Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 31 - Perubahan Sherena


__ADS_3

Di kantor, Darren sedang berkutat dengan pekerjaan nya. Dia fokus dengan laptop yang menyala di atas meja, sesekali terlihat dia mengernyitkan kening di saat laporan yang ada file dan map berbeda, memang hanya sedikit. Kalau tidak jeli, pasti takkan ada yang menyadari nya. 


"Berkurang tiga persen, kenapa laporan nya bisa berbeda?" Gumam Darren, dia pun mengecek kembali data yang di berikan oleh manager keuangan. Tetap saja, ada pengurangan. 


Tak lama kemudian, Sarah selaku sekretaris nya masuk ke dalam ruangan Darren tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Wanita itu berjalan berlenggak-lenggok dengan gaya genit nya yang membuat Darren berdecak kesal. Dia sedang pusing, malah di hadapkan dengan hal semacam ini, membuat otak nya panas saja.


"Tuan.."


"Hmm.."


"Ini laporan dari manager keuangan yang sudah di revisi." Ucap Sarah sambil meletakkan map berwarna biru di atas meja. 


"Revisi?"


"Iya, Tuan. Sebelum nya, ada kesalahan pengetikan di map yang kemarin saya berikan." Jawab Sarah, membuat kening Darren berkerut. Rasanya tidak masuk akal bukan?


"Apa tidak memeriksa dua kali sebelum memberikan hasil laporan pada atasan?"


"Untuk itu, saya kurang tahu, Tuan. Tapi tadi, manager keuangan menitipkan ini pada saya." Jelas Sarah, membuat Darren semakin yakin kalau ada kecurangan disini. Bau-bau penghianat memang menguar jelas sejak manager keuangan di gantikan, karena manager keuangan yang sebelum nya, terpaksa harus resign karena sedang hamil.


"Hmmm, baiklah. Terimakasih."


"Sama-sama, Tuan." Jawab Sarah, wanita itu tersenyum menggoda. Padahal Darren merasa sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan, lantas kenapa wanita ini masih berada di ruangan nya?


"Kenapa masih disini?"


"Saya lihat, anda kelelahan Tuan. Butuh servis?" Tawar Sarah dengan gaya manja nya, membuat Darren menghembuskan nafas nya dengan kasar. 


"Kau sedang butuh uang, Sarah?"


"Iya, Tuan. Buat beli susu anak saya." Jawab Sarah lirih. 


"Kemana suami mu?"


"Saya belum bersuami." Jawab Sarah membuat Darren terhenyak. 


"Jadi?"


"Benar, tuan. Saya hamil di luar nikah, karena kekasih saya tidak mau bertanggung jawab." Jelas wanita itu tanpa raut kesedihan sedikit pun. Meskipun binaal, tapi Sarah adalah wanita yang cukup kuat dan tegar menghadapi keras nya hidup. 


Darren menarik laci di meja kebesaran nya dan mengambil beberapa lembar uang lalu memberikan nya pada Sarah.


"Ambil ini, aku rasa uang ini akan cukup untuk membeli susu anak mu untuk dua atau tiga bulan kedepan, Sarah."


"T-api, biasa nya anda akan memberi saya uang kalau saya melakukan servis." Ucap Sarah.


"Tidak perlu, sekarang aku tak butuh servis mu lagi." Jawab Darren yang entah kenapa malah membuat hati Sarah panas. Panas karena apa? Jelas, dia cemburu.


"Maksudnya, Tuan?"


"Aku sudah punya kekasih dan aku tak mau membuat dia kecewa, kau paham kan? Jadi, sebaiknya kau pergi sekarang dan ganti pakaian mu." Ucap Darren tanpa menatap ke arah Sarah. Dia fokus dengan laptop nya, mengecek kembali data yang di berikan oleh manager keuangan yang baru. 


Sarah keluar dari ruangan Darren dengan membawa hati yang panas terbakar, apa katanya? Pria pujaan nya itu sudah mempunyai kekasih? Lalu, selama ini mereka apa? Sarah terlanjur membawa perasaan dalam hubungan itu, padahal Darren tidak menganggap nya istimewa. Dia hanya butuh pelampiasan dan Sarah butuh uang. Itu seperti hubungan simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan, harus nya itu cukup bukan?


"Tidak, tuan Darren harus jadi milikku. Dia tidak boleh bersama siapapun kecuali aku!" Gumam Sarah, wanita itu mengepalkan kedua tangan nya dengan marah, lalu masuk ke dalam ruangan nya sendiri. 


