Menikah Dini

Menikah Dini
Mengancam


__ADS_3

Abimana telah kembali dari liburan panjangnya bersama Safira istri tercintanya. "Mas, kira-kira gimana reaksi Lyora kalau kita tiba-tiba muncul dihadapannya tanpa ada pemberitahuan sama sekali?"


"Yang pastinya dia bakal loncat kegirangan dong. Kan kita emang pulangnya sengaja ga ngasih tau dia biar surprise gitu" jelas Abimana pada Safira.


Baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta, sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach S-Class hitam melintas kemudian berhenti dihadapan mereka. Supir yang mengendarai mobil itu segera keluar.


"Selamat siang tuan Abimana dan nyonya Safira, apa anda sudah lama menunggu?" Tanyanya sambil memperlihatkan senyum ramah pada keduanya.


"Belum kok, kami baru saja sampai."


"Baiklah kalau begitu tuan dan nyonya silakan duduk  didalam". Lelaki itu membukakan pintu mobil. Kedua orang itu segera masuk kedalam mobil. Mobil mewah itu segera melesat.


Pintu gerbang rumah mewah itu telah dibuka oleh security yang menjaga rumah. Mereka menunduk dalam melihat dua orang yang mereka kenal didalam mobil itu. Ya, itu adalah tuan dan nyonya mereka. Mobil itu segera membawa mereka kemudian berhenti di depan pintu rumah. Supir itu kembali membukakan pintu dan membawakan barang-barang bawaan dan belanjaan mereka.


Dari dalam rumah terlihat Lyora yang baru saja turun dari tangga dan menuju ke arah pintu.


"MAMA PAPA !!!" Teriak gadis itu begitu tahu orang yang didepannya adalah kedua orang tuanya.


Abimana dan Safira merentangkan tangan untuk memeluk putri kesayangan mereka, dengan segera gadis itu menghamburkan dirinya pada kedua orang tuanya. Terlihat jelas betapa mereka saling merindukan satu sama lain.  Lyora begitu bahagia sampai tidak mau melepaskan pelukannya.


"Kenapa ga bilang kalau mama dan papa mau pulang hari ini?" Tanyanya sambil tetap memeluk keduanya dan memejamkan mata merasakan kehadiran mereka.


"Sengaja, mau bikin kejutan untuk kamu" jelas Marinka.


"Iich mama, suka gitu dech. Kan kalau misalnya dikasih tahu dulu mungkin aku bisa jemput". Gadis itu meruncingkan bibirnya memperlihatkan wajah cemberutnya.


"Oh sayang. Jangan bete gitu. Papa mama kan cuma pengen buat kejutan. Ni liat papa bawain apa?" Adi mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dan memberikannya kepada Lyora.


"Apa ini pa?" Tanyanya penasaran.


"Kamu buka aja."


Lyora membuka bungkus kado yang menempel pada kotak tersebut dan mengeluarkan isi didalamnya. Sebuah kunci mobil sport.


"Wah, papa masih inget rupanya." Wajah gadis itu terlihat merona karena merasa bahagia.


"Iya dong. Kan kamu sendiri yang minta sebelum papa sama mama kamu berangkat ke Sidney. Jadi papa sengaja beli mobil ini pas pulang. Udah order dari jauh-jauh hari karena limited edition. Jadi perkiraannya pas papa pulang mobilnya udah ada."


"Makasih pa." Lyora memeluk erat papanya.


***


Gerald telah menuju ke Healty Care, sebuah rumah sakit di pusat jantung ibukota. Dia menuju ke ruang visum untuk mengajukan data pemeriksaan kasus pemerkosaan.


"Dokter perkenalkan saya Gerald, orang suruhan ibu Marinka, apa saya bicara dengan dokter?"


"Tuan Gerald, silakan duduk. Kemarin saya baru saja menerima berkas yang anda ajukan di rumah sakit ini. Mengenai visum pemerkosaan itu."


"Bagaimana menurut anda apa anda bisa membantu kami?"


