Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 64 - Tidur Bersama


__ADS_3

"Belum ngantuk, yang?" Tanya Darren sambil mengusap-usap kepala Sherena yang bersandar manja di dada nya.


"Ngantuk sih, tapi masih kangen." Jawab Sherena. Darren melerai pelukan nya lalu mendekatkan bibir nya ke bibir Sherena, tapi baru saja bibir mereka akan bersentuhan. Sherena sadar kalau tempat dimana mereka berdua ini benar-benar tidak aman, bisa saja orang tua nya keluar dari kamar secara tiba-tiba bukan?


"Lho, kenapa yang?" Tanya Darren, dia heran karena biasa nya Sherena tuh ayo-ayo aja kalau dia sedang ingin mencium nya. Tapi sekarang, dia terlihat seolah menolak nya. 


"Gak aman, disana aja." Ajak Sherena, dia pun menarik tangan Darren ke kamar tamu. Sebelum itu, Sherena masih sempat menekan tombol off untuk mematikan televisi nya. 


Kedua nya masuk ke dalam kamar, Sherena menyalakan lampu kamar tamu dan menutup pintu nya, tak lupa dia mengunci pintu kamar itu. Darren dan Sherena pun duduk di sisi ranjang dengan saling berhadapan.


"Kok kamu bawa aku kesini, yang?"


"Kalo di ruang tamu, nanti Mama atau Papah keluar terus mergokin kita berdua gimana? Kan malu, sayang." Jawab Sherena. Darren juga baru ingat, iya juga ya. Kalau sampai ketahuan kan bisa malu, meskipun dia dan Darren sudah memiliki hubungan yang cukup kuat saat ini, tapi tetap saja ini seharusnya belum boleh di lakukan oleh pasangan itu. 


Tapi seperti nya kedua orang tua Sherena sudah curiga dari awal khusus nya Arumi, karena dia beberapa kali melihat tanda kemerahan di leher Sherena yang di buat oleh mulut nakal Darren. 


"Iya juga sih ya. Kamu pinter banget deh."


"Soalnya aku juga lagi kepengen, hehe." Jawab Sherena malu-malu kucing, padahal Darren dengan senang hati akan memberikan nya. Malahan dia sudah ingin mencium Sherena sedari tadi saat dia menjawab iya atas lamaran nya, tapi dia malu melakukan nya karena ada orang tua Sherena disana. 


"Hmm, sayang.." 


Darren pun meraih Sherena ke dalam pelukan nya, dia juga mulai melancarkan aksi nya, Darren menyusupkan tangan nya ke belakang tengkuk gadis nya, lalu dia mencium bibir sang kekasih dengan mesra. Dia selalu mencium Sherena dengan lembut dan penuh kasih sayang, dia benar-benar memperlakukan Sherena dengan baik, ya meskipun dia lebih sering mesuum sih ya. Tapi tidak apa-apa, Sherena malah menyukai nya dan sejauh ini dia tidak mempermasalahkan. Terlebih lagi, dia juga bisa mempertahankan apa yang harusnya dia pertahankan. 


Sherena juga tahu apa yang harus dia berikan dan yang tidak boleh dia berikan. Kalau untuk masalah berciuman dan menyusu, banyak dari teman nya yang sering melakukan itu. Lagi pula itu tidak meninggalkan bekas, ya kecuali kalau Darren memberikan stempel kepemilikan disana. 


Kedua anak manusia itu saling mencium dengan lembut, Darren melumaat bibir atas bawah Sherena secara bergantian, dia juga menyusupkan lidah nya ke dalam mulut sang gadis dan mengajak nya untuk bergelut lidah di dalam sana.


Suara decapaan terdengar memenuhi ruangan bernuansa serba putih itu, tangan Darren juga mulai merayap kemana-mana. Dia membuka kancing piyama sang gadis lalu memainkan apa yang ada di dalam nya. 


Merasa sedikit kesulitan, Darren menurunkan tali braa yang di kenakan oleh Sherena ke bawah, membuat buah dada yang ranum itu tersaji sempurna di depan mata. Darren langsung memainkan nya, meremaas buah kenyal itu dengan lembut. Sesekali dia juga memainkan putting nya, memilih dan memutar-mutar tangan nya di area itu. Tak jarang, Darren juga menarik putting kecoklatan sang gadis itu saking gemas nya. 


