
Singkat nya, sudah satu bulan pun berlalu. Sekitar lima hari lagi, Sherena akan melakukan ujian akhir. Jadi saat ini dia sedang giat belajar, bahkan dia menahan keinginan nya untuk bertemu dengan Darren karena dia harus fokus belajar agar nilai yang dia dapatkan memuaskan.
Di kantor, Darren menatap jendela dengan tatapan datar nya. Beberapa kali dia menghembuskan nafas nya dengan kasar, pria tampan itu ingin sekali memeluk sang kekasih saat ini, tapi ternyata dia tidak bisa melakukan nya karena sang gadis sedang fokus belajar untuk ujian akhir nya.
"Tuan.." Panggil Andy, membuat Darren yang sedang menatap jendela itu segera berbalik.
"Iya, kenapa?" Tanya Darren, membuat Andy langsung meletakan beberapa berkas yang dia bawa ke atas meja.
"Ada kecurangan di cabang perusahaan yang harus anda selesai kan, Tuan." Jelas Andy membuat Darren langsung membuka berkas-berkas itu dan membaca nya dengan seksama. Laporan nya jauh berbeda dengan apa yang dia lihat berdasarkan grafik yang selalu dia pantau melalui laporan lain.
"Hmm, maksud mu kita harus kesana, Andy?"
"Iya, Tuan. Agar anda bisa melihat perkembangan perusahaan secara langsung." Jawab Andy, Darren pun menganggukan kepala nya. Dia memang harus pergi kesana agar bisa melihat semua nya secara langsung.
"Baiklah, lusa kita berangkat."
"Saya akan menyiapkan semua nya." Jawab Andy sambil membungkukkan setengah tubuh nya dengan hormat.
"Jangan menginformasikan apapun tentang kunjungan ku kali ini, biarkan saja agar tidak ada yang mengubah apapun disana."
"Baik, Tuan." Jawab Andy, dia pun langsung berpamitan untuk kembali ke ruangan nya.
Darren duduk di kursi kebesaran nya, pasti rasa nya akan sangat berat meninggalkan gadis nya disini, meskipun dia aman bersama orang tua nya, tapi tetap saja dia akan merasa ada yang kurang kalau hari-hari nya tanpa Sherena.
"Mau tak mau, aku harus pergi." Gumam Darren. Dia pun kembali melanjutkan pekerjaan nya, meskipun kadang tidak fokus karena dia terlalu merindukan sang gadis. Sudah beberapa hari ini mereka jarang bertemu, karena Sherena benar-benar berambisi untuk bisa mendapatkan hasil yang bagus saat ujian nanti.
Sore hari nya, Darren berniat untuk datang menemui sang kekasih. Dengan membawa buket bunga tulip berwarna merah muda kesukaan sang gadis, Darren dengan percaya diri mengetuk pintu rumah pujaan hati nya.
"Ehhh, Darren.." Sapa Arumi dengan ramah, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia nya saat ini itu tersenyum manis saat melihat Darren lah yang datang bertamu ke rumah nya.
"Hehe, iya Ma. Sheren nya ada?"
"Ada, dia sedang belajar di kamar nya. Ayo masuk, Nak." Jawab Arumi, dia membuka lebar-lebar pintu rumah nya mempersilahkan Darren untuk masuk ke dalam rumah nya. Pria itu terlihat celingukan karena tak bisa menemukan Arya dimana pun.
"Papah kemana, Ma?" Tanya Darren.
"Belum pulang, katanya mobil nya mogok." Jawab Arumi sambil terkekeh, ini entah ke berapa kali nya mobil itu mogok. Perasaan sering sekali mogok nya.
"Beli baru aja, Ma. Udah terlalu sering ngadat tuh." Jawab Darren.
"Iya, Mama juga pengen nya begitu. Tapi papa mu kekeuh mau di perbaiki aja, maklum aja itu mobil ada history nya. Jadi, katanya sayang kalau dia jual." Jelas Arumi, dia datang dengan secangkir teh hangat di tangan nya.
"History apa memang nya, Ma?" Tanya Darren.
