
"Sayang.." Panggil Arina, dia menepuk-nepuk pelan kepala sang kekasih yang tertelungkup di samping nya. Dia senang, karena saat dia siuman yang pertama dia lihat adalah pemuda yang paling dia cintai, Marvin.
Marvin mendongakan kepala nya, lalu tersenyum. Namun, bukan nya memeluk Arina yang sudah merentangkan kedua tangan nya menyambut kekasih nya ke dalam pelukan nya, tapi Marvin malah berlari ke kamar mandi. Entah untuk apa, Arina sendiri di buat keheranan oleh tingkah sang kekasih.
"Dia gak meluk aku, malah lari? Kenapa ya?" Gumam Arina. Tapi tak lama kemudian, Marvin keluar dari kamar mandi dan sekarang dia langsung memeluk nya. Pemuda itu memeluk nya dengan erat, dia juga mengecupi seluruh wajah cantik Arina bertubi-tubi, membuat Arina terkekeh.
"Sayang, bagaimana keadaan mu sekarang?"
"Baik, hanya sedikit pusing saja tapi bukan masalah." Jawab Arina lirih. Dia tersenyum saat melihat raut wajah penuh ke khawatiran yang di perlihatkan oleh sang kekasih.
"Syukurlah, aku sangat khawatir sekali dengan keadaan mu, sayang. Maafkan aku.."
"Maaf, untuk apa?" Tanya Arina dengan kening mengernyit heran.
"Maaf karena sudah membuat baby di perut mu."
"Aaahh, rupanya kamu sudah tahu ya?" Tanya Arina lirih, saking lirih nya bahkan nyaris tak terdengar. Namun, telinga Marvin sangat tajam hingga dia bisa mendengar suara sang kekasih dengan jelas.
"H-aahh?"
"Maaf, aku menyembunyikan nya dari mu, sayang."
"Tunggu.." Marvin menatap wajah Arina yang masih terlihat pucat karena dia baru saja siuman.
"Jadi kamu sudah mengetahui nya?" Tanya Marvin. Arina menganggukan kepala nya, ya dia sudah mengetahui kehamilan nya dari seminggu yang lalu.
"Iya, sayang. Maaf.."
__ADS_1
"Sejak kapan kamu mengetahui nya, sayang?" Tanya Marvin dengan lembut, tanpa kekerasan sedikit pun.
"Dua hari setelah kejadian hari itu, sayang."
"H-aahh?"
"Maaf, aku menyembunyikan nya karena aku tak mau menambahi pikiran kamu, sayang. Sekali lagi, aku minta maaf.."
"Kamu tahu, sayang? Aku sangat khawatir dengan keadaan ini. Kenapa kamu tidak memberitahu semua ini dari ku dan malah menyembunyikan nya? Aku ini ayah dari anak yang sedang kamu kandung bukan?"
"Iya, aku tidak pernah melakukan hal itu selain dengan mu."
"Lalu kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu egois, kalau saja hari ini kamu tidak pingsan lalu aku bawa kesini, pasti aku takkan tahu kalau kamu sedang hamil, Arin!"
"Maaf, sayang. Aku memang bersalah dan kamu berhak marah, maaf. Tapi tujuan ku hanya tidak ingin membuat mu kepikiran." Lirih Arina, dia menatap wajah tampan Marvin yang terlihat memerah mungkin karena menahan kemarahan nya. Arina menatap pemuda itu dengan tatapan sendu nya, kedua mata nya berkaca-kaca dan akhirnya air mata nya luruh membasahi pipi nya.
Melihat hal itu, amarah Marvin seketika menguap entah kemana begitu mendengar sang kekasih menangis. Dia paling tidak tega melihat wanita menangis apalagi itu adalah gadis yang paling dia cintai. Dia sedang memperjuangkan gadis ini tapi kenapa dia malah membuat nya menangis, bukan kah itu sama saja dengan dia menyakiti nya?
"Maaf.." Lirih Marvin sambil meraih sang kekasih ke dalam pelukan nya. Lalu mengusap-usap rambut dan punggung Arina dengan penuh kelembutan. Dia juga mengecupi puncak kepala sang kekasih dengan mesra.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan kehadiran nya, maaf.."
"Iya, tidak apa-apa. Jangan menangis lagi, sayang. Aku yang minta maaf.." Ucap Marvin.
'Pria macam apa aku ini? Aku mencintai nya, aku juga memperjuangkan nya, tapi kenapa aku malah membuat nya menangis? Itu sama saja aku adalah pria brengseek bukan?' Batin Marvin, dia semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh ringkih Arina.
Satu hal yang tak di sadari oleh Marvin, tubuh Arina semakin kurus. Sejak awal, tubuh Arin memang sudah kecil tapi bukan kurus. Tapi sekarang, tubuh nya benar-benar kurus karena dia tidak menjaga pola makan nya, dia tidak mood makan karena merindukan Marvin. Dia juga mengalami morning sickness parah yang membuat tubuh nya benar-benar lemas.
__ADS_1
Selama mereka berpisah dan tidak bertemu hampir dua Minggu lama nya, Arina tidak pernah keluar rumah. Dia mengurung diri di kontrakan nya, dia juga menutup komunikasi dengan teman-teman nya untuk menenangkan diri. Tapi hal itu malah membuat ketiga teman nya khawatir, barulah beberapa hari saat April akan melaksanakan pernikahan nya, Arina membuka ponsel dan membalas semua pesan dari teman nya.
Mereka benar-benar mengkhawatirkan nya hingga menanyakan kabar nya terus menerus, tapi Arina tidak mau membuat teman-teman nya kepikiran terutama April yang akan menikah. Jadi nya, dia hanya menjawab kalau dia baik-baik saja meskipun teman-teman nya itu peka dan menyadari kalau dia tengah menyembunyikan sesuatu dan mereka mempertanyakan wajah nya yang selalu terlihat pucat pasi.
"Aku akan memperjuangkan mu, sayang. Itu janji ku dan pegang kata-kata ku."
"Tapi, bagaimana dengan wanita itu?"
"Hey, kamu percaya kalau dia tengah mengandung anak ku, sayang?"
"Tapi orang tua mu begitu yakin dengan hal itu, sayang." Lirih Arina sambil menundukan kepala nya. Marvin menarik dagu Arina hingga membuat wajah gadis itu terdongak menatap nya.
"Kamu hanya perlu percaya padaku, sayang. Kamu harus percaya padaku, oke?" Tanya Marvin sambil membingkai wajah cantik Arina dan mengusap pelan bekas-bekas air mata di mata Arina yang terlihat sedikit sembab.
"Baiklah, aku percaya padamu, sayang."
"Good girl, aku akan menunjukkan kalau anak yang di kandung wanita itu bukan anak ku. Anak ku, hanya ini. Janin yang tumbuh di rahim mu, sayang." Ucap Marvin lalu mengusap perut Arina yang masih rata.
Kedua nya pun saling memeluk dengan mesra, menyalurkan rasa rindu yang membuncah di dada. Mereka baru saja bertemu kemarin dan belum sempat melepas rindu karena mereka bertemu di pesta pernikahan April. Tapi sekarang mereka malah terjebak di rumah sakit karena kejadian hari itu, benar-benar tidak terduga.
Tanpa kedua nya sadari, semua itu di saksikan oleh sepasang mata yang menatap mereka dengan sendu.
"Mereka saling mencintai.." Lirih nya.
"Ya, mereka saling mencintai satu sama lain. Lalu, apa kau yakin ingin memisahkan sepasang insan yang saling mencintai?"
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