Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 58 - Marvin dan Arin


__ADS_3

Keesokan hari nya, Arya pun meminta untuk bertemu dengan Darren. Pria itu juga menyetujui nya, dia pun datang ke cafe yang kebetulan berdekatan dengan perusahaan nya. Kedua nya bertemu di waktu makan siang, Darren tersenyum kecil saa melihat kalau Arya alias Pamer nya sudah duduk manis di salah meja. 


Tanpa berpikir dua kali, Darren pun langsung mendekat. Dia merasa tidak enak hati karena membuat nya menunggu.


"Hallo, pah. Maaf lama, tadi ada sedikit kemacetan di depan." 


"Tidak apa-apa, Darren. Duduk lah, kau sudah makan?" Tanya Arya masih dengan senyuman kecil nya. Dia melihat wajah Darren yang terlihat sangat kusut, mungkin dia kelelahan saat ini.


"Belum, pah."


"Ya sudah, pesan saja. Sekalian kita makan siang." Jawab Arya, Darren pun menganggukan kepala nya. Dia pun memesan makanan dan juga kopi, begitu juga dengan Arya. Dia juga belum makan siang, dia sengaja menemui Darren di waktu makan siang, agar sekalian dia juga makan bersama calon menantu nya.


"Gimana perusahaan?"


"Lancar-lancar aja kok, pah. Cuma memang beberapa hari ini ada problem, makanya aku jadi sering bawa kerjaan ke rumah. Kemarin juga di temenin sama Sheren, biar semangat." Jawab Darren jujur. Dia memang tidak sepenuh nya mesuum dengan Sherena, ada juga kala nya dia bekerja dan Sherena menemani nya.


"Hmm, baguslah kalau begitu. Sherena baik dengan mu?"


"Sangat, dia sangat baik. Dia juga terlihat dewasa dari pada usia nya, dia gak pernah ngeluh kalau saya sibuk kerja." Jelas Darren. 


"Hanya saja, Sheren sedikit manja. Benar kan?"


"Saya rasa tingkat kemanjaan Sherena masih di tahap wajar, karena dia masih remaja. Lagi pun, saya tidak keberatan sama sekali kalau Sheren manja pada saya, pah." Jelas Darren lagi, dia menyunggingkan senyuman manis nya. Justru dia sangat bahagia kalau Sheren manja padanya, dengan begitu dia merasa sangat di butuhkan. 


"Jadi, bagaimana hubungan kalian ke depan nya?"


"Maksud nya, pah?"


"Saya orang tua dan saya bisa melihat kalau kalian sudah terlalu dekat, kamu pasti mengerti apa yang aku pikirkan." Ucap Arya membuat Darren tersenyum kecil. 


"Masalah keseriusan, mungkin anda bisa melihat nya sendiri kalau saya memang serius dengan Sherena. Saya berencana untuk menikahi nya setelah dia lulus sekolah." 


"Hmmm, tapi sekarang saya butuh yang lebih meyakinkan." Arya menatap tajam ke arah Darren. Tapi, sedikit pun dia tidak merasa gentar. Karena dia memang benar-benar serius pada Sherena, makanya dia berani melakukan hal-hal yang bisa di anggap cukup di luar batas.


"Baiklah, harus dengan cara apa saya membuktikan keseriusan, pah?" Tanya Darren, Arya tersenyum kecil.


"Lamar Sherena."


"Itu saja? Baiklah, saya akan melamar putri anda segera." Jawab Darren sambil tersenyum manis. 


"Baguslah, kapan? Biar aku akan menyiapkan semua nya dengan baik."


"Hari senin besok, pah. Saya akan membeli cincin khusus untuk Sherena, itu mungkin akan memerlukan waktu. Tapi, saya ingin anda merahasiakan sementara tentang ini." Pinta Darren membuat kening Arya mengernyit. Dia tidak mengerti, kenapa harus merahasiakan semua nya? 


"Kenapa aku harus merahasiakan ini?"


"Dari Sherena saja, tidak dengan Mama. Saya hanya ingin memberikan dia surprise. Karena hari senin adalah hari ulang tahun Sherena." Jelas Darren membuat Arya terlihat terkejut. Bisa-bisa nya dia lupa kalau putri nya akan berulang tahun beberapa hari lagi, tentu nya dia juga harus menyiapkan hadiah pertambahan usia sang putri, bukan?


