
"Aku.." Sherena terlihat masih menetralkan ekspresi wajah nya, sungguh dia benar-benar tidak menyangka kalau hal ini akan datang dalam waktu yang cepat.
"Ayo jawab, Sher!" Ucap sahabat nya, mereka gemas sendiri karena Sherena tak kunjung menjawab juga, bahkan ini sudah beberapa menit berlalu. Tapi, wajar saja kalau Sherena masih terkejut dengan moment ini karena terjadi secara mendadak, bahkan Darren tidak terlihat seperti menyiapkan sesuatu tadi pagi.
Dia juga tidak mengatakan kalau akan melamar nya dalam waktu dekat, yang dia ingat kalau dia sudah lulus sekolah, Darren ingin menikahi nya. Itu saja, tapi dia tidak menganggap nya serius. Tapi ini?
Sherena menghembuskan nafas nya secara perlahan, dia mengusap air mata yang masih menetes tanpa bisa di cegah itu. Dia tersenyum ke arah Darren lalu menganggukan kepala nya perlahan.
"Yes, i will.." jawab Sherena, membuat wajah Darren berbinar seketika. Jujur saja dia sedikit ragu dengan jawaban sang gadis, karena ini terlalu mendadak. Tapi dia sangat puas begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang gadis.
"Yeeee, selamat.." Sorak ketiga teman nya dengan heboh.
Darren beranjak dari berlutut nya, dia pun memasangkan sebuah cincin berlian dengan ukiran nama nya di jari manis Sherena. Lalu mereka berpelukan, kalau saja disini tidak ada orang tua Sherena, pasti Darren sudah mencium bibir gadis itu. Tapi berhubung disini ada orang tua gadis nya, juga ada di trio ubur-ubur, jadi Darren tidak melakukan nya.
Dia akan melakukan nya nanti kalau ada kesempatan. Sekarang, biarlah dia hanya memeluk Sherena. Pria itu memeluk sang kekasih dengan erat, menumpahkan semua rasa yang membuncah di dalam hati nya. Begitu juga dengan Sherena, dia membalas pelukan Darren tak kalah erat nya. Darren saja bahagia, apalagi dirinya bukan?
"Sudah pelukan nya, ayo potong dulu kue nya." Ucap Arya, sambil datang membawa kue dengan hiasan buah di atas nya.
Sherena memotong kue nya, lalu memberikan potongan kue yang pertama itu untuk kedua orang tua nya.
"Terimakasih sudah sangat menyayangi Sheren dan juga sabar sama sikap Sheren ya Ma, pah. Sheren sayang kalian berdua." Ucap Sherena sambil mengecup pipi kanan kiri kedua orang tua nya.
"Kami juga sangat menyayangi kamu, sayang." Ucap Arumi, dia memeluk sang putri juga mengecup kening nya cukup lama.
Potongan kedua, dia memberikan nya pada sang kekasih. Pria itu menyambut nya dengan hangat, Sherena mengecup pipi kanan kiri Darren dengan mesra.
"Makasih udah jadi pacar yang baik dan sabar menghadapi kemanjaan aku."
"Sama-sama, sayang." Jawab Darren, sebagai balasan dia juga mengecup singkat kening Sherena dengan lembut.
"Yang ketiga, buat temen-temen sengklek ku. Makasih ya buat para bestie ku, susah-susah aja kalian bikinin surprise kek gini buat aku." Ucap Sherena sambil tersenyum, begitu juga dengan ketiga teman nya. Mereka berempat pun berpelukan dengan erat.
"Sama-sama, bestie. Btw selamat ya." Ucap April sambil tersenyum manis.
"Eehh ciee, yang udah jadi calon istri orang." Goda Meysa sambil terkekeh.
"Selamat ya, semoga lancar tanpa hambatan kayak di jalan tol pas hari H nanti."
"Iya, makasih semua nya. Seneng banget gue punya temen kayak kalian, beruntung banget." Ucap Sherena.
"Kami juga." Jawab ketiga nya serempak. Ke empat gadis cantik itu pun kembali berpelukan seperti Teletubbies.
