Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 45 - Cemburu Buta


__ADS_3

Di dalam ruangan UKS, Darren berjalan mendekat ke arah Sherena yang masih terbaring dengan kedua mata yang terpejam rapat. 


"Sayang, bangunlah. Jangan membuat aku khawatir." Lirih Darren, dia mengusap-usap punggung tangan Sherena. Dia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan gadis nya, apalagi saat melihat bibir nya yang pucat.


"Sayang.." Panggil Darren lagi, nada suara nya benar-benar lemah. Dia tak tahu harus melakukan apa agar sang gadis cepat bangun. 


Beberapa menit berlalu, Darren masih setia menunggui gadis nya. Hingga akhirnya, kesabaran nya membuahkan hasil. Sherena membuka kedua mata nya dengan perlahan, mata nya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata nya. 


Darren tersenyum lalu mengusap lembut kepala Sherena, gadis itu menatap Darren yang juga tengah menatap nya dengan senyuman penuh arti.


"Sudah bangun, sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Darren dengan lembut. 


"Sa-yang, kok kamu bisa ada disini?" Tanya Sherena, dia benar-benar terkejut. Saat dia membuka kedua mata nya, Darren adalah orang yang pertama kali dia lihat.


"Teman mu yang mengabari aku, katanya kamu pingsan, sayang. Pantas saja dari tadi hatiku rasa nya tidak enak, ternyata inilah yang terjadi." Ucap Darren. 


"Aku tidak apa-apa kok, hanya kelelahan sedikit, terus belum sarapan."


"Katakan, siapa yang sudah menyuruh mu membersihkan lapangan basket, sayang!"


"H-aaah, dari mana kamu tahu itu, sayang?"


"Itu tidak penting, sekarang katakan. Siapa?" Tanya Darren dengan tegas. Sherena menelan ludah nya dengan kepayahan. Pria di depan nya berubah menakutkan saat marah. Sungguh demi apapun, Darren yang sekarang berada di depan nya, terlihat bukan seperti Darren yang biasa nya dia lihat. Benar-benar berbeda dengan Darren yang dia kenal. 


"Kak Agnes. Dia meminta ku menyapu lapangan basket, karena aku datang terlambat padahal hari ini aku jadwal piket." Akhirnya, Sherena mengatakan yang sebenarnya. Lagipun dia takkan bisa berbohong lama-lama pada Darren, pria itu terlalu peka jika dia berbohong pasti Darren akan mengetahui nya dengan mudah. 


"Baiklah." Darren merogoh ponsel dari dalam saku celana bahan nya. Pria itu pun menghubungi nomor Andy. 


Asisten nya yang sedang duduk di luar ruang UKS itu pun langsung mengangkat telepon yang dia yakini pasti panggilan itu dari Darren.


'Ya, hallo tuan..'


"Cari gadis bernama Agnes, dan minta dia menemui ku." Pinta Darren membuat Andy melengos. Sudah jelas kalau pria itu menelpon, pasti memberi nya pekerjaan yang cukup merepotkan. Tapi ingat, jangan menggerutu karena Darren menggaji nya bukan untuk merutuki nya di belakang nya. 


'Sekarang nih?' Tanya Andy membuat Darren menghela nafas nya dengan panjang. Terkadang, Andy ada mode Lola nya seperti ini. 


"Ya, sekarang Andy. Tak mungkin besok lusa!" Tegas Darren membuat Andy cengengesan. 


'Baik, Tuan.' 


Darren mematikan sambungan telepon nya, lalu kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku celana.


"Kamu belum makan kan? Mau makan sekarang, baby?"

__ADS_1


"Baby?"


"Hmm, ya baby."


"Tapi, aku bukan bayi. Aku dah gede, nih ini aku aja udah gede. Sayang yang bikin dia makin ngembang kayak gini." Jawab Sherena membuat Darren terkekeh.


"Iya, itu kamu memang gede. Udah gede, kenyal, lembut banget. Aku suka, terlebih lagi benda itu semakin mengembang karena tangan ku kan? Baguslah, dia pas di genggaman sekarang." 


"Issshh, sayang! Jangan bahas ini dulu dong, situasi nya lagi gak mendukung lho ini." Ucap Sherena sambil menepuk lengan besar Darren. 


"Hahaha, iya iya. Kamu ingin makan sesuatu, sayang?" 


"Mulut aku sih pengen makan bakso pedes atau seblak, tapi perut aku mau nya bubur. Gimana dong?" Tanya Sherena membuat Darren terkekeh geli.


"Makan seblak nya nanti pas pulang aja ya? Sekarang makan bubur dulu." 


"Hmmm, iya sayang." Sherena mengangguk patuh. Darren tersenyum lalu mengacak lembut rambut Sherena, pria itu beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke luar dari ruangan UKS. 


