Mengejar Cinta Om Duda Keren

Mengejar Cinta Om Duda Keren
Bab 42 - Siaga Satu


__ADS_3

"Yang.." Panggil Sherena, Darren menatap gadis nya, lalu keduanya pun kompak tertawa. Menertawakan apa? Menertawakan diri sendiri tentu nya, mereka tertawa saat melihat ekspresi tegang saat Arumi datang tadi. 


Sebenarnya, saat Arumi datang tadi. Saat tatapan mereka bertemu, Darren ingin tertawa saat melihat ekspresi wajah Sherena. Begitu juga sebaliknya, Sheren tak tahan ingin tertawa melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Darren. Kedua nya sama-sama tegang dengan wajah yang memucat. 


"Hahaha.." 


"Wajah kamu keliatan lucu tadi, Yang." Ucap Darren.


"Ya sama, kamu juga. Pucat banget, pengen ngakak liat reaksi kamu, tapi tadi masih ada Mama." Jawab Sherena. Kedua nya pun tertawa bersama. Sherena menarik tangan Darren untuk duduk di samping nya. Sherena merebahkan kepala nya di pangkuan Darren, gini nih kalo udah deketan sama pacar, apalagi pacar nya seganteng Darren. Bawaan nya pengen manja-manjaan terus kayak gini. 


"Manja nya gadis ku.." Ucap Darren, pria itu mengusap lembut kepala Sherena dengan penuh kasih sayang. Pria itu tersenyum manis, ternyata semenggemaskan ini kalau sedang mode manja. 


"Kamu juga manja." Jawab Sherena sambil terkekeh. 


"Sayang, boleh ya?"


"Apa? Unboxing? Ayoo, tapi kamu kan lagi datang bulan." 


"Isshh, ayang apaan sih? Pikiran kamu terlalu jauh tau gak!"


"Ya terus apaan yang boleh? Kalo ngomong jangan di potong-potong gini, sayang. Lagian nanya nya ambigu banget deh." Ucap Darren sambil terkekeh. 


"Pengen tiduran sambil peluk perut kamu, boleh gak?" Tanya Sherena membuat Darren tergelak. Dia sudah berpikiran terlalu jauh, padahal gak mungkin juga kalau Sheren mau di unboxing sekarang, karena dia sedang menstruasi hari pertama juga.


"Boleh, sayang. Apapun buat kamu." Jawab Darren, Sherena langsung tersenyum manis, dia pun mengangkat kemeja yang dia kenakan ke atas, lalu membiarkan Sherena menciumi perut nya. 


"Wangi.." 


"Apa nya?" Tanya Darren, Sherena mendongak. Dia menatap wajah tampan sang kekasih. 


"Tubuh kamu, semua nya apa yang ada di tubuh kamu wangi, sayang." Jawab Sherena sambil tersenyum.


"Bener nih? Perasaan aku belum mandi, hehe." 


"H-ahh yang bener?" Tanya Sherena, Darren nyengir. Dia belum mandi, tadi setelah pulang kerja dia hanya mengganti pakaian nya sedari tadi dia pakai dengan kaos santai. Dia mengganti pakaian nya saja, awalnya dia ingin langsung mandi. Tapi dia malah mengingat gadis nya, Sherena. Tadi dia kebelet dan pulang dengan terburu-buru, jadi dia merasa khawatir kalau sampai sesuatu yang terjadi pada Sherena. Apalagi saat tadi di kantor, dia memakan bakso pedas. 


Tapi, ternyata itu bukan mules karena makan pedas, tapi ternyata mules karena dia kedatangan bulan hari pertama. Dulu, baginya itu hanya mitos. Mana ada datang bulan sakit perut, terus doyan marah-marah gitu. Tapi sekarang, dia merasakan nya sendiri. Sherena sampai berkeringat dingin saking sakit nya, tapi bukan nya marah-marah, dia kok malah mode manja padanya. Syukurlah, jadi dia tidak perlu repot-repot membujuk Sherena kalau sedang dalam mode merajuk. 


"Hehe, iya. Aku belum mandi, cuma ganti baju aja." Jawab Darren sambil cengengesan.


"Tapi kok bisa badan kamu wangi gini sih? Pake parfum ya, di parfum nya kamu pakein pelet apa gimana?" Tanya Sherena sambil terkekeh.


"Mana ada, aku gak pernah pake begituan. Kamu nya aja yang langsung kepincut sama aku." 


"Iya juga sih, aku yang duluan naksir." Jawab Sherena. Dia tertawa sambil mencubit-cubit pelan perut roti sobek milik Darren juga menciumi nya. Tubuh Darren memang wangi membuat nya candu, dia sangat menyukai aroma tubuh Darren, membuat nya tak pernah bosan untuk menghirup aroma nya.


"Aahhss, geli sayang.."


"Dari mana ayang punya roti sobek?" Tanya Sherena sambil mendongak, bibir nya memang berhenti mengecup perut Darren, tapi kini tangan nya yang mengusap lembut perut dengan roti sobek pria itu. 