"Ini permasalahan yang sangat rumit tuan Gerald. Di satu sisi saya sangat ingin menjaga citra rumah sakit ini, seperti yang anda ketahui rumah sakit ini sangat ternama dan kalau sampai terjadi kesalahan sedikit saja dari pihak kami maka akibatnya akan sangat fatal,"


"Izin rumah sakit ini akan dicabut dan rumah sakit ini pasti akan ditutup untuk selamanya. Sedangkan rumah sakit ini mempunyai karyawan sangat banyak. Tidak mungkin menanggulangi semuanya itu dengan mudah," jelasseorang dokter muda yang berada dihadapannya.


"Hm, saya sangat memahami itu dan sebagai pengacara saya tahu pasti yang anda maksud, tapi bisakah kita bernegosiasi?" Pengacara muda itu mencoba memberikan penawaran.


"Maksud anda?" tanya dokter itu sedikit terusik.


"Tentu anda sudah paham maksud saya. Sumber paling penting dalam kehidupan ini adalah uang. Oleh sebab itu anda sebutkan saja nominal yang anda butuhkan," senyum seringainya kini terlihat. Dia begitu terus terang sekali dengan maksudnya.


Dokter itu terdiam dan berpikir. "Maaf tuan, sepertinya


saya tidak bisa," dokter itu berdiri dari kursinya untuk meninggalkan pembicaraan mereka.


"Tunggu dokter. Anda belum melihat cek ini," Gerald menyodorkan sebuah cek bernilai lima ratus juta rupiah pada dokter itu.


Dokter itu mengernyitkan dahinya memegang cek itu. Dia terpaku bingung.

__ADS_1


"Ayolah dokter. Bukankah anda disini baru saja diangkat menjadi dokter dan sebagai dokter muda penghasilan anda pasti belum seberapa. Ditambah lagi anda memiliki seorang putri yang sedang mengalami gagal ginjal. Pastinya anda butuh biaya yang sangat banyak untuk itu semua," Gerald berbicara dengan nada arogan dan mencoba mengintimidasi dokter itu.


Dokter muda itu tertohok dengan ucapannya. Bagaimana mungkin pengacara itu bisa tahu tentang kehidupannya? Padahal mereka baru saja bertemu?.


"Anda pasti penasaran kan bagaimana saya mengetahui tentang diri anda dan keluarga anda?" cecar Gerald padanya.


Dokter itu hanya terdiam dan menunduk. Dia bingung apa harus menerima tawaran itu atau tidak. Diapun menghembuskan nafas beratnya.


Tentu saja Gerald tahu tentang kehidupan dokter itu, karena sebelum dia bertemu dokter itu, secara tidak sengaja dia mendengar pembicaraan dokter itu ditelpon, saat akan masuk ke dalam ruangannya. Dokter itu bercerita bahwa saat ini dia butuh biaya besar untuk pengobatan ginjal putrinya. Sedangkan gajinya sebagai dokter muda belum memadai untuk biaya yang cukup besar itu dan hal itu pula yang dimanfaatkan Gerald untuk mengintimidasinya.


" Anda tidak perlu tahu tentang itu semua dokter, karena saya punya banyak mata-mata, terima saja cek ini dan saya pastikan semua yang terjadi hari ini tidak akan diketahui oleh siapapun." Gerald masih membujuk lelaki itu dengan penuh kepastian.


Dia memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya kembali dan menatap lesu pada Gerald. "Baiklah. Saya akan bantu anda, tapi saya mohon dengan sangat jangan seret nama saya dalam masalah jika suatu hari ada hal yang tidak diinginkan terjadi," pinta dokter itu dengan wajah lesu.


Dia benar-benar takut. Bukan karena takut tidak mau bekerjasama dengan Marinka, tapi yang membuatnya takut jika yang dikatakan Gerald itu benar adanya. Ya dia memang butuh uang itu demi mengobati putrinya tapi dia juga tidak ingin melakukan kesalahan.


"Kalau begitu anda terima saja cek ini. Anda lakukan apa yang saya minta!" tegas Gerald padanya.


Dokter ini menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Anda butuh kapan?" tanyanya kembali.


"Saya mau secepatnya. Kalau bisa besok pagi sudah bisa saya terima," desak Gerald padanya.


"Baiklah saya akan usahakan. Anda tinggalkan saja nomor kontak anda, kalau surat visum itu sudah selesai saya akan beri tahu anda,"


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu,"


Gerald undur diri dan meninggalkan rumah sakit itu dengan wajah berseri.


Setelah keluar dari rumah sakit, Gerald menghubungi Marinka.