"Om, bagiamana keadaan Sheren?" Tanya Meysa dengan nada khawatir, begitu juga dengan dua teman Sherena yang lain. April dan Arina, mereka semua tetap menunggu kabar dari dalam. Apakah sahabat mereka baik-baik saja sekarang?


"Dia tidak apa-apa, terimakasih sudah mengkhawatirkan gadis ku. Kalian tahu dimana yang berjualan bubur?"


"Di kantin ada, Om." Jawab April. 


"Oke." Jawab gadis itu. Darren pun merogoh dompet nya, ketiga mata gadis itu saling menatap satu sama lain saat Darren mengeluarkan dompet nya yang tebal. 


Darren mengambil empat lembar uang merah dan memberikan nya masing-masing satu lembar pada teman-teman Sherena.


"Ini maksud nya gimana, Om?"


"Itu buat kalian jajan, anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih karena kalian sudah menjadi teman yang baik untuk Sherena. Yang ini, belikan bubur ya?"


"Baik, Om. Kalau begitu kami pergi dulu, terimakasih uang nya." Ucap Arina, Darren menganggukan kepala nya. Ketiga nya pun pergi dengan langkah ceria. Bisa di bilang uang gratisan itu lebih terasa manis dari pada uang yang di berikan secara rutin oleh orang tua mereka setiap pagi. 


"Sudah, tinggal nungguin temen-temen kamu datang bawain bubur nya."


"Sayang minta beliin bubur sama siapa?" Tanya Sherena. 


"Temen-temen kamu itu, trio wekwek." Jawab Darren sambil tersenyum.


"Heh, dari siapa ayang tahu julukan itu?"


"Gak tahu, nebak aja tadi. Soalnya mereka bertiga."

__ADS_1


"Berempat kali sama aku." Jawab Sherena sambil terkekeh. 


"Hmmm, iya juga ya." Jawab Darren sambil kembali duduk dan menggenggam tangan Sherena, mengusap-usap punggung tangan nya seperti tadi, membuat Sherena merasa nyaman. 


"Omong-omong, temen kamu keliatan nya baik ya?"


"Iya, sayang. Mereka baik banget, tadi aja mereka bantuin aku nyapu lapangan." Jawab Sherena.


"Baguslah, kamu pintar memilih teman, sayang." Darren tersenyum sambil mengusap wajah Sherena. 


"Ya, kita memang harus pandai dalam berkawan. Biar gak di manfaatin nanti nya, iya kan?"


"Betul, sayang."


"Kamu gak kerja, yang?"


"Enggak, biarin aja. Urusan kantor biar di urus sama Sarah." Jawab Darren membuat Sherena menatap pria nya dengan tatapan curiga.


"Udah, gak usah gitu natap nya. Aku gak ada apa-apa sama dia, sayang."


"Iya iya, aku percaya kok sama kamu. Tapi awas aja kalo sampai aku tahu kamu ada hubungan lebih dari sekedar rekan kerja." Ucap Sherena yang membuat Darren menelan ludah nya dengan kepayahan. 


"Kenapa? Keliatan nya kamu takut, sayang. Jangan-jangan.."


"Kamu mah bawaan nya negatif thinking mulu deh sama aku, yang."


"Haha, iya iya. Aku minta maaf, tapi kamu tahu sendiri kalau aku tuh dapetin kamu dengan susah payah. Jadi, wajar kan kalau aku cemburu, apalagi sama Sarah yang dari penampilan nya aja aku tahu kalau dia genit." Ucap Sheren dengan ketus. Darren terkekeh, membahas tentang Sarah memang tiada pernah ada habis nya. Karena Sherena selalu saja cemburu dengan wanita itu.


"Iya, aku tahu. Aku akan menjaga jarak dengan nya, sayang." 


"Baiklah, aku pegang kata-kata mu, sayang. Awas aja kalo aku liat kamu deket-deket sama wanita itu." Ucap Sheren.


"Aku pribadi sih gak bakalan mau deketin dia, Bby. Gak tahu kalau sebaliknya, dia yang deketin aku misalnya."


"Good boy."


"Idih, sok Inggris kamu Bby." Ucap Darren sambil tergelak. Dia selalu terhibur dengan segala tingkah gadis nya. Sherena benar-benar membawa kebahagiaan dan memberi nya warna di kehidupan yang selama ini terasa gelap tanpa warna apapun.


"Biarin.." Sherena mengendikan bahu nya acuh. Darren terkekeh, menggemaskan sekali gadis nya yang sedang dalam mode cemburu buta saat ini. 


Itu wajar di usia nya yang masih remaja, sebagai pria yang sudah dewasa, Darren lah yang harus mengalah. Dia tahu benar seperti apa labilnya gadis seusia Sherena, jadi dia harus benar-benar ekstra sabar untuk menghadapi kecemburuan sang gadis. Tapi, entahlah kenapa Darren menyukai semua yang ada pada diri Sherena. Apapun itu, termasuk sikap manja nya yang kadang membuat nya darah tinggi, wkwk.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2