Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 116 - Feeling Seorang Ayah


__ADS_3

Malam hari nya, Darren datang berkunjung ke rumah sang kekasih dengan membawa buah jeruk, tadi perempuan itu memesan buah saat dia menghubungi sang kekasih. Jadi, sebelum datang ke rumah Sherena, Darren mampir dan membelikan buah jeruk untuk Sherena. 


Darren mengetuk pintu rumah sederhana itu dan tak lama kemudian, Arumi membukakan pintu. Dia menyambut kedatangan sang calon menantu dengan senyuman hangat nya.


"Eehh, Nak Darren. Silahkan masuk."


"Iya, Ma. Terimakasih, Sherena nya ada?" Tanya Darren berbasa basi. Memang nya mau kemana Sherena malam-malam begini? Sudah pasti gadis itu berada di rumah. Lagi pula, dia sedang sakit saat ini. Jadi tak mungkin dia keluar dari rumah.


"Ada, seharian ini dia cuma di kamar aja. Katanya lemes, tadi juga udah di tengokin sama temen-temen nya." Jelas Arumi, Darren mengangguk-anggukan kepala nya. 


"Papa belum pulang, Ma?"


"Papa ada di ruang kerja, katanya sih ada kerjaan." 


"Ohh, kalau begitu boleh Darren pergi ke kamar Sherena, Ma?"


"Tentu saja."


"Baik, Ma. Kalau begitu, Darren ke kamar Sheren dulu." Jawab Darren. Arumi mengangguk dan membiarkan Darren pergi ke kamar putri nya. 


Darren membuka pintu kamar sang kekasih, dia tersenyum tatkala melihat gadis nya sedang tertidur dengan nyenyak. 


"Sayang, bangun.." Panggil Darren dengan lembut, dia merapikan anak rambut Sherena yang menghalangi wajah nya, lalu menyelipkan nya ke belakang telinga sang gadis.


"Enghh.." Gadis itu melenguuh pelan, lalu membuka kedua mata nya secara perlahan.


"Sudah pulang, sayang?"


"Hmmm, tentu saja. Makanya aku disini sekarang." Jawab Darren. 


"Huaaa, aku kangen.." Sherena tiba-tiba menangis lalu memeluk tubuh Darren dengan erat. Jujur saja, Darren terkejut begitu melihat tingkah Sherena. Sedetik dia marah-marah, mengusir nya agar menjauh karena katanya wajah nya itu membosankan lalu aroma tubuh nya membuat dirinya mual dan muntah-muntah. Tapi sedetik kemudian, Sherena berubah cengeng, sensitif dan manja seperti sekarang ini. 


Darren heran sendiri di buat nya, tingkah wanita hamil itu benar-benar membuat Darren heran dan kebingungan sendiri.


"Kamu gak kangen sama aku ya? Kok gak bales pelukan aku?" Tanya Sherena, air mata nya terlihat masih menetes dari mata cantik nya.


"Astaga, bukan begitu, sayang. Aku hanya heran saja, apa sekarang aroma tubuh ku tidak membuat mu mual?" Tanya Darren. Sherena menggeleng, hari ini dia sangat merindukan pelukan dan aroma tubuh Darren.


"Enggak, tubuh kamu wangi banget. Bikin kangen." Jawab Sherena dengan manja, jelas saja itu membuat kening Darren mengernyit heran. Apakah semua bumil memang seperti ini? Berubah-ubah setiap menit nya?


"Benarkah? Ututu, sini bumil gemoy ku." Jawab Darren, dengan senyum merekah nya Sherena pun langsung memeluk Darren dengan erat. Pria itu juga membalas pelukan hangat sang gadis, sambil mengusap-usap punggung nya dengan lembut. Sesekali, Darren melayangkan ciuman mesra di puncak kepala sang kekasih.


Dia merasa lega kalau akhirnya Sherena tidak membenci aroma tubuh atau wajah nya lagi, dia senang dengan hal itu. Artinya, Sherena takkan bersikap ketus seperti kemarin-kemarin bukan? Dia akan kembali menjadi Sherena yang manja pada Darren.


"Sayang.."


"Hmm, iya sayang?" Tanya Darren, Sherena mendongak menatap wajah tampan sang kekasih. Darren gemas melihat tatapan perempuan cantik itu, dia pun mengecup mesra kening Sherena singkat.


