
Malam hari nya, Darren sudah bersiap untuk pergi ke rumah sang pujaan hati. Bagaimana pun juga, kesalah pahaman ini harus segera di selesaikan. Dia tidak bisa berlama-lama diam-diaman dengan sang kekasih, dia tidak bisa jika harus marahan lama-lama.
Tahu kan seberapa bucin nya oknum bernama Darren pada Sherena? Jadi, di marahi saja mampu membuat mood nya sangat buruk pagi tadi. Bahkan sampai-sampai Andy saja langsung ngeuh dengan perubahan wajah sang atasan. Dia kira ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada pria itu, eehh ternyata cuma karena di marahin sama Sherena.
Tak munafik jika Darren memang sangat mencintai gadis itu, apalagi setelah mendapatkan hal paling berharga dari gadis itu, rasa cinta yang tumbuh di hati nya semakin besar dan bertumbuh besar setiap hari nya. Padahal dulu, Darren selalu bersikap jutek pada gadis itu karena merasa risih saat gadis itu datang dan mengejar nya.
"Hufftt, semoga Sheren mengerti dan mau memaafkan aku." Gumam Darren. Dia pun keluar dari rumah dengan mengunci pintu lalu pergi ke rumah sang pujaan hati dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah nya ke rumah Sherena dekat saja, hanya tinggal menyeberang jalan, karena rumah mereka berseberangan. Benar-benar definisi pacar lima langkah, tapi gak lima langkah juga deng.
Darren membawa buket bunga kesukaan sang gadis, beberapa batang coklat dan cemilan favorit Sherena. Dia juga membawa macaron dan donat, pokoknya apapun yang menurut orang bisa membuat membuat mood seorang gadis membaik, Darren membawa nya dengan tujuan agar Sherena mau memaafkan dirinya.
Pria itu beberapa kali menghela nafas nya, lalu memberanikan diri mengetuk pintu rumah Sherena. Dia berharap sang gadis lah yang membukakan pintu rumah, tapi ternyata hanya ART saja yang menyambut kedatangan nya di depan pintu.
"Eehhh, Tuan Darren."
"Iya, Bi. Sherena nya ada?" Tanya Darren dengan sopan.
"Ada, Tuan. Di kamar nya, tadi setelah pulang dari mall Non Sheren gak keluar lagi." Jelas nya dengan ramah, membuat Darren mau tak mau harus memaksakan sedikit senyuman nya, meskipun sebenarnya, dia tidak mau tersenyum selain pada Sherena.
"Masuk aja, Tuan."
"Baiklah, Bi. Saya ke kamar Sheren aja ya?"
"Iya, silahkan Tuan." Asisten rumah tangga itu pun mempersilahkan Darren masuk, dia juga membiarkan pria itu masuk ke kamar anak majikan nya. Toh, orang tua nya juga membiarkan, dia juga tidak berhak melarang kalau pria itu mau masuk ke kamar kekasih nya.
Darren meniti satu persatu anak tangga dengan perlahan. Pria itu merasa sedikit gugup, padahal biasa nya dia tidak pernah merasakan hal semacam ini. Dia juga biasa nya langsung datang ke rumah Sherena, masuk ke kamar nya dengan perasaan biasa saja. Tapi sekarang dia malah gugup, mungkin karena efek mereka sedang marahan kali ya.
"Sayang.." panggil Darren sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Sherena.
"Siapa?"
"Pacar mu, Babe." Jawab Darren dengan lembut.
"Ngapain kesini? Pulang aja, aku lagi gak mau ketemu siapapun."
"Tapi kita harus bicara, Babe. Aku gak mau masalah nya berlarut-larut, kita harus menyelesaikan masalah ini." Jelas Darren.
"Kamu sudah sadar apa kesalahan kamu?" Tanya Sherena dari balik pintu kamar nya.
"Iya, aku sudah menyadari nya."
"Masuklah, pintu nya tidak di kunci." Jawab Sherena. Darren pun memutar handel pintu dan membuka dengan perlahan, pria itu masuk dan kembali menutup pintu kamar sang gadis.
