
Seminggu kemudian telah berlalu, akhirnya Arina bisa pulang dari rumah sakit, wanita hamil itu sedang dalam masa pemulihan saat ini. Dia sedang berada di posisi manja pada Marvin, ayah dari jabang bayi yang tengah dia kandung.
Selama itu juga, hubungan kedua nya baik-baik saja. Marvin juga sering menginap di kontrakan Arina karena bumil itu tidak mau di tinggal, dia mau nya berada di dekat sang ayah dari bayi yang sedang dia kandung itu. Maka dari itu, Marvin lebih sering berada di kontrakan Arina di bandingkan rumah nya sendiri.
Bahkan, Sintia dan Rama juga pernah beberapa kali datang menjenguk Arina ke rumah kontrakan nya. Rama bersikap baik seperti biasa nya, meskipun terlihat kadang dia terlihat agak canggung namun tidak dengan Sintia. Dia bersikap sebagaimana biasa nya, seolah tidak memiliki kesalahan apapun. Padahal, Arina begini juga karena ulahnya.
Namun, untuk saat ini dia belum mengatakan yang sebenarnya. Arina dan Marvin pun tak ingin memberitahu dulu orang tua nya terlebih dulu, mereka akan memendam hal ini sampai semua masalah nya selesai.
"Sayang.." Panggil Marvin sambil tersenyum kecil ke arah sang kekasih yang tengah berbaring di atas ranjang dengan menggunakan daster rumahan nya, wanita cantik itu bangkit dari rebahan nya saat melihat sang kekasih datang dengan membawa makanan yang sedang dia inginkan.
"Ini makanan nya, di makan dulu ya?"
"Iya, sayang. Terimakasih ya?"
"Gak usah bilang makasih, ini memang sudah tugas aku, sayang." Jawab Marvin sambil mengusap rambut sang kekasih lalu mengecup kening nya dengan mesra.
"Mau di suapin, boleh?"
"Utututu, manja sekali calon istriku ini." Ucap Marvin sambil mencubit gemas pipi gembul sang kekasih lalu membuka cup berisi makanan yang di pesan oleh Arina. Lumpia basah, ya hari ini Arina mengidam ingin memakan lumpia basah. Padahal sebelum hamil, dia tidak terlalu suka dengan makanan itu, tapi setelah hamil dia jadi sering mengidam untuk memakan makanan ini.
"Buka mulut nya, sayang ku. Kapal terbang, wusshh.." Ucap Marvin membuat Arina terkekeh. Marvin memperlakukan nya seolah dia adalah anak kecil yang susah makan, padahal dia tidak susah makan hanya saja dia manja nya kebangetan. Udah mah beli nya sama Marvin, di lanjut lagi makan nya pengen di suapi. Tapi, nama nya juga bumil ya kan? Marvin juga terlihat tidak keberatan sama sekali, justru dia senang karena melihat sang istri yang manja padanya.
"Enak gak lumpia nya?"
__ADS_1
"Enak banget, cuma kurang pedes." Jawab Arin.
"Gak boleh makan pedes, sayang. Kan gak boleh, nanti baby di dalam perut nya kepanasan gara-gara kamu makan pedes. Kamu mau adik bayi nya kepanasan hmm?"
"Emang bakalan gitu ya? Padahal kan cuma makan, mana bisa bikin panas?" Tanya Arina membuat Marvin menggelengkan kepala nya.
"Yaudah kalau gak percaya."
"Hehe, iya deh iya. Jangan marah dong, kamu jelek kalo marah. Senyum dong, aku gak bakalan nakal kok. Aku nurut sama ayang.." Jawab Arina sambil tersenyum kecil, dia mencubit gemas kedua pipi sang kekasih lalu mencubit hidung bangir nya juga.
"Iya iya, gini kan?" Ucap Marvin sambil tersenyum manis. Arina langsung memeluk sang kekasih dari samping, sungguh berdekatan dengan Marvin membuat nya terasa lebih semangat.
"Ganteng nya pacar aku."
Sedangkan di tempat lain, Rama terlihat sangat terkejut saat melihat Mecca ada di restoran yang sama dengan nya, dia juga datang dengan membawa barang bukti. Tentu nya, ini semua sudah di setting terlebih dulu oleh Darren dan Andy. Membuat mereka bertemu seolah semua nya tidak sengaja, padahal nyatanya Darren ada di belakang semua ini.
"Kau, kenapa ada disini?"
"Maaf, Om. Saya hanya ingin bicara dengan Om."
"Bicara apa?"
"Tentang saya, Tante Sintia dan juga bayi yang saya kandung." Jelas Mecca membuat Rama mengernyitkan kening nya heran. Dia heran sendiri begitu mendengar ucapan wanita itu, jadi ada apa ini sebenarnya? Dia sedang merasa tidak baik-baik saja sekarang ini, malah kepala nya di buat pening dengan ucapan dan juga kedatangan wanita yang beberapa Minggu lalu, dia datang ke rumah dan tiba-tiba mengaku kalau dia sedang hamil anak Marvin.
__ADS_1
"Kenapa kau membawa-bawa nama istriku?"
"Karena dia terlibat."
"Terlibat dalam hal apa maksud mu?" Tanya Rama lagi. Mecca pun membuka tas nya lalu memperlihatkan sebuah foto dan juga bukti chat yang masih Mecca simpan, lengkap dengan pesan bernada ancaman yang di kirimkan oleh Sintia.
Melihat semua itu, Rama terlihat shock. Dia tidak percaya semua ini, apa mungkin Sintia bisa melakukan hal sejahat ini? Tidak, dia yakin wanita ini terlalu jahat hingga harus menyeret nama istri nya ke dalam drama yang dia buat.
"Atas dasar apa kau bisa melakukan hal ini hah?"
"Saya tidak peduli, anda mau menganggap saya seperti apa. Tapi disini, saya merasa sangat bersalah karena sudah ikut andil dalam rencana jahat yang di rencanakan sematang mungkin oleh istri anda yang juga ibu kandung Marvin."
"Tidak, istriku tidak mungkin melakukan hal sekeji ini. Ternyata kau wanita yang pandai berdrama ya, setelah membuat ke kacauan di rumah ku, lalu sekarang kau juga membawa-bawa nama istriku untuk menyempurnakan rencana mu? Kau ingin apa dariku?"
"Hanya ingin agar anda membuka kedua mata anda dan lihat lah semua ini. Bagi saya, hal ini tidak menguntungkan mau pun merugikan. Untuk apa juga saya menjebak istri anda? Saya terlalu miskin untuk bisa menjatuhkan harga diri seorang Nyonya Sintia." Jawab Mecca membuat Rama terdiam seketika.
"Apa semua ini benar? Apa kau bisa di percaya? Ini semua terlalu menyakitkan!" Ucap Rama, dia masih menolak untuk percaya tapi bukti-bukti yang di berikan oleh Mecca sangat terlihat asli dan tidak ada yang di buat-buat sama sekali. Jadi, disini dia harus mempercayai siapa?
"Kebenaran memang menyakitkan, Tuan. Tapi alangkah lebih baik lagi kalau anda jangan terlalu mempercayai istri anda." Ucap seseorang yang datang dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana bahan nya. Pria berwajah datar itu terlihat berjalan dengan tegap, sungguh demi apapun cara berjalan nya terlihat seperti model yang berjalan di atas catwalk padahal Darren hanya berjalan biasa saja. Bagaimana bisa berjalan saja dia terlihat sangat menawan dengan pesona dan juga wibawa yang melekat pada nya.
"Tuan Darren.."
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