
"Jadi, apa Lo udah begituan sama Om Andy?" Tanya Sherena, ketiga gadis itu kompak menatap ke arah Meysa yang tengah menyiapkan siomay ke dalam mulut nya.
"Apaan sih kalian, natap gue segitu nya."
"Ya kan kita nanya, soalnya dari tanda-tanda nya persis banget kayak yang gue alamin waktu itu setelah pecah perawaan." Jawab Sherena, di angguki oleh April. Dia juga memiliki pengalaman yang sama dengan Sherena. Bahkan dia kehilangan keperawaanan nya, jauh sebelum Sherena juga kehilangan hal itu.
"Iya iya, gue udah nganu sama laki gue."
"What? Kapan, Mey?" Tanya April, dia membulatkan kedua mata nya. Sungguh demi apapun, dia terkejut saat mendengar jawaban sahabat nya.
"Dari tanda-tanda nya sih, jelas semalem sih." Celetuk Sherena membuat Meysa terkejut.
"Kok Lo bisa tahu sih, Sher?"
"Ya kali gue gak tahu, gue juga gitu soalnya. Jalan aja susah, sakit banget anjir. Ini gue lecet, gara-gara Darren main nya kasar plus lama. Maklum ya, duda yang lama puasa terus berbuka, jadi nya ya gitu." Jawab Sherena sambil menyuapkan bakso ke mulut nya.
"Bukan lecet lagi, bengkak ini mah. Kebangetan emang laki gue, main nya gak ada ampun. Udah gitu semalem main dua kali, tadi pagi minta nambah." Ketus Meysa sambil memalingkan wajah nya.
"Hahaha, sabar ya sabar.."
"Dahlah, gue kesel jadi males banget bahas ini nih."
"Lucu banget Lo, Mey. Padahal pas main pasti keenakan, iya kan?" Tanya Sherena dengan nada menggoda.
"Isshhh.." Wajah Meysa memerah, membuat ketiga teman nya kompak tertawa.
"Tinggal Arin aja nih yang belom." Cetus April, membuat gadis itu tersedak saat sedang meminum es jeruk nya.
Uhuk.. uhukk..
Sherena yang duduk berdampingan dengan Arina pun langsung menepuk-nepuk pundak Arin dengan perlahan, agar batuk nya mereda.
"Pelan-pelan kali minum nya." Ucap Sherena.
"Gue kaget anjir." Jawab Arina setelah batuk nya membaik.
__ADS_1
"Kok kaget.."
"Hehe, sebenar nya gue juga udah kok sama Marvin." Jawab Arina membuat ketiga teman nya menatap dia dengan tatapan penuh keterkejutan, bahkan Meysa saja sampai menganga.
"Anjir, kapan? Sialan banget Lo, gak cerita sama kita-kita." Ucap April membuat Arina cengengesan.
"Ya, sorry."
"Kapan?" Tanya Sherena.
"Lo duluan lah, seminggu habis Lo terus gue." Jawab Arina sambil tertawa.
"Astaga, geng kita udah ternodai semua." Celetuk April sambil menggelengkan kepala nya, ke empat nya sudah bolong sekarang ini. Tapi, Arina dan Marvin memang sudah bertunangan dan hubungan mereka sudah melibatkan orang tua.
Semua nya sudah melibatkan orang tua masing-masing, termasuk Sherena. April, Meysa juga Arina. Itulah yang mungkin membuat ke empat nya tidak ragu melakukan hal itu karena mau sama mau. Tidak ada unsur paksaan dari hal itu, mereka melakukan nya atas dasar suka sama suka.
"Dih, yang duluan siapa?"
"Ya, gue sih. Tapi gue gak nyangka kalau kalian bakal nyusul gini." Jawab April.
"Bener tuh, Lo duluan yang cerita tentang hal itu, pas di susul malah kesel sendiri." Ucap Arina.
"Haha, yaudah-yaudah. Jadi rencana kalian setelah lulus mau nikah atau lanjut kuliah?" Tanya April sambil mengunyah mie ayam nya.
"Gue sih, ngikut aja." Jawab Arina.
"Ngikut gimana?"
"Kalo kalian kuliah, gue juga. Soalnya kalian tahu lah gue gimana, gue takut gak punya temen. Makanya gue mau ngikut kalian aja, tapi Marvin sendiri sih ngebebasin."