Darren melihat Sherena sedang duduk dengan punggung yang bersandar nyaman di kepala ranjang, kaki nya selonjoran di tutupi selimut.
"Malam, sayang."
"Hmm, malam." Balas Sherena tanpa menoleh sedikit pun ke arah Darren, dia sibuk bermain ponsel. Padahal, di ponsel nya dia sedang tidak berbalas pesan atau apapun dia hanya mengscroll galeri untuk melihat-lihat foto yang tadi dia ambil di mall bersama ketiga teman nya.
"Babe.."
"Kamu kesini mau ngapain? Mau jelasin semua nya, mau nyelesain kesalahan kamu kan? Sok, jelasin sama aku."
"Iya, sayang. Aku boleh duduk?"
"Duduk aja, biasa nya juga tanpa di minta langsung duduk." Jawab Sherena.
"Jangan ketus-ketus gitu dong, yang. Aku nya ngerasa gak enak."
"Enakin aja." Jawab Sherena membuat Darren tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala nya. Bukan nya kesal karena gadis nya bersikap ketus seperti ini, tapi Darren malah gemas dengan cara Sherena marah padanya.
__ADS_1
"Sayang, sebelum nya aku minta maaf karena gak cerita kalau aku lagi punya masalah, sungguh demi apapun. Aku gak ada niatan buat nyembunyiin semua ini dari kamu, niat awal aku tuh mau cerita kalau aku sudah siap."
"Siap apa nya? Jangan sampai aku tahu masalah kamu dari orang lain ya! Lagi, kamu melampiaskan nya dengan cara yang salah!" Tegas Sherena membuat Darren tersenyum kecil.
"Dengerin aku dong, Bee. Aku gak cerita masalah aku ini karena aku takut kamu khawatir, padahal aku baik-baik saja."
"Jadi, apa masalah kamu?"
"Rita.." Lirih Darren membuat gadis itu tersenyum smirk. Dia sudah tahu akan hal ini, karena dia melihat pesan-pesan bernada ancaman itu dari ponsel sang kekasih.
Flashback On..
Sherena dan Darren sedang bermanja-manja di rumah, mereka baru saja menyelesaikan permainan di ronde kedua malam itu. Setelah membersihkan tubuh masing-masing, mereka pun tertidur. Tapi Sherena malah terbangun karena tenggorokan nya terasa kering.
Gadis itu mengambil bathrobe dan memakai nya, lalu pergi ke dapur untuk minum. Meskipun sebenarnya, dia sangat takut berkeliaran di rumah sebesar milik Darren sendirian dalam keadaan malam hari yang sunyi dan sepi.
Setelah selesai minum, Sherena berlari kembali ke kamar. Jujur saja dia takut, maka dari itu harus nya dia mengisi botol minum di kamar agar tidak perlu repot-repot ke dapur untuk minum.
Sherena mengusap dada nya dengan lega, lalu berjalan pelan kembali ke kasur, namun saat akan berbaring dia melihat ponsel milik Darren berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk.
"Nomor siapa ini? Apa mungkin orang iseng ya, nelponin orang tengah malem gini." Gumam Sherena, dia pun membiarkan nya saja. Tapi ponsel itu terus saja bergetar, akhirnya Sherena mengambil ponsel itu dan mengangkat nya.
'Hallo, sayang..' Panggil nya dengan suara manja yang di buat-buat. Kening Sherena mengernyit begitu mendengar panggilan sayang yang di lontarkan oleh wanita itu. Ya, jelas itu adalah suara seorang wanita.
'Kenapa kau diam saja? Kau tidak merindukan ku? Ckkk, apa belum cukup kau bersenang-senang dengan gadis itu?'
'Kalau sudah, kapan kita akan rujuk? Aku merindukan mu, merindukan sentuhan mu. Aku merindukan semua nya, sayang. Ingat, jika kamu tidak juga meninggalkan gadis itu, aku jamin nyawa nya akan hilang di tangan ku!' Ancam wanita itu.