"Aasshhh.." Sherena menepuk lengan Darren, dia tidak bisa bicara karena saat ini dia masih berciuman. Pria itu benar-benar tidak melepaskan nya, bahkan hanya untuk memberi jeda bagi Sherena mengambil nafas pun hanya beberapa detik saja. 


Sherena bisa mengambil nafas saat berciumaan saat ini, dia belajar karena sering nya Darren mencium nya dan dia akan merengek kalau seandainya Sherena menyudahi ciuman karena kehabisan nafas. Darren paling tidak suka kalau mereka berciuman dalam waktu yang singkat, Darren lebih suka mencium satu kali tapi cukup lama. 


Darren menyudahi ciuman nya lebih dulu, lalu mendorong tubuh Sherena ke atas ranjang, dengan cepat dia menindih tubuh mungil sang gadis. Sherena tahu benar kalau sudah begini, dia takkan bisa lepas dari Darren dalam waktu yang cukup lama. Karena Darren sangat menyukai untuk bermain-main dada nya. 


Dia juga suka berlama-lama disana, jadi sudah bisa di pastikan kalau Sherena akan tidur larut malam ini karena ulah sang kekasih. 


"Pelan-pelan aja nyusu nya, yang. Sakit tahu!"


"Iya, sayang." Jawab Darren sambil mendongak, padahal mulut nya penuh dengan buah kenyal milik Sherena yang sedang di sesap seperti bayi yang kehausan karena sudah lama tidak menyusu.


Sherena membiarkan saja Darren dengan kegiatan nya, sedangkan dia mengambil ponsel dan membuka beberapa pesan yang di tinggalkan oleh teman-temannya trio wekwek nya di chat grup. 


Mereka menggoda nya yang saat ini sudah berstatus calon istri Darren dan masih banyak lagi, ada juga yang membahas pasangan baru, yaitu Meysa dan Andy. Tapi lebih banyak yang mendoakan untuk kelangsungan hubungan nya, maupun Meysa dan juga Andy. 


"Hmmm, kenapa malah mainin ponsel. Usapin kepala aku, sayang."


"Iya iya, sebentar sayangku." Jawab Sherena, dia pun meletakan ponsel nya di meja nakas dan mengusap-usap rambut Darren. Pria itu sangat menyukai saat Sherena mengusap rambut belakang nya saat dia sedang menyusu. Darren mendongak, lalu tersenyum manis hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit.


"Sudah, gak usah senyum-senyum gitu. Cepetan nyusu nya, sayang."


"Kenapa, gak suka ya?" Tanya Darren dengan wajah yang terlihat kesal.


"Bukan gitu, sayang. Besok aku kan sekolah, terus aku gak mungkin bobok disini dong."

__ADS_1


"Kenapa? Kita bobok disini aja, biar aku bisa peluk kamu semalaman." Ucap Darren, dia mencemberutkan bibir nya membuat Sherena gemas. 


"Nanti kalau Mama sama Papa curiga, gimana?"


"Yaudah sih, paling kita di nikahin." Jawab Darren datar, mulut nya memang sedang bicara dengan Sherena, tapi tangan nya tetap saja memainkan buah kenyal sang gadis.


"Bisa ya kamu setenang itu pas ngomong? Aku masih sekolah lho, yang."


"Ya terus? Nikah nya di rahasiakan saja dulu, nanti kita publish kalau kamu sudah lulus sekolah, sayang." Jawab Darren membuat Sherena terlihat seperti berpikir. 


"Hayo lho, baru kepikiran?"


"Kayak secret wedding gitu ya? Pernikahan rahasia?" Tanya Sherena dengan wajah polos nya.


"Iya, sayang ku." 


"Tapi, author kesayangan kita ini kayaknya punya deh novel yang tema nya pernikahan rahasia gitu. Iya gak sih?" Tanya Sherena pada Darren.


"Iya, secret wedding judulnya, sayang." Jawab Darren sambil tersenyum. 


"Bisa ya kayak gitu?"


