Menikah Dini

Menikah Dini
Bertemu Kembali


__ADS_3

Hans baru saja pulang dari kantor, dirinya terlihat begitu lelah. Untuk mengatasi kepenatannya dirinya segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


"Sayang, bajunya udah aku siapkan. Jangan lama-lama ya mandinya. Aku sudah menyiapkan makananmu," ujar Riana sambil sedikit berteriak karena bunyi air di kamar mandi terdengar begitu berisik. Lelaki itu tetap melanjutkan aktifitasnya tanpa menjawab. Mungkin tidaj mendengar terlalu jelas.


Selesai mandi Hans mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri, kemudian bergegas menuju ruang makan.


"Hai sayang, sudah lama menunggu?" tanyanya sambil mengecup kening sang istri kemudian mengusap perut Riana.


"Ga kok yang. Makan dulu yuk," ujar Riana pada sang suami sambil tersenyum ramah.


Tangan Riana segera mengambilkan makanan untuk suaminya dengan memperlihatkan senyuman. Hans sangat bahagia melihat kebahagiaan diwajah sang istri.


"Oh ya sayang, kayaknya besok aku bakal pergi selama satu minggu yang, ada meeting diluar kota. Aku juga bakal ajak Vico pergi sama aku," Hans teringat akan jadwal meeting yang telah dijelaskan oleh sekretarisnya sebelum dia pulang tadi.


"Hm baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan kebutuhanmu untuk pergi besok sayang," ujar Riana sambil menyantap makanannya.


"Iya sayang, tapi nanti kalau aku pergi kamu sama siapa disini?" Hans tampak khawatir pada kondisi sang istri yang tengah hamil besar. Bisa saja sewaktu-waktu istrinya akan melahirkan, sementara dirinya tidak ada bersamanya. Sementara Hermawan dan Davina sedang pergi ke Australia untuk mengurus kerja sama yang baru saja mereka peroleh dengan investor asing.


"Andai saja mama dan papa ada disini, mungkin mereka bisa menemani kamu," lirih Hans yang tampak kebingungan.


"Kamu ga perlu khawatir gitu. Aku akan hubungi Silvi saja. Mungkib dia mau menemaniku?" Riana teringat pada sahabatnya sekaligus saudara kembar.


"Ah benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran Silvi saja? padahal kaliankan saudara," Hans merasa sedikit lega mengingat ada Silvi yang mungkin bisa dimintakan pertolongannya.


Baru saja mereka memikirkan akan menghubungi Silvi, tiba-tiba ponsel Riana berbunyi.


*Hai Silvi, aku baru saja mau menghubungimu tapi kau sudah menelpon duluan," senyum sumringah terlihat dari wajah Riana.


Hans merasa senang melihat istrinya yang begitu antusias saat dihubungi oleh saudara kembarnya.


"Ri, aku kangen loh sama kamu. Udah lama banget kita ga ketemu, gimana kalau besok kita ketemu?" celoteh Silvi meluapkan kerinduannya pada Riana.


"Iya, aku juga kangen sama kamu. Silvi, rencananya mas Hans sama Vico mau pergi keluar kota selama seminggu. Aku boleh menginap di rumah kamu?" Riana bicara sedikit gugup sambil menggigit pelan lidahnya sendiri.


"Itu juga yang sebenarnya ingin aku sampaikan ke kamu. Mas Vico tadi cerita mau pergi sama kak Hans beberapa hari ke depan. Jadi aku epiir kamu. Kamu lagi hamil besar dan ga bisa dipastikan kapan saja anak kamu bisa lahirkan? jadi aku mau kamu tinggal disini saja bersamaku," jelas Silvi.

__ADS_1


"Iya aku boleh ya tinggal disana?" Riana masih sedikit sungkan pada Silvi.


"Kenapa tidak? rumahku adalah rumahmu juga jadi kapanpun kamu mau ke sini pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,"


Setelah beberapa lama berbicara dan melepas kerinduan. Mereka mengakhiri percakapan malam itu*.


***


Pagi-pagi sekali Riana telah menyibukkan diri mengemasi baju-bajunya dan juga baju sang suami karena hari ini mereka akan menuju ke tujuan masing-masing.


"Sayang, kamu sepagi ini kok udah sibuk beberes? kamu itu lagi hamil loh. Nanti kamu kecapean gimana?" Hans terlihat khawatir pada sang istri.


"Ga apa-apa mas. Kamu siap-siap mandi dulu sana, aku udah selesai kok beresin pakaian sama kebutuhan kamu buat seminggu di Bandung. Aku tinggal nyiapin keperluan aku," Riana terlihat bersemangat dan antusias.


"Iya sayang, tapi jangan sampai kecapean km," ujar lelaki itu sambil mengecup singkat bibir sang istri. Riana hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.


Selesai mempersiapkan diri mereka segera menuju rumah Silvi. "Sayang nanti kalau aku pergi kamu sering-sering kabarin aku ya, aku ga mau sehari aja kamu ga kasih kabar ke aku tentang kamu ataupun bayi kita," pinta Hans pada sang istri.


