Menikah Dini

Menikah Dini
Pernikahan yang Sakral


__ADS_3

Akhirnya pesawat telah sampai di London.


Ladies and gentlemen, as we start to land, please make sure the backs of your chairs and tables are in an upright position. Also make sure your seat belts are securely fastened and all belongings are tucked under the seat in front of you, or in overhead storage.


Terdengar dari mikrofon pramugari telah memberikan pengumuman bahwa pesawat akan lepas landas, para penumpang bersegera untuk merapikan tempat duduk di pesawat. Kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit pesawat kini telah mendarat, para penumpang segera turun.


Ayesha yang duduk di dekat Victory telah terjaga begitu juga dengan Reynold dan Evan juga telah bersiap-siap untuk turun dari pesawat.


Mereka sedang menunggu jemputan untuk menuju ke hotel. Tidak beberapa lama mobil yang menjemput merekapun datang dan membawa mereka menuju Rosewood London Hotel.


"Bagaimana apa kalian suka hotelnya?" tanya Reynold pada ketiga karyawannya.


Sebagai CEO tentu saja dia berharap karyawan yang dibawanya itu merasa senang dengan penginapan dan service hotel ditempat itu.


"Tentu saja bos, kami suka sekali. Kita disini sudah mendapatkan makanan mewah dan juga hotel yang sangat bagus," ujar Evan sambil menikmati rose meat yang dipesannya.


"Ayesha kamu kan suka travelling apa kamu udah pernah ke London?" tanya Reynold pada Ayesha yang sedang fish and chips.


"Belum pak, kalau luar negri saya cuma pernah sekitar Asia saja paling jauh cuma di Australia," jawab gadis itu dengan mengulas senyum.


"Kalau begitu nanti kamu bisa minta diajak jalan-jalan sama Victory." tukasnya pada Ayesha.


Gadis itu hanya tersipu malu. Sementara Victory menjadi salah tingkah dan dia tersedak mendengar ucapan Reynold.


Sahabatnya ini sepertinya memang niat banget buat menjahili dirinya. Reynold dan Evan terkekeh memperhatikan wajah Victory yang memerah seperti udang rrbus karena tersedak.


"Pak minumnya," Ayesha memberikan minuman mineral pada Victory.


Lelaki itu meminum air mineral yang diberikan Ayesha.


***


Tepat satu minggu sudah, akhirnya Vico dan Silvi resmi menikah. Acara itu digelar dengan sangat khidmat meskipun hanya dihadiri para pihak keluarga dan teman dekat tidak mengurangi kemeriahan resepsi pernikahan itu.


Saat pernikahan Silvi mengenakan gaun silver dan Vico mengenakan jas hitam.


“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan puteriku yang bernama Silviana Anastasya Binti Adi Leonardo dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai," ucapan itu terucap dari Adi yang tengah menikahkan putrinya.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai," Vico memberikan jawaban atas ijab qabul pernikahan mereka dengan sangat lancar.


Kemudian penghulu menghadap ke arah saksi. "Bagaimana sah?"


"Sah!!!" sahut para saksi bersamaan.


Sekarang Silvi dan Vico telah menikah dan mereka tidak perlu takut akan kedekatan mereka karena telah halal sebagai suami istri, namun Vico belum bisa menyentuh Silvi karena saat ini wanita yang dicin itu masih hamil muda.


Terlihat senyum kebahagiaan diantara keduanya. Sekarang mereka sungkeman dengan orang tua mereka secara bergantian.


Farel juga datang ke acara pernikahan Silvi, tapi dia datang bersama Winda.


Usai acara para tamu memberikan ucapan selamat pada kedua pengantin beserta keluarga.


***


Dari kejauhan, Fredy memperhatikan pernikahan Silvi dan Vico. Dia tidak ingin menghampiri ataupun menyapa orang-orang yang ada diacara itu. Fredy memang tidak ingin diketahui kedatangannya. Saat ini yang dia pikirkan adalah hanya ingin melihat pernikahan kedua remaja itu dari jauh.


Entah apa yang dia mau. Pastinya lelaki itu punya rencana besar untuk kedua orang itu. Mengingat perbuatan Marinka yang membayarnya untuk menekan Vico waktu itu membuatnya teringat akan bayinya yang telah tiada.