"Aaahh ya, bagaimana kau bisa ingat hari ulang tahun anak ku? Sedangkan aku saja lupa, astaga. Kalau saja Sheren tahu, dia pasti akan sangat kesal." Arya memang sedikit menjadi pelupa sekarang, mungkin karena faktor usia nya yang sudah menginjak kepala lima lebih. 


"Hahaha, tidak apa-apa. Saya sudah mengingatkan anda."


"Tidak perlu formal, Darren. Aku ini calon mertua mu, sekaligus papa mu juga, bukan?"


"Baiklah, pah." 


"Aku tunggu kedatangan mu, Darren." Ucap Arya, Darren langsung menganggukan kepala nya dengan cepat. Dia tidak akan ragu lagi untuk mengikat Sherena di dalam ikatan yang suci. 


Hingga akhirnya, makanan mereka pun sudah sampai dan kedua pria berbeda generasi itu pun langsung menyantap makanan nya dengan lahap. Setelah menyelesaikan makan siang bersama, mereka pun bergegas pergi ke perusahaan masing-masing. 


Darren tersenyum manis, dia melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan senyuman yang terkembang di bibir nya, membuat para karyawan keheranan. Tak biasa nya Darren menebar senyum seperti ini. Bahkan, ada beberapa karyawan yang menyapa nya, dia menjawab nya dengan ramah. 


Benar-benar tidak seperti Darren yang biasa nya mereka lihat. Darren yang ini terlihat sangat jauh berbeda, biasa nya selalu menampilkan wajah datar dimana pun dan kapan pun. Tapi saat ini wajah nya berseri-seri, terlihat jelas kalau suasana hati nya sedang sangat baik saat ini. 


"Eehh, itu Tuan Darren kenapa ya? Keliatan banget suasana hati nya lagi bagus kayaknya."

__ADS_1


"Tapi, Tuan Darren kalo lagi senyum gitu tuh ganteng nya nambah. Sayang aja, dia udah punya pawang. Iya gak sih?"


"Kayak nya sih gitu, soalnya orang kulkas aja bisa cair kalau tentang masalah cinta. Jadi, aku rasa ini pasti ada hubungan nya dengan itu." 


Hal-hal itu di dengar oleh Sarah, dia merasa marah saat mendengar ucapan-ucapan para karyawan yang tengah mengghibahkan tentang perubahan Darren yang terlihat sangat jelas. 


"Kalian itu kesini buat kerja kan? Kenapa malah menggosip? Kerja!" Tegas nya, dia pun melenggang begitu saja dengan membawa botol kecil berisi es jeruk yang dia beli dari kantin. 


Dia tidak peduli meskipun orang-orang yang baru saja dia tegur menatap nya dengan sinis, bahkan secara terang-terangan membicarakan dirinya yang terlalu percaya diri. Tapi, bukankah hidup memang harus selalu percaya diri agar tidak di remehkan? Benar, tapi tidak semua hal harus di hadapi dengan rasa percaya diri yang tinggi. Itulah masalah nya, Sarah adalah wanit yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi. 


"Andy, ke ruangan ku sekarang!" Tegas Darren di telepon, Andy yang baru saja selesai makan siang, langsung pergi ke ruangan Darren begitu pria itu meminta nya. Kalau sudah begini, sudah bisa di pastikan kalau ada hal yang penting. 


"Permisi, tuan."


"Masuk." Pinta Darren, Andy pun masuk lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Darren. Hanya terhalang meja kerja milik pria itu saja. Kedua nya saling berpandangan, hingga Andy bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah Darren hari ini. Lebih tepatnya siang ini, setelah dia berpamitan untuk pergi keluar makan siang bersama seseorang. 


"Andy.."


"Iya saya, Tuan. Ada apa? Apa ada hal yang penting ingin anda sampaikan?" Tanya Andy.


"Kau tahu tempat perhiasan yang bisa membuat cincin dalam waktu singkat?" Tanya Darren, membuat kening Andy berkerut. 


"Cincin? Tapi, untuk apa?" Tanya nya dengan wajah polos nya, Darren menggelengkan kepala nya lalu memijit pelan jarak di antara kedua alis nya. 


"Tunangan, Andy. Aku akan melamar Sherena lusa, jadi aku membutuhkan cincin yang bagus untuk melamar gadis ku." Jelas Darren. 


