
Silvi dan keluarga telah sampai dirumah, saat ini kondisi Silvi sudah mulai membaik. Meskipun baby twins belum ditemukan, Silvi masih memiliki semangat karena bayi mungil yang berada dipelukannya saat ini. Benar, bayi mungil yang diberi nama Anindya itu kini telah menjadi pelipur lara dari luka hati Silvi dan Vico.
"Sayang, anaknya biar istirahat dulu. Kasian loh dia udah tidur tu." Ujar Marinka yang memperhatikan bayi mungil itu sedang terlelap.
"Iya ma, tapi kalau aku biarkan Anindya sendirian, kalau dia diculik gimana?" Ujar Silvi sambil tetap memeluk erat bayinya.
"Ga sayang. Anak kamu udah aman, kita ada dirumah sekarang." Jelas Adi pada putrinya.
Silvi menoleh ke arah Vico, mencoba untuk membuat dirinya percaya pada omongan Adi dan Marinka. Vico dengan penuh pengertian menganggukkan kepalanya sambil mengambil bayi itu dari pelukan Silvi.
Perlahan Silvi memberikan bayi itu, meskipun hatinya terasa berat memberikan bayi itu pada Vico tapi dirinya mencoba untuk mempercayai Vico. Setelah Silvi mau memberikan bayi itu padanya, Vico langsung menimang bayi Anindya dan meletakkannya di dalam box bayi.
Usai menidurkan sang bayi, Vico berkumpul kembali diruangan tengah bersama para keluarga.
Melihat suasana yang mulai tenang, Hermawan segera menyampaikan isi hatinya pada keluarga Silvi.
"Mumpung kita lagi berkumpul semuanya disini. Apa saya boleh menjelaskan sesuatu pada Silvi?"
"Ada apa Her, kamu mau bicarakan apa?" Tanya Adi merasa penasaran.
"Begini Di, aku dan Vina udah lama pengen bilang semuanya ke Silvi, tapi mengingat begitu banyak permasalahan yang menimpa Silvi, jadinya kami mengurungkan niat kami dan sekaranga saya rasa ini waktu yang tepat untuk mengatakannya." Jelas Hermawan pada Adi dan keluarganya.
Adi mengerti dengan maksud dan arah tujuan dari pembicaraan Hermawan, dirinya pun sangat memahami kalau Hermawan dan Davina ingin menyampaikan kebenaran tentang jati diri Silvi padanya. Dengan lapang dada Adi memberikan ruang pada mereka.
"Saya mengerti dengan apa yang akan kamu bicarakan Di, saya dan Marinka juga sudah bersepakat agar semua ini cepat diselesaikan, karena cepat atau lambat Silvi pasti akan mengetahuinya. Daripada Silvi mengetahui dari orang lain. Akan lebih baik kita yang menjelaskannya." Tukas Adi.
Marinka yang duduk bersama merekapun tengah mempersiapkan mental kalau saja nanti Silvi tidak akan menerima kenyataan. Dirinya menghela nafas sambil memejamkan mata kemudian menghembuskan nafasnya dan membuka kembali matanya.
Adi yang memahami perasaan Marinka menggeggam erat tangan sang istri untuk menguatkannya.
"Baiklah saya langsung saja pada inti pembicaraan kita. Silvi, sebenarnya ada rahasia besar yang belum kamu ketahui tentang dirimu." Jelas Hermawan pada wanita muda yang berada dihadapannya.
"Maksud papa Hermawan apa? Aku tidak mengerti, kenapa semua orang disini jadi memberikan teka teki untukku?"
Silvi merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap mereka yang ada dihadapannya.
"Begini nak, sebenarnya kami bukan orang tua kandung kamu dan orang tua kamu yang sebenarnya adalah Davina dan Hermawan." Jelas Adi pada anak perempuannya itu.
"Apa? Papa ga sedang bercandakan? Ga lucu pa candaan papa." Ujar Silvi sambil memanyunkan bibirnya.
Dia merasa saat ini papanya sedang mempermainkannya, makanya Silvi tidak ingin menanggapinya dengan serius.
"Benar nak, apa yang dikatakan papamu itu. Kami bukan orang tua kandungmu. Kami hanya orang tua yang telah merawat dan membesarkanmu, tapi orang tua kandungmu adalah mereka." Jelas Marinka sambil menatap sendu pada putrinya.
__ADS_1
Rasa seperti tertusuk sembilu, ucapan yang baru saja dilontarkan Marinka membuat Silvi terdiam dan merasakan tertohok.
"Apa maksud semua ini?" Ucap Silvi sambil meninggikan nada bicaranya.
Merasa tidak terima, dirinyapun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Sayang, jangana pergi dulu. Biar papa dan mama menjelaskan semuanya." Tukas Vico sambil menggenggam pergerlangan tangan Silvi.
"Penjelasan apa? Ini semua ga masuk akal, bagaimana mungkin mama dan papa bukan orang tua kandungku?" Silvi masih terbawa emosi mengingat apa yang baru saja dijelaskan.
"Nak, duduklah dulu. Biar papa jelaskan semuanya." Tukas Hermawan pada Silvi.
"Jangan panggil aku anak kalian, aku bukan anak kalian. Orang tuaku adalah Papa Adi dan Mama Marinka!!" Pekik Silvi di depan Davina dan Hermawan.
"Nak, dengar dulu, kami memang orang tuamu tapi merekalah orang tua kandungmu." Tegas Adi pada Silvi.
Mendengar ucapan Adi, membuat rasa nyeri didalam dada Silvi, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya dan seketika itu juga badan wanita muda itu merosot tak kuat menahan sedih.
