
Darren dan Sherena pun berangkat bersama seperti biasa, Sherena memberikan bekal nya untuk Darren dan setelah sampai dia pun sempat untuk mencium sang kekasih dengan mesra.
"Aku keluar dulu ya.." Izin Sherena, Darren menganggukan kepala nya. Dia meraih kepala Sherena dan mengecup singkat kening sang gadis.
"Semangat belajar nya, sayang."
"Iya, sayang. Aku pasti semangat kok, kamu juga semangat kerja nya ya?"
"Hmmm, iya sayang. Aku bakalan semangat kerja nya buat nikahin kamu." Jawab Darren membuat wajah Sherena memerah. Disaat seperti ini, sempat-sempatnya dia merona karena mendengar ucapan Darren.
"Hehe, iya sayang. Yaudah aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di jalan nya." Darren mengiyakan, Sherena pun keluar dari mobil dan memasuki area sekolah nya. Dia melambaikan tangan nya saat melihat mobil sang kekasih pergi menjauh dari kawasan sekolah. Meskipun sekolah ini adalah milik Darren, tapi dia sangat jarang berkunjung ke sekolah ini kalau tidak ada hal yang penting.
Sherena pun berjalan santai, sesekali dia menjawab sapaan adik kelas nya dengan ramah tamah. Tidak heran kenapa Sherena menjadi salah satu kakak kelas favorit bagi adik kelas nya, jawaban nya hanya satu ya karena gadis itu sangat bersahabat dengan siapapun. Dia juga ramah, tidak judes seperti kakak kelas yang lain nya.
"Hallo, kak.."
"Eehh, hallo juga."
"Ini coklat buat kakak.." Ucap nya sambil mengulurkan sebatang coklat untuk Sherena.
"Buat aku?"
"Iya, buat kakak." Jawab nya, dia adik kelas perempuan yang entah siapa nama nya, Sherena tidak tahu.
"Dalam rangka merayakan apa memang nya? Sampai ngasih coklat segala."
"Kemarin kakak ulang tahun kan? Selamat ulang tahun kak Sherena, doa terbaik untuk kakak ya."
"Wahh, kok kamu bisa tahu sih? Terimakasih banyak ya, siapa nama kamu?" Tanya Sherena.
"Alana, Kak."
"Terimakasih ya, Lana. Harusnya kamu gak usah repot-repot ngasih kakak coklat kayak gini."
"Gapapa kok kak, gak repot sama sekali. Di terima ya kak." Ucap nya, karena merasa tak enak menolak pemberian orang, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan coklat batang seperti ini. Tapi akhirnya gadis itu menerima nya dengan senyuman manis yang tersungging di bibir nya.
"Terimakasih ya, kakak terima coklat nya."
"Sama-sama kak." Sherena pun tersenyum lalu pergi menjauh dari Alana, gadis itu kembali berjalan ke kelas untuk bertemu dengan teman-teman nya.
Hari ini, Sherena mendapat beberapa batang coklat. Katanya sih ya untuk merayakan ulang tahun nya kemarin, kalau jadi kakak kelas yang di favoritkan adik-adik kelas nya ya begini, kalau ulang tahun pasti banyak yang memberi hadiah, Sherena misalnya.
Tapi bukan hanya Sherena, teman-teman nya trio wekwek juga sering mendapatkan hadiah seperti ini ketika mereka berulang tahun.
"Pagi bestie-bestie ku." Sapa Sherena dengan ramah, teman-teman nya langsung tertawa begitu mendengar ucapan Sherena.
"Lho malah ketawa, lucu apa yakk?" Tanya Sherena dengan wajah cengo nya.
"Enggak sih, sini duduk makan kacang." Ajak April, Sherena menganggukan kepala nya dan duduk di samping Arin, seperti biasa. Mereka tengah berghibah sambil memakan kacang rebus yang di bawa oleh Meysa dari rumah.
"Eehh, pada tau gak sih? Gue di kasih coklat sama adek kelas."
"Wah, bagus tuh. Bagi dong." Celetuk Arin sambil terkekeh.
"Boleh." Sherena mengeluarkan beberapa batang coklat yang dia dapatkan dari adik kelas nya.
