Menikah Dini

Menikah Dini
Silvi Lahiran


__ADS_3

Siang itu Silvi berdandan dengan sangat cantik untuk memenuhi undangan pernikahan Hans dan Riana.


Tiba-tiba saja dia teringat pada suaminya. Dirinya langsung mengambil handphone yang terletak didalam tas pestanya dan langsung menghubungi suaminya.


"Halo sayang, kamu ingatkan hari ini pernikahannya Hans dan Riana?" 


Sementara Vico masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Dia segera menghentikan pekerjaannya.


"Oh iya sayang, hampir aja aku lupa. Kamu udah siap-siap?" 


"Udah ni. Kamu masih lama ga pulangnya?" 


"Iya ni bentar lagi aku pulang ya sayang. Aku jemput kamu terus kita ke pesta pernikahannya Riana."


"Iya mas. Aku tunggu ya." 


"Ok sayang." 


Pembicaraan merekapun terputus.


Vico segera membereskan dokumen-dokumen pekerjaannya, lalu mengambil kunci mobilnya dan baru saja dia akan keluar dari ruangannya.


Terlihat Aurel yang sedang berjalan gontai. Dia terlihat sangat lesu hari itu.


"Mbak Aurel, mbak baik-baik aja?" sapa Vico pada wanita itu.


Aurel membalikkan tubuhnya melihat kepada Vico.


"Iya aku baik-baik saja," jawabnya singkat, namun menyiratkan kesedihan dari air mukanya.


"Loh mbak abis nangis ya?"


"Ada apa ini?" tiba-tiba saja Denis muncul dihadapan mereka.


Vico dan Aurel melihat ke arah Denis yang baru saja menghampiri mereka.


"Ini mas, mbak Aurel kayaknya lagi ada masalah."


"Aurel, kamu kenapa? Kok pucat banget?" selidik Denis memperhatikan wanita muda itu.


"Hm... anak saya sakit mas. Saya tadi dapat kabar dari sekolahnya kalau anak saya pingsan dan sekarang di rumah sakit," keluh wanita dengan suara yang getir.


"Ya sudah. Sini saya antar kamu Aurel." Denis menawarkan diri untuk membantu Aurel.


"Iya mbak, barengan mas Denis aja mbak kan bisa numpang mobil mas Denis. Aku juga mau pulang ni. Silvi udah nungguin mau ke kondangan," jelas Vico.


"Kondangan? Siapa yang nikah?" tanya Denis heran.


"Lah... masa lupa sich mas. Anak bos kita nikahan har ini loh."


"Oh iya. Ya udah kamu duluan aja Vic. Nanti aku susul barengan Aurel,"  ucap.lelaki itu sambil menepuk keningnya.


Dia baru teringat kalau hari ini ada undangan ke acara pernikahan anak bosnya.


"Mas Denis ke kondangan aja. Saya  bisa sendiri kok ke rumah sakit."


"Ya ga mungkin aku tinggalin kamu sendirian. Kamu aja kondisinya kayak kurang sehat gini. Ayo aku antarkan kamu,"  jelas lelaki itu padanya.

__ADS_1


Awalnya aurel merasa keberatan. Hingga akhirnya dirinya menyetujui tawaran Denis. Merekapun segera menuju rumah sakit.


"Mas Denis, mbak Aurel, aku balik dulu ya." Vico berpamitan pada kedua orang itu.


Kemudian menemui sang istri yang telah menunggunya dirumah.


***


Vico datang sedikit terlambat, menghampiri Silvi.


"Sayang, maaf aku terlambat tadi macet banget yang pas pulang."


"Iya ga apa-apa mas. Aku juga nyantai nungguin kamu mas."


Silvi tersenyum melihat suaminya yang merasa tidak enak hati karena suaminya merasa bersalah.


"Iya sayang. Ayo kita berangkat." Ajaknya pada sang istri.


Silvi mengikuti ajakan suaminya. Vico yang dari tadi memperhatikan istrinya, mendaratkan ciuman dipipi sang istri.


"Ich mas Vico. Apaan sich?"


"Kamu cantik banget sayang," bisiknya ditelinga istri mungilnya itu.


Sedikit merasa tersanjung dengan pujian kecil dari suaminya. Silvi menyandarkan dirinya ke rangkulan suaminya.


Vico mengusap pelan kepala Silvi merasa senang melihat wanitanya. Baginya tidak ada rasa bosan untuk memandangi wanita yang dicintainya itu.


"Mas, kamu mau ganti baju dulu atau langsung berangkat aja kita ni?"


"Yuk berangkat aja, kalau ganti baju malah kelamaan yang ada. Papa sama mama mana?" matanya mencari-cari keberadaan mertuanya.


Mereka segera menuju ke acara pernikahan sahabat mereka dengan kado undangan sepesial yang telah mereka persiapkan.


***


Sesampainya di acara pesta, cukup mewah. Dengan dekorasi pelaminan berlatar belakang peach yang tengah digilai banyak orang. Warna ini disukai oleh pasangan-pasangan milenial yang tak menyukai ide-ide konvensional. Background dekorasi, yang memberikan kesan kalem dan manis, warna ini juga dapat dikombinasikan dengan warna apa pun. Terkesan simple tapi cukup glamour.