"Sudah sudah, pelukan aja terus. Aku cemburu nih, yang." Ucap Darren yang membuat Sherena gemas. Dia pun mendekat ke arah sang pria dan menggandeng tangan nya.
"Serasi banget gilaaa.." ucap Arin sambil berteriak heboh juga mengambil ponsel dan memotret pasangan itu dari berbagai sisi.
"Ini mah couple goals." Jawab April sambil tersenyum.
"Iya, pengen deh.." Celetuk Meysa sambil menatap pasangan yang nampak sangat serasi itu.
"Yaudah ayo." Meysa menoleh, ternyata ada Andy yang sudah berada di samping nya, dengan senyum manis yang menampilkan lesung pipit, membuat senyum pria itu terlihat jauh lebih manis.
"Apaan?"
"Katanya pengen, yaudah ayoo. Aku siap kok." Jawab nya, membuat wajah Meysa merona.
"Terima aja sih? Lu kan dah terlalu lama jomblo, Mey." Ucap April sambil tersenyum jahil, sedangkan Meysa sudah mendelik kesal dengan sahabat nya yang terlalu ember bagi nya.
"Diem."
"Haha, iya iya gak usah marah kali." Ucap April sambil menarik tangan Arin untuk menjauh dari Meysa.
"Ehh, mau pada kemana?" Tanya Meysa, dia ingin menyusul kedua sahabat nya, tapi dengan cepat Andy menarik tangan nya ke luar rumah. Tepatnya ke taman belakang rumah.
"Isshh, ngapain sih ngajakin kesini?" Tanya Meysa judes.
Cup..
Andy mengecup bibir tipis Meysa karena gemas dengan mulut gadis yang setiap saat selalu saja mengomel. Gadis itu membulatkan mata nya, tubuh nya seketika membeku karena terkejut dengan apa yang baru saja Andy lakukan pada nya.
"First kiss gue.."
"Hmm, kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Andy, padahal dia mendengar gumaman gadis cantik itu.
__ADS_1
"Gak."
"Jangan judes-judes gitu dong, yang."
"Dihh, manggil sayang."
"Ya gapapa, kita kan pacaran." Jawab Andy membuat Meysa memutar mata nya dengan jengah. Sejak kapan memang nya dia berpacaran dengan Andy?
"Sejak kapan memang nya? Aku gak inget tuh pernah nerima kamu jadi pacar aku." Ucap Meysa sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Sejak hari ini, mungkin."
"Maksud nya?"
"Hmmm, aku tahu kamu mungkin belum mengenal ku dengan baik, makanya kamu bersikap ketus gini sama aku. Tapi, bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku tidak main-main kalau soal perasaan." Ucap Andy dengan serius. Mata nya menatap intens pada Meysa, mengatakan kalau dia benar-benar serius dengan apa yang dia ucapkan.
Meysa membeku di tempat, sungguh demi apapun saat mode serius seperti ini, Andy malah terlihat jauh lebih tampan. Apalagi dengan kacamata transparan yang bertengger rapih di hidung mancung nya.
"Tapi kita belum mengenal karakter masing-masing."
"Itu bisa kamu rasakan seiring berjalan nya waktu." Jawab Andy, terdengar cukup dewasa.
"Tapi.."
"Aku yakin pasti ada banyak tapi, aku mengerti. Mari kita sama-sama berkomitmen."
"Aku belum mencintai mu, Om." Jawab Meysa, jujur saja dia ragu pada sosok pria di depan nya. Apa dia bisa mencintai nya? Dia khawatir nanti akan mengecewakan nya.
"Belum kan? Bukan berarti tidak akan, aku akan sabar menunggu mu. Tidak apa-apa meskipun sedikit lama."
"Om yakin?" Tanya Meysa.
"Tentu saja aku yakin, memang nya kenapa?"
"Tidak, hanya saja rasa nya Om terlalu dewasa untuk ku." Lirih Meysa membuat Andy tergelak.
"Usia bukanlah halangan harusnya, kamu bisa lihat Tuan Darren dan Sherena. Usia mereka berbeda jauh, tapi mereka terlihat sebagai pasangan yang serasi bukan? Karena mereka bisa saling melengkapi satu sama lain, Mey." Jelas Andy membuat Meysa akhirnya paham.