Vico yang berada didekatnya segera memegang Silvi dan memapahnya.
"Duduk dulu sini yang. Biar papa dan mama menjelaskan semuanya. Kamu jangan marah-marah dulu." Tukas Vico.
"Maaf nak, kami ga bermaksud membuat kamu sedih, tapi sungguh kami hanya ingin meluruskan saja." Ujar Hermawan pada Silvi.
"Begini nak, sebenarnya kami telah kehilangan bayi kami saat Marinka melahirkan, tapi disaat bersamaan Davina melahirkan bayi kembar yaitu kamu dan Riana, karena Adi merasa iba pada mamamu ini, mereka membuat kesepakatan untuk memberikan salah satu bayi kembarnya pada mama dan papa." Jelas Marinka sambil menitikkan air mata.
Mendengar penjelasan dari Marinka, Silvi meras terenyuh. Awalnya dia mengira dirinya adalah anak yang tidak diharapkan, tapi setelah mendengarkan apa yang baru saja diceritakan Marinka, Silvi menurunkan nada bicaranya.
"Benarkah itu ma? Apa aku dan Riana bersaudara?"
"Iya nak, kalian itu bayi kembar mama yang dibesarkan oleh keluarga Leonardo." Jelas Davina yang juga ikut menangis menatap sang anak.
"Maafkan aku ma, pa. Aku pikir kalian tidak mengharapkanku makanya kalian memberikanku pada orang lain, ternyata aku salah."
Silvi yang telah mengetahui kebenaran tentang dirinya itu langsung berlutut dihadapan Hermawan dan Davina kemudian meminta maaf.
"Jangan seperti ini nak. Berdirilah, papa dan mama tidak marah padamu. Kami mengerti kamu pasti shock mendengarkan ini, tapi mau tidak mau kami harus memberitahukannya padamu." Tukas Hermawan sambil menatap lekat pada putrinya, lelaki paruh baya itu mengusap puncak kepala Silvi untuk menenangkannya.
"Maaf ma,pa. Aku salah paham, sekarang aku merasa memiliki dua keluarga sekaligus. Meskipun aku terlambat mengetahuinya, tapi aku merasa senang karena telah bertemu dengan kedua orang tua kandungku."
Silvi langsung memeluk erat kedua orang tuanya. Sekarang anak dan orang tua itu saling menunjukkan rasa sayangnya.
Marinka yang melihat kebersamaan antara anak dan orant tua itu merasa tersentil, dirinya mulai merasa akan kehilangan putri yang sangat dicintainya itu. Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghindar dari mereka.
__ADS_1
Silvi yang merasa tidak enak langsung memegang tangan Marinka.
"Mama mau kemana? Kenapa mama tiba-tiba pergi?"
"Mama bisa apa nak? Kamu udah bertemu dengan orang tua kandungmu dan semua telah jelas. Lantas apa yang harus mama lakukan?" Ujar Marinka lirih.
Ada makna yang tersirat dari ucapan wanita paruh baya itu. Dirinya memandang nanar pada putrinya, seakan putrinya akan meninggalkannya setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Mama jangan bicara seperti itu. Kalian adalah orang tuaku, mama dan papa telah merawat dab mendidikku. Dengan tangan ini mama membesarkanku." Tunjuknya pada tangan Marinka
"Dan tangan ini pula yang mengajarkanku berjalan dan memelukku saatku terjatuh." Sambung Silvi sambil memegang tangan Adi.
"Apa mama dan papa pikir aku akan meninggalkan mama dan papa begitu saja?" Tanya Silvi lirih.
Adi dan Marinka hanya diam seribu bahasa. Mereka benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Berbagai pertanyaan kini merasuki pikiran mereka.
"Dengarkan aku baik-baik ma, pa, aku adalah anak kalian, papa Hermawan dan mama Davina juga orang tuaku. Aku tidak akan meninggalkan ataupun memilih salah satunya. Aku akan tetap menjadi anak mama Marinka dan papa Adi. Meskipun aku sudah mengetahui kebanarannya." Jelas Silvi pada para orang tua yang berada dihadapannya.
Merasakan haru yang luar biasa Silvi memeluk Adi dan Marinka agar keduanya bisa merasa tenang.
"Kamu memang anak yang baik, kamu selalu bersikap baik dalam keadaan apapun." Ujar Davina mengusap wajah putrinya.
Silvi hanya tersenyum mendengarkan ucapan Davina.
"Oh iya, mama dan papa pulang dulu ya nak, masih ada hal lain yang harus kami kerjakan."
Hermawan yang merasa tugasnya untuk menyampaikan permintaan sang istri telah selesai langsung mengajak istrinya pulang bersamanya.
"Tunggu." Marinka mencoba menghentikan mereka.
Langkah kaki Hermawan dan Davina terhenti dan mereka membalikkan tubuh mereka.
"Ada apa Marinka?"
"Tetaplah disini, apakah kalian tidak ingin tinggal disini untuk bersama putri kalian?" Ujar Marinka memberikan penawaran.
"Jika kalian tidak keberatan tentu saja kami akan tetap disini." Ujar Hermawan sambil menatap sang istri.
Hermawan tahu, Davina pasti sangat setuju makanya dirinya memutuskan untuk sejenak tinggal di rumah Adi.
Supaya Davina dan dirinya bisa berlama-lama bersama putri mereka.
"Baiklah kalau begitu tinggallah disini sementara waktu." Pinta Adi pada Hermawn dan Davina.
__ADS_1
Tanpa berpikir lama akhirnya mereka setuju dan sementara waktu mereka tinggal disana supaya lebih dekat dengan putri mereka.