"Itu mobil sudah ada disaat pas kita masih pacaran dulu, dia antar jemput Mama pake mobil itu. Jadi ya, mungkin karena punya kenangan tersendiri." Jawab Arumi. Darren manggut-manggut, dia juga seperti itu. Dia masih menyimpan motor matic yang dulu menjadi teman nya mencari nafkah. Disaat dia masih belum jadi apa-apa, bahkan untuk makan saja dia susah. Tapi sekarang, seolah semua keadaan itu berbalik. Dengan apa yang dia miliki saat ini, dia bisa memberi makan banyak anak yatim di luaran sana.
"Yaudah, kamu ke kamar nya aja kalau mau ketemu Sheren." Ucap Arumi membuat Darren terhenyak. Mama nya saja mengizinkan nya untuk datang ke kamar putri nya? Wah, benar-benar ya. Ini sudah seperti lampu hijau bagi Darren, rasanya dia tidak perlu lagi untuk meminta restu pada kedua orang tua Sherena. Dari tindakan mereka saja, Darren sudah tahu kalau mereka merestui hubungan nya dengan Sheren.
"Boleh, Ma?"
"Boleh, gapapa kok."
"Baiklah, kalau begitu Darren ke kamar Sheren dulu ya, Ma." Izin Darren, Arumi pun menganggukan kepala nya. Dia menatap punggung tegap Darren yang tengah meniti tangga dan hilang di balik pintu kamar putri nya.
__ADS_1
Dia tidak lagi terlalu khawatir dengan hubungan putri nya dan Darren, di lihat-lihat Darren memang terlihat sangat mencintai putri nya, Darren juga sudah benar-benar menunjukkan kalau dia serius dengan hubungan nya. Di usia nya saat ini, bukanlah saat nya lagi dia untuk bermain-main. Dia harus serius dalam menyikapi segala hal, termasuk dalam hal percintaan. Dia membutuhkan pendamping hidup dan dia memilih Sherena, meskipun usia nya masih muda tapi dia bersikap lebih dewasa dari pada usia nya.
"Sayang.." Panggil Darren, membuat Sherena yang sedang fokus belajar di meja nya itu menoleh. Dia tersenyum manis saat melihat sang pujaan hati nya datang dengan membawa bunga dan sebuah paper bag yang dia tenteng.
"Kamu datang, sayang?" Melihat kedatangan Darren, Sherena langsung merentangkan kedua tangan nya. Darren menyimpan bunga dan paper bag nya di atas ranjang dan berjalan mendekati sang gadis yang terduduk di kursi nya.
"Hmmm, tentu saja aku datang. Aku sangat merindukan mu gadis kecilku." Ucap Darren, tanpa basa basi lagi dia langsung memangku Sherena di pangkuan nya. Pria itu juga mengecupi wajah sang gadis bertubi-tubi, hingga membuat Sherena terkekeh karena rasa geli yang di berikan oleh jambang sang kekasih.
"Aaaa, sayang geli.."
"Geli-geli enak ya kan, sayang?" Tanya Darren sambil memainkan alis nya naik turun.
"Hehe, iya enak tapi geli, sayang." Jawab Ayyara sambil meraba rahang tegas sang pria yang di tumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
Darren mendudukan pantaat nya dengan Sherena yang masih duduk di pangkuan nya. Gadis itu melingkarkan kedua tangan nya dengan mesra di leher kokoh Darren.
"Itu bunga nya, gak suka?" Tanya Darren. Sherena yang sedang asik menatap wajah tampan sang kekasih itu langsung melirik ke arah sebuket bunga yang tergeletak begitu saja di atas ranjang. Sherena mengambil nya lalu menghirup aroma bunga itu dalam-dalam, lalu tersenyum manis. Dia memang menyukai bunga tulip merah muda. Entahlah, rasa nya tidak perlu alasan seseorang menyukai sesuatu bukan? Begitu juga dengan Sherena.