"Bisa kok, selama gak bocor jadi kamu aman. Tapi, kamu kan istri aku dan sekolah itu juga milik aku, jadi siapa yang bakalan berani keluarin kamu dari sekolah hmm?" 


"Astaga, aku baru inget kalo kamu tuh yang punya sekolah." 


"Lah, astaga punya calon bini kok begini." Ucap Darren sambil menggelengkan kepala nya. Bisa-bisa nya Sherena lupa kalau calon suami nya adalah pemilik sekolah tempat dia menimba ilmu. 


"Dih, gak suka? Yaudah, sana."


"Ehh, suka kok. Suka banget malah." Jawab Darren meralat ucapan nya, sedangkan Sherena sudah mendelik ke arah sang kekasih. 


"Apa?" Tanya Sherena ketus.


"Marah kamu mah, yang."


"Enggak, cuma kesel aja dikit." Jawab Sheren membuat Darren langsung menyosor bibir Sherena. Dia gemas saat melihat ekspresi sang gadis. 


"Isshh, kang nyosor!"


"Hehe, suka soalnya." Jawab Darren sambil tersenyum. Sherena pun mengancing kembali piyama nya, tapi Darren mencegah nya.


"Jangan dong, yang."


"Dingin."


"Kan ada aku yang bakalan hangatin kamu, sayang." Jawab Darren. Sherena pun membiarkan saja apapun yang pria itu inginkan. Darren pun memeluk Sherena dari belakang. 


"Selimutin, yang. Ternyata di peluk doang gak bikin seluruh badan aku hangat." Jawab Sherena, Darren terkekeh lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh sang gadis hingga ke pundak nya. 


Darren terus saja memainkan buah kenyal sang gadis, meremaas buah ranum itu. Sherena awalnya merasa geli karena tangan besar itu terus saja memainkan buah miliknya itu dengan gemas seperti nya. 


Tapi, saat menyadari kalau bagian itu adalah bagian favorit Darren, jadi dia memilih membiarkan saja. Dia memejamkan mata nya dan akhirnya dia bisa tertidur dengan lelap dengan tangan Darren yang masih asik dengan aksi nya itu. 


Akhirnya, mereka pun sama-sama tertidur. Sherena tertidur dengan lelap, begitu juga dengan Darren, dia ketiduran saat masih asik memainkan buah ranum milik Sherena, hingga dia lupa kalau tangan nya masih menggenggam buah itu di tangan besar nya. 


Keesokan pagi nya, Sherena terbangun lebih dulu. Dia tersenyum saat melihat Darren masih tertidur di samping nya, wajah pria itu terlihat sangat tenang saat tangan tertidur. Beda jauh saat kedua mata itu sedang terbuka, yang ada dia di mesumiin aja terus. 

__ADS_1


Tapi serius, melihat wajah tenang Darren saat tertidur seperti ini membuat hati Sherena menghangat. Dia mengecup mesra kening dan kedua pipi pria tampan itu, dia harus langsung pergi ke kamar nya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah pagi ini. Dia juga harus buru-buru pergi ke kamar nya sebelum ibu nya bangun dan menyadari kalau dia tidur bersama Darren malam tadi. 


Bisa bahaya bukan? Dia tidak mau di nikahkan, toh mereka juga belum melajukan apapun yang lebih dari sekedar ciuman atau menyusu. Sampai saat ini Sherena masih bisa mempertahankan keperawanaan nya. 


"Enghh, sayang.."


"Shhhttt, sayang. Aku harus pergi sekarang, keburu Mama bangun. Nanti dia bisa curiga kalau aku habis tidur sama kamu." Jawab Sherena, tapi Darren malah semakin mengeratkan pelukan nya di perut rata Sherena. Dia masih betah tidur sambil memeluk tubuh sherena yang menguarkan aroma lembut. 


"Hmmm, aku masih nyaman banget meluk kamu, yang."


"Udah, keburu siang. Kamu juga harus nya bangun terus pulang, kamu ngantor kan hari ini? Sekalian anterin aku ke sekolah." Ucap Sherena. Barulah Darren melepaskan pelukan nya, dia pun membiarkan Sherena keluar dari kamar, sedangkan dia masih betah berguling-guling di atas kasur sambil merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku karena semalaman tidur tanpa berpindah posisi karena terlalu nyaman memeluk Sherena.