"Aku doyan olahraga, sayang."


"Beneran? Wah, aku juga mau olahraga biar punya abs juga kayak kamu."

__ADS_1


"H-aahh, gak usah. Nanti kamu di liatin sama cowok-cowok genit di gym, mending di rumah aja. Lagian ini tubuh kamu udah bagus, dada kamu besar, yang belakang juga padet. Bagus." Puji Darren yang membuat Sherena mendengkus. Sudah pasti Darren akan memuji aset-aset nya. 


"Dihh, mesuum.."


"Cuma ada yang kurang sih, yang."


"Apa?" Tanya Sherena.


"Aku belum nyobain yang itu tuh, jadi rasa nya belum sempurna, hehe."


"Itu apaan? Yang mana?" Tanya Sherena dengan polos nya. Darren menunjuk ke area bawah Sherena, tapi gadis itu tidak peka sama sekali.


"Yang sekarang lagi pendarahan." Jawab Darren membuat Sherena melotot. 


"Maksud kamu yang ini?" Tanya Sherena, seketika dia memegangi bagian bawah nya, tepatnya area inti nya. 


"Iya, hehe."


"Gak boleh, nanti aja kalo aku udah lulus." Jawab Sherena sedikit ketus. 


"Janji setelah habis kelulusan ya kan?" Tanya Darren, membuat wajah Sherena memucat seketika. Dia benar-benar takut untuk di unboxing, tapi ya cepat atau lambat dia juga akan tetap di unboxing. 


"Aku gak janji, tapi lihat aja nanti ya?"


"Yaudah deh." Jawab Darren dengan lesu, Sherena yang melihat hal itu tertawa lepas. 


"Udah, gak usah lemes itu. Jangan kayak gitu dong, kan aku masih beberapa bulan lagi buat lulus, sayang. Sabar aja dulu ya?"


"Hmm, iya iya.." Jawab Darren, Sherena tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatan nya. Dia bahkan memberikan beberapa tanda kemerahan di perut rata itu, sebagai bentuk kepemilikan. 


"Iya iya, aku inget kalau aku punya kamu."


"Kamu harus jaga jarak sama sekretaris kamu yang genit itu, ngeselin tau gak? Kamu kok bisa sih punya sekretaris secentil itu? Kegatelan, kayak minum teh pucuk sama uletnya sekalian." Celoteh Sherena, entahlah begitu mengingat wanita bernama Sarah itu dia merasa kesal sendiri. 


"Haha, jadi cerita nya kamu cemburu nih?" Tanya Darren.


"Jelas lah aku cemburu, kamu kan pacar aku." Jawab Sherena ketus. Darren terkekeh, lalu mengacak pelan rambut gadis itu. 


"Ya, dia memang agak genit sih tapi kerjaan nya selalu beres, rapih juga."


"Bukan agak genit lagi, tapi sudah genit parah itu mah." 


"Terus, kamu maunya aku kayak gimana, sayang? Aku pecat dia?" Tawar Darren membuat Sherena mendelik. Bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin Darren menjaga jarak dengan wanita ulat bulu itu, hanya itu saja. Kalau dia mengatakan ingin Darren memecat nya, sama saja dengan dia mematikan usaha orang lain kan? Dia tidak boleh egois, apalagi kata nya wanita itu punya anak yang harus dia biayai.


"Gak usah, aku gak mau egois. Hanya karena aku kurang menyukai nya, bukan artinya kamu harus memecat nya, sayang."


"Lalu, kamu mau nya aku harus kayak gimana, sayang?" Tanya Darren lagi dengan perlahan. Menghadapi gadis yang tengah dalam pengaruh cemburu itu harus pelan-pelan agar tidak membuatnya semakin kesal. 


"Jaga jarak aja sama dia, yang." 


"Baiklah, sayang."


"Kamu nya juga gak usah nakal, apalagi lirik-lirik ke arah buah dada nya yang suka di pamer-pamer itu. Mentang-mentang gede, sampe di pamerin gitu. Apa kagak malu ya itu? Aset pribadi di lihat orang sekantor."

__ADS_1


"Haha, sayang.. astaga kamu ini kalo ngomong." Darren tergelak mendengar ucapan Sherena yang frontal dan apa adanya. Memang sih ya, Darren juga sudah memperingatkan wanita itu berkali-kali, tapi dia tak kunjung kapok juga. 


Dia juga mulai merasa risih saat wanita itu datang ke ruangan nya, dengan langkah yang di buat-buat, membuat nya muak. Apalagi cara berpakaian nya yang jauh dari kata sopan, tapi kenapa dia baru ngeuh sekarang? Padahal dulu dia tidak mempermasalahkan penampilan Sarah. Dia terkesan acuh dan tidak peduli sama sekali meskipun wanita itu telanjaang sekali pun. Tapi ya itu kalo dia berani ya, Darren yakin sih kalau sampai seperti itu Sarah takkan berani melakukan nya.