"Kangen, hehe."


"Sama, apalagi aku. Dari kemarin susah banget pengen meluk juga, soalnya kamu mual kalo deket-deket sama aku." Jawab Darren sambil mengusap-usap kepala Sherena yang berada di dada bidang nya.


"Maaf, aku juga gak tahu kenapa bisa kayak gitu. Aku aja bingung, yang."


"Nah kan, kamu aja bingung. Apalagi aku, sayang." Jawab Darren sambil terkekeh. 


"Bawaan si adek kali, ya?"


"Mungkin begitu, tapi masa adek nya mual kalo liat wajah orang yang udah bikin dia sih, sayang?"


"Isshh, kamu ini.." Sherena mencubit pelan lengan besar pria itu, membuat Darren tertawa. Dia tidak kesakitan sama sekali, karena Sherena mencubit nya dengan manja. 


"Hehe, iya iya. Ini jeruk pesanan kamu, sayang." 


"Wah, makasih." Jawab Sherena, dia pun membuka bungkusan buah itu dan mengulurkan satu buah jeruk itu ke arah Darren. Pria itu menaikan alis nya, tidak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh bumil itu.


"Kenapa?"


"Ckkk, gitu aja gak peka. Kupasin!"


"Ohh, kupasin ya. Bilang dong." Jawab Darren sambil terkekeh. Dia pun mengambil buah jeruk dan mengupaskan nya untuk sang kekasih. Bumil cantik itu tersenyum kecil lalu memakan buah jeruk yang terasa sedikit asam itu dengan lahap. 

__ADS_1


"Yang, jeruk nya gak asem?" Tanya Darren sambil tersenyum kecil. Sherena menggeleng, ini tidak asam sama sekali bagi nya, yang ada hanya enak dan terasa segar.


"Enggak sama sekali." Jawab Sherena. 


"Tapi tetap saja, jangan kebanyakan makan jeruk ya? Apalagi kamu gak makan nasi, nanti perut nya sakit."


"Iya, sayang." 


"Bumil pintar.." Ucap Darren sambil mengacak rambut Sherena dengan gemas. 


"Iya dong, bumil nya siapa dulu?"


"Bumil nya aku dong." Jawab Darren. Dia pun mengusap perut rata Sherena.


"Dia sedang apa di dalam sana ya?"


"Gak tahu, yang. Mungkin sedang tidur." Jawab Sherena. 


"Hmm, hari ini aku mau jujur sama orang tua kamu, Bee. Kamu mendukung kan?"


"Tentu, aku akan selalu mendukung apapun yang akan kamu lakukan. Jangan khawatir, aku ada di samping mu." Jawab Sherena meyakinkan sang kekasih. Darren pun tersenyum, lalu menganggukan kepala nya. Dia memang tidak salah saat memilih Sherena menjadi istrinya. 


Dia adalah perempuan yang baik dan bersedia mendampingi nya kapan pun, di saat apapun. Bahkan, disaat dunia tidak berpihak padanya, Sherena lah yang selalu mendukung nya. 


"Terimakasih karena sudah hadir dalam hidup ku, sayang."


"Sama-sama, kita memang sudah di takdirkan untuk bertemu." Jawab Sherena sambil tersenyum kecil. Darren mengangguk lalu memeluk mesra sang kekasih, ralat calon istri dan calon ibu dari anak-anak nya kelak.


"Kita ke bawah sekarang?"


"Iya, sayang." Jawab Sherena. Dia pun bersiap untuk turun dari kamar nya, dia mengambil cardigan rajut untuk menutupi tubuh nya, karena dia hanya mengenakan tangtop ketat dengan hot pants. Tidak apa-apa menggunakan celana seperti itu sekarang kan? Karena perut nya masih rata. 


"Pelan-pelan saja berjalan nya, sayang." 


Kedua nya pun berjalan dengan perlahan, Darren menggandeng mesra tangan sang kekasih dan kedua nya menuruni tangga. Arumi dan Arya sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu, kedua nya terlihat sibuk masing-masing. Sibuk apa? Tentu saja mereka sedang sibuk sekarang ini, sibuk menyiapkan pesta untuk pernikahan Sherena dan Darren yang hanya tinggal menghitung hari. Banyak pekerjaan yang harus di kerjakan dalam waktu seminggu ini.


"Malam, Ma, Pa.." Sapa Sherena dengan senyum manis nya.