Tak ada salahnya untuk mencoba dan memberikan kesempatan pada Andy bukan?
"Maksud nya?"
"Iya, aku mau berkomitmen sama-sama." Jawab Meysa, membuat wajah Andy berbinar seketika. Tentu nya dia sangat senang mendengar jawaban gadis itu.
"Jadi, hari ini kita resmi pacaran?" Tanya Andy, Meysa menganggukan kepala nya dengan perlahan sebagai jawaban.
"Aaahhh yes, terimakasih. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan, sayang."
"Sa-yang?"
"Iya, sayang. Kita pacaran kan sekarang?"
"I-iya, aku hanya belum terbiasa." Jawab Meysa sambil tersenyum, dia menggaruk tengkuk nya padahal tidak gatal sama sekali.
"Tak apa-apa, lama-lama juga akan terbiasa." Jawab Andy, dia pun meraih gadis itu ke dalam pelukan nya. Dia mengusap-usap kepala belakang sang gadis dengan lembut, ini adalah hari pertama mereka pacaran bukan? Jadi, harus lebih berkesan mungkin.
"Cieee, yang habis jadian.." mendengar suara itu, Meysa langsung melerai pelukan nya dengan Andy. Sedangkan April, Arin dan Sherena tersenyum jahil menatap wajah Meysa yang sudah memerah menahan malu.
"Wajah nya merah, lucu banget. Malu kamu, Mey? Kayak ngejilat ludah sendiri itu, wkwk." Celetuk April. Dia ingat betul kalau dia takkan mau jadian sama Andy, tapi sekarang? Mereka berdua malah jadian, bukankah itu sama saja dengan menjilat ludah sendiri?
"Sudah, diamlah. Gak baik menggoda pacar orang, Pril. Apalagi yang baru jadian, kasian. Mending kita ke dalem buat makan yuk?" Ajak Sherena, padahal dia sendiri masih menunjukkan senyum jahil nya.
"Yaudah, ayooo." Semua nya pun masuk kembali ke dalam rumah dan menikmati makan malam yang tertunda selama beberapa menit itu dengan lahap.
"Makanan nya semua enak, Ma." Puji April sambil mengacungkan jempol nya ke arah Arumi yang tersenyum di ujung meja.
"Iya, masakan Mama nya Sheren gak ada yang gagal. Enak semua, aku kalau jadi Sheren sih kayaknya bakalan bertambah lima kilogram setiap hari nya." Celetuk Arin sambil terkekeh.
"Sayang, jangan gitu.." Ucap Marvin sambil menyenggol pelan lengan sang kekasih.
"Udah, gapapa kok." Arumi tersenyum melihat interaksi dua remaja yang masih terlihat malu-malu itu. Berbeda dengan Darren dan Sherena yang kadang sudah berani menunjukkan kemesraan mereka di hadapan nya.
"Ayo, makan lagi yang banyak. Mama masak buat kalian kok." Ucap Arumi mempersilahkan. Mereka pun kembali makan dengan lahap, termasuk Sherena. Tak pernah dia melewatkan makan malam, meskipun terlewat beberapa menit saja. Sherena adalah orang yang on time kalau masalah makan.
__ADS_1
"Udah malem banget lho ini, kalian nginep aja disini gimana?" Tanya Sherena, setelah semua nya selesai makan malam.
"Iya, nginep aja. Apalagi April, kasian dia kalo pulang sendiri."
"Gapapa kok, gue pulang di jemput supir." Jawab April. Tadi mereka bertiga datang masing-masing. Meysa datang dengan ojek online, Arin bersama Marvin dan April naik taksi.
"Gapapa, biar saya yang antar. Sekalian nganterin ayang pulang." Ucap Andy.
"Tapi.."
"Udah, gapapa. Lagian rumah kita kan searah." Ucap Meysa sambil terkekeh. Akhirnya April pun setuju, meskipun dia merasa tidak enak kalau harus nebeng dengan pasangan yang baru saja jadian. Mungkin saja, mereka akan mengobrol tapi tidak jadi karena ada dirinya kan? Atau bermesraan misalnya.
