Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 37 - Es yang Mencair


__ADS_3

Sherena turun di sebuah perusahaan yang bangunan nya tinggi menjulang dengan banyak jendela dimana-mana. Gadis itu merasa takjub dengan bangunan megah itu, dia tidak menyangka kalau sang kekasih mempunyai perusahaan sebesar ini.


"Tunggu-tunggu, jangan salah fokus. Ayo masuk, ingat tujuan kamu Sheren." Ucap Sherena, dia pun melangkah pelan sambil terus menatap takjub ke arah bangunan yang tinggi menjulang dan mewah itu. 


Gadis itu masuk ke dalam lobi dan berjalan ke arah resepsionis yang tersenyum ramah menyambut nya.


"Permisi, kak. Saya ingin bertemu dengan Tuan Darren." Ucap Sherena dengan canggung. Pasalnya, dia datang kesini sendirian dengan pakaian yang berbeda dari orang-orang yang ada di kantor. Mereka mengenakan seragam yang sama, berwarna biru langit dan rok span rapih. Sedangkan pria nya nampak rapih dengan kemeja dengan dasi yang tergantung rapi juga. 


Rambut mereka di sisir dengan rapih, mereka juga terlihat sangat disiplin. Terlihat jelas kalau Darren adalah pemimpin yang bijak dan tegas. 


"Maaf, apakah sebelum nya Nona sudah ada mengatur jadwal?"


"Eemm, maksud nya kak?" Tanya Sherena, membuat resepsionis itu tersenyum kecil melihat kepolosan gadis di depan nya.


"Begini, kalau ingin bertemu dengan Tuan Darren, Nona harus mengatur jadwal terlebih dulu, mengingat kalau Tuan Darren adalah orang yang sibuk, Nona. Jadi, apakah Nona sudah punya janji temu?" Tanya nya lagi membuat Sherena kebingungan, dia harus menjawab apa?


"Eemm.."


"Nona Sherena?" Tanya seorang pria bertubuh tinggi tegap, jas hitam rapih menempel sempurna di tubuh nya. 


"I-iya, tuan.."


"Mari ikut saya, Tuan Darren sudah menunggu anda." Ucap Andy, Sherena menganggukan kepala nya. 


"Kalau dia kemari, tak perlu kau tanya-tanya. Dia adalah kekasih Tuan Darren, mengerti? Catat dan ingat-ingat wajah serta nama nya. Sherena."


"Baik, tuan." Andy mengangguk kecil lalu pergi, sedangkan Sherena hanya menatap polos ke arah keduanya.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu kalau anda kekasih tuan Darren, maaf sudah mempersulit anda."


"Tidak apa-apa, kak." Jawab Sherena dengan senyum ramah nya.


"Mari, Nona." Ajak Andy, Sherena mengangguk dan mengekor di belakang Andy. 


"Perkenalkan, nama saya Andy Mahendra, Nona bisa panggil saya Andy atau om, terserah anda. Saya adalah asisten pribadi tuan Darren." 


"Aaaa iya, salam kenal Om."

__ADS_1


"Salam kenal kembali, Nona." Jawab Andy. Dengan senyum yang terlihat sangat di paksakan malah membuat Sherena tertawa. Andy yang biasa nya selalu menunjukkan wajah datar, kini harus memaksakan senyum nya saat bertemu dengan kekasih sang atasan.


Kedua nya pun keluar dari bilik lift, Sherena kembali mengekor di belakang Andy. Tak sengaja, saat di koridor kedua nya berpapasan dengan Sarah yang entah dari mana. 


Wanita itu menatap sinis seorang gadis kecil, penampilan nya sangat sederhana. Hanya mengenakan kulot jeans, kaos oversize, yang di balut dengan jaket jeans. Rambut nya di kuncir kuda, penampilan nya benar-benar sederhana. 


Tapi, kenapa dia bisa datang bersama Andy? Memang nya siapa gadis itu? Itulah yang menjadi kan Sarah penasaran dengan sosok sederhana yang mengekor di belakang Andy, yang notabene nya pria terdatar di perusahaan ini setelah Darren tentu nya. 


Andy tidak mempedulikan tatapan tajam yang di layangkan oleh Sarah, sedangkan Sherena menyapa dengan senyuman kecil. Sarah hanya membalas nya dengan senyuman yang terlihat sangat di paksakan. 


"Silahkan masuk, Nona. Tuan Darren ada di dalam." 


"Baik, Om. Terimakasih sudah mengantar Sheren sampai sini."


"Sama-sama, sudah tugas saya Nona." Jawab Andy dengan ramah. Pria itu pun pergi setelah melihat Sherena masuk ke dalam ruangan Darren. Dia bersiap untuk pergi, tapi lagi-lagi ular betina itu muncul. 


