
"Apa sih, udah gak usah lebay. Intinya, gue lebih duluan dapet ini sepatu, jadi ini milik gue!"
"Hmm, terserah kau saja." Jawab Darren membuat Sherena merasa kesal, dia merengek pada sang kekasih karena tidak terima.
"Sayang, tapi itu kan sepatu nya aku duluan yang liat. Masa kamu dengan gampang nya sih ngasih ke dia?" Tanya Sherena.
"Sudahlah, Babe. Nanti kita beli kalau ada sepatu yang lebih bagus, kamu gak pantes pakai sepatu yang sama seperti dia. Itu membuat aura nya terlihat murah." Jelas Darren, lalu pergi dengan menarik tangan sang kekasih dengan lembut keluar dari toko itu.
"Isshh, kamu nyebelin!"
"Maaf, Babe. Tapi aku malas berdebat dengan orang semacam ini, buat apa? Hambur-hamburin tenaga aja, mending kita ngalah. Toh, sepatu modelan begitu pasti tiap bulan membuat desain baru." Jelas Darren membuat Sherena dongkol, dia pun berjalan cepat meninggalkan Darren.
Dia kesal bukan main, Darren tahu kalau dia sudah cukup lama mengincar sepatu seperti itu, tapi disaat dia memiliki kesempatan untuk memiliki nya bahkan dia sudah memegang nya dengan tangan nya sendiri, dia malah kehilangan kesempatan itu karena wanita sialan yang entah dari mana datang nya. Sudah dandanan nya menor kayak tante-tante, sombong, angkuh lagi.
"Babe, tunggu dong. Kamu ini kebiasaan deh kalo kesel, pasti suka ninggalin gini. Jangan ngambek dong, kita kesini kan niat nya.."
"Niat kita kesini itu buat beli SEPATU." Sherena memotong ucapan Darren, memang niat awal mereka datang ke mall ini ya untuk membeli sepatu sebagai hadiah untuk Sherena karena sudah mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian akhir nya itu, tapi semua nya kacau gara-gara wanita yang tak tahu malu, entah dari mana wanita itu berasal.
"Astaga, Baby.."
"Apa? Lembek amat jadi laki."
"H-ahh? Kamu bilang apa hah? Aku tahu kamu marah, tapi gak sopan banget ya bilang aku kayak gitu!" Ucap Darren dengan kesal membuat Sherena memutar mata nya dengan jengah lalu pergi dari hadapan Darren dengan langkah cepat nya.
"Astaga, susah bener bujuk nya. Padahal kan bisa di pesen lewat online gitu." Gumam Darren, dia pun segera berlari menyusul gadis nya yang tengah di landa bad mood parah.
"Babe.."
"Apa lagi?"
"Jajan es krim yuk? Sepatu nya nanti aku beliin online aja, atau aku nyuruh Andy buat beliin langsung ke luar negeri, gimana? Mau? Asal jangan ngambek atuh." Bujuk Darren dengan wajah memelas nya, dia benar-benar tidak suka saat Sherena marah seperti ini.
"Oke, jajan es krim. Tapi nanti malem gak ada jatah ya!"
"Lho kok gitu sih, Bee? Gak mau, aku mau jatah pokoknya."
"Ya terserah, mendingan aku ngambek sama kamu atau ngalah gak di kasih jatah malam ini?" Tanya Sherena membuat Darren terlihat bimbang.
"Tapi cuma malam ini doang kan?"
"Maybe."
"Isshh kok gitu sih, Bee. Mana bisa aku gak di kasih jatah? Terus si junior gimana?"
"Ya itu derita kamu, dulu aja kamu tahan kan puasa bertahun-tahun gak masuk lubang, sekarang kok baru sehari aja masa udah ngerengek gini, pake bilang gak kuat segala?" Tanya Sherena membuat Darren diam.
Benar sih, dulu dia juga bertahun-tahun menduda tapi dia kuat-kuat saja. Bahkan tidak pernah masuk mulut bawah, hanya sebatas main secara oraal saja. Tapi sekarang, ya berbeda tentu nya. Setelah merasakan lubang sempit milik Sherena, dia jadi ketagihan dan mau nya nambah aja terus.
