
Darren juga merasa bangga saat melihat sang kekasih berdiri di atas panggung dengan sebuah piala penghargaan di tangan nya, gadis cantik itu tersenyum manis ke arah nya. Tiba-tiba saja, kedua mata Darren terlihat berkaca-kaca, tapi dengan cepat dia mengusap nya sebelum ada orang yang menyadari nya.
"Selamat siang semua nya, pertama-tama saya ingin berterimakasih kepada kedua orang tua saya yang sudah mendidik saya sejak kecil. Aahh ya, terimakasih juga untuk teman-teman semua nya. Kalian sudah mendukung ku hingga sejauh ini." Ucap Sherena sambil tersenyum kecil, air mata nya benar-benar luruu saat ini.
"Saya melupakan sesuatu, terimakasih juga pada Darren, kekasih saya. Dia selalu ada untuk saya. Mendukung semua yang aku lakukan dan selalu percaya pada saya. Terimakasih juga karena sudah hadir dalam hidup saya. Sekian dan terimakasih."
Darren berdiri dari duduk nya lalu berjalan mendekati sang gadis dan mengulurkan tangan nya, membantu Sherena untuk menuruni tangga dengan perlahan. Sherena menggandeng mesra lengan sang kekasih, mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat romantis.
Semua orang juga mengetahui kalau sosok pria berwajah tampan rupawan bak malaikat itu adalah pemilik sekolah ini. Jadi, cukup mengejutkan bagi orang-orang yang belum tahu tentang hubungan kedua nya. Tapi, mereka akui kalau Darren dan Sherena adalah pasangan yang serasi. Cantik dan tampan. Selain itu, Sherena juga murid yang berprestasi.
"Selamat putri kesayangan Mama, Papa.." Ucap Arya sambil memeluk putri nya dengan erat, sedari tadi dia terus menangisi putri nya. Dia benar-benar merasa bangga pada Sherena.
Jujur saja, dia dan Arumi merasa khawatir saat gadis itu mengatakan kalau dia jatuh cinta. Mereka khawatir kalau Sherena memiliki pacar, dia akan lupa belajar. Tapi ternyata tidak sama sekali, dia tetap menjadi anan yang berprestasi.
"Terimakasih, Papa.."
"Selamat, sayang." Ucap Arumi sambil memeluk putri nya. Dia mengusap air mata nya yang terus saja menetes, dia bangga. Benar-benar bangga pada Sherena.
"Terimakasih, Mama.." Jawab Gadis itu sambil tersenyum.
"Kamu tetap jadi putri kebanggaan Mama, Papa. Kami sangat bangga padamu, sayang." Ucap Arya sambil mengusap wajah cantik putri nya.
"Ya, aku saja sebagai kekasih nya merasa sangat bangga, apalagi kalian." Lirih Darren sambil tersenyum.
Sore hari nya, acara perpisahan itu pun selesai. Darren dan Sherena meminta izin untuk sekedar berjalan-jalan terlebih dulu, merayakan kelulusan.
"Sayang, kita mampir ke butik dulu sebentar ya?"
"Ngapain, yang?" Tanya Sherena. Dia belum menyadari kalau saat ini dia masih mengenakan setelan kebaya.
"Beli baju buat ganti kebaya kamu itu, Bee."
"Ohh, iya ya. Aku lupa, maaf." Ucap Sherena sambil cengengesan, Darren terkekeh pelan lalu mengacak rambut sang kekasih dengan gemas.
"Masih muda udah pikun kamu, Bee." Celetuk Darren.
"Issshh, ayang ngeselin banget deh!"
"Hahaha, iya maaf-maaf, sayangku." Ucap Darren sambil tersenyum kecil. Hingga mobil yang di kendarai oleh Darren berhenti di sebuah butik yang cukup besar.
"Jangan ribet ya?"
"Oke." Jawab Darren. Pasalnya, Sherena pernah merasa kapok saat memilih pakaian bersama Darren di butik. Memakai dress yang ini salah, yang itu juga salah. Bukan kah itu benar-benar menyebalkan? Ya benar, saat itu juga Sherena merasa sangat kesal pada sang kekasih. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Mau kesal seperti apapun, tetap saja dia bucin pada Darren.