"Malam, sayang. Bagaimana keadaan mu sekarang, sudah lebih baik?" Tanya Arumi.


"Eemmm, ada yang ingin Darren bicarakan sama Mama dan Papa." Ucap Darren sambil meremaas jemari nya, jujur saja dia sangat gugup sekarang ini. Tapi dia sudah menyiapkan mental nya jauh-jauh hari untuk menghadapi kemarahan Arya. 


"Membicarakan tentang apa? Terlihat sangat serius sekali, ada apa?" Tanya Arumi, sedangkan Arya hanya melirik sekilas. Seperti nya, dia sudah tahu apa yang akan di katakan oleh calon menantu nya itu. 


"Maaf, kalau Darren mengatakan ini. Tapi Darren mohon sama Mama atau Papa, tolong jangan menyalahkan Sherena, karena dia tidak bersalah." Lirih Darren membuat Sherena membulatkan kedua mata nya, disini yang bersalah bukan hanya Darren, tapi dirinya juga. 


"Tidak, aku juga bersalah dalam hal ini karena Darren melakukan nya atas izin dari ku." 


"Sayang.."


"Diam! Kalau aku tahu kamu akan mengatakan hal ini, aku gak bakalan ngizinin kamu!" Tegas Sherena, membuat Arumi keheranan. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi antara kedua nya?


"Ada apa ini? Melakukan apa maksud kalian?" Tanya Arumi, mata nya menatap ke arah Sherena dan Darren yang malah terlihat perdebatan.


"Sheren hamil, Ma." Jawab Darren membuat kedua mata Arumi membeliak seketika. Hamil? Benarkah? Dia memang menginginkan cucu, tapi tidak sekarang. Disaat kedua nya belum terikat dengan janji suci yang terucap. 


"H-hamil?" Tanya Arumi, sedangkan Arya hanya tersenyum miring. Sudah dia duga sebelum nya, pasti buah dari di titipkan selama sepuluh hari bersama Darren, putri nya pasti hamil. Pria baik-baik pun pasti akan kalah dengan nafssu, apalagi Darren sudah lama sendiri. 


"M-maaf.." Lirih Sherena, kedua nya kompak menunduk.


"Jangan memarahi Sherena, Ma, Pa. Ini sepenuhnya kesalahan saya, kalau saja saya bisa menahan nafssu, mungkin ini semua tidak akan.."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagian kalian akan menikah bukan? Jujur, Mama sangat kecewa pada kalian berdua. Tapi, kalau Darren sudah bertanggung jawab. Tidak apa-apa."


"Maafin Sherena, Ma.." ucap Sherena, dia memeluk erat tubuh sang ibu. Arumi membalas pelukan putri nya, rasa kecewa di hatinya tidak sebesar rasa sayang yang dia miliki untuk putri nya, Sherena. 


"Tidak apa-apa, sayang. Jangan menangis, nanti adik bayi nya ikutan sedih. Nanti nenek nya di salahin sama adik bayi nya." Ucap Arumi sambil mengusap air mata yang menetes dari kedua mata putri nya.


"Maafin Sheren, Pa."


"Tidak apa-apa, Papa sudah tahu kok kalau kamu hamil, Nak."

__ADS_1


"Maksud Papa?" Tanya Sherena dengan ekspresi terkejut nya, dia benar-benar terkejut karena selama ini yang mengetahui kehamilan nya hanya teman-teman nya dan Darren. Selebih nya, dia merahasiakan nya sebaik mungkin.


"Papa sudah mengetahui kehamilan kamu, saat kamu di rawat di rumah sakit, Nak."


"Kok bisa, Pa? Padahal Sheren nyembunyiin nya dengan rapih." Jawab Sherena membuat Arya tertawa.


"Kamu boleh saja menyembunyikan kehamilan mu ini dengan rapih, tapi kamu takkan bisa bersembunyi dari feeling seorang ayah, sayang." Jawab Arya membuat Darren tersenyum. Sedangkan Sherena langsung memeluk sang ayah dengan erat dan menangis sejadi nya di pelukan sang ayah. 


"Tidak apa-apa, jangan menangis sayang." 


"Maafin, Sheren udah kecewain Papa."


"Tidak, sampai kapanpun kamu adalah putra kebanggaan Papa, sayang. Kamu gak pernah ngecewain Papa, sayang." Jawab Arya sambil membingkai wajah cantik sang putri. 


