
"Rita.."
"Hmm, ada apa, Darren?" Tanya wanita itu dengan senyuman kecil nya. Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar, wanita ini masih sama seperti dulu. Ya, tidak tahu malu.
"Tujuan ku memanggil mu kesini, karena putri mu."
"Aira maksud mu?" Tanya Rita, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada.
"Aku tak tahu nama nya." Jawab Darren, dia menyerahkan sebuah rekaman cctv di kantin yang menunjukkan ada nya keributan.
"Berani sekali dia menampar putri ku!"
"Aku rasa, itu adalah hal yang setimpal bagi putri mu, Rita." Jawab Darren yang membuat wanita itu berang. Dia merasa tidak terima karena putri nya di tampar hingga wajah nya memerah seperti ini.
"Apa maksud mu hah?"
"Kalau saja, putrimu bisa menjaga mulut nya, semua ini takkan terjadi."
"Aira, kau bisa menjelaskan nya pada Ibu?" Tanya Rita pada putri nya. Gadis itu pun menjelaskan semua nya dari awal, wajah nya terlihat datar, menyebalkan memang. Darren saja bisa melihat kalau hubungan Rita dan putri nya ini tidak akur.
"Dia memang muraahan."
"Ckkk, siapa yang kau katai murahaan hmm? Jangan terlalu kasar, andai kau tahu semuraah apa harga diri ibu mu dulu." Ucap Darren yang membuat Rita langsung menatap pria yang berstatus mantan suami nya.
"Apa maksud mu, Darren?"
"Kau tidak terima? Lalu, pantas nya di sebut apa, wanita yang meninggalkan suami nya demi pria lain hmm?"
"Ibu mengenal pria ini?" Tanya Aira, membuat Darren tersenyum sinis.
"Perkenalkan, nama ku Darren. Mantan suami ibu mu, Nona Aira." Jawab Darren, dia menunjukkan senyum merendahkan ke arah Rita. Wanita itu membulatkan kedua mata nya, dia tidak menyangka kalau Darren akan memperkenalkan dirinya sebagai mantan suami nya.
"H-aahh, apa?" Gadis itu nampak terkejut, sedangkan Darren memundurkan kursi nya lalu menyedekapkan kedua tangan nya di dada. Dia tersenyum mengejek, pokoknya dia tersenyum dengan beberapa mode di depan Rita, mantan istri nya.
"Ibu, katakan! Apa ini semua benar?" Tanya Aira. Rita menghembuskan nafas nya dengan perlahan, lalu menganggukan kepala nya.
"Iya, dia memang mantan suami ibu."
"Aisshh, Aira bener-bener kecewa sama Ibu." Aira beranjak dari duduknya, dia keluar dari ruangan, meninggalkan Darren bersama ibu nya.
"Aira, tunggu ibu Nak.." tapi terlanjur, gadis itu sudah pergi dengan membawa rasa kecewa di hati nya. Kecewa kenapa? Hanya gadis itu yang mengetahui nya.
"Puas kau membuat hubungan ku dengan anak ku semakin memburuk hah?"
"Sangat, aku sangat puas, Rita. Anggap saja semua ini karma untuk mu."
"Aira akan semakin membenciku karena hal ini." Ucap Rita lirih membuat Darren tertawa mengejek.
"Itu urusan mu, bukan urusan ku." Jawab pria itu dengan acuh.
"Ohh ya, anak mu aku skors selama satu minggu." Ucap Darren lagi.
"What? Kenapa hanya anak ku, kenapa gadis yang sudah menampar putri ku tidak di skors juga?"
"Terserah aku lah, sekolah ini milik ku. Jadi, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Kau paham? Kalau sudah, pergilah. Wajah mu membuat aku mual." Usir Darren membuat Rita langsung pergi dengan membawa kekesalan yang besar di hatinya.
Jujur saja, Rita benar-benar terkejut saat melihat Darren berada di sekolah ini. Tanpa dia ketahui kalau dia adalah pemilik sekolah tempat putri nya menempuh pendidikan.
'Aaisshh, kenapa sekolah ini harus milik Darren sih? Kan jadi nya agak gimana gitu, dia kan mantan suami yang aku sia-siakan dulu. Mana sekarang dia berubah banget, ganteng nya keliatan karena udah jadi orang kaya. Gak kayak dulu, dekil, jelek, burik. Aduh, seketika aku menyesal pernah meninggalkan dia.' Rutuk Rita dalam hati. Dia berjalan cepat menyusul putri nya.
__ADS_1
Pria yang menikahi Rita hari itu kini meninggalkan nya, dia memilih bersama wanita lain yang jauh lebih cantik. Karena bagi nya, setelah hamil dan melahirkan Rita menjadi jelek, tak bisa mengurus dirinya sendiri karena di sibukkan dengan adanya bayi kecil di antara mereka.
Hingga akhirnya dia pun menggugat cerai suami nya itu, karena tak tahan dengan kelakuan nya yang setiap hari pulang larut malam, itu masih mending. Yang membuat hati nya sakit itu, kalau dia pulang dengan membawa seorang wanita yang berbeda setiap hari nya.