"H-aahh?" Andy benar-benar terkejut begitu mendengar penjelasan Darren. Melamar? Sesingkat itu hubungan mereka? Hingga Darren bisa meyakinkan hati nya sendiri untuk melamar Sherena menjadi pendamping hidup nya. Sudah bisa di pastikan, kalau Sherena adalah wanita dengan pesona luar biasa yang dia miliki hingga bisa menaklukan pria sedingin Darren.


"Kau terkejut?"


"T-tentu saja, tuan. Saya senang mendengar kalau akhirnya anda akan segera melamar Nona Sherena, Tuan." 


"Ya, terimakasih karena selama ini kau selalu memberi ku nasehat yang baik." Ucap Darren dengan tulus. Andy tersenyum kecil, dia merasa kalau itu sudah tugas nya sebagai asisten pria tampan itu. 


"Sama-sama, Tuan. Itu sudah tugas saya, demi apapun saya merasa bahagia karena anda sudah bisa berdamai dengan masa lalu anda."


"Anda berhak bahagia, Tuan." Andy menyela, tapi Darren tidak marah sedikit pun. Dia malah menganggukan kepala nya dengan senyum manis nya, hingga mata nya menyipit seperti bulan sabit yang indah. 


"Ya, kau benar.."


"Saya ada kenalan yang bisa membuatkan nya, Tuan. Tapi, saya harus menanyakan slot nya terlebih dulu. Saya khawatir kalau dia sibuk." Jelas Andy, Darren mengangguk-anggukan kepala nya mengerti. Ini memang terlalu mendadak, sudah bisa di pastikan akan sedikit kesulitan untuk mencari tukang perhiasan yang bisa membuat cincin custom dalam waktu yang mepet. 


"Ya, aku mengandalkan mu, Andy. Nanti aku kirim desain nya padamu."


"Baik, Tuan. Setelah pulang kerja nanti, saya akan pergi ke toko nya." Jelas Andy. Inilah yang Darren suka dari asisten nya, dia terlalu gerak cepat. Kalau sudah di beri perintah, tanpa nanti-nanti dia langsung melaksanakan nya meskipun Darren mengetahui kalau Andy sangat lelah. 


"Aku akan mentransfer bonus untuk mu nanti, sebagai bentuk apresiasi dari ku atas kerja keras mu, Andy."


"H-aahh? Benarkah, tuan?" Tanya Andy, jujur saja kalau dia tidak menyangka akan mendapatkan bonus bulan ini. Tapi, itulah rezeki bisa datang kapan dan dari mana sayang nya. 


"Iya."


"Wah, terimakasih kalau begitu, Tuan. Saya permisi dulu."


"Ya, terimakasih atas semua kerja keras dan nasehat mu, Andy."


"Sama-sama, Tuan. Sudah tugas saya sebagai asisten anda untuk selalu mengingatkan anda."


"Ingatkan aku kalau aku salah, Andy. Ke depan nya aku akan sering memerlukan bantuan mu untuk hal ini." Jelas Darren sambil terkekeh, begitu pula dengan Andy. Dia tidak keberatan sama sekali kalau Darren meminta nasehat dari nya. 


"Baik, Tuan. Dengan senang hati." Jawab Andy, dia pun membuka pintu dan keluar dari ruangan Darren. 


"Andy.." Baru saja beberapa langkah, sudah ada yang memanggil nya dan syara nya benar-benar tidak asing. Suara siapa lagi memang nya kalau bukan suara si ular betina, alias Sarah. 


Andy berbalik lalu menatap jengah pada sosok wanita dengan dandanan super duper menor, membuat nya cukup muak setelah melihat wajah dan penampilan wanita itu.

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Ngapain dari ruangan Tuan Darren?"


"Ohh itu, tadi beliau minta tolong untuk di buatkan cincin." Jawab Andy, pria itu tersenyum licik. Niat nya memang ingin memanas-manasi wanita itu agar kebakaran jenggot. Dia ingin menunjukkan kalau dia tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan Sherena yang jauh lebih baik, cantik. Pokoknya dia gadis yang luar biasa, jauh berbeda level jika di bandingkan dengan Sarah. 


"Cincin untuk apa?"


"Melamar pacar nya, memang nya untuk apa lagi." Jawab Andy acuh, wajah nya terlihat sangat datar. Padahal dalam hati, dia tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat melihat wajah Sarah yang memucat saat mendengar apa yang dia katakan barusan.