Di luaran sana, ada banyak wanita yang lebih menyukai bunga mawar di banding tulip karena keindahan dan aroma nya. Tapi Sherena malah sebaliknya, dia tidak terlalu suka dengan mawar. Dia lebih menyukai bunga tulip.
"Sebentar ya, sayang." Sherena turun dari pangkuan sang kekasih. Dia mengambil vas bunga di dalam laci dan mengambil air dari kamar mandi, dia memasukkan bunga tulip yang di belikan oleh sang kekasih di vas bunga itu.
"Cantik.." Ucap Sherena dengan senyum yang merekah di bibir nya.
"Kamu lebih cantik, sayang. Bahkan bunga tulip kesukaan mu itu, tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan kecantikan mu, sayang." Darren kembali menarik tangan Sherena dan mendudukan gadis itu di pangkuan nya lagi.
"Pinter gombal nih pacar aku." Ucap Sherena sambil mengecup singkat pipi Darren dengan mesra.
"Iya deh, aku percaya." Jawab Sherena, dia pun memeluk tubuh Darren. Jujur saja dia juga sama rindu nya dengan Darren, tapi dia harus menahan nya karena harus fokus belajar. Darren juga menahan diri agar tidak mengirim pesan yang berlebihan atau menelpon sang kekasih, dia tidak ingin mengganggu sang gadis belajar. Dia tidak ingin membuat gadis itu tidak fokus dan itu akan sangat mempengaruhi hasil ujian nya nanti.
"Sayang.."
"Hmmm, iya kenapa?" Tanya Sherena sambil tersenyum, dia melerai pelukan nya.
"Lusa, aku harus meninjau cabang perusahaan di luar kota."
"H-ahh? Maksud nya, kamu bakalan pergi gitu? Ninggalin aku, yang?" Tanya Sherena.
"Satu-satu dong nanya nya, sayang."
"Jawab aja!"
"Iya, aku harus pergi ke sana untuk melihat secara langsung. Apakah aku yang salah atau memang ada kecurangan yang harus aku tangani." Jelas Darren membuat Sherena terkejut setengah mati. Dia tidak ingin berjauhan dengan sang kekasih, karena dia adalah motivasi nya untuk lebih giat belajar agar nilai nya bagus. Dengan begitu, pasti Darren akan bangga pada nya.
"Terus, aku gimana?"
"Ya gak harus gimana-gimana, sayang. Kamu disini aja, fokus belajar buat ujian nanti." Jawab Darren sambil mengusap wajah cantik sang kekasih.
"Tapi, aku bakalan kangen. Kamu lama gak disana, yang?" Tanya Sherena.
"Paling cepat satu minggu, sayang. Tapi aku akan hadir di acara wisuda mu, itu adalah janji ku."
"Tapi aku gak mau jauhan sama kamu, yang. Huaaa.." Ayyara berpura-pura nangis kejer seperti anak kecil yang menangis karena tidak di belikan permen oleh ibu nya. Darren terkekeh melihat kelakuan sang kekasih.
__ADS_1
"Astaga, sayang. Kamu gemesin banget sih, aku cuma pergi satu minggu lho. Setelah pekerjaan aku disana selesai, aku bakalan langsung pulang kok, sayang." Jawab Darren lirih.
"Tapi tetep aja, aku gak mau LDRan lho yang."
"Iya, tapi aku harus pergi agar pekerjaan disana benar-benar aku memantau nya secara langsung. Kamu jangan begini ya?"
"Hmmm.." Sherena menatap sendu wajah tampan sang kekasih dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Sekali berkedip saja, bisa di pastikan kalau air mata gadis itu akan luruh seketika.
"Jangan nangis dong, nanti cantik nya luntur."
"Tapi.."
"Kamu belajar aja yang bener, kalau nilai kamu bagus, aku bakalan kasih kamu hadiah." Jawab Darren, tapi tetap saja hal itu tidak membuat Sherena luluh. Dia masih kesal dengan ucapan Darren, dia masih belum rela harus berjauhan dengan sang kekasih.
"Yaudah, tapi kamu janji ya datang di acara perpisahan aku?"