"Aku gak mau pakai dress.."
"Pakai pakaian yang sekira nya membuat kamu nyaman saja, Bee." Jawab Darren membuat Sherena tersenyum.
Sherena pun menarik tangan sang kekasih masuk ke dalam butik itu, dia langsung memilih kulot jeans dan blouse berwarna biru langit.
"Udah, aku ganti dulu ya." Darren menganggukan kepala nya. Sherena pun masuk ke dalam ruang ganti dan segera mengganti pakaian nya. Cocok, ya benar-benar cocok dan dia sangat menyukai model blouse nya. Hanya saja, di bagian depan nya sedikit rendah.
Entahlah, apakah Darren akan bisa mentoleransi hal itu atau tidak. Yang jelas, dia tidak mau jika harus bolak-balik ke ruang ganti untuk mengganti pakaian karena pilihan nya tidak sesuai dengan Darren.
__ADS_1
Sherena pun keluar dengan wajah semringah nya. Darren mengernyit, dia akan komplain tapi pakaian yang di pakai oleh sang kekasih masih sangat sopan jadi tidak ada masalah.
"Kamu pintar memilih pakaian, Bee. Kamu terlihat sangat cantik dengan blouse itu, tapi hati-hati dan jangan menunduk terlalu rendah. Oke?" Tanya Darren. Sherena langsung menganggukan kepala nya pertanda dia mengerti.
Darren pun membayarkan pakaian yang sudah di pakai oleh sang gadis, kedua nya pun pergi menuju suatu tempat. Sherena sudah lama ingin pergi ke tempat ini bersama Darren. Pria tampan itu selalu menyunggingkan senyuman nya. Dia suka, benar-benar suka melihat penampilan sang kekasih.
"Kamu senyum terus dari tadi, apa gigi mu gak kering?" Tanya Sherena sambil tertawa.
"Enggak kok, kita akan ke pantai untuk melihat sunset bersama, bukan?"
"Iya, aku menyukai sunset." Jawab Sherena. Darren terkekeh pelan lalu melirik ke arah sang gadis yang juga tengah menatap nya dengan mata yang setengah menyipit kala dia tersenyum.
"Cantik.."
"H-aahh, apa?" Tanya Sherena.
"Kamu cantik, Bee."
"Hahaha, kamu baru menyadari kalau kekasih mu ini cantik?" Tanya Sherena sambil tertawan
"Iya, karena selama ini aku hanya terfokus dengan satu hal tentang mu, hingga melupakan kalau kekasih ku ini sangat cantik." Jawab Darren membuat Sherena tersenyum.
"Baguslah kalau sekarang kamu menyadari nya, aku harap kamu gak bakalan pernah berpaling dari aku ya."
"Never, Bee."
"Aku pegang kata-kata mu, sayang." Jawab Sherena dan langsung di angguki oleh Darren. Kedua nya pun turun dari mobil saat sampai di pantai dengan tangan yang saling bertautan mesra. Ini memang bukan kali pertama mereka ke pantai bersama, tapi sudah ke sekian kali nya. Tapi suasana nya saat ini benar-benar berbeda karena status dan hubungan mereka.
Pertama kali mereka ke pantai, Sherena dan Darren belum memiliki hubungan apa-apa. Tapi sekarang, kedua nya sudah bertunangan. Bahkan sebentar lagi mereka akan menikah. Hanya selang seminggu lagi saja, kedua nya akan meresmikan hubungan mereka dengan mengikat janji suci.
"Sayang.."
"Iya, Bee. Ada apa?" Tanya Darren, pria itu menoleh ke arah sang gadis.
"Gak kerasa ya, seminggu lagi kita bakalan nikah." Ucap Sherena. Darren menganggukan kepala nya dengan cepat, bibir nya menyunggingkan senyuman manis.
"Iya, kita akan menikah."
"Bisakah sebelum kita menikah, urusan mu dengan mantan istri mu itu di akhiri lebih dulu, sayang?" Tanya gadis itu, membuat Darren melirik ke arah Sherena yang tengah menatap ombak yang damai.
"Aku akan mengusahakan nya, tapi sejauh ini Andy sudah melakukan nya, namun belum ada hasil."