Semenjak Riana hamil, dia selalu protektif sekali baik itu mengenai kandungan sang istri, kesehatan sang istri bahkan sampai hal terkecil saja dia selalu sangat detail.


"Janji ya sayang, kamu bakal baik-baik saja selama aku pergi," pinta Hans padanya. Riana menjawab dengan anggukan kepalanya.


***


Riana dan Hans telah sampai di rumah Silvi. Belum sempat mereka mengetuk pintu rumah itu, Silvi dengan wajah cerianya menyambut kedatangan Riana.


"Hai saudara kembarku, wah kau terlihat sangat cantik," ucapnya sambil memeluk Riana, "Halo baby, kalian semakin bertambah besar saja," Silvi mengusap pelan perut Riana yang nampak membesar.


"Sudah berapa bulan kandungan kamu Ri?" Vico ikut menimpali.


"Udah masuk delapan bulan, Vic,"


"Eh ada Riana, kok ga diajak masuk?" sambut Marinka yang baru saja melihat Riana.


Marinka segera mengajak Riana masuk dan meminta Nilam untuk menyiapkan kamar Riana. Hans dan Vico segera berpamitan untuk pergi ke Bandung, demi menghindari kemacetan mereka sengaja pergi sepagi itu kebetulan acara mereka akan diadakan sore hari, jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan diri dalam acara tersebut.

__ADS_1


"Vic, terimakasih ya lo dan istri lo mau membantu Riana, tadinya aku bingung mau ninggalin Riana karena dia sendirian di rumah tapi untungnya Silvi langsung mengajak dia menginap dirumah kalian,"


"Gue udah feeling aja waktu gue kasih tahu gue sama lo mau berangkat ke Bandung, istri gue langsung kepikiran Riana dan minta Riana menginap dirumah,"


"Mereka memang benar-benar saudara kembar sejati selalu ada dimanapun dan kapanpun," ucap Hans sambil melajukan mobilnya.


Sementara itu dirumah, seseorang menghubungi Silvi. "Nomor siapa ini?" pikir Silvi dalam hatinya.


"Kenapa Sil?" Riana yang sedang berada disampingnya merasa ingin tahu.


"Ini ada nomor baru nelpon aku," Jelas Silvi padanya.


"Angkat saja siapa tahu penting,"


Silvi mengangkat panggilan telponnya, "*hai Silvi, aku sekaranga ada di depan rumahmu, apa aku boleh masuk?" ujar seseorang yang sedang menelpon Silvi.


"Apa?" Silvi merasa heran dengan tamu di pagi hari itu. Silvi bergegas menuju halaman rumahnya dan benar saja seorang pria tampan dengan kaca mata hitamnya melambaikan tangan padanya. Silvi langsung mematikan telponnya dan menghampiri pria itu*.


"Daren, kamu kok pagi-pagi sudah ada disini?" heran Silvi menatap pria itu.


"Maaf kalau kedatanganku mengganggumu. Kebetulan pagi ini ada tukang bubur ayam, aku teringat sama kamu, kamu suka bubur ayam kan, jadinya aku belikan buat kamu sama orang dirumah," jelas Daren sambil memberikan bungkusan bubur ayam pada Silvi.


"Jadi kamu ke sini cuma buat mengantarkan ini?" Silvi kebingungan melihat sikap pria itu. Aneh sekali pagi-pagi seperti itu dia menyibukkan diri membelikan bubur ayam untuk Silvi dan beberapa orang dirumah itu.


"Eh Silvi, kamu bicara sama siapa itu?" Marinka yang berada di dalam rumah menghampiri kedua orang itu. Sementara Riana yang masih bingung melihat mereka hanya bisa mematung di depan pintu rumah.


"Eh ini ma, ini Daren yang pernah aku ceritakan itu. Dia ke sini mau kasih ini," pungkas wanita muda itu sambil menunjukkan bungkusan bubur ayam ditangannya.


Marinka memperhatikan Daren dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia cukup kagum pada anak muda itu, tampan high class dan juga sopan. Jangan lupakan Lamborghini yang ada dibelakang pria itu, membuat wanita manapun yang menatapnya akan meleleh. Marinka saja sempat tertegun mengaguminya. Kalau saja Silvi menikah dengan Daren, pasti saat ini dia bakal jadi istri seorang pengusaha. Ini malah menikah dengan lelaki tak berguna seperti ... Ah sudahlah lupakan saja lelaki itu. Pokoknya aku harus membuat Silvi dekat dengan Daren, kalau perlu mereka menikah, gumamnya dalam hati.


"Tante, maaf ni saya mesti berangkat ke kantor. Say ga bisa lama-lama," Daren sedikit terburu-buru.


"Kamu ga minum kopi atau teh dulu Daren?" Marinka berbasa-basi padanya.


"Lain waktu aja tante,"ucap pria itu kemudian berpamitan pada Silvi dan Marinka.

__ADS_1


Marinka tampak begitu bahagia melihat kehadiran Daren, dia sangat berharap pria itu mau mendekati anak perempuannya.


__ADS_2