
Jhonatan yang melihat kondisi Reynold tengah mabuk berat merasa prihatin. Seorang CEO sukses yang mampu melebarkan sayapnya untuk setiap bisnis perusahaannya, kini dalam keadaan miris dan terpuruk. Sebagai seorang teman yang baik, Jhonatan langsung memapah Reynold. Dia membawa temannya ke apartemennya. Tidak mungkin dia mengantarkan Reynold ke apartemennya sedangkan kondisi lelaki itu sedang tidak sadarkan diri.
Di apartemen Jhonatan, Reynold yang terlelap karena mabuk dibantu oleh Jhonatan memapahnya ke tempat tidur. Jhonatan melepaskan sepatu kates yang dipakai Reynold dan menyelimuti lelaki itu.
Drrrt... drrttt... drrttt...
Bunyi getaran handphone. Jhonatan mencoba mencari tahu darimana suara itu berada? Karena dia tidak merasa bukan handphonenya yang berbunyi, dia segera melihat ke arah Reynold. Terlihat pantulan cahaya dari saku jaket Reynold, Jhonatan segera memeriksanya. Mungkin saja ada sesuatu yang penting.
Ketika dia mengambil handphone itu dan mencoba mengetahui siapa yang menghubungi temannya itu?
"Clara? Siapa Clara?" Gumam lelaki itu. Merasa penasaran dia menekan tombol hijau pada layar handphone itu.
"Hallo"
"Reynold, kaukah itu?" Sapa seorang wanita diseberang sana.
"Maaf, aku Jhonatan temannya Reynold." Jelasnya pada wanita itu.
Jhonatan? Siapa dia? Wanita itu tidak mengenal nama itu sebelumnya.
"Reynold mana? Bisakah aku bicara dengannya?" Tanya wanita itu sambil sedikit berbisik.
"Reynold sedang tidur. Kau ini siapa?"
"Aku Clara temannya Reynold. Apakah dia baik-baik saja?"
"Iya, tadi dia sedikit mabuk dan sekarang tertidur. Kenapa kau berbisik seperti itu?" Selidik Jhonatan padanya.
"A... aku tidak bisa menjelaskannya sekarang padamu, tapi aku hanya ingin kau sampaikan pesanku pada Reynold." Pinta wanita itu sedikit terbata-bata.
"Katakan saja nanti kalau Reynold sudah bangun akan kusampaikan." Tukas lelaki itu padanya.
"Aku hanya ingin minta maaf padanya dan kalau dia ada waktu, besok aku ingin menemuinya. Aku akan ke Australia besok." Jelas wanita itu pada Jhonatan.
"Baiklah akan kusampaikan, tapi apa anda baik-baik saja?" Tanya Jhonatan merasa ada yang tidak beres apda wanita itu.
"Aku baik-baik saja."
Wanita itu segera memutuskan pembicaraan mereka.
"Halo... halo...nona anda mendengarkan saya?"
Jhonatan merasa bingung kenapa tiba-tiba wanita itu memutuskan pembicaraan mereka? Padahal tadi wanita itu belum menjelaskan apapun padanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" Tanya Jhonatan dalam hati.
***
"Sayang, aku pengen makan es krim." Rengek Silvi sambil membangunkan suaminya yang sedang terlelap disisinya.
"Hm... apa sich yang? Masih malam juga tidur lagi gih." Ucap Vico sambil tetap menutup matanya.
"Aaaa ini si debay yang minta. Maunya makan es krim." Rengek Silvi lagi sambil mengguncang pelan tubuh suaminya kembali.
__ADS_1
Dengan mata yang masih sulit terbuka, Vico mengumpulkan segenap tenaganya untuk segera bangun.
"Ada apa yang? Kamu mau apa?" Tanya Vico yang baru saja duduk perlahan sambil menguap.
"Es krim, sayang. Debaynya mau eskrim."
"Kamu itu minta es krim jam segini? Mana ada yang jual es krim tengah malam begini yang." Keluh Vico sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.00 malam.
"Ich sayang, pokoknya mau es krim. Kamu cariin gitu."
"Hufth, ya udah aku cariin tapi ga janji bisa dapetin es krimnya." Ujar Vico mengusap pelan wajahnya.
"Pokoknya harus dapat yang, nanti debaynya ngambek loh." Rengek Silvi sambil bergelayut ke suaminya itu.
"Hmmm iya... iya... sayang. Kamu mau rasa apa es krimnya?" Tanyanya sambil mengenakan jaket kulit dan mengambil kunci motornya.
"Terserah aja. Aku mau kamu beliin semua rasa aja." Pinta Silvi lagi.
Vico mengikuti saja kemauan istrinya itu daripada nanti malah bikin masalah baru. Dia ikutin saja apa yang diingnkan wanita itu. Memang bumil satu ini banyak maunya. Ga tau apa suamianya lagi capek?
Lagian selarut ini dimana coba toko es krim yang buka?
Vico segera mengendarai motornya mencoba mencari toko es krim dua puluh empat jam.
"Dimana ya kira-kira toko es krim yang masih buka? Emang ni bumil meresahkan banget!!" Gerutunya sambil menoleh kanan kiri menyusuri pekatnya malam kota Jakarta.