Siang hari nya, akhirnya setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan nya, Darren bisa beristirahat sejenak untuk menikmati makan siang. Pria itu merenggangkan otot nya yang terasa pegal, Darren beranjak dari duduknya lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi sang kekasih.

__ADS_1


Butuh beberapa saat untuk gadis itu mengangkat telepon nya. Hingga akhirnya di angkat oleh Sherena.


'Hallo, sayang..' Sapa suara lembut mendayu milik Sherena, membuat hati Darren merasa tenang seketika.


"Lagi ngapain, sayang?"


'Makan siang di kantin sama temen-temen, sayang udah makan siang belum?' Tanya Sherena.


"Belum, masih nungguin yang ngirim makanan nya." 


'Ohh, bagus deh. Jangan sampai telat makan ya. Pekerjaan bisa di kerjakan nanti.' nasehat Sherena yang membuat Darren tersenyum manis. Senang? Tentu saja, dia sangat senang karena merasa di perhatikan oleh kekasih nya. 


"Iya iya, sayangku. Cerewet sekali pacar ku ini."


'Soalnya, sayang tuh suka lupa waktu kalo udah kerja. Jadi aku ingetin, aku cerewet kan karena aku sayang.' Jawab Sherena membuat Darren terkekeh pelan.


"Baiklah, sayang. Kalau begitu, sampai jumpa nanti sore."


'Iya, sayang. Jangan kemaleman pulang nya ya.' 


"Oke, di lanjut lagi makan nya ya." Ucap Darren, Sherena mengiyakan. Panggilan pun berakhir, Darren tersenyum sambil menatap ponsel yang sudah mati.


Sherena benar-benar membuat hari-hari Darren lebih berwarna, dia senang karena hari itu dia di kejar-kejar oleh gadis itu. Awalnya, dia merasa risih karena gadis itu terus saja meneror nya dengan pesan dan juga tingkah nya yang menurut nya nyeleneh. Tapi sekarang, semua yang berhubungan dengan Sherena, Darren menyukai nya. 


Di sekolah, keadaan Sherena juga tak berbeda jauh dengan Darren. Dia tersenyum sambil menatap ponsel nya yang padahal sudah lama mati. 


"Udah, gak usah di liatin mulu." Ucap Meysa sambil terkekeh.


"Iya, mentang-mentang habis telponan sama ayang, jadi senyam-senyum begitu. Tingkah Lo gemesin banget, njir." Ucap April sambil mencubit gemas pipi Sherena.


"Elahh, sakit Pril." 


"Maklum lah, dia sedang ada di tahap bucin. Si om duren sawit juga udah mulai bucin itu, sampe nelepon segala."


"Iya, tumben. Padahal, paling juga ngirim pesan doang. Tapi sekarang dia nelpon." Ucap Sherena sambil tersenyum kecil, dia meletakan ponsel nya di meja dan kembali fokus dengan makanan nya.


"Dia pasti lagi capek, Sher. Makanya nelpon Lo biar capek nya berkurang." Ucap Arina, membuat Sherena mengernyit.


"Memang nya apa hubungan nya? Emang telponan bisa bikin capek hilang ya?" Tanya Sherena dengan wajah bodooh nya. Membuat teman-teman nya kompak menepuk kening mereka karena heran dengan sahabat mereka yang kurang peka jadi perempuan.


"Gini, kalo kita lagi capek gitu ya. Terus kita bicara sama orang yang di cintai gitu, biasa nya capek nya hilang."


"Ohh, iya sih gue juga gitu soalnya. Pasti langsung semangat lagi." Ucap Sherena.


"Nah itu Lo aja ngerasain, berarti sama aja sama Darren. Dia juga pasti begitu, makanya dia nelpon."


"Hmm, iya. Pasti dia lagi capek sama pekerjaan nya, kerja di kantor pasti capek banget." Gumam Sherena sambil menunduk. Dia benar-benar tak menyangka kalau Darren sedang kelelahan saat ini.


"Sudahlah, ayo makan. Terus nanti kalian harus have fun ya, kan mau belanja bareng."


"Cieee, sekalian belajar ya jadi istri yang baik nanti." Celetuk Meysa sambil terkekeh.


