Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 40 - Menstruasi


__ADS_3

Sore harinya, Darren pun mengajak Sherena untuk pulang. Dia membangunkan nya dengan perlahan dan penuh kelembutan, meskipun merasa terganggu tapi akhirnya Sherena bangun juga. Gadis cantik itu berjalan berdampingan dengan pria tampan itu. Kedua nya nampak sangat serasi, yang satu nya cantik dan anggun. Yang satunya juga ganteng maksimal. 


"Sayang.."


"Hmm, iya? Kenapa sayang?" Tanya Darren. 


"Mau makan sesuatu yang gurih deh, apa ya?"


"Kita cari di jalan sambil pulang ya?" Ucap Darren, Sherena pun mengangguk mengiyakan dengan senyum manis nya. Dia senang karena Darren tak pernah melarang saat dirinya menginginkan sesuatu, hanya saja dia sedikit melarang saat dia terlalu banyak makan pedas. 


Sherena tahu, itu juga demi kebaikan nya. Tapi, kadang Sherena kesal juga karena dia sedang menginginkan makanan yang pedas, tapi Darren tidak mengizinkan.


"Tuan.."


"Hmm, ada apa, Andy?" Tanya Darren. 


"Tidak, selamat sore Tuan. Hati-hati di jalan, dan lindungi Nona Sherena." Jawab Andy membuat Sherena dan Darren terheran-heran. Ada apa memang nya?


"Maksud mu?" Tanya Darren membuat Andy menggelengkan kepala nya.


"Nanti, anda akan tahu sendiri. Tapi sebelum itu saya mengatakan ini agar anda lebih waspada." 


"Baik, Andy. Terimakasih."


"Sama-sama, Tuan. Selamat beristirahat." Ucap Andy, Darren pun mengangguk lalu kembali menggandeng tangan Sherena. Kedua nya pun masu ke dalam mobil. Dengan romantis nya, Darren membukakan pintu mobil untuk sang kekasih. Sherena dengan senang hati langsung masuk dan duduk dengan nyaman. Tanpa kedua nya sadari, kalau sedari tadi semua gerak gerik mereka di awasi oleh Sarah.


"Ckkk, awas saja kalian berdua. Akan aku pastikan kalau kalian tidak akan pernah bisa bersama!" Wanita itu mengepalkan kedua tangan nya, dia benar-benar marah saat melihat kemesraan kedua nya. 


Andai saja itu dirinya, dia pasti akan sangat bahagia. Tapi, ternyata posisi itu malah di rebut oleh seorang gadis kecil yang bahkan tidak apa-apa nya di bandingkan dirinya. Tentu saja dia merasa kecewa, karena dia menganggap kalau hubungan nya dengan Darren itu istimewa karena Darren pernah beberapa kali menggunakan jasa nya, tapi itu semua bukan berarti Darren menyukai atau bahkan mencintai Sarah kan?


Semua itu berlandaskan kebutuhan. Darren butuh servis Sarah untuk menyalurkan hasraat nya dan Sarah juga perlu uang untuk menunjang biaya hidupnya yang terlalu mewah. Tapi, dia hanya bekerja sebagai sekretaris saja, jadi nyambi menjadi seorang wanita penghibur. 


Tapi, Darren sendiri tidak pernah melakukan penyatuan dengan Sarah. Dia paling hanya meminta agar miliknya keluar, hanya menggunakan mulut. Itu saja, tidak lebih. Lagipun, Darren tahu benar siapa Sarah, dia tak mau mengambil resiko terjangkiti penyakit nantinya. 


Di perjalanan, Sherena malah merengek meminta mie ayam. Alhasil, Darren pun tak bisa menolak. Jadi dia menuruti kemauan sang kekasih, namun dengan syarat tidak boleh pedas. Karena tadi, gadis itu sudah makan bakso pedes. 


"Jangan pake cabe, inget perjanjian kita tadi di mobil, sayang."


"Hmmm, iya iya sayangku." Jawab Sherena, dia pun memakan mie ayam miliknya dengan lahap. Setelah tadi memakan semangkuk bakso pedas, sekarang dia malah ingin makan mie ayam. Tapi, ya dari pada gadis itu badmood nanti nya, mendingan Darren turuti saja. 


Membelikan Sherena seporsi mie ayam takkan membuat nya kesulitan, justru yang membuat kesulitan itu kalau Darren tidak menuruti kemauan gadis nya, otomatis dan sudah pasti Sherena akan merajuk. Nah, membujuk gadis yang merajuk lebih sulit ketimbang membelikan satu mangkuk mie ayam doang.


