Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 121 - Teman Baru


__ADS_3

"Lho, Nyonya anda disini?" Tanya resepsionis yang baru saja kembali setelah menunaikan hajat nya di kamar mandi. Beberapa menit lalu, dia mengantarkan istri CEO itu ke ruangan nya, tapi sekarang dia melihat perempuan cantik dan anggun itu sudah berada di sini lagi dengan memangku kotak makanan di pangkuan nya.


"Eehh, hehe. Ada sedikit masalah di ruangan Mas Darren, aku gak mau ikut-ikutan jadi mendingan aku kesini aja."


"O-oh, begitu kah? Maaf, Nona. Apa itu tentang Sarah?"


"Kok kamu tahu? Kemarilah, duduk disini." Ajak Sherena. Perempuan itu pun menurut dan duduk di samping Sherena. Tidak masalah mereka mengobrol, karena masih ada di jam makan siang. 


"Saya tahu, karena sudah sering saya melihat kalau Sarah terlihat mencari perhatian Tuan Darren." Jawab perempuan itu. 


"Hmm, apa dia tidak punya malu atau tidak punya harga diri ya? Dia kan udah tahu kalau Darren udan punya istri? Bukankah dia di undang saat pesta pernikahan ku?"


"Saya tidak tahu apakah dia di undang oleh Tuan Darren atau tidak, tapi mungkin menurut saya Tuan Darren pasti tidak mengundang Sarah."


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Sherena. 


"Sarah itu wanita yang ambisius, Nyonya. Saya pikir, mungkin saja wanita itu akan membuat masalah di pernikahan anda, Nyonya. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau Tuan Darren memilih untuk tidak mengundang wanita itu." Jelas perempuan yang bekerja sebagai resepsionis.


"Hmm, kau benar juga ya." Gumam Sherena sambil mengangguk-anggukkan kepala nya. Ucapan perempuan itu ada benar nya juga, untung saja kalau semisal memang Darren tidak mengundang wanita ular itu.


"Nama mu siapa?"


"Ayra, Nyonya."


"Jangan panggil aku seperti itu, aku berasa tua, Ay."


"Bagaimana kalau saya memanggil anda dengan panggilan Nona?"


"Itu terdengar lebih baik, Ay." Jawab Sherena sambil tersenyum.


"Kau sudah makan siang?"


"Hehe, kebetulan belum Nona. Saya baru saja ingin pergi ke kantin kantor, tapi saya melihat Nona." 


"Ya sudah, kebetulan aku ada bawa makanan. Tadinya sih, mau makan siang sama Mas Darren, tapi dia lagi nyelesain masalah nya sama Sarah. Jadi, mendingan aku makan sama kamu aja. Mau gak?" Tanya Sherena sambil tersenyum. 


"Tidak perlu, Nona. Saya bisa pergi ke kantin sekarang."


"Tidak, ayo temani aku makan. Aku sedang hamil sekarang, aku sudah lapar."


"Nona sedang hamil? Wahh, selamat Nona. Sebaiknya saya pergi ke kantin saja untuk makan siang, saya khawatir kalau Tuan Darren akan marah nanti. Nona memasak itu untuk suami Nona, bukan?" 


"Iya, tapi tidak apa-apa. Aku rasa suami ku takkan marah hanya karena aku makan duluan, Ay. Ayo temani aku makan, aku sudah sangat lapar saat ini." Ajak Sherena sambil tersenyum. Akhirnya, setelah di bujuk beberapa kali, Ayra pun luluh dan mengiyakan ajakan Sherena untuk makan siang bersama.


"Baiklah, Nona." 


"Nah, begitu dong." Sherena pun membuka kotak makanan di depan nya, lalu memberikan nasi dan lauk yang harus nya untuk sang suami pada perempuan itu, Sherena memang mudah bergaul. Dia juga tidak pilih-pilih, dia bisa berteman dengan siapa saja termasuk dengan resepsionis di perusahaan sang suami, Ayra. Dia melihat kalau Ayra adalah sosok perempuan yang baik dan ramah.


"Silahkan di makan, Ay. Maaf kalau ada yang kurang dengan masakan nya, aku terburu-buru tadi."