"Janji, sayang." Jawab Darren, akhirnya Sherena pun luluh. Dia pun memeluk tubuh Darren dengan erat, menyandarkan kepala nya di pundak sang pria dengan manja.
"Semangat ujian nya, sayang. Aku bakalan kangen kamu banget, apalagi pas lagi manja-manja nya begini. Pasti kangen banget."
"Hmmm, apalagi aku? Aku bakalan lebih kangen sama kamu." Ucap Sherena lirih.
"Jadikan rasa rindu itu sebagai motivasi kamu untuk lebih giat belajar ya? Aku bakalan bangga banget sama kamu, kalau nilai kamu bagus."
"Iya, sayang. Jangan lupa hadiah nya ya?"
"Siap, kamu tagih aja ya." Jawab Darren, dia pun tersenyum lalu mengecup puncak kepala Sherena beberapa kali dengan mesra. Kedua nya pun kembali berpelukan dengan erat, terlebih lagi dengan Sherena. Meskipun cukup engap, tapi tidak masalah yang penting gadis nya ini tidak rewel dan merengek tidak memperbolehkan nya pergi.
Kalau saja ini bukan pekerjaan penting, dia tidak akan repot-repot untuk pergi ke luar kota, dia akan memilih opsi kedua yaitu mengirim Andy dan orang-orang kepercayaan nya untuk memantau perusahaan cabang. Tapi tidak, ini adalah pekerjaan yang harus dia tinjau secara langsung. Ini sangat penting bagi kelangsungan perusahaan nya, jadi mau tak mau dia harus pergi.
Sebenarnya, dia juga tidak ingin berjauhan dengan Sherena. Entah akan seperti apa hari-hari Darren tanpa Sherena. Tanpa tingkah menggemaskan gadis itu, pasti hari nya akan terasa hambar. Meskipun dia bisa melakukan panggilan video, tapi tetap saja rasa nya berbeda.
"Sayang, aku beliin ini deh. Kata nya kamu mau ini." Ucap Darren, Sherena melerai pelukan nya. Dia melihat apa yang Darren belikan untuk nya.
"Wah, cake ya?"
"Iya, kamu suka kan?" Tanya Darren, Sherena mengangguk cepat. Dia memang menyukai cake apalagi yang rasa coklat atau stroberi.
"Suka banget, sayang."
"Ayo di makan, sayang. Pokoknya kamu harus good mood ya? Biar aku gak kepikiran kamu terus disana. Nanti gak fokus kerja nya, nanti makin lama aku disana." Jelas Darren. Dengan berat, Sherena pun menganggukan kepala nya. Mau bagaimana lagi, dia juga harus mengerti kalau ini masalah pekerjaan penting. Kalau tidak penting, mana mungkin di tinjau oleh pemilik perusahaan nya langsung kan? Berarti, ada kesalahan di cabang perusahaan itu, makanya Darren selaku pemilik dan atasan harus turun tangan sendiri melihat kinerja karyawan nya.
"Iya, sayang. Aku juga bakalan fokus belajar kok, biar hasil nya memuaskan."
"Bagus, sayang. Semangat ya ujian nya, jangan rewel kamu nya. Belajar yang bener, tapi jangan sampai larut malam ya? Jangan begadang, nanti masuk angin." Peringat Darren, dia tahu benar bagaimana Sherena. Dia terlalu ambisius dalam hal ini, jadi dia akan belajar bahkan hingga larut malam.
"Iya, sayang ku. Mentang-mentang mau pergi, mendadak jadi bawel gini ya kamu."
"Ya karena aku sayang sama kamu, soalnya kita bakalan jauhan jadi aku gak tahu kamu disini selama aku tinggal tuh gimana. Tapi biasa nya gadis kecil ku ini agak sedikit keras kepala ya kan?" Sindir Darren, membuat Sherena mendelik kesal. Memang sih dia seringkali keras kepala dan tidak menuruti perintah Darren, tapi ya jangan di sindir gini juga kali. Melihat sang kekasih mendelik, Darren terkekeh lalu memeluk Sherena dan mengecup bibir nya dengan mesra.
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1