Kedua nya makan dengan lahap, meskipun sesekali, Darren nampak memperhatikan cara gadis nya makan. Terlihat sangat menggemaskan bagi nya. Padahal, Sherena makan seperti biasa nya. 


"Sayang, pelan-pelan dong makan nya. Ini sampai belepotan gini." Ucap Darren lalu mengusap sudut bibir Sherena yang belepotan terkena saus. 


"Hehe, habis nya ini mie ayam nya enak banget deh." 


"Yaudah, makan yang banyak. Setelah ini kita pulang ya." Ajak Darren, Sherena menganggukan kepala nya. Setelah beberapa saat, akhirnya mie ayam mereka habis dan kedua nya langsung pulang. 


Darren mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, Darren fokus mengemudikan kendaraan nya, sedangkan Sherena terlihat asik menikmati udara sore hari yang cukup sejuk. 


"Sayang, itu apa?"


"Pasar malam." Jawab Darren datar.

__ADS_1


"Malam minggu, kita kesana yuk?" Ajak Sherena sambil tersenyum antusias.


"Ngapain?"


"Ya, jalan-jalan aja sayang. Soalnya aku gak suka naik wahana nya, takut ketinggian, hehe." Jawab Sherena sambil cengengesan.


"Iya sayang, nanti biar aku yang izin sama kedua orang tua kamu ya?"


"H-aahh?"


"Kok keliatan kaget gitu? Emang gak boleh ya kalau aku izin langsung sama orang tua kamu, yang?" Tanya Darren. Sherena terkekeh, bukan itu maksudnya.


"Bukan begitu, sayang. Aku kaget aja, hehe." Jawab Sherena lagi.


"Yaudah, biar aku aja yang izin nanti. Bawa anak gadis orang jalan malem-malem, jelas harus izin dulu. Iya kan?"


"Ya iya dong, sayang." Sherena tersenyum kecil, artinya Darren mulai serius dengan hubungan ini kan? Dia terlihat bersungguh-sungguh dalam hal ini. Baguslah, jadi dia takkan berjuang sendiri karena Darren juga sudah memberikan respon yang baik.


Darren melirik sekilas ke arah Sherena, lalu tangan nya mengacak gemas rambut gadis itu, membuat Sherena cemberut karena merasa kesal. Kalau pria itu gemas, pasti mengacak rambutnya. Kalau sudah begini, ya bisa di pastikan rambut nya akan acak-acakan. 


"Sayang, ihhh.."


"Hayo, kenapa?" Tanya Darren datar, seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun dengan mengacak rambut Sherena yang sudah di sisir rapih. 


"Kamu tuh kenapa sih? Suka banget berantakin rambut aku? Padahal, ini kan baru aja habis di sisir." 


"Hehe, maafin ya. Soalnya kamu gemesin banget, sayang." 


"Ya gemesin sih gemesin, tapi bukan berarti kamu bisa ngacak-ngacak rambut aku kayak gini." Jawab Sherena dengan sedikit ketus. Tapi meskipun begitu, dalam hati dia sangat bahagia karena Darren memperlakukan nya dengan sangat baik. 


Darren memarkir mobil nya di garasi, Sherena pun berpamitan untuk langsung pulang karena dia merasa tidak enak dengan perut nya, seperti nya gara-gara makan bakso pedes tadi.


"Sayang, aku pulang dulu ya.."


"Lho, kok buru-buru banget? Katanya mau bikin tanda merah lagi." Goda Darren dengan senyum nakal nya.


"Nanti saja pas kita main ke pasar malam, aku udah gak tahan nih. Perut aku rasanya gak enak banget ini, aku pulang ya, dadah ayang." Sherena pun buru-buru pergi ke rumahnya. 


Setelah sampai, Sherena merasa kalau dia takkan mampu menaiki tangga, jadi dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur, dekat kamar asisten rumah tangga. 


"Lho, tadi kayaknya ada Sheren. Tapi kok gak ada ya? Kemana?" Gumam Arumi, dia melihat tas dan sepatu milik Sherena sudah berada di tempat nya. Artinya, gadis itu memang sudah pulang bukan? Tapi, dimana dia sekarang? 


"Bi, lihat Sheren?"


"Tadi ke kamar mandi, Bu." Jawab salah satu art yang memang tak sengaja melihat Sherena masuk ke dalam kamar mandi di dapur. Biasa nya, kamar mandi itu khusus di peruntukan untuk asisten rumah tangga. Tapi, bisa juga di gunakan kalau sedang darurat seperti ini. 


