rama berdecak kesal, di saat seperti ini tapi wanita itu masih bertanya?
"Aku akan menyusul Marvin ke rumah sakit."
"Untuk apa? Tidak perlu lah, buat apa juga? Biarkan saja, itu bukan urusan kita!" Cegah Sintia membuat Rama sedikit keheranan dengan tingkah laku istrinya itu.
"Bukan urusan kita, kau bilang itu bukan urusan kita? Arina pingsan dan kita tidak tahu apa penyebab nya dan kau masih mengatakan itu bukan urusan kita? Arina itu kekasih Marvin, calon menantu kita. Aku gak habis pikir dengan mu, Sintia!"
"Mas, menantu kita hanya Mecca. Bukan Arina. Bisa saja dia hanya berdrama, berpura-pura pingsan agar mendapatkan simpati dari orang-orang. Sedangkan Mecca, dia sudah jelas mengandung cucu kita, pewaris keluarga kita." Kekeh Sintia membuat Rama menganga. Sejak kapan istrinya jadi begini? Tapi, Rama mengerti dan akhirnya tahu kalau watak asli sang istri ternyata seperti ini. Jauh sekali dengan apa yang selalu dia lihat di keseharian nya.
"Kenapa kamu begitu yakin kalau bayi itu adalah anak Marvin, Sintia? Dari mana kamu tahu hal itu? Kau dengar sendiri bukan, Marvin sudah lama tidak bertemu dengan Mecca. Bertahun-tahun lama nya, tak mungkin tiba-tiba saja dia hamil dan meminta pertanggung jawaban pada Marvin kan?"
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas kita pulang saja. Tak usah mempedulikan apa yang jelas-jelas bukan urusan kita!"
"Tidak, kalau kau ingin pulang. Silahkan, pulang sendiri. Aku akan menyusul putraku!" Putus Rama. Dia pun mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan istrinya. Dari dulu, Sintia memang berwatak keras dan terlalu mendominasi sebagai perempuan, bahkan Rama saja seringkali di atur-atur oleh wanita itu.
Dulu, Rama hanya bisa menuruti apapun keinginan dan perintah yang di berikan oleh istri nya. Tapi sekarang, dia semakin menyadari kalau selama ini dia terlalu lemah. Akhirnya, Rama mengambil keputusan yang cukup besar untuk tidak lagi bisa di kendalikan oleh istrinya. Dia akan melakukan apapun yang menurut nya benar.
Bagaimana pun juga, sekarang ini Rama sangat khawatir dengan keadaan Arina. Dalam hal ini, gadis itu tidak bersalah sama sekali. Karena yang bersalah ini, adalah Marvin dan Mecca. Itu pun dia sendiri merasa tak yakin, apalagi setelah mendengar penjelasan Marvin dan juga ucapan Darren yang sedikit menyentil nya.
'Bahkan orang terdekat pun bisa menjadi musuh mematikan.' Kata-kata yang pria itu lontarkan selalu terngiang-ngiang di dalam kepala nya sekarang. Kalau di ingat-ingat lebih jauh, ucapan Marvin memang terdengar meyakinkan.
__ADS_1
Sebuah kemustahilan bukan? Tidak bertemu selama bertahun-tahun, tapi tiba-tiba saja perempuan itu datang dan mengatakan kalau dia tengah hamil dan anak yang ada di dalam kandungan nya sekarang adalah anak Marvin.
Rama mengemudikan kendaraan nya di atas rata-rata, pria paruh baya itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Semakin di pikirkan, semakin tidak mungkin. Hingga akhirnya, setelah beberapa menit menempuh perjalanan dari gedung pernikahan April dan Tomi, akhirnya Rama pun sampai di rumah sakit terdekat.
Dia keluar dari mobil dan berjalan mencari keberadaan putra nya, juga pria yang entah siapa nama nya. Tapi sudah jelas kalau dia mengenal putra nya karena tadi mereka mengobrol dengan akrab. Akhirnya, Rama menemukan nya. Dia langsung mendekat dan melihat keadaan Marvin yang terlihat acak-acakan. Bahkan rambut gondrong nya terlihat menghalangi wajah nya.
Kepala nya tertunduk, bahu nya bergetar. Siapa pun pasti mengetahui kalau dia sedang menangis sekarang ini, tangisan yang terdengar sangat pilu membuat Rama menatap putra nya dengan nanar. Apakah dia sudah salah langkah?