Jadi, saat ini Rita menjanda untuk yang kedua kali nya. Ups, bukan yang kedua mungkin. Karena setelah resmi bercerai dengan Darren, dia langsung menikah dengan pria pilihan nya yang ternyata brengseek!
Andy yang melihat Darren diam dalam kesendirian maju dan mendekat ke arah atasan nya itu. Mau bagaimana pun, dia tidak boleh terlihat seperti belum move on dari wanita itu kan? Ingat, kalau ada Sherena sekarang.
"Tuan.."
"Hmm, ya Andy. Ada apa?"
"Anda baik-baik saja kan?" Tanya Andy, Darren mengangkat kepala nya lalu menggeleng. Ya, melihat wanita itu selalu mengingatkan nya dengan luka besar dan menganga yang pernah wanita itu berikan padanya belasan tahun silam. Melihat wajah nya, membuat luka yang sudah lama dia simpan rapat-rapat, kini terbuka lagi.
"Tidak, aku tidak pernah baik-baik saja setelah bertemu wanita itu dan kau tahu sendiri akan hal itu, Andy." Jawab Darren membuat Andy tersenyum kecil.
"Luka yang di tinggalkan oleh wanita itu begitu menyakitkan ya?"
"Sangat, Andy."
"Tapi, kalau Nona Sheren melihat dan mengetahui alasan di balik perubahan sikap anda, bagaimana? Saya yakin, dia akan merasa sedikit kecewa karena anda belum bisa berdamai dengan masa lalu anda, Tuan." Jelas Andy panjang lebar. Benar, kalau Sherena mengetahui semua nya dan alasan dia berubah, pasti gadis itu akan berpikiran macam-macam.
"Hmmm, kau benar. Aku harusnya bisa bersikap lebih dewasa, terimakasih sudah selalu mengingatkan aku, Andy."
"Sama-sama, Tuan. Itu sudah tugas saya." Jawab Andy sambil tersenyum kecil.
"Bagaimana dengan gadis ku, apa dia baik-baik saja?"
"Nona Sheren sedang makan di kantin, Tuan." Jawab Andy.
"Hufftt, sedang dalam masalah seperti ini pun, selera makan nya tidak berkurang sama sekali."
"Benar, Tuan. Nona Sheren makan dua mangkuk mie ayam." Celetuk Andy yang membuat Darren mendelik kesal.
'Alamat salah ngomong ini mah, ampun bos sensitif amat dah.'
"Hehe, gak gitu, Tuan. Maaf."
"Ckk, kita pulang saja."
"Nona Sheren?" Tanya Andy membuat Darren kembali mengingat gadis cantik itu.
"Hmmm, baiklah. Kita ke kantin dulu."
Kedua pria berwajah tampan ala bule-bule luar negeri itu pun keluar dari ruangan dan datang ke kantin, penampilan kedua nya nampak kontras dengan yang lain. Tentu saja mereka berbeda, karena kedua nya memakai setelan jas rapih, sedangkan yang lain hanya seragam berwarna putih dengan rok selutut berwarna biru navy bayi yang perempuan. Sedangkan, laki-laki dengan celana panjang.
'Yes, bisa ketemu Meysa.' Batin Andy sambil tersenyum secerah mentari pagi.
"Sayang.." Panggil Darren, Sherena membalikan badan nya lalu tersenyum begitu melihat sang pujaan hati yang berjalan ke arah nya dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana bahan nya.
"Iya, kok belum pulang?"
"Baru aja selesai dengan gadis yang sudah mencemarkan nama baik kamu, sayang." Jawab Darren, dia ikut duduk di samping Sherena.
"Ini punya kamu?" Tanya Darren sambil menunjuk es teh lemon milik Sheren. Gadis itu menganggukan kepala nya, Darren meminum es teh milik sang kekasih dari sedotan yang sama.
"Isshh, itu sedotan nya bekas aku. Gak jijik apa?" Tanya Sherena.
"Gapapa, memang nya kenapa? Kita kan udah sering bertukar ludah, sayang." Ucap Darren sambil menatap Sherena dengan intens. Wajah gadis itu memerah, dia malu karena di tatap seperti itu oleh Darren. Ya, meskipun ini bukan pertama kali nya. Cara Darren menatap nya terlalu sering membuatnya salting, seperti saat ini.
__ADS_1
Sherena memalingkan wajah nya ke samping untuk menyembunyikan wajah nya yang memerah karena ulah nya. Tapi, terlanjur basah karena Darren sudah melihat wajah merona sang gadis. Dia tersenyum simpul, wajah gadis nya yang merona seperti itu selalu membuat nya gemas.
"Aduh-aduh, stop. Kita pindah aja ya? Sebagai kaum remahan sandwich, kita menyerah melihat keuwuan ini." Ucap April yang membuat kedua teman nya tertawa.