"Ya sama, laki gue juga." Jawab Sherena.
"Hmm, gue males mikir sih sebenarnya. Apa nikah aja ya?" Tanya Meysa.
"Idih, kebiasaan Lo mah."
__ADS_1
"Tapi bener sih, gue juga sama kayak Meysa. Males mikir, tapi kalo lulus kuliah minimal punya karir lah ya." Ucap Sherena.
"Tuh kan, murid dengan nilai ujian terbaik aja bilang males. Apalagi gue yang otak nya minimal." Jawab Meysa sambil tertawa.
"Hmm, lihat nanti aja deh. Gue masih mikir-mikir, tapi kalo gue pas udah nikah pasti ngikut laki gue ke luar kota. Dia kan kerja nya ngikutin pembangunan, kalo selesai di kota A, besok nya lanjut ke kita B." Jawab April sambil menyuapkan makanan nya dengan lahap.
"Iya, pasti ngikut kemana pun laki Lo pergi kan?"
"Iya lah, biar gue ngurus laki gue di tempat kerja nya dia." Jawab April lagi.
"Yaudahlah, kita have fun aja sekarang. Masalah mau nikah atau kuliah, lihat aja nanti. Masih bisa di pikir-pikir dulu, jangan sampe nyesel. Kuliah kan bisa setelah nikah juga." Ucap Sherena, ketiga nya kompak menganggukan kepala nya.
Sore hari nya, Sherena di jemput oleh Darren, Meysa juga di jemput oleh Andy sesuai dengan perjanjian mereka tadi sebelum pergi ke tempat masing-masing. Meysa ke sekolah dan Andy pergi meeting di cafe bersama Darren. Arina pulang bersama Marvin dan April seperti biasa, dia naik taksi karena kekasih nya belum pulang. Rencana nya, kekasih April akan pulang Minggu depan.
Sebenarnya, April juga bosan dengan yang namanya hubungan jarak jauh, tapi mau bagaimana lagi? Kekasih nya juga harus bekerja untuk menafkahi nya, juga memenuhi kebutuhan nya. Dia juga iri pada teman-teman nya yang setiap hari bisa bertemu dengan pacar mereka masing-masing, berbeda dengan dirinya.
Setahun paling bisa ketemu dua kali atau tiga kali saja, tapi mereka rutin melakukan panggilan video setiap malam saat April akan tidur, meskipun tidak lama. Tapi it's okay, April paham karena mungkin saja pacar nya itu kelelahan setelah seharian bekerja, jadi dia tidak pernah menuntut untuk selalu di kabari.
Tapi sore ini, April benar-benar tidak menyangka. Saat dia pulang ke rumah, dia melihat ada seseorang yang begitu dia rindukan. Di ruang tamu, ada seorang pria yang tengah duduk sambil mengobrol dengan kedua orang tua nya.
"Nah, itu anak nya udah pulang.." Ucap Ibu nya April, membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dimana ada April yang masih berdiri mematung disana, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Pria itu tersenyum lalu beranjak dari duduk nya, dia berjalan mendekat ke arah April lalu membingkai wajah cantik gadis itu.
"Hey baby, what's up?" Ucap nya, membuat April langsung menghambur ke dalam pelukan sang kekasih.
"Aku kangen banget sama kamu, Tomi." Jawab April di pelukan sang kekasih. Pria bernama Tomi itu pun lagi-lagi menyunggingkan senyuman tipis nya, dia membalas pelukan sang kekasih tak kalah erat nya, dia juga mengusap-usap punggung sang gadis dengan lembut.
"Aku juga kangen, Baby.." Jawab Tomi, dia melerai pelukan nya hingga Tomi bisa melihat wajah sendu dan mata sembab gadis itu. Tadi, sepanjang perjalanan menggunakan taksi, April menangis frustasi karena rasa rindu nya pada sang kekasih. Tapi, sekarang dia berada di dalam pelukan sang pria. Bukankah ini benar-benar mengejutkan? Tentu saja, karena ini terlalu tiba-tiba bagi April.
"Kok nangis, are you okay?"
"Yes, i'am okay. Hanya rindu, itu saja." Jawab April, dia kembali memeluk tubuh besar sang kekasih dan menduselkan wajah nya di dada bidang Tomi. Dia benar-benar sangat merindukan sang kekasih, apalagi pelukan hangat yang selalu mampu membuat dirinya tenang.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