Tapi, sekarang dia benar-benar merasa risih begitu melihat cara wanita itu berpakaian. Apalagi dandanan nya yang menor seperti ibu-ibu hebring mau acara pamer aset dengan kedok arisan, bukan ke kantor.


Balik lagi ke topik, kenapa Darren baru menyadari nya sekarang? Ya, dia baru menyadari hal itu karena saat ini ada hati dan perasaan yang harus dia jaga, yakni perasaan Sherena. 


"Kenapa? Lagian yang aku omongin kan bener, yang? Gak ada salah nya kalo jujur, sayang."


"Iya, tapi jujur mu itu terlalu jujur." Jawab Darren.


"Hmmm, jangan terlalu peduli dengan perasaan orang lain, sayang. Belum tentu dia juga memikirkan perasaan kita kan? Jadi, jangan terlalu menghargai orang lain apalagi orang nya kayak setan." Sherena mengatakan hal itu dengan menggebu, seperti nya dia punya dendam pribadi. Tapi apa?


"Kamu ada masalah sama Sarah, sayang?" Tanya Darren.


"Gak ada, kok. Tapi aku gak tahu kalo dia yang punya masalah sama aku, soalnya dia keliatan ketus banget sama aku." Jawab Sherena sambil tersenyum. Darren mengusap kepala gadis nya, bisa-bisa nya dia masih bisa tersenyum disaat dia tahu ada orang yang ingin menjahati nya. 


"Gapapa, kalau dia macam-macam sama kamu, bilang aku ya? Biar aku yang bertindak." Jawab Darren. Sherena mengangguk patuh, membuat Darren lagi-lagi tersenyum. Dia senang karena Sherena adalah gadis yang penurut, Darren menyukai gadis yang penurut dan Sherena adalah orang nya.


"Sayang, aku pulang dulu ya? Udah malem banget ini."


"Hmm, aku pengen deh bobo berdua sama kamu, yang." Ucap Sherena tiba-tiba.


"Udah, gak usah mancing-mancing ya? Kamu gak mau aku unboxing dalam waktu dekat ini kan, sayang?"


"Hehe, iya sih."


"Yaudah, jangan mancing. Aku pria dewasa yang punya nafssu, aku gak selama nya bisa menahan nafssu aku, sayang." Jelas Darren sambil mengusap lembut kepala Sherena. Gadis itu mengangguk mengerti. 


"Hati-hati ya, besok aku sekolah nya di anter kamu lagi ya?"


"Iya, sayang. Aku pulang dulu ya? Kamu minum teh jahe nya, terus tidur. Jangan begadang, okey?" Peringat Darren, lagi-lagi sherena mengangguk patuh akan perintah sang pria. Darren gemas lalu mencium bibir Sherena dengan mesra, dia memaguut dan melumaat bibir Sherena dengan nikmat nya. Gadis itu juga membalas perlakuan Darren, dia juga bisa mengimbangi permainan bibir Darren, karena sudah terbiasa mungkin. 


"Aku pulang dulu ya?" 


Sherena mengangguk, lalu dengan berat hati dia menganggukan kepala nya. Darren tersenyum kecil, lalu melambaikan tangan nya ke arah Sherena. Gadis itu juga membalas nya. 


Dengan cepat, Sherena berlari ke balkon. Dia ingin melihat Darren dari luar. 


"Sayang.." Panggil Sherena, Jayden menoleh ke arah kamar Sherena lalu melambaikan tangan nya. 


"Masuk, jangan disitu malem-malem. Nanti masuk angin, sayang." 


"Iya, aku mau lihat ayang dulu." Jawab Sherena, Darren hanya menggelengkan kepala nya. Dia tak bisa mengatur Sherena, karena gadis itu juga punya keinginan sendiri. 


Setelah memastikan Darren masuk ke rumah nya, dia pun ikut masuk ke kamar. Kenapa dia ingin memastikan Darren masuk ke dalam rumah nya, ya karena di perumahan sini ada janda baru. Maksud nya janda baru, dia baru pindah ke perumahan ini. Gak tahu, apa dia sudah lama menjanda apa belum. 


Meskipun sepertinya Darren belum mengetahui dan tidak peduli, tapi tetap saja Sherena menganggap wanita itu sebagai saingan, padahal Sherena sudah mendapatkan hati seorang Darren bukan? Tapi tetap saja, rasa takut itu tetap ada. Lagipun, mempunyai kekasih seperti Darren harus membuat Sherena selalu siaga. Karena bisa saja Darren di rebut oleh wanita girang seperti tante-tante atau ulet keket seperti Sarah.


Wanita-wanita semacam itulah yang harus Sheren waspadai, karena bisa saja mereka nekat merebut apa yang bukan milik mereka. Intinya, jangan sampai Darren di rebut wanita lain. Enak saja, dia sudah bersusah payah untuk bisa merebut perhatian seorang Darren, setelah mendapatkan nya, dia malah di rebut wanita lain? Ckkk, jangan harap Sherena akan diam saja berpangku tangan. Saat ini, Sherena sedang berada di dalam mode siaga satu pokoknya.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2