
Silvi masih penasaran, Vico mau membawanya kemana? Disebuah tempat yang asri, sepertinya Vico membawanya ke danau.
"Vico ini dimana? Aku belum pernah ke tempat ini".
"Ini tempat paling indah di negeri ini Silvi. Tempat ini bikin suasana hati yang ga mood jadi moodi lagi".
Silvi memandangi sekeliling tempat itu, terlihat danau yang terbentang luas dengan pemandangan indah disekitarnya.
"Vico aku mau ke sana", tunjuk Silvi ke arah danau yang ada perahu kecilnya.
Vico mengangguk dan mengarahkan Silvi ke danau.
"Pemandangannya indah banget Vic, aku suka." Silvi menikmati suasana senja di danau sambil menatap ke arah sunset. Menghirup udara segar di sekeliling danau.
"Sil, itu ada perahu. Kamu mau naik perahu?" Tanya Vico sambil menunjuk ke arah perahu yang bertengger di tepi danau.
"Mau," Silvi menjawab tanpa ragu.
Vico menaiki perahu terlebih dahulu lantas mengajak Silvi. "Ulurkan tanganmu," Vico memberikan tangannya pada Silvi. Silvi menyambutnya dan menaiki perahu itu.
Vico mengayuhkan perahu itu dengan pelan sambil mengajak Silvi bicara. "Sebelumnya kamu udah pernah ketempat ini belum?" Silvi menggelengkan kepala pelan.
"Ini pertama kali kamu ke tempat ini? Dan aku orang pertama yang membawamu ke sini?" Vico bertanya dengan antusias.
Silvi tersenyum sambil menganggukkan kepala kali ini wajahnya memerah karena malu. Vico gemas memperhatikan Silvi yang tersipu malu dan memegang wajah Silvi lalu mengangkatnya.
"Kamu udah pernah pacaran belum?" Vico kepo dengan Silvi yang selama ini pendiam dan selalu diantar pak Suryo. Silvi menggelengkan kepala. Vico tertawa melihat Silvi yang mulai gugup.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Silvi memanyunkan bibirnya.
"Maaf, bukan itu maksudku. Kamu kalau lagi gugup terlihat lucu," Vico mencoba menjelaskan. Silvi hanya bingung menatap Vico. Vico mengajak Silvi duduk di perahu sambil menggenggam dayung "Silvi aku mau bilang sesuatu," sambil menatap wajah Silvi intens.
"Apa?" Silvi mendongak membulatkan matanya. "Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?" Vico serius menatap mata Silvi. "Apa? Kamu, kamu serius?" Silvi mencoba meyakinkan dirinya.
"Iya aku serius," tegas Vico.
"Tapi kitakan sahabat," ucap Silvi sambil menautkan kedua jari telunjuknya, "aku tahu tapi semakin lama kita bersama, rasanya aku semakin menyukaimu dan aku yakin perasaan itu bukan sekedar sahabat saja, melainkan cinta," Vico mencoba menjelaskan perasaannya selama ini.
Vico menggenggam tangan dan meletakkan ke dadanya "Silvi kamu mau jadi pacar aku?"
"Iya aku mau," jawab Silvi tanpa basa basi lalu menunduk. Vico merasa senang atas jawaban Silvi dan memeluknya erat. Silvi hanya kaget menatap wajah Vico sambil bersandar ke dadanya yang bidang.
"Terimakasih Silvi. Kamu harus tau dan ingat ini tempat terindah kita jangan pernah lupakan itu," spontan Vico menjadikan hari itu dan danau itu menjadi saksi cinta mereka. Silvi menganggukkan ķepala sambil tetap menatap Vico.
***
Pagi harinya, Lyora membuka matanya perlahan, terasa berat dan pusing disekeliling kepalanya. Membuatnya memijat-mijat kepalanya sendiri. Masih mencoba membuka mata dan "dimana ini?" lirih Lyora sambil melihat langit-langit, sejenak menoleh ke samping dan melihat Farel yang sedang memeluk tubuhnya.
"Aarrggh" Lyora berteriak membuat suaranya menggema dikamar itu. Farel yang sedang menikmati mimpi indahnya terjaga "Ada apa sayang? Pagi-pagi teriak-teriak gitu" Farel mengusap-usap matanya sambil melihat ke arah Lyora. Lyora segera menutupi tubuhnya dengan selimut dan bangun dari ranjang "apa yang telah kamu lakukaan?" Lyora merasa takut dan mulai menangis.