"Terimakasih, Nona. Masakan nya terlihat sangat menggugah selera, saya akan memakan nya sampai habis." Ucap Ayra dengan senyum manis yang terkembang indah di wajah nya.


"Iya, ayo di makan." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Ayra menyendok nasi dan cumi lada hitam buatan Sherena, dia juga menggigit bakwan jagung dengan lahap.


"Enak sekali, Nona." 


"Benarkah? Kamu suka?" Tanya Sherena dengan antusias. Ayra mengangguk mengiyakan, rasa masakan Sherena benar-benar cocok di lidah nya. Manis, sedikit pedas, gurih bersatu menjadi satu. 


"Suka sekali, Nona. Terimakasih, ini menu yang sangat enak." 


"Kalau kamu suka, ayo habiskan. Besok-besok kalau aku kesini lagi, aku buatkan sekalian untukmu." 


"Aaaa, tidak perlu repot-repot, Nona." Ucap Ayra, dia tidak ingin merepotkan Sherena. Memang nya dirinya siapa? Dia hanya pekerja biasa di perusahaan suami dari wanita yang kini tengah makan di samping nya. 


"Aku tidak repot, soalnya aku suka masak hehe. Meskipun ya, sekarang aku lebih sering merasa malas apalagi bangun pagi. Mungkin karena bawaan bayi ya?"


"Bisa jadi, Nona. Soalnya teman saya juga seperti itu, apa Nona mengalami morning sickness?"

__ADS_1


"Tidak, hanya beberapa hari saja. Sekarang sudah tidak lagi." Jawab Sherena. Kalau saja orang awam, mungkin mereka takkan menyangka kalau wanita yang sedang duduk di ruang tunggu bersama seorang resepsionis itu adalah istri CEO. Mengingat dia sangat ramah dan baik hati juga mudah berbaur, tidak pandang bulu pada siapapun. Bahkan dengan seorang resepsionis saja dia bisa mengakrabkan diri. Tapi Ayra merasa canggung dan gugup saat berada di dekat Sherena, dia malu dan merasa sedikit insecure saat berada di samping wanita cantik itu. 


"Ayra.."


"Iya, Nona."


"Hmm, aku minta tolong padamu. Tolong awasi Sarah untuk ku, aku khawatir kalau dia terus saja menggoda suami ku."


"Tapi, bagaimana cara nya?" Tanya Ayra sambil mengernyitkan kening nya. Dia tidak bisa sepenuhnya mengawasi wanita ular itu karena berbeda lantai. Sarah bekerja di lantai yang sama dengan Darren karena dia adalah sekretaris pria itu.


"Kenapa tidak meminta pada Andy, Nona? Dia adalah asisten pribadi Tuan Darren, pasti beliau akan selalu ada di samping Tuan Darren." Jelas Ayra. Sherena mengangguk, dia sudah meminta hal itu pada Andy beberapa hari yang lalu. Karena dia harus waspada bukan? Punya suami setampan dan seberkuasa seperti Darren, dia harus siap untuk menghempas para pelakor yang mungkin akan menggoda suami nya kapanpun. 


"Aku sudah meminta nya untuk menjaga kan suami ku, tapi Om Andy tidak terlalu menanggapi. Dia sering kali tidak jujur kalau aku bertanya tentang apa yang terjadi di kantor selama Mas Darren tidak di rumah." Jelas Sherena panjang lebar.


"Hmm, baiklah Nona. Kalau ada sesuatu, akan langsung saya kabari." Jelas Ayra. 


"Mana nomor ponsel mu, Ay? Tulis disini." Ucap Sherena. Ayra pun menurut dan menuliskan nomor ponsel nya di ponsel mahal milik Sherena.


"Sudah, Nona."


"Baiklah, terimakasih. Aku berharap kalau Sarah di pecat, jadi aku bisa tenang karena wanita itu akan berada jauh dari suamiku."


"Selain gatal, dia juga angkuh dan sombong, Nona." Ucap Ayra membuat Sherena semakin tidak menyukai wanita bernama Sarah itu. Dia sebal begitu mendengar nama wanita itu, mood nya langsung berubah saat dia melihat wajah tidak tahu malu wanita ganjen itu. 