"M-elamar, pacar nya? Hah, yang benar saja. Jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu!" Ucap Sarah, dia menyangka kalau ucapan Andy hanya bercandaan yang sama sekali tidak lucu.


"Apa wajah ku terlihat sedang bercanda?" Tanya Andy, membuat Sarah seketika bungkam. Ternyata benar kalau wajah Andy terlihat sangat serius saat ini. 


"Jadi itu semua benar?"


"Tentu saja, aku beri tahu kalau pacar nya Tuan Darren itu sangat cantik. Berbeda jauh dengan mu, upsss tapi kalian berbeda level." Cibir Andy dengan senyum mengejek nya, membuat Sarah mengepalkan kedua tangan nya karena kesal dengan ucapan Andy. 


"Heh, jaga mulut mu ya!"


"Memang nya kenapa aku harus menjaga mulut ku? Bukankah itu tidak menyinggung mu sama sekali? Karena itu benar adanya." Jawab Andy, dia pun berbalik dan pergi meninggalkan Sarah yang masih membeku di tempat. 


"Darren akan melamar pacar nya? Lalu, bagaimana dengan aku yang terlanjur mencintai mu? Aku terlalu berharap hingga membuat aku kecewa." Gumam Sarah sambil menundukkan kepala nya. Dia pun berjalan pelan dan kembali masuk ke dalam ruangan nya. Meskipun tidak akan pernah bisa fokus, tapi dia akan tetap berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja. 


Di sekolah, Sherena sedang berkumpul dengan teman-teman nya yang biasa di sebut trio wekwek itu. Dia sedang bersama Arina di perpustakaan untuk mencari buku, begitu juga dengan April dan Meysa. 


"Ketemu belum?" Tanya April. 


"Belum, kok susah ya? Dimana sih itu buku nya." 


"Mana aku tahu, ayo cari lagi. Cepetan keburu bel berbunyi." Ucap Arina. Karena terburu-buru, dia pun tidak sengaja menabrak seseorang. 


"E-eehh, maaf.."


"Arin.." Ucap seorang pria, suara nya terdengar sangat seksii di telinga Arin.


"Marvin.."


"Iya, ini aku. Ada apa? Kenapa kalian terlihat terburu-buru?" Tanya Marvin. Sejak cinta nya di tolak oleh Sherena, dia menjadi lebih sering berada di perpustakaan. Dia juga berubah total, dari yang biasa nya dia tukang bolos, sekarang tidak lagi. 


"Kami mencari buku, tapi tidak ada." 


"Hmm, buku apa? Mungkin aku bisa membantu." 


Arina pun menyebutkan judul buku yang sedang mereka cari untuk materi pembelajaran di sekolah hari ini. 


"Disini.." Arina pun mengekor di belakang Marvin, dia menunjukkan buku itu membuat Arina tersenyum kesenangan.


"Aaaa makasih ya, Vin. Udah kesana kemari nyariin ini buku, ternyata disini tohh. Ini buku kalau ular, udah matok dari tadi." Celetuk Arin sambil terkekeh. Dia pun mengambil empat buku, sekalian untuk teman-teman nya juga.


"Makasih ya, Vin. Kalau gitu aku ke kelas duluan sama yang lain."


"Hmmm, sama-sama." Jawab Marvin. Dia pun membiarkan gadis itu pergi. Di ikuti oleh ketiga teman nya yang sudah menunjukkan senyum aneh mereka. Terlihat jelas kalau mereka mau menggoda Arina karena dia tak sengaja menabrak Marvin dan ujung-ujungnya di bantuin nyari buku.


"Ehem.." Awalnya, Meysa yang berdehem. Lalu di susul oleh Arina dan Sherena.


"Ehem.. ehem.." Tapi Arina bertindak seolah tidak peduli, dia pun tetap berjalan lurus ke depan dengan langkah tenang nya. Seolah tidak peduli dengan deheman yang di lakukan oleh teman-temannya. Jelas saja, itu membuat ketiga nya kesal setengah mati.


"Ehem.. eheemm.." Kali ini ketiga nya kompak berdehem, membuat Arina menoleh dengan wajah heran nya.


"Kalian kenapa?" Tanya Arina dengan wajah polos nya, membuat ketiga nya lagi-lagi menghembuskan nafas dengan kasar. Susah kalau sudah berhubungan dengan gadis yang polos, wkwk.


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2