Akhirnya, tepat pukul sepuluh malam. Teman-teman Sherena berpamitan untuk pulang, tapi tidak dengan Darren. Dia masih betah berada di rumah sang kekasih, Arya maupun Arumi tidak melarang. Mereka tidak mempermasalahkan meskipun Darren tidak akan pulang. Sekarang kedua nya sudah cukup memiliki hubungan yang kuat, jadi tak apa-apa kalau Darren menginap disini.
"Kami mengantuk, kami tidur duluan nya." Pamit Arumi, sedangkan Arya hanya diam di samping istri nya.
"Iya, sebentar lagi saya juga pulang kok."
"Tak apa-apa, mau menginap juga boleh. Tidur nya di kamar tamu ya, nanti Sheren tunjukkan."
"Ohh, bolehkah?" Tanya Darren sambil tersenyum.
"Boleh, tentu saja boleh. Anggap saja ini rumah kamu sendiri." Ucap Arumi sambil tersenyum manis.
"Malam ini, saya menginap saja. Itu rumah saya agak nyeremin kalo malem, hehe." Jawab Darren membuat kedua orang tua Sherena terkekeh begitu mendengar ucapan Darren. Nyeremin katanya? Padahal dia sudah lama tinggal sendirian di rumah itu bukan? Bahkan sebelum Sherena dan orang tua nya belum pindah ke sini.
Setelah kedua nya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, kini tinggalah Sherena dan Darren di ruang tamu. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan piyama satin berwarna ungu. Tentu nya Darren memuji kalau pakaian yang di kenakan oleh Sherena itu bagus.
Memang benar, apapun jenis dan warna pakaian nya jika di pakai oleh orang yang tepat, maka akan terlihat sangat bagus meskipun hanya pakaian sederhana seperti piyama.
"Piyama kamu bagus, warna nya cerah banget. Apalagi di pake nya sama Ayang, cantik nya bertambah berkali lipat." Ucap Darren membuat Sherena tertawa.
"Kamu jadi pandai gombal sekarang, di ajarin sama siapa hmm?" Tanya Sherena.
"Andy, hehe." Jawab Darren, memang dia banyak belajar tentang gombalan ala buaya dari Andy. Meskipun lama menjomblo, tapi setidaknya Andy lebih berpengalaman dalam hal menaklukan hati para gadis.
"Sama aku aja bilang kalau teman-teman aku bawa pengaruh gak bener, kamu jangan terlalu banyak bergaul dengan Om Andy, nanti ketularan buaya nya."
"Hahaha, sayang. Enggak dong, mana ada buaya nya setampan aku."
"Idih narsis, kepedean kamu, yang." Ucap Sherena sambil tertawa. Tapi, dia harus mengacungkan jempol untuk tingkat kepercayaan diri yang di miliki oleh sang kekasih yang cukup tinggi.
"Kalo aku gak ganteng, mana ada kamu ngejar-ngejar aku, yang?"
"Ya iya sih, kamu emang ganteng. Tapi harus tahu malu juga dong, yang."
"Hehe, gak tahu nih sejak aku kenal sama kamu kok jadi gini?" Ucap Darren, dia juga bingung. Memang nya sejak kapan dia menjadi pria yang kepedean seperti ini?
"Maksud kamu, aku gak tahu malu gitu?" Sewot Sherena, membuat Darren panik. Bukan itu maksud nya lho, Sherena malah salah paham.
"Lho yang, bukan gitu."
"Terus?"
"Hehe, enggak. I love you.."
"Too." Jawab Sherena singkat sambil memutar mata nya.
"I love you.." ucap Darren lagi.
"Too."
"Ihhh, sayang! Ayo bales dong."
"Kan udah aku bales too, mau kayak gimana lagi?" Tanya Sherena, membuat Darren langsung mengeluarkan jurus yang cukup ampuh untuk membuat Sherena menjadi gadis yang penurut seketika.
"Sayang.."
"Eehh, hehe. I love you too, sayang." Jawab Sherena, membuat Darren tersenyum. Dia pun merangkul Sherena dan membuat gadis itu bersandar di dada bidang sang kekasih.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1