Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 76 - Kepercayaan


__ADS_3

Seminggu pun berlalu sudah, hari ini adalah hari terakhir Sherena ujian akhir. Gadis itu begitu puas karena tidak sia-sia dia belajar selama ini, bahkan hingga menahan rasa rindu nya pada sang kekasih. 


Selama itu juga, Darren masih belum pulang. Dia masih sibuk mengerjakan pekerjaan nya di luar kota dengan Andy. Sesekali pria itu akan mengirim pesan pada sang kekasih agar tidak terlalu lost kontak. 


"Aaahhh, lega banget gue." Ucap Meysa sambil terkekeh. Dia yang paling kesulitan sejauh ini, tapi ya biasa ada contekan dari teman-teman nya. Benar-benar setia kawan memang mereka itu. 


"Iya, hari ini terakhir ujian. Kita makan-makan yok?" Ajak April sambil tersenyum.


"Boleh lah, gue lagi pengen makan seblak nih." Ucap Sherena, dia yang paling semringah di banding ketiga teman nya yang lain.


"Gue oke-oke aja, seblak pedes pasti bikin seger tuh." Jawab Arina.


"Yaudah, izin dulu sama laki Lo. Nanti dia marah atau sekalian ajakin aja." Ucap April, Arina pun mengangguk dan dia mengirim pesan pada sang kekasih, Marvin. Yang saat ini masih ada di parkiran, menunggu dirinya.


"Udah gue kirim pesan, yaudah yuk." 

__ADS_1


Ke empat gadis itu pun berangkat ke warung seblak langganan mereka, jarak nya cukup dekat jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja. 


Sesampai nya disana, mereka pun langsung memesan dengan menu komplit. Masing-masing memesan level yang berbeda, disini Sherena lah yang memesan level paling rendah yaitu level tiga. Sedangkan teman nya ada yang memesan sampai level delapan. 


"Yakin Lo, level delapan lho." Tanya Sherena. 


"Hmmm, lagi pengen yang pedes banget soalnya." Jawab April, ya sudah dia pun membiarkan saja sahabat nya itu memesan seblak level delapan. 


Tak butuh waktu lama, seblak pesanan mereka pun datang. Sherena makan dengan tenang, tanpa kepedasan sama sekali karena dia takut perut nya akan sakit kalau dia memesan level yang tinggi, lagi pun sebentar lagi Darren akan pulang, jadi dia tak mau di marahi. Jadi mendingan dia mengambil posisi aman saja.


"Punya Sherena keliatan enak banget ya." 


Aahhh ya, mengingat hal itu membuat hati nya berdebar tak karuan. Dia benar-benar belum siap untuk menyerahkan mahkota nya, tapi dia terlanjur sudah berjanji pada sang kekasih. Jadi, mau tak mau pun Sherena harus bersiap untuk memberikan nya. 


"Kenapa Sher, kok mendadak diem? Ada masalah ya?" Tanya Meysa, dia yang paling peka dan menyadari perubahan ekspresi Sherena.

__ADS_1


"Gue mau cerita, tapi kalian jangan ember." 


"Yaelah, kapan sih kita ember, Sher? Santai aja sama kita mah, rahasia terbukti aman." Jawab April sambil terkekeh.


"Iya tuh, kenapa Sher?" Tanya Arina. Dia juga ikut penasaran, kira-kira ada masalah apa yang membuat Sherena langsung diam seketika, padahal dia sedang bercanda ria tadi. 


"Gini, dulu gue pernah janji sama Darren bakalan ngasih itu tuh setelah gue selesai ujian dan itu sekarang, tapi tiba-tiba aja gue ngerasa ragu. Apalagi Darren bakalan nagih janji itu, kira-kira menurut kalian gue harus gimana?" Tanya Sherena membuat ketiga nya terkejut.


"Seriusan ini, Sher?" Tanya Arin, Sherena menganggukan kepala nya.


"Serius gue, apa kalian pikir gue seniat itu buat jadiin hal kayak gini jadi bahan candaan?" 


"Menurut gue, akan mengecewakan gak sih kalau semisal Lo gak nepatin janji? Tapi balik lagi sama keyakinan Lo sendiri. Lo udah yakin sama Om Darren apa belum, itu yang harus Lo pegang." 


"Bener kata April, Lo percaya aja sama Darren. Inget, Sher. Ini tuh menyangkut sama masa depan Lo, kita sih dukung-mendukung aja mau Lo kasih atau enggak." Ucap Meysa, dia juga akan kebingungan kalau menjadi Sherena. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2