Menikah Dini

Menikah Dini
Prepare


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Adi bersiap-siap berangkat ke kantornya.


"Pa, tumben pagi-pagi udah rapi banget?" tanya Marinka pada suaminya yang berada di meja makan sambil membaca file email dilayar handphonenya.


"Iya ma, nanti ada meeting di kantor dan mama doain supaya papa menangin tender ya," jelasnya sambil membaca file dengan saksama.


"Wah, papa bakalan sibuk ya," sahut Marinka sambil menyiapkan sarapan untuk suami.


Adi hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba handphonenya berdering, Adi langsung mengangkat ponselnya. Halo Samuel?


Pak, meeting hari akan diadakan di GH Universal Hotel,di Bandung. Jam 10.00 WIB dari kantor Samuel yang merupakan sekretaris Adi mengingatkan kembali jadwal meeting mereka.


Baik, saya segera ke kantor. Pastikan kamu telah menyiapkan semua file yang kita butuhkan. Adi mengingatkan sekretarisnya. Baik pak. Sahut Samuel.


Adi bergegas menghabiskan sarapan yang telah disiapkan istrinya dan mengecup kening istrinya lalu berangkat ke kantor. Marinka tersenyum mengerti dan mengantar suaminya hingga di depan pintu.


"Sayang, aku berangkat dulu. Pagi ini aku ada meeting di Bandung. Kemungkinan akan lama, kalau nanti meetingnya sampai malam, aku akan menginap di hotel,"jelas Adi pada Marinka.


"Iya mas. Aku ngerti, nanti aku juga ada pertemuan dengan teman-temanku sehabis pulang kantor."Marinka meminta izin suaminya, karena memang sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman-teman sosialitanya dan hari ini sehabis pulang kantor mereka mengadakan arisan.


"Baiklah, jangan cape-cape kamu ya," Adi menyetujui dan memberikan perhatian pada istrinya. Marinka menganggukkan kepala.


Silvi turun dari kamarnya menuju ruang makan.


"Bi, mama sama papa mana?" tanya Silvi pada Bi Ayu yang sedang membereskan makanan.


"Tadi bapak buru-buru berangkat kantor katanya ada meeting. Ibu juga abis nganterin bapak ke depan langsung pergi ke kantor," jelas Bi Ayu sambil menghidangkan sarapan  Silvi di meja. Silvi hanya mengangguk dan memakan sarapannya sambil mengambil handphonenya.


Silvi: Vico,bisa jemput aku ke rumah? Kita barengan berangkat ke sekolah," jelas Silvi didalam chatnya.


Vico: Ok sayang, aku jemput ya. Vico membaca chatnya sambil tersenyum.


Vico bersemangat sekali karena akan bertemu dengan orang yang disayanginya.


Setibanya di rumah Silvi, satpam membukakan pintu gerbang. Vico memasukkan motornya dan melihat ke arah Silvi yang telah menunggunya. "Motor baru ya?" tanya Silvi ketika melihat motor sport yang dikendarai Vico.


"Oh ini, hadiah dari pak manajer," ujar Vico sambil turun dari motornya dan menghampiri Silvi kemudian memberikan helm.


"Baik sekali manajer bengkelmu," Silvi merasa bahagia melihatnya.


"Katanya, ini reward tahun ini karena kinerjaku bagus," jelas Vico.


"Wah, selamat ya," ucap Silvi sambil menaiki motor.


***


Di sekolah, seperti biasa pagi itu mereka belajar. Saat jam istirahat, "Vico, ini undangan turnamen buat minggu depan," ucap David memberikan undangan turnamen basket.


"Minggu depan? Kalau begitu kita harus latihan," Vico mengambil undangan sambil menuju kepada teman-teman satu timnya untuk perencanaan latihan basket.


"Vico?" panggil Silvi. Vico yang berada diantara teman-teman tim basketnya membalikkan tubuhnya "Silvi, ada apa?" tanyanya.


"Kamu sibuk ga? Aku cuma mau ajak makan bareng."