"Apaan sih Lo, kayak gak punya pacar aja." Ucap Sheren.
"Ya, punya sih. Tapi kan kita LDR, gak bisa kayak kalian gitu. Jadi, dari pada jiwa iri dengki saya meronta, ada baiknya saya sama kedua teman saya ini pindah meja ya. Terimakasih." Ucap April lagi membuat Sherena melongo.
"Yok, gays." Ajak April, Meysa dan Arin pun ikut di belakang April.
"Kita pindah dulu ya, maaf nih. Tapi dari pada kita baper, mending kita pindah untuk menyejahterakan hati kita." Celetuk Arina, yang membuat April dan Meysa tertawa. Ada-ada aja Arin ini, kalo ngomong suka bener.
"Eemm, saya juga pindah deh ya. Hari saya gak kuat juga lihat nya, hehe." Ucap Andy. Dia juga memilih untuk pergi meninggalkan pasangan kekasih itu dan memilih duduk sendirian di meja lain.
"Orang-orang itu pada kenapa ya?" Tanya Sherena dengan wajah bodooh nya, sudah jelas padahal kalau mereka semua menghindari ada nya adegan uwu yang membuat jiwa kejombloan mereka meronta-ronta.
"Jomblo kali."
"Ya iya sih, mereka jomblo. Tapi kan gak harus ngehindarin kita ya, iya kan?"
"Seperti yang mereka bilang, mereka gak mau iri dengki melihat kemesraan kita, sayang." Jawab Darren dengan tenang. Sherena hanya menjawab dengan membulatkan bibir nya membentuk huruf O.
"Udah makan?"
"Belum.."
"Mau?" Tawar Sherena, membuat Darren melihat ke arah mangkuk berisi mie ayam yang nampak terlihat sangat menggoda.
"Suapin.."
"Lah, kok manja gitu?"
"Gapapa lah sekali-kali, sayang. Lagian, aku manja nya cuma sama kamu."
"Iyalah, kamu manja sama perempuan lain aku racun sekalian." Jawab Sherena ketus, tapi tetap menyuapi Darren dengan mie ayam miliknya.
"Pedes.." Ucap Darren sambil menatap Sherena dengan tajam.
"Maaf, lagi pengen soalnya. Aku kalo lagi datang bulan biasa nya memang doyan makan pedes. Gak tahu kenapa, kayak seger aja gitu."
"Hmmm, jangan di biasain di hari biasa ya. Nanti perut kamu sakit, siapa yang susah? Orang tua kamu lah, masa aku." Ucap Darren yang membuat Sherena menggeplak manja lengan sang pria saking gemas nya.
"Tuh kan, untung aja kita pindah. Kalau enggak, mampus malu sendiri jadinya ngeliatin pasangan bucin itu tuh." Celetuk Meysa sambil melihat adegan mesra yang di lakukan oleh sahabat dan kekasih nya itu.
"Iya. Mangka nya kita tuh harus tahu diri, kalau Sheren ada pawang nya, mendingan kita ngalah aja." Arina juga membuka suara nya.
"Dari pada baper mah, mending kita menjauh ya." Ucap April, meskipun dia memiliki kekasih, tapi mereka melakukan hubungan jarak jauh karena sang kekasih harus bekerja di luar kota. Jadi nya, dia tetap merasa iri kalau melihat ada yang bermesraan di depan nya.
"Boleh gabung gak? Ternyata sendirian bosen." Ucap Andy, dia mendekat sambil membawa mangkuk dan gelas berisi es teh.
"Boleh kok, Om. Silahkan duduk." Jawab April. Kebetulan, kursi yang kosong itu berada di samping Meysa, jadi ini merupakan kesempatan yang bagus untuk Andy.
Meysa memutar mata nya jengah, pria di samping nya memang tampan, tapi ya sifat nya yang menyebalkan malah membuat nya ilfeel sendiri. Tapi, itu sebelum demam cinta melanda. Karena setelah jatuh cinta, bisa di pastikan kalau semua yang ada pada pasangan selalu indah dan manis. Mereka akan bucin sebentar lagi, okey? Lihat saja nanti.
"Mey.."
"Hmmm, apa?" Tanya Meysa sambil menatap sinis ke arah April.
"Yuk, kesempatan Lo tuh. Minta nomor ponsel nya buruan, mumpung dia Deket Lo." Usul April sambil berbisik agar Andy tidak mendengar ucapan nya, tapi percuma saja. Nyatanya, Andy sudah mendengar semua nya berkat indra pendengaran pria itu yang cukup tajam.
__ADS_1
Pria itu tersenyum kecil, dia akan menunggu saat itu terjadi. Dimana, Meysa akan meminta nomor ponsel nya. Dia bisa menggoda gadis itu nanti, yuhuuu. Ide gila nya mulai menjadi-jadi begitu mendengar usulan April pada Meysa. Padahal, yang di suruh belum tentu mau melakukan nya. Iya kan? Tapi ya bukan Andy nama nya jika tidak percaya diri.
🌻🌻🌻🌻🌻