"Ya beda dong, Bee. Sekarang kan aku udah punya sarang baru, jadi mau nya masuk terus. Apalagi punya kamu legit terus masih rapet banget, jadi enak kalo main tiap hari."
__ADS_1
"Dih, males. Dahlah, aku mau pulang aja. Udah bad mood." Ucap Sherena sambil berjalan mendahului Darren, lengkap dengan ekspresi kesal yang kentara di wajah nya, juga kedua tangan yang bersedekap di dada, membuat pria itu langsung ketar ketir sendiri saat melihat gadis nya melangkah semakin menjauh.
"Wah, gak bisa di biarin ini." Gumam Darren, dia pun segera menghubungi nomor Andy untuk meminta nya membelikan sepatu yang di inginkan oleh Sherena.
Setelah itu, dia pun kembali berlari mengejar sang kekasih dan membawa nya ke dalam mobil. Darren pun ikut masuk dan mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan itu hanya ada keheningan yang mewarnai perjalanan mereka dari mall ke sekolah. Mereka pulang tanpa membawa apa-apa, alias dengan tangan kosong. Karena Sherena yang bad mood gara-gara sepatu yang dia incar malah di serobot orang lain.
Sherena terus saja cemberut, membuat Darren gemas sendiri. Sesampai nya di rumah, Sherena langsung keluar dari mobil dan berniat untuk masuk ke rumah, tapi sepertinya dia lupa kalau kunci rumah ada pada Darren, jadi dia tidak bisa masuk.
"Sabar dong, Bee. Itu pintu gak salah apa-apa kok kamu tendang-tendang sih?" Tanya Darren membuat gadis itu mendelik kesal, pria itu segera mengeluarkan kunci rumah dan membuka pintu nya, Sherena pun masuk dengan wajah datar nya.
"Astaga, Bee. Udahan dong marah nya."
"Diem!"
"Kamu ya bener-bener, aku hukum kamu. Darren pun menarik tangan Sherena ke kamar dan tanpa basa basi langsung menggagahi nya. Sherena meronta karena dia tak mau melakukan ini, terlebih sekarang disaat mood nya sedang tidak baik. Tapi Darren juga kesal karena ulah gadis nya yang terus saja merajuk, padahal dia sudah membujuk nya dengan berbagai cara.
"Aaahhh, pelan-pelan. Kamu menyakitiku!"
"Yeaahh, aku akan melakukan nya dengan lembut, sayang." Jawab Darren, dia pun kembali menyetubuhii Sherena dengan gagah nya, hingga gadis itu di buat tak berdaya karena sentuhan-sentuhan Darren di titik sensitif nya, ini benar-benar luar biasa. Bahkan Sherena di buat tak berhenti untuk terus mendesaah, dia terus menjerit kenikmatan saat Darren melesakkan senjata laras panjang nya ke dalam inti miliknya yang masih sangat sempit, meskipun sudah basah.
"Sshhh, aaahhh.."
"Panggil nama ku, sayang."
"Lebih cepat, Darren.." pinta Sherena, Darren tersenyum kecil lalu mengecup bibir tipis Sherena yang sedikit terbuka sekilas.
"Aaaahhh.."
"Enak, sayang?" Tanya Darren membuat wajah Sherena bersemu kemerahan.
"Tadi aja kamu nolak-nolak, sampe nangis segala. Sekarang udah orgassme ke berapa kali, hmm?"
"Diam, cabut aja sana."
"Dih, gak bisa gitu dong. Kamu sih enak udah berapa kali klimaaks, lah aku?"
"Yaudah cepetan, gerah!" Ketus Sherena, padahal dia malu sebenarnya.
Darren pun terkekeh, lalu kembali melanjutkan permainan nya dengan cepat dan beberapa menit kemudian, dia juga berhasil mendapatkan klimaaks nya. Dia menyemburkan susu kental manis nya di dalam sana.
"Melegakan sekali rasa nya.." gumam Darren, dia pun berguling ke samping lalu meraih Sherena ke dalam pelukan nya.
"Maafkan aku gagal membuat kamu bahagia di hari kelulusan kamu, Bee. Tapi percayalah, aku akan mengganti nya dengan yang lain." Lirih Darren.