"Ya sudah, kamu pergi duluan sama Riana ke kantin. Aku mau bicara sebentar dengan mereka nanti aku susul," jawab Vico sambil memperhatikan teman-temanya.


"Baiklah, ayo Ri" Silvi mengerti dan mengajak Riana ke kantin bersamanya.


Di ruangan basket, Pelatih telah menunggu mereka. Pelatih memberikan pengarahan untuk prepare turnamen. Para peserta mendengarkan arahan dari pelatih dengan serius. 

__ADS_1


Vico ditunjuk sebagai kapten tim basket sekaligus Point Guard, David yang paling tinggi diantara mereka sebagai pemain tengah, Richard sebagai sayap kiri, Rian sebagai sayap kanan dan Lexy sebagai Power Forward karena memiliki skill melompat paling tinggi juga postur tubuhnya lebih ringan diantara yang lainnya.


Setelah memberikan pengarahan pelatih membolehkan mereka istirahat karena memang sedang  waktu istirahat kemudian melanjutkan latihan setengah jam kedepan.


Vico menemui Silvi dan Riana yang telah menunggunya. "Maaf lama, tadi pelatih manggil," jelas Vico pada sahabatnya.


"Ga apa-apa Vic. Duduk sini makan bareng. Tadi aku udah pesenin makanan buat kamu," Silvi sangat perhatian dan penngertian.


Vico duduk dan mengambil makanan yang telah dipesan untuknya.


"Vic, aku dengar minggu depan ada turnamen basket ya?" tanya Riana.


"Iya, rencananya turnamen diadakan di sekolah sebelah," jelas Vico.


"Di SMA Harapan Jaya?" tebak Riana. Vico menganggukkan kepala.


"Hmm, kira-kira tahun ini SMA Pelita Hati bakal menang lagi ga ya?" tanya Silvi penuh harap.


"Pastinya dong, kalau Gloria yang tanding bakal menang," ujar Vico penuh percaya diri membanggakan timnya.


"Aku harap begitu," Silvi antusias.


Sore hari Vico dan Gloria (tim basketnya) bersiap latihan basket. Silvi dan Riana sangat ingin melihat mereka latihan. Merekapun ikut ke ruangan basket untuk melihat Vico dan tim latihan.


Mereka latihan dengan penuh semangat ditambah lagi Silvi dan Riana juga memberikan semangat pada mereka membuat latihan hari itu sangat penuh keceriaan.


Handphone Riana berdering, Riana melihat panggilan masuk di Handphonenya dan menekan tombol hijau "halo," sahut Riana.


"Ri, kamu dimana," tanya Hans dikejauhan sana. Riana permisi sebentar dari Silvi untuk berbicara dengan Hans. "Aku lagi lihat anak-anak latihan basket, soalnya minggu depan ada turnamen antar sekolah," jelas Riana.


"Hmm padahal aku mau ajak kamu ketemuan."


"Gini aja, gimana ntar sore aku jemput kamu?" pinta Hans.


"Baiklah," Riana menyetujuinya. Terlihat rona merah diwajah Riana saat menerima ajakan Hans sepertinya diam-diam Riana mulai menyukai Kak Hans nya itu.


Riana kembali ke tempat duduknya, "Siapa yang nelpon Ri?" tanya Silvi padanya.


"Ah, itu teman," Riana gugup.


"Hmm teman sepesial ya?" goda Silvi melihat sahabatnya yang salting.


"Hmm hmm cu-cuma teman kok," Riana semakin salting mrelihat Silvi yang mencurigainya.


"Cieee akhirnya ada partner ke pesta nanti malam, jangan lupa nanti kenalin dia padaku," ucap Silvi sambil merangkul pundak Riana. Riana hanya tersenyum menundukkan kepalanya.


***


Selesai latihan Vico dan Silvi pulang bersama. Riana masih menunggu seseorang.


"Ri, ga dijemput pak Jono?" tanya Vico yang bersama Silvi lagi ke parkiran.


"Hmm aku nunggu teman," jawab Riana sambil memanjangkan lehernya mencari-cari Hans.