Selama ini, belum pernah sekalipun berkata kasar, membentak apalagi memukul putra nya, Marvin. Mengingat kalau dia adalah putra semata wayang nya, jadi dia sangat memanjakan Marvin. Hari itu adalah pertama kali nya dia memukul Marvin bahkan mengatakan hal-hal buruk yang membuat putra nya merasa putus asa dan mungkin saja dia tengah kecewa padanya sekarang ini.
"Nak.."
"Apa lagi? Kenapa Papi kesini? Pergilah, jangan menunjukkan wajah Papi disini. Bukankah aku bukan anak Papi dan Mami lagi sekarang?"
"Tidak, bukan begitu, Boy.." Bujuk Rama pada Marvin. Dia takut, takut sekali. Dia takut kalau sampai putra nya sendiri membenci dirinya.
"Lalu?"
"Papi khawatir sama Arin dan kamu juga, Boy."
"Tidak perlu merasa khawatir pada orang asing, anggap saja kita tidak saling mengenal." Jawab Marvin, mata nya menyorot tajam ke arah sang ayah yang terlihat sama berantakan nya juga seperti dirinya.
Tak lama berselang, akhirnya seorang perawat keluar dan menanyakan siapa keluarga pasien, tentu saja Marvin langsung berjalan maju.
"Saya calon suami nya, sus."
"Masuklah, Tuan. Ada hal yang harus kita bicarakan."
"Tuan.." Panggil Darren membuat Rama yang tadinya hanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup itu dengan sendu. Dia tidak sanggup jika Marvin membenci nya, putra nya adalah sumber kekuatan nya, dia masih disini sampai saat ini dan bertahan dengan Sintia karena Marvin. Dia tidak ingin Marvin kekurangan kasih sayang kedua orang tua nya.
"Anda siapa?"
"Mungkin anda pernah mendengar nama saya, Darren Wisnu Abiana."
"Aahh, Tuan Darren? Saya sering mendengar nama anda tapi tidak pernah melihat wajah anda secara langsung." Jawab Rama sambil tersenyum ramah. Jelas saja, itu membuat Darren mengernyitkan kening nya. Dia melihat kalau Rama adalah pribadi yang baik, tapi kenapa saat di gedung tadi dia terlihat arrogant, bahkan bisa di bilang tempramen?
Apa ini bukan Rama yang tadi? Apa dia memiliki kembaran atau semacam nya? Rama yang sekarang berdiri di depan nya, tidak seperti Rama yang tadi bertemu dengan dan memaki-maki putra nya di depan banyak orang.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan orang sehebat anda, Tuan Darren."
"Hmm, anda Papi nya Marvin kan?"
"Iya, tentu saja."
"Saya hanya ingin bertanya, anda tahu kalau Marvin memiliki hubungan dengan Arina, kan?"
"Tahu, sangat tahu, Tuan. Karena hari itu, kami juga datang untuk melamar nya untuk Marvin." Jawab Rama membuat sudut bibir Darren terangkat ke atas membentuk sebuah smirk.
"Lalu, kenapa anda bersikeras pada Marvin untuk bertanggung jawab pada wanita itu?"
"Entahlah, pikiran saya kacau. Jujur saja saya terkejut saat tiba-tiba Mecca dan orang tua nya tiba-tiba saja datang dan mengatakan kalau dia tengah mengandung anak Marvin. Lengkap dengan foto-foto saat mereka tidur bersama dan juga hasil USG." Jelas Rama membuat Darren mengernyitkan kening nya, dia merasa heran. Benar-benar heran, kenapa bisa?
__ADS_1
'Berarti ini sudah di rencanakan dengan baik, sampai memiliki foto untuk bukti dan juga hasil USG? Aku yakin, ini pasti ada campur tangan orang terdekat.' Batin Darren. Dari awal, pikiran nya sudah tertuju pada satu orang. Namun dia belum memiliki bukti apapun yang menguatkan dugaan nya, jadi dia akan menyelidiki nya terlebih dulu sebelum mengatakan kecurigaan nya pada siapapun.
Mau bagaimana pun, dia tidak ingin merusak hubungan ke keluargaan. Tapi jika memang dugaan nya benar, itu pasti akan sangat mengecewakan bukan? Mengingat dia adalah orang terdekat yang paling dekat, harusnya memberikan contoh yang baik tapi ini malah sebaliknya.
"Lalu, apa anda tidak menanyakan nya pada Marvin?"
"Hari itu saya marah dan tidak mau mendengarkan penjelasan nya, membuat Marvin merasa kecewa akan sikap saya, Tuan. Dia pun pergi ke rumah Arin, namun kami menyeret nya pulang malam hari nya. Marvin semakin marah saat melihat ibu nya sendiri menampar pipi Arin." Jelas Rama membuat Darren mengangguk-anggukan kepala nya.