Saat itu juga, Sherena langsung mengetahui siapa wanita itu. Gadis itu tersenyum kecil lalu segera mematikan sambungan telpon nya. Sherena pun menyimpan ponsel nya di atas meja, lalu bersiap tidur. Tapi, lagi-lagi ponsel pria itu kembali berbunyi. Kali ini notifikasi pesan masuk.
Sebenarnya Sherena malas untuk membaca pesan-pesan yang dia yakini pasti di kirim oleh Rita, mantan istri sang kekasih. Tapi, kalau tidak di baca ya dia penasaran. Bisa-bisa dia tidak bisa tidur saking penasaran nya.
"Dia nekat sekali, seperti nya dia terobsesi dengan Darren. Tapi lihat saja, aku takkan pernah melepaskan Darren begitu saja. Apa yang sudah jadi milikku takkan aku biarkan siapa pun merebut nya, termasuk kau!" Gumam Sherena dengan tangan terkepal kuat.
Setelah itu, Sherena menghapus pesan dan bekas panggilan dari ponsel Darren. Dia pun tertidur dengan memeluk sang kekasih, seolah tidak terjadi apapun.
Tapi, hanya dua hari berselang. Seperti nya wanita itu memang sudah sangat berniat untuk menghancurkan hubungan Darren dan Sherena. Dia benar-benar wanita gila yang di penuhi dengan ambisi.
Pagi itu, Sherena mendapatkan paket yang entah dari siapa pengirim nya. Gadis itu menatap sebuah kotak berwarna merah muda itu dengan curiga. Tapi dia tetap menerima nya dari kurir pengantar paket lalu membawa nya masuk. Dia membuka nya dan betapa terkejut nya saat dia melihat isi paket yang benar-benar membuat nya shock.
Bagaimana tidak? Isinya adalah boneka yang berlumuran daraah dengan paku yang tertancap di bagian perut nya. Di dalam kotak itu juga ada foto dirinya dan surat berisi kalimat ancaman.
'Tinggalkan Darren atau bersiaplah mati di tangan ku, Sherena!' Isi surat yang sama persis dengan isi pesan yang di kirimkan oleh Rita ke ponsel Darren malam itu.
"Oke, kau sudah mengambil langkah untuk meneror ku ya? Tunggu saja balasan ku." Gumam Sherena. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu membawa kotak beserta isi nya ke halaman belakang dan membakar nya. Dia yakin ini hanya sebuah gertakan agar dirinya takut dan meninggalkan Darren.
Hari itu juga, Sherena meminta teman-teman nya untuk memberikan nya alamat rumah Agnes. Setelah mendapatkan nya, dia mengirimkan balasan yang tak kalah mengerikan nya. Sudah pasti, Rita akan ketakutan saat mendapatkan balasan dari nya.
Tapi belum selesai sampai disana, seminggu kemudian, Sherena kembali kembali mendapatkan teror dari Rita. Berupa tikus mati di depan rumah, motor nya di penuhi percikan darah dan masih banyak lagi. Tapi Sherena merahasiakan semua itu dari Darren. Dia tidak mengatakan apapun pada sang kekasih, dia memendam nya sendiri karena tujuan nya sama dengan pria itu. Tidak ingin membuat nya khawatir. Itu saja.
Flashback off..
"Kamu terlihat biasa saja, sayang. Atau kamu sudah mengetahui nya sebelum aku mengatakan nya?" Tanya Darren lirih.
"Kalau iya memang nya kenapa? Dengar ya, harusnya kamu bisa bertindak lebih tegas pada wanita itu."
"Maaf, aku terlalu lemah menjadi laki-laki." Lirih nya lagi dengan kepala tertunduk dalam.
"Itu nyadar diri, perbaiki. Jangan sampai hanya karena masalah ini kita jadi bertengkar. Kamu gak perlu lampiasin kemarahan kamu sama hal yang gak penting. Aku cuma mau kamu jujur sama aku, terbuka sama aku, itu saja. Apakah itu terlalu berat buat kamu?" Tanya Sherena.
__ADS_1
"Sayang, maaf.."
"Usia kamu lebih dewasa dari aku, harus nya kamu juga bertindak sesuai dengan usia mu. Aku aja yang masih anak kecil bisa bersikap sesuai dengan situasi, kamu juga harus seperti itu."