Setelah mengelilingi kota Jakarta untuk mencari es krim permintaan istrinya. Akhirnya ada satu toko es krim yang masih buka. Vico segera menuju ke tempat itu.
Sepertinya karyawan toko itu akan menutup tokonya, karena terlihat toko es krim itu sudah mulai sepi.
"Mbak, tunggu mbak, es krimnya masih ada?"
"Eh... masnya kok datangnya kemalaman begini?"
"Iya mbak, maaf ya saya datangnya malam-malam begini. Soalnya istri saya lagi ngidam dan dia pengennya makan es krim." Jelas Vico sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perempuan itu hanya tersenyum, dia mengerti dengan apa yang dirasakan Vico saat ini. Akhirnya wanita itu membuka kembali toko es krimnya demi memenuhi permintaan bumil.
"Ya udah mas, ini saya ambilin es krimnya. Mau rasa apa mas?" Tanya wanita itu.
Vico memperhatikan banyak varian rasa es krim di etalase ada coklat, vanila, strobery, cappuchino juga moca. Vico mulai bingung untuk memilih. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli tiap varian rasa es krim yang ada di etalase seperti yang diminta Silvi.
Pegawai toko es krim itu segera mengambilkan pesanan Vico kemudian memberikannya pada Vico.
"Ni mas pesanannya. Semoga istri mas senang dan debaynya sehat ya." Tutur pegawai toko itu padanya.
"Makasih ya mbak." Ucap Vico mengulas senyum bahagianya.
Dia segera kembali pulang, karena perjalanan dari tempat itu kerumahnya cukup jauh. Sesampainya di rumah.
"Silvi... sayang, ini es krimnya udah aku beliin."
Vico membuka handel pintu kamar kemudian membawakan es krim pasa Silvi.
__ADS_1
"Mas, udah pulang kamu?" Tanya Silvi sambil bangkit dari tidurnya.
"Iya sayang. Yuk dimakan es nya keburu meleleh nanti." Ujar Vico sambil mengeluarkan es krim dari bungkusan kemudian membukakan tutup es krim supaya Silvi bisa memakan es krim permintaanya.
Silvi melihat es krim yang begitu menggoda dan segera melahapnya, tapi baru saja beberapa suapan diapun mengakhiri suapannya.
"Kenapa sayang? Kok berhenti makannya?" Tanya Vico yang sedari tadi memperhatikan Silvi makan es krim.
"Tiba-tiba aku kenyang ni." Ucap Silvi sambil nyengir.
"Hah?! Kenyang? Tapikan kamu makan baru lima suap yang. Nah, ini es krimnya masih banyak. Siapa yang amu menghabiskannya?" Tanya Vico merasa bingung.
"Ya... kamu aja yang menghabiskannya."
"Loh kok aku yang ngabisin yang?"
"Debaynya mau begitu. Katanya es krimnya buat papa aja." Ucap Silvi sambil senyum nakal dan memberikan es krim yang masih terlihat banyak di dalam wadahnya.
Vico membelalakkan matanya horor. Masa iya, dia harus menghabiskan es krim sebanyak itu?
"Hm, kamu ngerjain aku yan? Masa aku makan banyak gini?"
"Ya gimana lagi? Aku kenyang. Debaynya cuma pengen nyicipin dikit. Sekarang malah mual ni." Jelas Silvi lagi.
Vico hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala kemudian memakan es krim itu.
"Jangan kesal gitu mukanya sayang, yang tulus gitu makannya." Ucap Silvi sambil berjalan ke kamar mandi karena merasa mual.
"Iya ini juga lagi dimakan sayang. Kamu mau kemana yang?" Lirik Vico padanya.
"Aku mual mas. Mau muntah ni."
Silvi membuka pintu kamar mandi dan tanpa aba-aba diapun langsung memuntahkan semua isi perutnya diwestafel.
Vico yang melihat Silvi muntah-muntah langsung mendekatinya. Dia mengusap pundak istrinya perlahan.
"Kok malah nyamperin aku?" Tanya Silvi sambil menyalakan kerai air dan membersihkan bekas muntahnya.
"Iya aku mau bantu kamu. Nanti kalo kamu kenapa-napa gimana?" Ucap Vico dengan wajah khawatir.
"Uueeek... ueek..." Silvi mengeluarkan isi perutnya kembali, kenudian membersihkannya dengan air keran.
Vico merangkul pundak istrinya kemudian mengajaknya supaya duduk diranjang.
"Kamu tunggu bentar ya. Aku ambilin minum." Pinta Vico. Silvi hanya menuruti perkataan Vico dan membiarkan lelaki itu keluar kamar untuk mengambilkan air minum.
Vico segera berjalan ke dapur mengambil air minum dan kembali lagi ke kamar.
"Ini diminum dulu yang." Tuturnya sambil memberikan gelas berisi air minum apda istrinya.
Silvi meminum air itu kemudian memberikan gelasnya pada Vico dan tidur kembali. Vico dengan sabar memegangi istrinya dan menaruh kepala wanita itu diatas bantal perlahan kemudian menyelimutinya.
"Makasih mas. Kamu baik banget sama aku." Ujar Silvi sambil menatap mata suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang. Tidur gih biar enakan." Bujuk Vico.
Silvi tersenyum dan memejamkan matanya.