Sherena keluar dari kamar dengan cara mengendap-endap, dia menghela nafas nya karena belum terdengar apa-apa di area dapur. Jadi dia dengan cepat berlari menaiki tangga yang menghubungkan lantai bawah dan kamar nya di lantai atas. 


Sherena mengusap dada nya begitu dia sampai di kamar, gadis itu langsung membersihkan tubuh nya. Dia memasukkan buku-buku nya, ponsel juga powerbank miliknya dan membawa nya ke lantai bawah. Dia pergi ke dapur dan terlihat berpikir untuk membuat menu sarapan pagi ini. 


Ya, sampai sekarang Sherena masih sering memberikan bekal untuk Darren sarapan di kantor nanti. Sherena membuat nasi goreng yang dia berikan telur mata sapi setengah matang, juga sosis dan brokoli rebus kesukaan Darren. 


"Sayang, sudah bangun?" Tanya Arumi. 


"Udah, Ma. Ini lagi bikin bekal buat ayang, plus buat aku juga." Jawab gadis itu sambil tersenyum.


"Wah, kamu sudah pandai memasak ya sekarang?"


"Iya dong, siapa dulu yang ngajarin nya?" Jawab Sherena sambil terkekeh, begitu juga dengan Arumi. Dia tertawa begitu mendengar ucapan sang putri.


"Darren nya mana?" Tanya Arumi.


"Gak tahu, kayaknya masih tidur deh." 


"Yaudah, kamu bangunin dulu ya. Biar ini, Mama yang lanjutkan." Ucap Arumi, Sherena pun menganggukan kepala nya. Dia pun pergi untuk membangunkan sang pria.


Sherena membuka pintu kamar, ternyata Darren sudah bangun dan sedang duduk di sisi ranjang dengan air yang menetes dari wajah dan rambut nya, terlihat jelas kalau dia baru saja mencuci wajah nya.


"Kenapa, sayang?"


"Gapapa, tapi di suruh bangunin kamu sama Mama."


"Oh, aku udah bangun kok. Kamu buatin bekal buat aku kan hari ini?" Tanya Darren, dia selalu menyukai bekal buatan Sherena, apapun itu.


"Tadi aku bangun nya agak kesiangan dikit, jadi menu hari ini yang simpel aja ya. Aku masak nasi goreng sama telur setengah matang, ada sosis sama brokoli rebus juga."


"Wah, terdengar enak itu. Gak sabar deh pengen makan." Jawab Darren sambil terkekeh.


"Iya nanti, itu kan buat kamu. Udah sana pulang terus siap-siap, nanti anterin aku ke sekolah ya."


"Siap, tuan putriku." Jawab Darren, dia beranjak dari duduknya, lalu mengacak rambut Sherena yang sudah di sisir serapi mungkin tadi, membuat gadis itu cemberut karena kesal dengan sang kekasih yang selalu saja mengacak-acak rambut nya disaat dia gemas.


"Dihh, tuan putri katanya. Bisa aja mulut nya tuh, dasar buaya darat!" Ketus Sherena sambil merapikan kembali rambut nya. Darren berpamitan pada Arumi dan dia pun pulang untuk membersihkan tubuh nya dan bersiap-siap untuk pergi bekerja dengan semangat baru. 


Sekarang, dia memiliki pecutan semangat yang baru, yaitu Sherena. Dia adalah sumber semangat bagi Darren saat ini. Jadi, dia akan lebih giat untuk bekerja, karena ada Sherena yang harus dia nikahi nanti nya. Meskipun dia sudah memiliki tabungan, tapi tetap saja bukan? Sebagai pria, dia harus bisa membahagiakan istrinya.


Meskipun Sheren bukanlah gadis yang materialistis, tapi tetap saja Darren yang harus materialistis, karena hidup tidak akan kenyang dengan hanya mengandalkan cinta saja bukan? Jadi dia harus memikirkan bagaimana masa depan nya dengan Sherena setelah mereka menikah nanti.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2