Tak lupa dihadiri para tamu dan kolega partner bisnis kedua orang tua mereka. Menambah kesemarakan acara.


Ditengah-tengah acara, Vico dan Silvi disambut hangat oleh sahabatnya.


"Hai... Silvi, Vico..." sorak Riana dari kejauhan.


Dia tidak ingat dirinya sedang berada dipelaminan,karena kaget dan terlalu bahagia melihat kedatangan sahabatnya.


Semua mata memandangi Silvi dan Vico, karena merasa diperhatikan mereka segera mempercepat langkah menuju ke arah Hans dan Riana.


"Riana, aku kangen banget sama kamu."


Kedua sahabat itu berpelukan dengan erat.


"Aku juga kangen banget sama kamu. Udah lama banget sejak aku kuliah kita ga ketemu."


Mata Riana mulai berkaca-kaca, terharu melihat sahabatnya kini berada didepan matanya.


Hans dan Vico yang memperhatikan mereka hanya tersenyum melihat mereka.

__ADS_1


"Eh iya Ri, ini ada hadiah sepesial buat kamu," jelas Silvi sambil mengeluarkan sebuah amplop pada Riana.


"Apa ini Sil?" Riana sedikit heran dengan hadiah dari Silvi.


"Buka aja Ri. Pasti kamu dan Hans suka. Itu pilihannya Silvi," tukas Vico sambil tersenyum melirik Silvi.


Merasa penasaran, Riana dan Hans membuka amplop itu bersamaan dan betapa terkejutnya mereka.


Ternyata isi amplop yang menjadi kado pernikahan mereka adalahvoucher untuk staycation di Shangri-la Hotel yang berada di pusat kota Jakarta untuk menghabiskan waktu berbulan madu bersama pasangannya.


Hotel Sangri-la adalah tempat menginap yang menawarkan kemewahan dan keromantisan. Berpredikat hotel bintang 5 dan memiliki pelayanan yang sangat baik.


Hotel itu juga memiliki fasilitas yang bisa menghangatkan suasana saat sedang bersama pasangan Anda, seperti bar, kafe, restoran, klub malam, pusat kebugaran, layanan pijat, spa, mandi uap, sauna, tennis, dan kolam renang. Shangri La menawarkan konsep kolam renang yang amat menarik dan romantis untuk pasangan baru. Makanan di hotel ini pun tidak pernah mengecewakan.


"Silvi, Vico, ini mewah banget. Pasti mahal." Tukas Riana pada keduanya.


"Ga apa-apa Ri. Kamu sahabatku jadi aku dan mas Vico sengaja kasih kado itu buat kamu dan kak Hans. Tolong diterima ya." Ujar Silvi dengan penuh ketulusan.


Hans dan Riana benar-benar terharu dengan pemberian Silvi.


"Terimakasih ya Silvi, Vico. Ini benar-benar sepesial buat kami." Ucap Riana dan Hans.


Setelah memberikan kado sepesial mereka kepada sahabatnya, Hans dan Riana memanggil seorang pelayan kemudian menyuruh pelayan menjamu sahabatnya itu.


Pelayan itu segera mengantarkan Silvi dan Vico menikmati makanan yang tersedia.


Ditempat itu telah hadir kedua orang tua Silvi dan orang tua Hans juga Riana. Mereka saling bercengkrama. Saat bertemu Silvi dan Vico mereka menyambut hangat keduanya. Sambil tersenyum ramah Vico dan Silvi menyapa mereka yang hadir.


Pelayan yang ditunjuk Hans dan Riana, mempersilahkan keduanya untuk menyantap makanan yang tersedia. Silvi dan Vico mengambil makanan sesuai porsi mereka kemudian duduk ditempat yang telah disediakan.


Seluruh tamu undangan tak terkecuali Vico dan Silvi menikmati hidangan dan acara dengan penuh suka cita. Hingga pada suatu ketika Silvi merasakan sakit diperutnya.


"Aduh..." Silvi meringis ditengah-tengah semaraknya pesta.


"Sayang, kamu kenapa?" Vico menghentikan makannya dan memperhatikam Silvi.


"Perutku sakit mas." Ujar Silvi.


"Sakit kenapa?"


"Ga tau mas. Ini kayaknya nyeri banget."


"Apa mungkin kamu mau lahiran?" tanya Vico semakin panik.


Dirinya segera mendekati Silvi kemudian mengusap perut istrinya.


"Gimana masih sakit?"


"Iya mas. Kayaknya mau lahiran aku mas."


Vico tersentak kaget mendengar ucapan istrinya kemudian dia membawa Silvi ke mobil.


"Loh, Vic kalian mau kemana?" Tanya Marinka yang memperhatikan mereka.


"Aku mau bawa Silvi ke rumah sakit ma. Kayaknya Silvi mau lahiran ni."


"Hah? Lahiran? Ayo buruan bawa ke rumah sakit." Tukas Marinka kemudian mengekor bersama Adi suaminya.

__ADS_1


 


__ADS_2