"Halo nyonya Marinka," 


"Iya pak pengacara, apa anda membawa kabar baik untuk saya?" Marinka begitu antusias bertanya pada pengacara muda itu.


"Tentu saja nyonya Marinka. Dokter itu telah menerima cek yang anda berikan dan dia bersedia mengeluarkan bukti visum itu secepatnya," jelasnya dengan penuh semangat.


***


Keesokan hari pagi-pagi sekali, Gerald mendapatkan telpon dari seseorang.


"Halo." 


"Halo, pengacara Gerald?"


"Iya saya sendiri."


"Saya dokter Fredy yang bertemu dengan anda di ruang visum."


"Oh iya. Bagaimana dokter? Apa anda sudah membuat data yang saya minta?"


"Sudah pengacara Gerald, kalau anda tidak sibuk anda bisa menjemputnya ke rumah sakit sekarang juga. Mumpung masih pagi dan belum ramai jadi pertemuan kita tidak akan mencurigakan siapapun." Ucap dokter itu dengan sedikit berbisik. 


Dia benar-benar tidak ingin ada yang tahu tentang perbuatannya ini. Atau kalau tidak dirinya akan terancam kehilangan pekerjaan.


"Ok. Saya ke sana sekarang juga."  


Geraldpun segera melesatkan mobilnya dan menemui dokter Fredy.


Sampai di rumah sakit, Fredy telah menunggunya di parkiran. Dia tidak ingin terlihat oleh cctv rumah sakit. Makanya sengaja dia menunggu diparkiran. Baru saja melihat mobil Gerald muncul, dokter itu langsung menghentikannya.


"Dokter Fredy, anda ada di sini?" tanya pengacara itu sedikit heran.


"Iya tuan Gerald. Kita bicara di mobil saja," sambil memperhatikan sekeliling Fredy memintanya untuk ke mobil.


Gerald segera membawanya ke mobil lalu duduk dijok depan.

__ADS_1


"Kenapa anda meminta bertemu disini?"


"Iya tuan Gerald, saya harus menghindari cctv agar apa yang telah kita perbuat tidak diketahui oleh siapapun,"


Dokter itu mengeluarkan amplop coklat yang telah disimpannya dari dalam jas putihnya kemudian memberikan pada Gerald.


Gerald tersenyum lebar tatkala dia membuka isi amplpp tesebut dan mengamati dengan saksama berkas yang ada didalamnya. Sesuai dengan apa yang di harapkannya permintaannya terpenuhi. Satu hal lagi yang dia perhatikan, ternyata pintar juga dokter ini. Dia cukup teliti untuk menghindari bahaya.


"Harus saya akui anda sangat cerdas. Bukan saja cerdas memanipulasi data anda juga cerdas dalam mengatur strategi," pujinya pada dokter muda itu sambil menepuk bahu lelaki itu.


Fredy hanya tersenyum kecut, karena dia melakukan semua ini dengan keterpaksaan. Sungguh dia tidak ingin semua ini terjadi tapi keadaan memaksanya untuk berbuat diluar batas. Putri kecilnya sedang bertaruh melawan maut, anak itu sedang berada di inkubator melawan sakitnya. Ya, putri yang berumur dua bulan itu sedang bertaruh antara hidup dan mati.


Fredy benar-benar berharap cek yang diberikan Marinka bisa membantu melunasi biaya operasi putri kecilnya itu.


"Baiklah, tuan Gerald. Urusan kita telah selesai, saya harap tidak akan ada masalah lagi setelah ini, dan ini kali pertama dan terakhir saya membantu anda," tegas dokter itu.


Gerald hanya menganggukkan kepala sambil menatap dokter itu. Fredy segera keluar dari mobil Gerald menuju ke rumah sakit. Lelaki itu hanya memandangi punggung dokter itu hingga dia menghilang.


Gerald langsung menemui Marinka untuk memberikan kabar gembira yang telah dia bawa. Secepat mungkin dia menancapkan mobilnya menuju rumah Marinka. Sesampainya disana, dia menemui Marinka.


"Pengacara Gerald. Ada apa ini anda datang sepagi ini?" tanya Marinka yang menemuinya di depan pagar rumah miliknya.