***


"Kak Farel, kenapa kakak malah ngajak aku ke nikahan Silvi dan Vico? Bukannya pacar kakak Lyora?"


Winda dan Farel sekarang sedang duduk di taman menikmati suasana sore hari.


"Udahlah Win, ga perlu ditanya. Aku udah malas menjalin hubungan sama Lyora. Kamu tahu sendiri kan dia berambisi banget dalam segala hal?"


Farel memang sengaja tidak mengajak Lyora, karena sejak kejadian yang menimpa Silvi waktu itu dia benar-benar merasa bersalah, karena perbuatannya adik sepupunya itu harus menikah dini.


"Tapi kalau nanti Lyora tahu, apa dia ga bakal marah atau mungkin salah paham sama aku?" ujar gadis belia itu dengan wajah polosnya.


"Kamu ga perlu takut, kalau dia marah aku yang bakal menghadapi dia," Farel mengulas senyum tipis diwajahnya.


"Kak, aku boleh nanya ga?"


"Kamu mau nanya apa?"

__ADS_1


"Sebenarnya hubungan kakak sama Lyora itu bagaimana?"


Gadis itu kini telah duduk berhadapan dengan Farel. Dia memang ingin mendapatkan jawaban serius dari Farel, karena selama ini yang dia tahu Farel sangat menyayangi Lyora dan mau melakukan apapun demi gadis itu.


Farel menghembukan nafas berat, "kamu mau aku jujur atau bohong?"


"Ya dua-duanya."


"Aku mau bilang yang bohong dulu ke kamu. Emang aku cinta banget sama dia, kalau jujurnya. Ya aku juga cinta sama dia, tapi setelah aku mengenal dia lebih jauh, aku merasa percuma menjalin hubungan sama dia, karena sekalipun aku sayang sama dia dan melakukan apapun yang bisa  membuat dia senang ga akan berarti dimata dia,"  terlihat raut wajah Farel yang tegang. Dia bicara jujur dengan apa yang dia rasakan.


Sulit! Sangat sulit mencintai seorang gadis egois dan ambisius seperti Lyora. Dia tidak pernah perduli pada perasaan orang lain karena yang dia pikirkan hanyalah kebahagiaannya sendiri.


"Terus, kakak sekarang udah putus atau belum sama dia?" Winda bertanya dengan sangat terus terang.


"Untuk saat ini belum, tapi cepat atau lambat aku pasti putusin dia," jelas Farel dengan sangat mantap.


Terangsaja Winda bertanya apakah Farel akan tetap melanjutkan hubungannya dengan Silvi atau tidak,karena sejak pertemuan mereka di sirkuit balapan waktu itu Winda sudah menyadari dirinya benar-benar menyukai Farel. Terlebih Farel telah bersikap baik padanya. Hal itu pula yang membuat dia merasa nyaman berada didekat Farel, tapi apa mungkin Farel punya perasaan yang sama dengan yang Winda rasakan saat ini?


"Kak, aku lupa. Pas terakhir kali kita ketemu kakak pinjamkan aku jaket kakak, ini sekarang aku kembalikan," gadis itu mengeluarkan jaket yang dipinjamkan Farel dari tasnya.


Farel tersenyum lebar mengingat kejadian waktu bersama winda beberapa waktu yang lalu.


"Haha, kamu itu beneran lugu ya. Kamu ga perlu balikin sama aku ambil aja. Kali aja kamu butuh biar ga masuk angin," canda lelaki itu padanya.


"Aaa kakak, masa aku disuruh simpan jaket kakak?" Winda mengerucutkan bibirnya.


"Iya anggap aja itu kenang-kenangan dari aku."


"Jadi beneran ini boleh aku simpan?" tanya gadis itu kembali.


Farel menganggukkan kepalanya.


Winda begitu bahagia karena Farel memberikan jaketnya pada Winda, karena suatu kebahagiaan baginya bisa mempunyai barang berharga dari orang yang dia kagumi saat ini. Meskipun belum bisa memiliki orangnya paling tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya melepaskan rasa rindunya saat dia menginginkan orang itu.


Winda memeluk erat jaket itu sambil memejamkan matanya.


Farel yang melihat kelakuan gadis itu merasa gemas diapun mencubit pelan hidung gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2