"Jangan menangis, sayang. Benar kata ibu mu, nanti adik bayi nya ikut menangis lho."


"I-iya, Papa."


"Berapa usia kandungan mu saat ini, sayang?"


"Delapan minggu, Ma." Jawab Sherena.


"Pantesan saja kamu lemes, mual-mual terus, sayang. Ternyata lagi isi ya? Mama mau bikin teh lemon buat kamu ya, biar gak mual-mual lagi."


"Tidak perlu, Ma. Aku punya obat sendiri sekarang."


"Obat mual? Apa, sayang?" Tanya Arumi sambil tersenyum kecil.


"Pelukan Darren, itu selalu menjadi obat buat aku."


"Benarkah? Hmm, kamu saja sering mengatai aku bau, masa sekarang kamu bilang kalo aku adalah obat? Agak sedikit meragukan, tapi tidak apa-apa." 


"Hahaha, kau memang bau!" Celetuk Arya sambil tertawa.


"Papa, puas sekali ngetawain nya ya?" Tanya Arumi membuat Arya langsung terdiam seketika. Kalau istri nya sudah begini, sebaiknya dia diam saja agar tidak terjadi huru-hara yang akan membuat nya kekurangan jatah malam nanti nya. 


"Jaga anak ku dengan baik, kalau kau menyakiti nya, aku pastikan aku akan membawa nya kembali ke rumah. Ingat itu!" Tegas Arya membuat Darren menelan ludah nya dengan kepayahan. Tatapan Arya terlihat sangat menakutkan, tajam sekali. Membuat Darren sedikit merasa terintimidasi, tapi tidak apa-apa. Masih beruntung pria itu tidak memukul wajah nya. 


"Baik, aku akan menjaga Sherena dengan segenap jiwa ku, Pa. Itu janji ku."


"Baiklah, aku pegang kata-kata mu!" Tegas Arya. Darren mengangguk dan mengiyakan ucapan Arya tanpa sedikit pun rasa ragu di hatinya. Dia sudah yakin untuk mempersunting Sherena menjadi istrinya, makanya dia tidak ragu untuk menanam benih kecebong nya di dalam rahim Sherena.


Beberapa hari pun berlalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Sherena juga Darren. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Sherena dan Darren. Pria tampan itu sudah nampak gagah dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu di leher nya, dia terlihat sangat gagah sekarang ini. 


Dia masih berada di dalam ruangan khusus untuk nya, tak lama Andy masuk dengan membawa kotak perhiasan di tangan nya.


"Tuan.."


"Ya, Andy. Ada apa?"


"Hmm, saya ingin eemm.." 


"Katakan saja.." Ucap Darren, Andy pun membisikan sesuatu dan itu membuat Darren tersenyum kecil.


"Bisakah? Maaf kalau aku terkesan tidak sopan, tapi.."


"Bisa, tentu saja bisa. Aku akan mengatakan ini pada Sherena nanti, jangan khawatir." Jawab Darren. 


"Terimakasih, Tuan. Anda memang yang terbaik."


"Sama-sama, bagaimana penampilan ku?"


"Anda terlihat jauh lebih tampan dan gagah, Tuan." Jawab Andy sambil mengacungkan kedua jempol nya pada Darren, membuat pria itu tertawa. 


Di ruangan lain, Sherena tengah di rias oleh MUA yang di sewa khusus oleh keluarga nya, di belakang nya ada ketiga sahabat nya yang juga sedang di rias. Mereka di tunjuk oleh Sherena untuk menjadi bridesmaid di acara pernikahan nya ini. Tentu nya, ketiga nya langsung setuju dengan permintaan Sherena. 


"Gilaa, Sheren cantik banget.." Puji April sambil melihat penampilan Sherena yang memang terlihat sangat cantik. Dia jarang memakai make up, paling hanya mengenakan seperlu nya saja, jadi saat di rias seperti ini, Sherena terlihat sangat pangling. 


"Iya bener, cakep bener. Kalo gue jadi laki, pasti udah jatuh cinta." Jawab Arina membuat April dan Meysa mendelik ke arah gadis itu. 


"Sheren nya gak bakalan mau meskipun Lo terlahir kembali jadi cowok." Celetuk April membuat Arina memutar mata nya dengan jengah. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2