"Kamu bertindak salah, sayang. Harus nya, kamu sendiri yang turun tangan dan buat wanita itu jera." Jelas Sherena.
"Ya baiklah, besok aku akan menangani wanita itu. Tapi sebelum itu, aku mohon bersabarlah sedikit lagi."
"Aku akan mempercayai mu, sayang. Tapi jika semisal kamu tidak bisa membuat wanita itu jera, biar.."
"Jangan bilang kamu yang akan menyerah? Aku mohon, jangan lakukan hal itu. Jangan mundur, mari kita berjuang bersama untuk hubungan ini." Ucap Darren membuat Sherena terkekeh.
"Aku belum selesai bicara, sayang. Kalau kamu gak bisa bikin dia jera, biar aku saja yang melakukan nya."
"H-aahh? Tidak, tidak perlu."
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Sherena.
"Jangan kotori tangan mu dengan menyentuh sampah, Bee."
"Oke, aku gak akan turun tangan. Tapi kamu harus janji kalau wanita itu akan jera dengan peringatan mu itu, sayang. Aku tidak ingin dia mengacau di acara pernikahan kita, sayang." Jelas Sherena. Darren mengangguk, dia merangkul sang kekasih dari samping lalu mengecup singkat kening sang gadis dengan mesra.
"Iya, sayang. Kamu bisa percaya dengan ku."
"Aku selalu percaya padamu, maka dari itu aku bertahan dengan mu sampai saat ini. Itu cukup membuktikan kalau aku memang percaya padamu, bukan?" Tanya Sherena. Darren tersenyum lalu menganggukan kepala nya.
"Iya, sayang. Terimakasih sudah mau bertahan sampai saat ini, terimakasih juga sudah sangat mengerti dengan keadaan ku."
"Sama-sama, sayangku." Jawab Sherena. Dia melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Darren dan pria itu yang merangkul mesra sang kekasih dengan pemandangan sunset yang indah di atas sana. Membuat suasana semakin terasa romantis, di tambah dengan semilir angin laut yang terasa sejuk di sore hari ini.
"Kamu hangat.." lirih Sherena, sambil mendusel di dada bidang sang pria.
"Jangan bikin aku bergairaah, sayang." Ucap Darren sambil menghentikan kelakuan sang gadis di dada nya.
"Lah, memang nya apa yang aku lakukan? Aku gak ada tuh bikin kamu nafssu."
"Terus itu tadi, ngapain?" Tanya Darren membuat Sherena membulatkan bibir nya.
"Jadi, mendusel seperti itu saja bisa membuat kamu bernafssu, sayang?"
"Ya iya, tentu saja. Bahkan melihat kamu bernafas saja sudah membuat aku bernafssu, sayang." Jelas Darren membuat Sherena mengernyitkan kepala nya.
"Astaga, masa aku gak boleh nafas sih? Mati dong nanti."
"Ya nafas aja, tapi aku gak bisa jamin kalau aku gak bakalan nafssu sama kamu, Bee."
"Astaga, ngeri nya pacar ku. Nafssuan sekali." Lirih Sherena membuat Darren tertawa.
"Aku nafssuan nya sama kamu, sayang. Kamu juga bakalan marah kalau seandainya aku begini sama yang lain, iyakan?"
"Jelas iya. Kamu di deketin sama mantan istri kamu aja aku ngamuk, apalagi kamu ada main di belakang aku."
"Gak berani aku, soalnya tubuh kamu lebih candu, hehe."
"Awas aja kalo kamu berani melakukan itu di belakang aku, aku pastikan si junior gak bakalan bisa bangun." Ancam Sherena.
"Astaga, itu lebih ngeri."
"Makanya gak usah macam-macam, kalau kamu masih suka masuk lubang!"
"Iya iya, calon istri." Ucap Darren, membuat wajah Sherena memerah karena malu. Selain teman-teman nya, ternyata Darren juga memanggil nya dengan panggilan itu. Beda nya, teman-teman nya memanggil dirinya dengan sebutan calon istri CEO.
"Aaaa, aku malu."
"Cieee, siapa yang mau jadi istri CEO?"
"Aku.. aku.." jawab Sherena, lalu keduanya tertawa dengan bahagia.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