"Ngapain?" Tanya Andy. 


"Yang tadi, siapa?"


"Bukan urusan mu, urus saja pekerjaan mu. Semakin sedikit yang kau tahu, maka usia mu akan lebih lama." Jawab Andy dengan ketus. Tapi harusnya Sarah tidak perlu bertanya lagi bukan? Dia sendiri melihat gadis itu masuk ke ruangan Darren.


"Baiklah, karena pria itu tidak mau memberitahu, jadi aku akan mencari tahu nya sendiri." Gumam Sarah, dia akan mencari tahu nya sendiri nanti.


Sedangkan di dalam ruangan, Sherena langsung mendekat saat melihat Darren menelungkup kan kepala nya di atas meja. 


"Sayang.." panggil gadis itu, dia berlari mendekat. Darren mendongak, lalu tersenyum saat melihat gadis nya benar-benar datang. 


"Kamu benar-benar datang, sayang?"


"Iya, tentu saja aku datang atas permintaan mu, sayang." Jawab Sherena. Pria itu beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan Sherena ke sofa yang memang tersedia di ruangan Darren.


"Duduklah, sayang." Pinta Darren, Sherena pun menurut. Dia duduk lalu Darren segera berbaring di pangkuan gadis itu. 


"Tolong pijit ini, sayang. Sakit sekali.." 


"Iya.." Jawab Sherena, dia pun memijit kening sang pria dengan perlahan. 

__ADS_1


"Kamu demam, sayang. Sudah minum obat?" Tanya Sherena.


"Sudah, tadi dari Andy." Jawab Darren lirih. Dia memilih menduselkan wajah nya di perut rata Sherena. Gadis itu mengusap-usap kepala Darren membuat pria itu merasa nyaman. Dia menyukai sentuhan Sherena yang lemah lembut.


"Aku ingin tidur, sayang."


"Tidurlah, nanti aku bangunkan, sayang. Kamu sudah makan?" Tanya Sherena sambil terus mengusap-usap kepala sang kekasih.


"Belum, nanti biar Andy yang belikan. Tapi aku mau nya di suapin." 


"Iya, sayangku. Sekarang aja kamu manja nya minta ampun deh, awalnya kamu jutek banget." Celetuk Sherena, membuat Darren tersenyum kecil sambil mendusel-duselkan wajah nya di perut rata Sherena.


"Es nya udah mencair, sayang."


"Wkwk, sudahlah. Ayo tidur, sayang." Ucap Sherena, Darren mengangguk dan memejamkan mata nya. Sherena menyandarkan punggung nya di sandaran sofa, dia benar-benar tidak menyangka kalau Darren punya perusahaan sebesar ini. Tapi, dia benar-benar manja saat ini. Apakah dia memang selalu manja seperti ini kalau sedang sakit?


"Es nya benar-benar sudah mencair.." Gumam Sherena sambil tersenyum kecil. Pria itu bahkan menyibak kaos yang di kenakan oleh Sherena dan mendusel di perut nya. Sherena tak bisa menolak meskipun dia ingin, karena rasa nya benar-benar geli. Apalagi hembusan nafas hangat Darren yang terasa menerpa permukaan kulit nya.


"Permisi, tuan Dar.." 


Sherena menatap seorang wanita yang tadi sempat dia temui di koridor kini masuk ke ruangan dengan lancang nya, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Sarah tersenyum sinis melihat Darren yang tertidur di pangkuan gadis itu. 


Sudah fiks bukan? Benar, dia adalah kekasih Darren. Baru kali ini Sarah melihat pria itu seperti ini pada perempuan.


"Maaf, mbak. Kalo bisa, sebelum masuk ketuk dulu pintu nya."


"Memang nya kamu siapa? Aku disini sudah lama dan sudah biasa masuk tanpa harus mengetuk pintu dulu."


"Bukankah itu tidak sopan? Sebagai wanita yang berpendidikan, harusnya anda tahu tatakrama bukan?" Tanya Sherena yang membuat Sarah terkekeh. 


"Kau tidak berhak mengatur ku, gadis kecil."


"Tentu aku berhak, karena aku kekasih dari atasan mu. Tentu nya, aku berhak menilai seperti apa karyawan kekasih ku." Jawab Sherena, dia menegaskan kata kekasih. Membuat Sarah terdiam sejenak, tapi bukan berarti dia kalah bukan?


Darren yang belum sepenuhnya tertidur pun tersenyum kecil. Dia senang karena gadis nya mampu menjawab dengan jawaban yang cantik, tanpa harus mengeraskan nada suara nya tapi terdengar sangat tegas.


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2