"Maaf.."
"Iya, tak apa-apa. Lain kali, kalau ada masalah cerita sama aku jangan di pendam sendirian. Jadikan aku tempat berbagi, aku bukan orang asingkan? Aku pacar kamu dan dalam waktu dekat kita akan menjadi suami istri kan?" Darren menganggukan kepala nya pelan.
"Jadi, apa yang harus kamu lakukan?"
"Jujur sama kamu kalau ada masalah." Lirih Darren.
"Oke, good boy." Ucap Sherena sambil menepuk-nepuk kepala sang kekasih dengan lembut.
"Kemarilah, kamu tidak ingin memeluk ku? Kamu tak merindukan aku?" Tanya Sherena, Darren mendongak dan tanpa bicara lagi dia langsung memeluk tubuh Sherena dengan erat. Gadis itu tersenyum, sambil mengusap-usap punggung tegap sang kekasih. Dia juga mengecup puncak kepala Darren dengan lembut, seperti apa yang sering pria itu lakukan pada nya.
"Terimakasih sudah memaafkan aku, sayang."
"Sama-sama, lain kali jangan seperti itu lagi ya? Jangan merokok lagi, itu gak baik buat kesehatan."
"Iya, sayang. Aku janji bakalan buang kebiasaan buruk itu." Jawab Darren.
"Tadi kamu bawa apa?" Tanya Sherena, Darren melerai pelukan nya lalu mengambil satu buket bunga mawar merah kesukaan Sherena, coklat, donat dan macaron juga cemilan untuk sang gadis.
"Ini buat kamu."
"Apa ini semacam sogokan biar aku maafin kamu, sayang?" Tanya Sherena sambil tersenyum kecil.
"Bisa di katakan seperti itu, Babe." Jawab Darren, membuat Sherena tertawa.
"Dari mana belajar kayak gitu?"
"Ini semua saran dari Andy, Babe. Katanya kalau mau bujuk pacar, harus di sogok pake makanan kesukaan nya. Nanti dia bakalan luluh juga katanya."
"Ohh, seperti itu ya? Kalau begitu, aku rasa kamu harus memberikan bonus yang besar bulan ini untuk Om Andy." Ucap Sherena sambil tertawa.
"Baiklah, aku akan memberikan nya besok, Babe." Jawab Darren sambil terkekeh pelan. Nyata nya, dia memang harus memberikan bonus atau tips pada Andy karena sudah membantu dan memberikan nya solusi untuk masalah yang tengah di alami Darren dan Sherena, sebagai ucapan terimakasih dia memang harus memberikan itu.
"Aku akan memakan donat nya ya?"
"Silahkan cantik, itu memang aku beli untukmu, sayang."
"Terimakasih, aku terima sogokan nya ya." Jawab Sherena, dia pun mengambil satu donat dan memakan nya dengan lahap. Memang, makanan manis membuat mood nya menjadi lebih baik. Apalagi yang memberikan nya adalah orang terkasih, itu adalah hal yang paling indah. Bukan karena masalah makanan manis nya, tapi karena orang yang membelikan nya makanan itu.
"Enak donat nya, sayang?"
"Enak banget, manis. Mau?" Tanya Sherena. Darren menganggukan kepala nya, lalu menyuapi sang kekasih dengan donat yang sedang dia makan itu.
"Donat nya hambar, Bee."
"Hah, kok bisa hambar?" Tanya Sherena sambil menggigit donat itu dan mengunyah nya dengan perlahan.
"Iya hambar, soalnya manis nya itu udah habis di kamu."
"Astaga, ternyata ngegombal. Aku kira lidah kamu bermasalah." Ucap Sherena sambil terkekeh, begitu juga Darren.
Saran-saran dari Andy benar-benar bekerja, semua nya. Mulai dari membawa makanan untuk sogokan, plus gombalan untuk meluluhkan hati seorang wanita. Benar-benar ampuh, jadi dia harus memberikan tips yang besar untuk Andy seperti nya untuk saran yang genius ini.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