"Boleh nih, Sher?"
"Ambil aja, gigi gue lagi sensitif kalo makan coklat batang gini. Sisain satu aja buat di rumah nanti, kali aja mau di bikin apa gitu." Jelas Sherena, teman-teman nya pun mengambil coklat milik Sherena masing-masing mengambil satu, dan masih ada tiga batang lagi.
"Makasih, Sher."
"Sama-sama, kalian dah pada sarapan apa belum?" Tanya Sherena, ada yang mengangguk, ada juga yang menggeleng yaitu Meysa.
"Kalo gue tebak, Lo pasti kesiangan. Iya gak sih?" Tanya Sherena dengan senyum jahil nya, Mesya terkekeh lalu menganggukan kepala nya. Benar, dia memang tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan.
Semalaman dia kesulitan tidur karena terus terbayang-bayang dengan wajah tampan Andy, juga ciuman hangat yang di lakukan pria itu padanya. Ya, kemarin saat mengantarkan nya pulang, ternyata orang tua Meysa belum pulang dari luar, katanya mereka menghadiri acara pesta sesama rekan bisnis, biasa nya memang mereka akan pulang larut malam, disaat Meysa sudah tertidur lelap.
Saat itu, hujan turun cukup deras. Jadi mau tak mau pun Andy menunggu sebentar sampai hujan nya cukup reda. Meskipun dia menggunakan mobil, tapi dia malah saja saat menerobos hujan walaupun dia takkan kebasahan sama sekali.
__ADS_1
Saat itulah, Andy nyosor pada Meysa. Dia mencium bibir gadis itu dengan lembut dan melumaat nya dengan mesra. Meysa yang baru kali pertama melakukan itu pun membeku tanpa membalas sedikit pun, belum sadar dari keterkejutan nya, pria itu sudah menyudahi aksi nya. Dia tersenyum lalu mengacak rambut Meysa dan pamit untuk pulang setelah membuat dirinya salting.
"Kesiangan kenapa Lo? Bukan nya biasa nya tuh Lo paling anti kesiangan."
"Iya, tapi kali ini alesan nya beda lagi. Gue di buat mabuk kepayang sama Om Andy, njir." Jelas Meysa, membuat ketiga teman nya saling melempar tatapan satu sama lain begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Meysa.
Gadis itu yang mengatakan anti pada Andy, kini malah di buat bucin padahal mereka baru jadian dua hari tapi Meysa sudah di buat susah tidur karena pria itu, wah hebat.
"Di apain sama dia, Mey? Sampai-sampai bikin Lo susah tidur?" Tanya April. Sedangkan Sherena memilih menyimak saja sambil memakan sarapan nya dengan lahap, meskipun sesekali direcoki Arina yang tergiur dengan aroma sarapan milik Sherena. Meysa juga, bukan nya bawa bekel dari rumah, dia malah bawa kacang rebus. Untuk sarapan? Dia malah minta milik Sherena. Jadi, satu kotak itu untuk bertiga. Mana kenyang ya kan, mana semua nya kalo makan pasti banyak.
"Di cium anjir."
"H-aahh?" Tanya ketiga nya dengan kompak hingga membuat Meysa yang tengah menyuap tersedak nasi goreng yang sedang dia makan.
"Wah, gak bener ini. Baru aja sehari jadian masa udah ciuman sih? Astaga." Ucap April sambil menggelengkan kepala nya. Dia tidak habis pikir dengan sahabat nya itu, bukan tidak boleh ya, tapi itu lho belum ada sehari udah korban bibir aja.
"Ngebet banget om Andy sama Lo ya, Mey." Ucap Sherena, dia sedang minum dengan santai nya.
"Gak tahu, gue aja gak nyangka dia bakalan kiss gue. Mana lama lagi."
"Terus Lo gimana?" Tanya Arina, dia kembali ke cemilan pertama, kacang rebus.
"Ya gak gimana-gimana, diem aja. Shock banget gue anjir."
"Yaelah, gak enak kalo Lo gak bales." Celetuk Sherena membuat ketiga nya menatap gadis yang tengah cengengesan itu dengan tatapan heran.
"Jadi Lo.."