"Tapi tetap aja, aku kan pengen nya sepatu itu yang tadi, yang."
"Dari sekian banyak nya sepatu yang lain, apa kamu gak tertarik beli yang lain, sayang?" Tanya Darren membuat Sherena langsung menggelengkan kepala nya.
"Ya sudah, nanti aku usahakan ya, Bee."
__ADS_1
"Hmmm, terimakasih." Jawab Sherena, dia mengeratkan pelukan nya di pinggang Darren dan menduselkan wajah nya di dada bidang pria tampan itu.
"Kita mandi bareng yuk?"
"Tapi.."
"Satu ronde lagi di kamar mandi, cukup kok." Jawab Darren, baru saja Sherena ingin memperingatkan Darren agar tidak meminta ronde tambahan di kamar mandi, tapi malah keduluan pria itu yang meminta langsung ronde tambahan.
"Enggak ya.."
"Ayo, sambil berdiri aja." Ajak Darren, tapi melihat Sherena yang nampak mager, dia pun langsung menggendong gadis cantik itu ke kamar mandi dan seperti yang sudah author spill, ya begitulah. Akhirnya Sherena pun kembali melayani nafssu sang kekasih untuk kedua kali nya hari ini.
Sedangkan di bawah, Andy keluar dari mobil nya dengan wajah kusut seperti benang pancing. Dia menenteng sebuah paperbag berisi sepatu yang di inginkan oleh Sherena, tapi beda nya ini versi lebih limited edition nya dari pada yang tadi di toko. Tentu nya, harga nya juga jauh lebih mahal yang di bawa oleh Andy di banding yang tadi. Pokoknya kalah jauh.
Beberapa kali Andy mengetuk pintu rumah Darren, tapi tidak ada jawaban apapun. Bahkan rumah nya tampak sangat sepi, seperti tiada siapapun disini.
"Ini mobil nya ada, tapi orang nya kok gak ada. Sepi amat, apa mungkin di rumah itu ya?" Gumam Andy, dia pun mencoba menghubungi nomor sang atasan. Membuat pria itu yang baru saja selesai mandi bersama Sherena pun langsung melepaskan pelukan nya pada Sherena, tadi nya dia sedang bermanja-manja dengan gadis itu. Bahkan mereka belum sempat berpakaian.
"Itu ada yang nelpon, angkat dulu siapa tahu penting." Ucap Sherena.
"Iya, Bee." Jawab Darren, dengan terpaksa dia melerai pelukan nya di perut rata sang gadis.
"Hallo.." Ucap Darren setelah mengangkat telepon nya.
'Tuan, dimana? Saya di bawah, tapi gak ada siapa-siapa.'
"Di kamar, kau membawa pesanan ku?" Tanya Darren dengan suara lirih nya, agar tidak terdengar oleh Sherena yang sedang merias diri di meja rias.
'Iya, Tuan. Tapi, dompet saya bolong ini.'
"Ya, jangan khawatir untuk hal itu. Aku akan mengganti nya, aku kesana sekarang." Ucap Darren. Dia pun mematikan sambungan telepon nya dan pria itu pun mengambil bathrobe lalu memakai nya.
"Lho, mau kemana?" Tanya Sherena.
"Mau ke bawah, sebentar ya. Ada Andy disana."
"Oke, sayang." Jawab Sherena, dia pun kembali menyapukan bedak di wajah nya dan membiarkan pria itu pergi ke bawah. Darren menuruni tangga dengan perlahan. Andy melihat wajah sang atasan yang terlihat berseri-seri, seperti nya dia tahu apa yang membuat wajah Darren berseri-seri.
"Habis keramas ya, Tuan?"
"Kau melihat rambut ku basah, bukan? Berarti aku habis keramas." Jawab Darren dengan sedikit ketus.
'Ckkk, mentang-mentang habis dapat jatah sore-sore.' Batin Andy menggerutu. Ya, lebih tepat nya dia merasa iri dengki karena dia tidak bisa melakukan hal yang sama juga.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu hmm? Merutuki aku di dalam hati mu, begitu?"
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1