"Huamh. Sayang, masa kamu lupa, tadi malam kitakan happy-happy," Farel menggeliatkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?" Lyora mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Seingatnya dia hanya pergi ke club bersama Farel dan minum sedikit tapi setelah itu dia tidak ingat apa yang telah terjadi.
"Iya sayang kamu udah kasih malam yang paling indah buat aku," jelas Farel. "Bohong. Kamu pasti udah peekosa akukan?" nada Lyora mulai meninggi dan panik.
__ADS_1
Tanpa rasa malu Farel yang masih belum berbusana mendekati Lyora. Lyora menatapi wajah dan tubuh atletis Farel dari atas sampai bawah. Lalu membalikkan badannya ke arah tembok. "Sayang sudahlah. Aku ga mungkin perkosa kamu. Kita melakukannya karena sama-sama suka," Farel berbisik sambil menaruh wajahnya di ceruk Lyora dan memeluknya dari belakang.
"Lepasin!!! Beraninya lo nyentuh gue" Lyora mencoba berontak. "Sssttt. Ga usah galak-galak sayang" Farel mencium bahu dan pipi Lyora. "Ga tahu malu. Lo udah ngerebut kehormatan gue" Lyora berontak dan mendorong Farel.
Farel langsung membalikkan tubuh Lyora dan memeluknya erat "come on sayang. Jangan panik. Aku itu sayang sama kamu aku ga akan maksa kamu. Tadi malam kita sama-sama mabuk dan semua terjadi diluar kendali kita," Farel berusaha menenangkan Lyora yang banjir air mata. Tiba-tiba Lyora merasakan perih di bagian intimnya kemudian melihat berxak darah di sprei.
Sadar Farel telah mengambil mahkotanya tanpa izin tangisnya semakin pecah "Jahat kamu Farel. Hiks, aku benci sama kamu, hiks," isak Lyora sambil memukul dada Farel.
Farel mengusap kepala Lyora masih berusaha menenangkan Lyora. "Ga perlu khawatir aku akan tanggung jawab kalau sesuatu terjadi padamu". Lyora hanya menangis dan tertunduk. Marah, bingung, panik dengan hal yang baru saja dia alami. Rasanya ingin memaki Farel tapi percuma saja. Lelaki yang ada dihadapannya tidak akan pernah mau mengerti.
" Hiks, Aku mau pulang," pinta Lyora.
"Aku antar,tapi kita harus membersihkan diri dulu,". Lyora mengangguk pelan sambil tetap menangis.
Diperjalanan pulang Lyora hanya diam dan menangis. Farel berusaha membujuknya tapi Lyora tidak mau berhenti menangis. Sampai dirumah,Farel membukakan pintu mobil Lyora keluar tanpa melihat ke arah Farel langsung berlari menuju rumahnya.
"Lyora!!!" teriak Farel, Lyora tetap berlari tidak ingin menatap wajah Farel.
Satpam yang memperhatikan mereka langsung mendekat "ada apa mas?"
"Ini pak,tolong kasih sama Lyora. Tasnya ketinggalan dimobil saya," ucap Farel sambil memberikan tas Lyora pada satpam.
"Baik. Nanti saya antarkan ke non Lyora" sahut satpam sambil mengambik tas Lyora. Farel naik ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Loyroa ... Lyora, akhirnya lo tunduk juga sama gue. Mulai hari ini gue yang mengendalikan permainan. Gumam Farel sambil menatap tajam ke depan. Farel merasa menguasai permainan. Dia sengaja merenggut kesucian Lyora. Supaya Lyora bergantung padanya, sudah lama dia merencanakan semua ini, kebetulan dapat angin segar karena permintaan Lyora ke club malam. Akhirnya Farel nekad membuat Lyora mabuk dan menyetubuhinya. Selama ini Lyora selalu menolaknya dan sangat arogan. Sekarang runtuh sudah arogancynya karena perbuatan Farel.
Di dalam kamar Lyora sangat marah dan membenci dirinya sendiri. Dia melempari semua barang yang ada disekitarnya. Lyora melihat ke arah cermin dan melihat setiap kissmark yang telah diberikan Farel dileher, bahu dan dadanya. Membuatnya merasa jijik dan frustasi. Lyora menangis kencang dan meneriaki dirinya sendiri.
__ADS_1