"Harusnya gak usah di ragukan lagi, apalagi si Om Darren yang jelas duda. Dia mah nafsuaan anjir." Jawab Sherena sambil terkekeh.
"Seriusan?"
"Hampir aja gak percaya gue, soalnya wajah nya keliatan kalem gitu gak sih? Ya kan ya?" Ucap Meysa.
"Iya, untung Lo yang ngomong. Jadi sumber nya terpercaya gitu, gak mungkin bohong." April terlihat terkejut begitu mendengar ucapan Sherena, karena sejauh ini dia belum pernah menceritakan apa yang sudah dia lakukan dengan Darren sejauh ini. Tapi kali ini, mulut nya gatal sekali.
"Hahaha, apaan sumber terpercaya." Sherena tergelak begitu mendengar ucapan April, sumber terpercaya katanya seperti koran saja.
"Sering."
"H-aahh?"
"Elah, gak usah heran Lo pada. Yang baru jadian sehari aja udah di sosor, apalagi gue yang udah beberapa bulan pacaran sama cowok dewasa kayak Darren." Jelas Sherena sambil mengambil minuman milik April. Gadis itu membawa susu kedelai hari ini sebagai menu diet katanya, padahal kalo sudah di kantin pasti makan bakso nya tidak pernah kurang dari dua mangkuk.
Tapi kalo di traktir, April bisa makan hingga tiga mangkuk. Mendadak, kekuatan perut dalam menampung makanan bertambah berkali lipat kalau sudah masalah makan gratis.
"Jadi, Lo udah pernah ngapain aja sama tuh laki, jangan-jangan.."
"Gue gak seliar Lo ya, Prill. Gue cuma pernah ciuman doang, nyusuin tuh si bayi. Udah gitu doang, paling tidur bareng. Tadi malem aja gue tidur sama Darren tuh." Jawab Sherena membuat ketiga teman nya menganga. Jelas saja tidak menyangka kalau Sherena yang terlihat kalem ternyata bisa menyembunyikan hal semengagetkan ini.
"Wah, gak nyangka sih kalo itu Lo udah di ***** sama Om Darren."
"Diem Lo, jangan kenceng-kenceng ngomong nya, nanti kedengeran orang lain." Ucap Sherena, sontak saja April langsung menutup mulut nya dengan tangan.
"Nah, giliran si Arin nih. Udah ngapain aja sama Marvin?" Tanya Sherena dengan senyum menggoda nya, membuat Arina salah tingkah.
"Dari ekspresi nya aja dah keliatan kalau dia ada nyembunyiin sesuatu, iya gak sih?"
"Iya, keliatan jelas dari wajah nya." Ucap Meysa sambil terkekeh.
"Gue gak bisa bohong kali ya, haha.." Arina terkekeh saat melihat reaksi teman-teman nya.
"Dari wajah Lo aja langsung keliatan bohong nya."
"Yaudah iya, gue juga udah gitu sama Marvin. Baru dua kali sih, soalnya kita ketemu nya aja jarang." Jelas Arina sambil tersenyum.
"Si Marvin ganas gak, Rin?" Tanya April penasaran, soalnya tampang Marvin terlihat garang.
"Bukan main, gue pernah ciuman sama dia satu jam tuh gak lepas." Jawab Arin membuat ketiga teman nya melotot. What? Satu jam tanpa lepas dulu mengambil nafas?
__ADS_1
"Satu jam?" Tanya Meysa tak percaya, begitu juga dengan April dan Sherena.
"Gilaa, gak mati tapi kan Lo?" Ucap April, dia menepuk-nepuk pipi Arina. Membuat gadis itu meringis dan menghempaskan tangan April dari wajah nya.
"Apaan sih Lo, kalo gue mati ya gak mungkin gue disini, kampreet!"
"Kali aja arwah nya."
"Mey, Lo gak minta jeda buat nafas dulu gitu?" Tanya Sherena. Dia masih shock saat mendengar sahabat nya berciuman sampai satu jam lama nya. Dia saja beberapa menit sudah engap, apalagi ini 1 jam dan satu jam itu kan 60 menit ya.
