Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 142 - Kebahagiaan Arina & Marvin


__ADS_3

"Pa.." Panggil Marvin ketika dia bertemu dengan sang ayah yang tengah fokus bekerja di ruang tamu dengan laptop yang menyala di depan nya.


"Boy, kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Arina?"


"Dia baik-baik saja kok, Pa."


"Cucu Papa?"


"Dia juga baik-baik saja." Jawab Marvin sambil tersenyum kecil. Dia senang karena sang papa begitu memperhatikan kesehatan Arina dan juga calon buah hatinya yang tengah dia kandung di dalam rahim nya.


"Kemarilah dan duduk disini, boy." Ucap Rama. Marvin pun menganggukan kepala nya dan duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan sang ayah. 


"Ada apa, Pa?"


"Boy, kapan kamu akan menikahi Arina? Tidak mungkin sampai menunggu usia kehamilan nya semakin besar kan? Perlahan, perut Arina akan semakin membuncit, boy." Jelas Rama membuat Marvin terdiam. 


Sekarang, dia memang sudah bekerja di perusahaan Darren. Meskipun hanya sebagai Resepsionis saja, namun gaji nya cukup besar. Tetap saja, dia perlu memikirkan ke depan nya akan seperti apa. Menikah bukanlah hal yang mudah, bagi Marvin menikah itu harus sekali seumur hidup. 


Bukan artinya dia tidak yakin dengan Arina, namun dia kurang yakin terhadap dirinya sendiri. Akankah bisa dia menafkahi istri nya nanyi? Tapi, rezeki juga akan mengikuti dirinya kan? Yakinlah, akan ada jalan keluar di setiap masalah.


"Baiklah, Pa. Marvin siap.."


"Bagus, papa akan mulai menyiapkan semua nya. Beri tahu Arina, mulai hari ini bawa dia tinggal disini. Jangan tinggal di kost an lagi, apalagi tempat itu terlihat kumuh. Papa khawatir kalau itu akan membuat tumbuh kembang janin di dalam kandungan Arina bermasalah, boy."


"Marvin mengerti, Pa."


"Good, lakukan yang terbaik untuk Arina. Sudah cukup dia merasakan sakit karena perbuatan ibu mu, Vin. Jangan biarkan dia merasa sakit lagi, sembuhkan dia."


"Iya, Pa. Terimakasih sudah mau mendukung Marvin."


"Tentu, begini-begini juga aku ini Papa mu, Marvin. Sudah kewajiban ku mendukung mu, nanti ada istri mu juga yang akan mendukung dan mendampingi mu di setiap langkah." Jelas Rama yang membuat senyum manis tersungging di sudut bibir Marvin. 


"Haha, iya Pa."


"Kau mau menginap disini atau kembali ke kontrakan Arina?"


"Pengen nya sih nemenin si ayang sama baby nya juga."


"Yaudah, temenin calon istri kamu sekalian diskusikan langkah selanjutnya. Tanyakan juga, dia ingin konsep menikah nya seperti apa. Kali aja dia ada wedding dreamer." Jawab Rama membuat Marvin menatap sang ayah dengan tatapan berkaca-kaca. Dia bahagia, dia juga senang melihat sang ayah yang mendukung penuh apapun keputusan nya. 


Meskipun dia pernah merasa sedikit kecewa pada Rama karena pernah memukul nya hari itu karena sebuah hasutan yang di buat oleh Sintia, namun sekarang dia merasa kalau semua ini terjadi hanya karena satu orang, yaitu Sintia. Tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung Marvin sendiri. Gilaa memang, tapi ya itu lah realita nya. 

__ADS_1


"Jangan menatap Papa seperti itu, sudah sana mandi. Terus ganti baju, temenin Arina. Kasian dia sendirian, kamu sebagai calon bapak dari bayi yang sedang di kandung oleh Arina tuh harus siaga." 


"Iya Papa, bawel nya astaga." 


"Hahaha, calon kakek nih."


"Calon bapak nih, senggol dong." Jawab Marvin yang membuat Rama terkekeh geli mendengar ucapan sang anak.


Setelah itu, Marvin pun pergi ke kamar nya untuk membersihkan tubuh nya dan setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Marvin selesai. Dia mengenakan kaos dan celana jeans panjang. Pemuda itu pun segera pergi untuk bertemu dengan sang kekasih. Dengan mengendarai motor nya, Marvin terlihat sangat bersemangat untuk bertemu dengan Arina. Gadis yang dia cintai. 


Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, akhirnya dia pun sampai di rumah kontrakan yang di tinggali oleh Arina. Pemuda itu langsung masuk dan mendapati Arina tengah muntah-muntah di kamar mandi. Dengan cepat, Marvin memijat tengkuk Arina yang membuat wanita itu mendongak dan menatap Marvin. 


"Pergilah, jijik.."


"Tidak, aku tidak jijik sama sekali." Jawab Marvin. Dia pun kembali memijat tengkuk sang kekasih, juga mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk wanita itu agar mual nya mereda.


"Pahit banget deh.." 


"Sabar ya? Maafin aku, udah bikin kamu hamil."


"Mau makan es krim dong."


"Heem, kayaknya iya. Dari tadi aku pengen es krim."


"Terus, kenapa gak bilang sama aku hmm? Aku kan bisa beliin sekalian kesini lagi, sayang."


"Mana aku tahu kalau kamu mau kesini lagi, aku kira kamu bakalan tidur di rumah kamu malam ini. Taunya malah balik lagi." Jawab Arina yang membuat Marvin terkekeh lalu mencubit gemas pipi gembul Arina.


"Tadinya sih iya, mau nginep di rumah soalnya udah lama juga kan? Tapi, Papa nyuruh aku buat nemenin kamu aja disini."


"Beneran? Bukan modus kamu kan?"


"Astaga, bawaan nya nethink mulu deh perasaan."


"Hehehe, gak gitu sayang. Maaf deh ya, gak tau aku bawaan nya jadi curigaan begini deh sekarang." 


"Maklum aja, namanya juga orang hamil." Jawab Marvin sambil tersenyum manis.


"Udah baikan belum?"


"Hmm, masih mual sih tapi gak semual tadi, sayang."

__ADS_1


"Yaudah, ayo kesini dulu. Ada hal yang mau aku bicarakan, penting." Ajak Marvin. Dia ingin menanyakan tentang pernikahan yang akan di selenggarakan dalam waktu dekat ini. Seperti ucapan sang papa tadi, Marvin harus mendiskusikan semua nya terlebih dulu bersama Arina, calon istrinya. Wanita yang akan dia ikat dengan tali pernikahan, wanita yang akan menemani nya seumur hidup, semoga. 


"Penting? Tentang apa itu?"


"Pernikahan kita, sayang."


"Lho, kata kamu kan belum siap?"


"Siap, aku sangat siap sekarang." Jawab Marvin yang membuat Arina tersenyum kecil. Akhirnya, hari ini datang juga. Sebelum nya, Marvin hanya mengatakan kalau dia butuh waktu untuk menyiapkan semua nya. Namun, setelah mendengarkan ucapan sang ayah, dia menjadi yakin untuk menikahi Arina. 


"Benarkah?"


"Iya, maafkan aku karena terlalu lama menunggu."


"Maafin Papa juga ya, sayang." Ucap Marvin sambil mengusap-usap perut Arina yang masih rata di usia kandungan nya yang memasuki delapan minggu, artinya dua bulanan ya. 


"Gapapa kok, Papa." Jawab Arina dengan menirukan suara anak kecil. 


"Jadi, tadi papa nanyain. Kali aja kamu punya wedding dreamer, sayang."


"Wedding dreamer aku hanya menikah dengan pria yang aku cintai, sudah itu saja."


"Sayang.."


"Hahaha, sudahlah. Aku tidak perlu menikah secara besar-besaran seperti yang lain. Aku hanya ingin pernikahan sederhana saja." 


"Baiklah, aku akan mengatakan nya pada Papa. Tapi tetap saja, iya atau tidak nya tetap Papa yang ngasih keputusan. Soalnya papa sudah menyiapkan semua nya."


"Baiklah, terimakasih sayang."


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Marvin.


"Terimakasih karena sudah memilih aku menjadi pendamping mu, aku bahagia."


"Apalagi aku, aku sangat bahagia karena bisa memiliki mu. Aku mencintaimu, Arina."


"Aku bahkan lebih mencintaimu, Marvin ku." Jawab Arina. Kemudian, Marvin mendekatkan bibir nya dan mencium nya dengan mesra. Kalau sudah begini, sudah pasti mengarah kemana kan? Kemana lagi kalau bukan ke ranjang. Maklum lah masih muda, lagi doyan-doyan nya. 


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2