"Oh teman sepesialmu itu ya?" goda Silvi. Vico menatap heran sambil memberi kode pada Silvi siapa orang itu? Riana jadi salting dan mukanya memerah lagi. "Siapa teman sepesialnya?" tanya Vico pada Silvi.


"Entahlah, mungkin nanti kita akan dikenalkan saat acara pesta ultah Lyora," jawab Silvi.


"Ya, kita lihat saja nanti," Vico menyetujui dan segera menyalakan motornya.

__ADS_1


***


Sepuluh menit setelah Vico dan Silvi pergi. Seorang cowo manis mengenakan motor sport menghampiri Riana, "hai, udah lama menunggu?" tanya Hans sambil menghentikan motornya.


"Ga kok kak," jawab Riana.


"Jangan panggil kakak lagi. Mulai sekarang panggil aku Hans aja ya," pinta Hans pada Riana.


"Ba- baik kak, eh maksudku Hans," ucap Riana malu-malu. Sikap Riana membuatnya gemas, Hans terkekeh melihatnya dan memasangkan helm pada Riana lalu membawanya pergi dengan motor sportnya.


Hans menghentikan motornya di mall, "yuk turun," ajak Hans pada Riana. Riana mengikutinya.


"Hans, kamu mau ajak aku kemana sich?" tanya Riana bingung.


"Ikut aja nanti kamu bakalan tahu sendiri," ajak Hans padanya.


Ternyata Hans mengajaknya bermain di Timezone. Bukan bermaksud konyol hanya saja Hans benar-benar bosan hari ini dan berharap bisa menghilangkan kebosanannya bersama Riana.


Benar saja, ternyata Riana tidak secupu yang diduga selama ini. Riana orang yang ceria dan humoris. Selesai puas bermain, Hans menggenggam tangan Riana dan mengajaknya ke taman.


"Riana. Aku boleh jujur?" tanyanya pada Riana.


"Tentang apa kak?" tanyanya kembali.


"Sebenarnya aku nyaman sama kamu. Kamu itu bisa menghilangkan semua rasa bosan aku hari ini".


"Benarkah? Nyamannya gimana?"


"Iya. Pokoknya aku selalu senang dan bahagia sama kamu. Kalau aja kamu mau jadi pacarku?" ucap Hans asal.


"Apa?" Tanya Riana sedikit kaget.


"Eh, maksudku kamu mau jadi pacarku?" Hans menegaskan tujuannya.


Riana hanya tertunduk malu, spechles tak tahu harus berkata apa. Hans mangangkat dagu Riana sambil tersenyum dan membuka kaca mata Riana. Menatap dalam ke mata indah itu.


Riana benar-benar gugup dan hanya bisa memilin ujung roknya melihat tatapan cowo ganteng dihadapannya.


"Kamu lebih cantik tanpa kacamata ini," puji Hans padanya.


"Tapi aku ga bisa lihat dengan jelas tanpa kacamata itu," jawab Riana sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku punya ide. Gimana kalau kamu pakai softlens aja?" usul Hans padanya.


Riana hanya diam merasa bingung tak menjawab.


"Ayo ikut aku," Hans menggandeng tangan Riana.


"Mau kemana?"


"Mau beli softlense buat kamu"


"Hah?!?" Riana masih bingung.


Hans segera mengajaknya ke optik lalu mencarikan softlense yang cocok untuk Riana dan benar saja setelah mendapatkan lensa yang cocok Hans langsung meminta Riana memakainya. Riana mengikuti permintaan Hans.


"Nah, gitukan cantik. Coba kamu lihat sendiri," ujar Hans sambil membawa Riana ke cermin di depan optic.


Riana memandangi dirinya didalam cermin dan melihat lensa yang baru saja dipakainya. Ternyata dia baru menyadari kecantikannya yang terpendam selama ini tertutupi oleh kacamata kutu buku yang selama ini dipakainya. Riana tersenyum manis.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan pakai kacamata ini lagi ya," pinta Hans sambil menyimpan kacamata Riana ke dalam bungkusan. Riana hanya tersenyum melihat tingkah Hans yang benar-benar kocak dimatanya.


__ADS_2