"Nafas nya sambil ciuman dong, emang Lo gak bisa?" Tanya Meysa sambil tersenyum kecil. Sherena menggeleng, dia sudah belajar dari pengalaman. Jadi durasi ciuman nya cukup lama, tapi ya enggak satu jam juga.
"Parah lu, satu jam apa gak jontor tuh bibir." Celetuk April.
"Bukan jontor lagi, sampe kebas gak kerasa apa-apa. Tapi enak kok, apalagi Marvin tuh wangi nya bikin nyaman. Dia suka kesel kalo ciuman nya bentaran doang." Jelas Meysa.
"Iya sih, Darren juga. Tapi kan gak satu jam juga, pantesan cuma dua kali doang ciuman nya."
"Dua kali juga juga dua jam anjir." Ucap Meysa sambil tertawa.
"Dahlah, ngapain bahas ginian sih? Ini nasi goreng gue siapa yang habisin njir!" Tanya Sherena, dia kehilangan nasi goreng yang baru dia makan separuh.
"Hehe.." Meysa lah orang nya, dia keasikan makan sambil bercerita dengan teman-teman nya, sampai melupakan kalau nasi goreng yang dia makan itu adalah milik sahabat nya.
"Dih, gak tahu diri lu. Udah minta, ngabisin lagi. Gue masih laper, tolong.."
"Haha, sorry sorry. Nanti gue traktir bakso deh di kantin." Ucap Meysa.
"Nah, sekalian kita ya. Pajak jadian alias pj nya belum." Ucap Arin sambil terkekeh. Berbeda dengan Meysa yang langsung memegang saku nya.
"Tapi okelah, ada kalo buat traktir satu mangkuk bakso. Soalnya uang jajan gue di kurangi sekarang."
"Gapapa, gue satu mangkok aja kalo gitu."
Keempat nya pun cekikikan, hingga tak lama guru pun datang karena bel sudah berbunyi.
Sedangkan di kantor, lagi-lagi Darren di datangi oleh bayang-bayang masa lalu nya. Entahlah ada niat apa wanita itu hingga nekat datang ke kantor Darren, tapi satu hal yang harus di ketahui kalau pria itu benar-benar tidak menyukai kedatangan wanita dari masa lalu nya.
"Hai, Darren.." sapa nya dengan gaya manja, Darren yang sedang di pusingkan dengan pekerjaan yang menumpuk seketika bertambah pusing saat kedatangan tamu tidak di undang.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Darren sinis. Dia tidak habis pikir kenapa wanita ini bisa dengan percaya diri nya melangkahkan kaki di perusahaan nya?
"Tidak, aku hanya ingin berkunjung dan melihat sesukses apa kau sekarang."
"Berhentilah mengganggu ku, Rita." Ucap Darren dengan wajah datar nya.
"Tidak akan, sebelum kau kembali padaku."
"Hahaha, jangan konyol. Dulu, kau yang membuangku. Jadi jangan berharap aku akan kembali setelah kau injak-injak harga diriku." Tegas Darren, mata nya menyalak tajam ke arah wanita itu.
"Ohh, ayolah Darren. Itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, sekarang aku kembali dan menawarkan mu hubungan yang lebih baik."
"Cuihhh, memang nya siapa yang minat dengan tawaran mu? Sekarang aku sudah memiliki gadis yang seribu kali lipat jauh lebih bagus dari pada dirimu." Jawab Darren membuat wanita itu membeku.
"Maksud mu gadis kecil itu, Darren? Haha, kenapa sekarang selera mu menurun? Sejak kapan juga kau suka dengan anak kecil."
"Ya, usia nya memang jauh lebih muda dari mu. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak kau miliki, Rita." Lirih Darren tapi mampu membuat Rita tertegun.
"Apa itu?"
"Kedewasaan, dia lebih dewasa dari usia nya. Dia bijak dalam menilai sesuatu dan yang lebih penting, dia gadis terhormat yang mampu menjaga harga dirinya dari laki-laki yang bukan suami nya. Itu sudah jelas membedakan kualitas kalian berdua." Ucap Darren, dia tersenyum sinis saat melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Rita.
"Lagi pula, hanya lalat lah yang menyukai sampah. Bagiku sekarang, kau tidak lebih dari seonggok kotoran, Rita!"
"Darren!"
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1