"Hmm, nyebelin banget kayaknya ya?"


"Hehe, ya bisa di bilang begitu, Nona." Jawab Ayra sambil tersenyum kecil. Mau bagaimana pun, Sarah adalah atasan nya di perusahaan. Mengatakan hal buruk pun dia khawatir akan kena amuk wanita itu nanti nya.


"Habis?" Tanya Sherena, Ayra menunjukkan kotak makanan yang terlihat sudah kosong, bahkan tidak tersisa sedikit pun. Bumbu nya pun habis, tidak tersisa. 


"Hehe, habis bersih Nona. Soalnya makanan nya enak sekali." Puji Ayra sambil tersenyuum kecil. 


"Syukurlah kalau kamu suka, Ay. Aku senang mendengar nya."


"Nona gak ada niatan buka restoran? Dengan menu seperti ini, pasti restoran nya akan laris manis." Jelas Ayra sambil terkekeh. 


"Masih sering pusing ya, Nona?"


"Iya, sering pusing, mual begitu. Tapi kalau muntah-muntah usah jarang, soalnya udah deketan sama obat nya. Kalau sebelum menikah, aku mabok parah." Jelas Sherena tanpa malu sedikit pun. Ayra terlihat terkejut, membuat Sherena tersenyum kecil.


"Kenapa? Kamu terkejut ya? Iya, aku hamil duluan."


"Nona.."


"Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku punya suami yang bertanggung jawab." 


"Iya, Nona. Saya juga dulu begitu, hehe."


"Kamu sudah menikah?" Tanya Sherena. Gantian, kini giliran Sherena yang terkejut saat mendengar ucapan Ayra. 


"Sudah, Nona. Saya punya satu anak, tapi suami saya meninggal saat bekerja."


"Jadi kamu.."


"Benar, Nona. Saya janda anak satu."


"Astaga, jadi saat kamu bekerja anak mu dengan siapa?" Tanya Sherena, Ayra tersenyum kecil.


"Dia bersama Ibu saya, Nona."


"Hmm, kamu adalah ibu yang kuat, Ay. Aku salut sama kamu." Ucap Sherena sambil menatap sendu wajah perempuan di samping nya.


"Aaahh, tidak Nona. Saya tidak sekuat yang Nona pikirkan, saya sering mengeluh, saya juga rapuh terutama setelah saya harus kehilangan dua orang yang paling saya cintai di saat yang berdekatan."


"Berdekatan? Maksud nya gimana?" Tanya Sherena.


"Hari ini suami saya meninggal, hanya berselang satu minggu, ayah saya meninggal karena sakit, Nona."

__ADS_1


"Ayra.."


"Hahaha, tidak perlu menatap saya seperti itu, Nona."


"Mau peluk? Kamu ingin bersandar? Bersandarlah disini." Ucap Sherena sambil menepuk-nepuk pundak nya. Dia menatap ada sorot rasa sakit dari tatapan perempuan berparas cantik itu.


"Tidak apa-apa, Nona. Tidak perlu."


"Jangan canggung padaku, Ay. Kalau kau merasa lelah, mengeluh lah padaku. Aku memang baru bertemu dengan mu hari ini, tapi aku bisa merasakan semua rasa sakit mu, lewat mata mu. Kamu tak bisa berbohong dariku."


"Bolehkah, Nona?" Tanya Ayra, Sherena tersenyum kecil lalu mengangguk. Dengan perasaan campur aduk, Ayra pun menyandarkan kepala nya di pundak Sherena. Entah kenapa, dia merasa sangat nyaman bercerita dengan Sherena. Padahal mereka hanya bertemu sekali ini, sungguh demi apapun dia merasa sangat sesak hari ini. Tapi begitu melihat senyuman manis seorang Sherena, hati nya menjadi lega. 