Sherena membulatkan mata nya, dia benar-benar tidak menyangka kalau Arina bisa menyembunyikan hal sebesar ini dari nya dan juga teman-teman nya yang lain. Tentu saja, Arina memiliki alasan yang kuat untuk menyimpan semua masalah nya sendirian. Karena saat hari kejadian itu, semua orang terdekat yang dia miliki sedang sibuk mempersiapkan pernikahan April karena hanya tinggal beberapa hari lagi.
Inti nya, dia tidak ingin membebankan teman-teman nya dengan masalah nya sendiri. Sebisa mungkin, dia akan menyimpan nya hingga akhirnya dia siap untuk menceritakan semua nya. Dia tak ingin membuat teman-teman nya kepikiran, terutama April karena dia akan menikah. Dia harus tampil maksimal di moment sakral yang akan dia lakukan sekali seumur hidup bukan?
"Tanpa berpikir logis terlebih dulu? Anda bahkan memukul nya."
"Saya emosi, sungguh. Saya juga merasa bingung kenapa saya bisa setemprament ini, padahal dulu senakal apapun Marvin, saya paling tidak bisa marah karena dia adalah anak kesayangan saya, Tuan." Jawab Rama membuat Darren terlihat sedikit heran mendengar ucapan Rama.
Jangankan dirinya, bahkan orang nya sendiri pun kebingungan. Perilaku nya bisa berubah dalam hitungan menit, padahal Darren masih ingat benar kalau pria itu terlihat sangat tempramental tadi sore. Tapi sekarang? Dia menjelma menjadi pria normal seperti pada umum nya. Dia juga bicara dengan sopan dns ramah pada Darren.
'Aneh, ini terlalu aneh dan rumit. Ada apa sebenarnya dengan semua ini?' Batin Darren.
Sedangkan di tempat lain, seseorang sedang mengamuk. Dia melempar semua barang yang ada di kamar nya, hingga membuat suasana kamar itu menjadi berantakan seperti kapal pecah. Dia marah karena usaha nya gagal. Tidak, belum gagal. Tapi hampir gagal.
"Aaaargghhh, sialan.." Teriak Sintia. Ya, wanita yang mengamuk itu adalah Sintia. Istri dari Rama dan ibu nya Marvin. Wanita paruh baya itu merasa sangat marah karena dia gagal untuk mengendalikan suami nya.
"Tidak, aku tidak boleh gagal. Jangan sampai gadis miskin itu yang menjadi menantu keluarga ini. Demi Tuhan, aku tak rela!"
Sintia membuka ponsel nya dan menghubungi seseorang. Hanya butuh beberapa detik saja, panggilan dari Sintia langsung di angkat.
'Hallo..'
"Ya, hallo. Aku ingin bertemu dengan mu, sekarang!"
'Sekarang? Tapi ini sudah malam.'
"Ini sangat penting dan darurat!"
'Ckkk, baiklah. Aku akan datang, dimana?' Tanya nya, Sintia pun menyebutkan suatu tempat untuk bertemu dengan orang yang dia telepon itu. Wanita itu langsung mengambil tas mahal nya lalu pergi dari kamar, meninggalkan kamar yang berantakan itu.
Wanita itu menuruni tangga dan tak sengaja berpapasan dengan seorang maid yang bekerja di mansion milik keluarga Watson.
"Bereskan kamar ku, aku ingin saat aku pulang, semua nya sudah selesai." Perintah Sintia dengan wajah angkuh nya.
"Baik, Nyonya." Jawab maid itu. Sintia pun pergi dengan langkah anggun nya, sedangkan maid itu langsung pergi ke lantai atas untuk membersihkan kamar wanita itu. Ya, selama ini Sintia dan Rama tidur di kamar terpisah atas permintaan wanita itu. Mereka hanya berlagak seperti pasangan suami istri yang harmonis di depan Marvin agar putra mereka merasa bahagia memiliki keluarga yang sempurna.
Tapi, sebaik-baiknya hal itu mereka lakukan, semua maid yang bekerja disini sudah mengetahui bagaimana keretakan rumah tangga antara Sintia dan Rama. Bahkan mereka sering merasa kasihan pada Rama, karena pria itu selalu saja di perlakukan dengan kasar oleh Sintia.
Kalau memang tidak bahagia, kenapa tidak bercerai saja? Tapi sejauh ini Rama bertahan demi putra nya. Kalau mengikuti hati, sudah lama dia menceraikan Sintia. Dia juga merasa tidak tahan dengan perilaku wanita itu.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1