"Issshh, apaan sih. Aku kan jadi malu, hehe." Wajah Sherena memerah begitu mendengar ucapan Meysa. Istri yang baik? Itu adalah keinginan yang harus dia penuhi kelak. 


"Wajah nya merona dong.." Arina mencolek-colek pipi Sherena yang benar-benar memerah seperti buah tomat.


"Udah-udah, jangan godain Sheren terus. Nanti wajah nya meledak." Celetuk April yang membuat Sherena menggeplak pelan lengan sahabatnya. Keempatnya pun tertawa bersama. Gadis itu merasa senang karena berada di lingkungan yang baik, mereka langsung bisa akrab padahal Sheren belum ada satu bulan pindah ke sekolah ini.

__ADS_1


Setelah selesai makan, ke empat nya pun kembali ke kelas. Sherena satu bangku dengan Arina, sedangkan Meysa bersama April. Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Guru yang akan mengajar masuk dengan wajah datar nya, dia membawa banyak buku di tangan nya. 


Singkatnya, sore hari pun tiba. Sherena pulang di antarkan oleh April hari ini, gadis itu dengan senang hati mengantarkan Sherena pulang, karena rumah mereka searah hanya berbeda blok perumahan saja. 


"Makasih ya, Pril."


"Sama-sama, bestie. Kalo gitu, gue pulang dulu ya."


"Oke, hati-hati di jalan nya." April mengangguk, dia membunyikan klakson motor nya dan pergi. Sherena juga langsung masuk ke rumah nya, dia masih belum melihat mobil milik Darren di garasi rumah pria itu. Artinya, dia belum pulang kan?


'Tumben, jam segini dia belum pulang. Apa sebegitu sibuk nya ya?' Batin Sherena.


"Sudah pulang, sayang." Sapa Arumi di ambang pintu, sudah biasa kalau dia selalu menyambut kedatangan putri nya di ambang pintu. 


"Heem, capek banget deh."


"Sabar, kamu masih sekolah, belum kerja." Jawab Arumi sambil mengusap lembut puncak rambut sang putri. 


"Iya, Ma."


"Ya sudah, ayo masuk. Mandi, terus makan ya?" 


"Oke, Ma. Ohh ya, nanti Sheren mau pergi sama Om Darren, Ma."


"Kemana?" Tanya Arumi. 


"Mau nganterin belanja bulanan katanya, soalnya di rumah nya udah gak ada apa-apa, katanya sih sekalian belajar, hehe." Jawab Sherena, membuat Arumi tersenyum kecil. Ada-ada saja putri gadis nya ini.


"Iya, sekalian Mama nitip ya? Di rumah habis minyak. Tapi kalo belanja bulanan, yang lain nya masih banyak." 


"Oke, Ma. Kalo gitu, Sheren mau mandi dulu aja." 


"Iya, sayang." Sherena pun langsung naik ke kamar nya. Arumi yang melihat itu lagi-lagi menyunggingkan senyuman manis nya. Dia senang karena putri nya benar-benar berubah setelah dia menyukai pria dewasa tetangga rumah nya. 


"Seperti nya, Darren membawa dampak positif bagi Sherena." Gumam Arumi sambil tersenyum kecil.


Sherena membuka ponsel nya, dia mengirimkan pesan pada Darren, apakah ajakan nya untuk berbelanja bulanan jadi hari ini atau tidak?


"Sayang, dimana? Kita jadi kan belanja bulanan nya?" Isi pesan yang di kirim oleh Sherena pada Darren. Ceklis dua berwarna biru, tapi beberapa detik kemudian Darren membalas nya dengan panggilan telpon.


'Hallo, sayang.." Ucap Darren dengan nafas nya yang tersengal.


"Iya, masih dimana?" Tanya Sherena sambil tersenyum. Dia sedang berdiri di balkon saat ini. 


'Ini sudah di rumah, sayang. Baru saja sampai.' 


"H-aahh, seriusan? Tapi kok aku gak lihat ada mobil kamu ya di garasi."


'Kan aku sudah bilang, aku baru saja sampai, sayang.' Jawab Darren membuat Sherena terkekeh.


"Kita jadi belanja bulanan nya?"


'Jadi dong, sekalian kita makan di luar ya?' ajak Darren.


"Oke, aku mandi dulu kalo gitu."


'Iya, sayang.' Jawab Darren. Pria itu pun mengakhiri panggilan nya. Sherena tersenyum lalu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dari keringat yang membuat tubuh nya lengket.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2