"Ohh, ya sudah." Jawab Arumi, dia pun kembali ke ruang tamu dan duduk disana sambil membaca majalah. 


Sedangkan di kamar mandi, Sherena membulatkan kedua mata nya saat melihat noda merah di celana yang dia kenakan. Dia kira perut nya yang mulas itu di akibatkan oleh salah makan, tapi rupanya bukan. Tamu bulanan nya datang, artinya dia akan kesulitan tidur.


Ya, Sherena memang memiliki kebiasaan tidak bisa tidur saat hari pertama menstruasi. Dia akan merasakan perut nya kram semalaman dan itu akan sangat menyakitkan bagi nya. 


"Hufft, siap-siap begadangnibu mah." Gumam Sherena. Dia pun kembali memakai celana nya, lalu mengecek apakah tembus hingga keluar atau tidak. 


"Oke, aman. Gak nembus." 

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada darah di celana nya, Sherena pun keluar dari kamar mandi. Gadis itu merapikan pakaian nya, lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia tidak siap untuk tidak tidur semalaman ini, apalagi besok dia harus sekolah. Masih mendingan kalau dia libur sekolah besok, jadi bisa seharian di rumah. 


"Mama.."


"Sudah pulang, sayang?"


"Iya, Ma. Udah dari tadi kok." 


"Kata mbak, tadi kamu datang-datang langsung ke kamar mandi, kenapa? Udah gitu, pake kamar mandi belakang lagi." 


"Ngecek ini, Ma. Ternyata Sheren datang bulan, pantesan perut Sheren gak enak banget tadi." Jawab Sherena sambil tersenyum.


"Ohh, yaudah sana cepetan ganti. Nanti iritasi." 


"Oke, Ma. Buatin teh jahe ya?" Pinta Sherena, sambil tersenyum manis. 


"Siap, sayang." 


Sherena pun menganggukan kepala nya, lalu pergi ke kamar nya sambil memegangi perut nya. Gadis itu langsung mengganti pakaian nya, serta dalaaaman nya juga sekalian. 


"Awwhhss, mulai deh.." Gumam Sherena sambil meringis, dia memegangi perut nya lalu berbaring di atas ranjang. Sungguh demi apapun, nyeri datang bulan memang semenyiksa ini.


Tring.. 


Ponsel Sherena berbunyi, gadis itu mengambil ponsel nya. Dia melihat kalau nomor Darren tengah menghubungi nya saat ini. 


'Hallo, sayang..'


"Hmmm, hallo sayang.." Jawab Sherena dengan lesu dan Darren menyadari itu.


'Kamu kenapa, sayang? Suara mu terdengar sangat lesu.' 


"Sakit perut, yang." Jawab Sherena. Di seberang sana, Darren terkejut. Sudah jelas, perut Sherena sakit pasti karena makan bakso terlalu pedas tadi. 


'Sayang, aku bilang juga apa? Sekarang sakit perut kan? Ngeyel sih, lain kali kalo di bilangin itu dengerin. Kalo udah gini, siapa yang susah? Kamu juga lah, aku mah gak sakit perutnya.'


"Aku lagi sakit lho ini, kok kamu malah marah-marah sih?" Tanya Sherena membuat Darren baru sadar akan tingkah nya ini.


'Yaudah maaf, habisnya kamu keras kepala sih. Jadi nya sakit perut.'


"Tapi, aku sakit perut bukan karena makan pedes, sayang." Jawab Sherena. Darren pasti mengernyitkan kening nya sekarang ini. 


'Lalu?'


"Aku dateng bulan, sayang."


'H-aahh?' Tanya Darren. 


"Aku lagi menstruasi, hari pertama." Jawab Sherena. Lagi-lagi, di seberang sana Darren tak habis pikir. Dia selalu heran dengan wanita, setiap bulan keluar darah seperti itu apa tidak akan kekurangan darah? Atau semacam nya? Yang lebih mengherankan lagi, apa darah nya tidak habis? Kan setiap bulan keluar gitu. 


Tapi, semua itu kan sudah ada aturan nya. Ada organ yang memproduksi semua nya, jadi wanita takkan pernah kehabisan darah atau semacam nya. Darren masih heran dengan hal itu, padahal itu bisa di jelaskan secara medis.


"Hey sayang, kenapa diam saja?" tanya Sherena.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2