"Aku tahu kok, Ay. Jadi kamu pasti gak mudah, aku paham benar. Tapi kamu pasti bisa, kamu wanita yang kuat dengan semua kelebihan kamu. Semangat ya, anak kamu pasti bangga punya ibu seperti kamu, Ay." Ucap Sherena sambil mengusap pelan rambut Ayra. Dia tidak tahu berapa usia Ayra, apakah di atas nya atau di bawah nya. Tapi sedikit tidak mungkin kalau dia berusia di bawah Sherena. 


"Sayang.." Panggil seseorang yang membuat Ayra langsung menjauh dan beranjak, dia berdiri di dekat Sherena sambil menunduk.


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Lagi ngapain disini?" Tanya Darren, dia menatap Ayra sekilas lalu kembali fokus dengan istrinya.


"Lagi ngobrol aja sama Ayra, Mas. Kenapa? Sudah selesai masalah nya?"


"Sudah, sayang. Ayo kembali ke ruangan ku, aku lapar."


"Makanan nya udah aku makan sama Ayra tadi, Mas." Ucap Sherena membuat Ayra semakin menundukan kepala nya, dia takut karena melihat tatapan tajam yang di layangkan oleh Darren. Seperti nya, dia tidak rela kalau masakan Sherena di makan oleh orang lain.


"Gak usah natap dia kayak gitu, Mas. Aku yang ngajakin dia buat makan bareng nemenin aku, lagipula aku sama baby udah laper banget. Kamu malah kedatangan tamu gak di undang." Jawab Sherena sedikit ketus. 


"Ayra, pesankan aku makanan yang biasa. Aku tunggu di ruangan ku, minum nya Boba choco hazelnut sama es jeruk." Ucap Darren lalu menggandeng tangan sang istri ke ruangan nya lagi.


"Aku ikut ke ruangan Mas Darren dulu ya, Ay. Kapan-kapan kita ngobrol, nanti aku kirim pesan."


"Baik, Nona." Ucap Ayra, lalu dia melihat punggung kedua nya menjauh dan menghilang di balik bilik lift. 


"Dia wanita yang sangat baik dan cantik, pantas saja Tuan Darren begitu mencintai Nona Sherena. Aku saja langsung nyaman bercerita dengan nya di pertemuan pertama, apalagi Tuan Darren. Benar-benar pasangan yang serasi." Gumam Ayra, dia pun kembali ke meja nya dan menghubungi orang untuk mengambil makanan pesanan Darren dan akan di kirimkan beberapa menit kemudian. 


Di dalam ruangan nya, Darren kembali melanjutkan kegiatan bermanja-manja di pangkuan sang istri. Dia kembali memasukan kepala nya ke dalam pakaian yang di kenakan oleh istri cantik nya. 


"Mas.."


"Hmm, yes Baby?"


"Kamu kenapa gak pecat aja sih wanita itu? Kayak gak ada yang lain aja bisa kamu jadiin sekretaris." 


"Kenapa memang nya?" Tanya Darren membuat Sherena mencebikan bibir nya.


"Gatel, kayak ulat bulu. Aku takut kamu di godain sama dia, aku gak suka!"


"Haha, kamu ini, sayang. Mana ada aku bakal tergoda sama modelan Sarah, udah menor dia juga gak cantik. Jauh lebih cantik kan kamu, istriku."


"Ckkk, kalau dia telanjaang di depan kamu juga tetep aja kamu bakalan tergoda. Siapa yang berani jamin kamu gak tergoda sama dia?"


"Gak ada, aku gak doyan bekasan."


"Dih, katanya dulu kamu pernah pake jasa dia buat hangatin ranjang kamu." Ucap Sherena, membuat Darren mendongakan wajah nya. 


"Kata siapa?"


"Kata si ulat bulu." Jawab Sherena dengan ketus.


"Iya iya, aku jujur nih ya. Dulu, jauh sebelum aku kenal sama kamu nih, aku pernah bayar dia buat puasin aku. Pake mulut doang, gak pernah masuk ke bawah." 


"Dihh, sebel. Aku cemburu ya!"


"Dari pada kamu salah paham karena tahu dari orang lain, mendingan kamu kesel dengar dari orang nya langsung, sayang." Jawab Darren membuat Sherena mencubit gemas hidung bangir sang suami dengan gemas. 


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2