"Maaf nyonya Marinka, saya hanya ingin membawakan pesananan anda," pengacara itu mengambil amplop coklat dari mobilnya dan memberikannya pada Marinka yang menunggunya diluar.


"Cepat sekali anda mendapatkannya," Wanita itu masih belum percaya dengan apa yang telah dia dapatkan.


"Iya nyonya. Dokter muda itu sepertinya benar-benar butuh uang jadi diapun bekerja dengan serapi mungkin untuk melancarkan usaha kita," jelas pengacara muda itu.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan bersiap-siap. Anda tunggu saya disini," pinta wanita itu.


"Baik nyonya."


Marinka segera kembali kerumahnya dan hanya butuh waktu lima belas menit dia kembali membawa tas selempangnya.


"Antarkan aku ke tempat anak itu bekerja, aku ingin mendesaknya secepat mungkin untuk menandatangani surat perjanjian ini, aku sangat yakin sekali anak itu tidak akan menolak lagi kalau sudah kuperlihatkan hasil visum ini padanya," tukas Marinka pada pengacaranya.


"Baik nyonya,"


Mereka segera pergi menuju bengkel tempat Vico bekerja. Benar saja hari itu Vico ada disana. Marinka keluar dari mobil Gerald menghampiri Vico.


"Vico?" panggilnya sambil menuju ke arah Vico. Kebetulan sekali Vico sedang bekerja di luar saat ini, jadi dengan mudah Marinka bisa menemuinya.


"Tante Marinka, tumben tante ke sini pagi-pagi?" tanya Vico yang terkejut dengan kedatangan Marinka.


"Bagus sekali saya bertemu kamu disini. Sekarang juga randa tangani dokumen ini!" tegas wanita paruh baya itu padanya.


"Apa ini tante?"


"Surat perjanjian pra nikah kamu dan Silvi," Wanita itu terlihat ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Vico.


"Saya kan sudah bilang sama pengacara tante saya ga mau tanda tangani dokumen itu dan saya berencana ingin menemui tante setelah pulang keja dari bengkel," jelas Vico padanya.


Marinka berdecih "Ck, kau tidak perlu susah-susah menemuiku karena aku yang mengantarkan surat ini langsung padamu. Dan satu hal lagi kau tidak akan menolak untuk menandatangani surat itu, karena jila kau menolak kau akan dipenjara," Marinka menaikkan sudut bibirnya menatap Vico.


"Tante mengancam saya?"


"Memperingatkanmu lebih tepatnya. Kau lihat ini,sekarang ditanganku ada hasil visum Silvi. Jika kau tidak menandatangi dan menyetujui perjanjian itu kau akan berurusan dengan polisi, dan akan kupastikan kau tidak hanya di DO dari sekolahmu tapi juga akan kehilangan pekerjaanmu," Marinka berujar dengan nada tegas dan penuh intimidasi sambil melemparkan dokumen perjanjian serta hasil visum itu ke dada Vico.


Vico mengambil surat-surat itu dan membacanya dengan teliti. Betapa terkejutnya dia saat membaca hasil visum yang menyatakan bahwa itu adalah tindakan pemerkosaan. Padahal waktu itu tidak pernah terjadi pemaksaan malah Silvi sendiri yang menyerahkan dirinya pada Vico, namun sekarang semua berbalik malah memberatkannya.


Vico benar-benar kecewa dan panik. Terlihat raut wajahnya yang berubah memerah dan tangannya mengepal dengan sangat kuat.


"Ayo cepat tanda tangani sekarang juga!!!" titah Marinka padanya.


Vico benar-benar terdesak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia mengikuti kemauan Marinka dan menandatangani dokumen itu.


"Ini tante. Apapun yang tante inginkan telah tante dapatkan. Tante puaskan?" tukas pemuda itu dengan sendu.

__ADS_1


"Tentu. Pastinya aku sangat puas. Oh iya. Persiapkan dirimu untuk pernikahan minggu depan. Aku ingin setelah kalian melewati masa skorsing, kalian telah menikah!" ucap Marinka sambil mengambil dokumen itu dengan angkuhnya. Kemudian berlalu dari hadapan Vico.


Kecewa! ya, sangat kecewa. Marinka sudah membuat hidupnya benar-benar berantakan. Entah apa yang diinginkan wanita itu darinya, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.


__ADS_2