
Silvi baru saja meletakkan belanjaannya di dapur kemudian membereskan belanjaannya dan memulai ritualnya di dapur dengan memasak, berbenah di dapur dan menyajikan masakannya. Kemudian dilanjutkan dengan mengurus buah hatinya. Selesai mengurusi sang anak diapun bersantai sambil bermain ponsel untuk menemukan informasi mengenai tempat kuliah yang akan dia pilih nantinya.
Di sela-sela kesibukannya, tiba-tiba Marinka datang menghampirinya.
"Sayang, tadi bi Sumi bilang kamu diantar sama cowo pulang belanja?" tanya sang ibu sambil menatap putrinya.
Silvi menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah sang ibu. "Itu tadi aku ga sengaja ketemu sama Daren ma. Mama ingat ga Daren si gendut itu yang anaknya tante Rebeca?" jelas Silvi pada sang ibu.
Marinla mengingat kembali sosok Daren yang dijelaskan sang anak, Daren, sigendut anaknya Rebeca? Marinka masih bingung dengan ucapan sang anak.
"Maksud kamu apa nak? mama kok ga paham?" Marinka terlihat bingung.
"Iya ma, mama lupa ni. Tante Rebeca itu dulukan pernah tinggal di Indonesia sebelum memutuskan ke Amerika sama suaminya om Fa ... Fabian siapa gitu kalau ga salah. Mama inget ga?" Silvi mencoba mengingatkan sang mama kembali.
Marinka mengernyitkan dahinya mengingat kembali memorynya. Masa sich Rebeca punya anak, seingatku dia pernah dekat sama mas Adi tapi ga tahu juga kalau dia pernah menikah dan punya anak sama lelaki lain, pikir wanita itu tampak bingung. Setelah lama mengingat kembali, dirinya baru sadar akan sesuatu.
"Oh iya, mama baru ingat si Rebeca itu pernah nikah sama pengusaha dari Amerika itukan, jadi dia punya anak cowo ya?" ingat wanita paruh baya itu kembali.
"Nah itu mama ingat. Iya ma, jadi tante Rebeca itu punya anak dan anaknya pernah satu sekolah sama aku. Namanya Daren, si Daren ini waktu sekolah itu gendut dan sering dibully, jadi aku sering belain dia dulu ma, tapi sekarang mama tahu ga? Itu orang ganteng banget ma, dia udah bekerja di perusahaan mamanya dan keren lagi," jelas Silvi merasa bahagia. Dia sangat antusias memberitahukan tentang sahabat lamanya itu.
"Oh ya, apa kamu punya fotonya? mama mau lihat seganteng apa dia?" selidik sang mama pada putrinya.
Marinka penasaran dengan sosok Daren yang dimaksud sang anak.
"Bentar, aku tadi sempat selfi sama dia ma. Buat kenang-kenangan kalau kami pernah ketemu," ujarnya sambil menunjukkan fotonya dengan Daren.
Marinka memperhatikan foto itu. Pria tampan dengan tampilan high clas dan juga terkesan sangat maskulin. Marinka cukup terkesan dengan penampilan pria itu. Di tambah lagi pria itu terlihat lebih mapan dari sang menantu. Jelas saja berbeda sangat jauh yang satunya hanya seorang karyawan di perusahaan sementara yang lainnya seorang direktur di perusahaan. Sungguh perbedaan yang sangat mencolok. Bagaikan bumi dan langit.
"Jadi ini yang bikin anak mama lama pulang?" godanya pada Silvi.
"Bukan gitu ma. Aku tadi cuma ngobrol bentar sama dia, soalnya lama ga ketemu. Di tambah lagi dia sekarang jauh berbeda dari Daren yang pernah aku kenal dulu, jelas aja aku jadi sedikit ragu," ringis Silvi menatap sang ibu.
Marinka hanya tersenyum penuh makna pada sang anak. Sepertinya dia mulai kembali pada pemikiran awalnya lagi. Setelah melihat Daren, sepertinya Marinka mulai mempunyai rencana untuk membuat Silvi menjadi dekat dengan pria itu.
***
__ADS_1
Vico baru saja pulang dari bekerja. Dirinya begitu lelah karena pekerjaannya yang begitu menumpuk. Dengan langkah gontai dia melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Mas, baru pulang? kamu cape ya mas?" Silvi menatap ke arah sang suami yang baru pulang dengan tatapan sendu. Dia merasa kasihan pada suaminya yang terlihat begitu lelah.
"Iya, sayang. Aku tadi banyak kerjaan jadi lumayan cape," pungkas Vico sambil melontarkan senyuman pada sang istri.
"Ya udah mas. Kamu mandi dulu gih biar enakan. Tadi aku udah siapkan air panas buat kamu mandi. Abis itu kita makan, aku tunggu di meja makan," bujuk sang istri padanya.
Vico tersenyum sambil mengusap kepala sang istri. Sejenak rasa lelah didalam tubuhnya terasa menghilang. Inilah salah satu sikap yang disukainya dari istrinya. Meskipun masih sangat muda tapi memiliki pemikiran yang dewasa dan sangat pengertian.
Saat di meja makan, Marinka mulai membahas tentang Daren.
"Mas, tadi Silvi pulang dianterin sama cowo ganteng loh," Marinka mengadu pada sang suami. Dia mencoba menggoda sang anak bersama suaminya.
"Oh ya? memangnya siapa dia?" goda Adi sambil menatap sang anak.
"Ich mama apa-apaan sich? itu cuma teman aku kok," ujar Silvi malu-malu.
"Iya pa, temannya itu ternyata anaknya teman papa loh," ucap Marinka pada suaminya.
"Iya pa. Dia teman aku waktu sekolah dulu. Papa tahu dulu waktu di sekolah dia gendut banget pa tapi sekarang ..."
"Sekarang dia tampan dan sangat berkarisma bukan?" sambung sang ayah sambil tersenyum. Silvi mengangguk pelan mengakui perkataan sang ayah.
Tiba-tiba Vico berdehem didekat mereka. Entah berapa lama pria itu telah berada didekat mereka.
"Vico, kamu udah turun. Duduk sini nak, kita makan bareng," ajak Adi pada menantunya dengan ramah.
Sementara itu Marinka hanya memutar bola matanya malas. Setelah melihat Daren dan mengetahui posisi Daren, dia jadi ilfeel pada menantunya yang biasa-biasa ini. Kesombongannya kembali menyeruak di dalam hatinya.
"Makasih pa, " ucap Vico sambil duduk di kursi untuk bergabung makan bersama disana.
"Oh ya Silvi, kapan-kapan jangan lupa ajak teman kamu mampir ke rumah ya biar ngobrol sama papa dan mama siapa tahu nanti dia mau menjalin kerja sama dengan perusahaan papa kamu," ujar Marinka tanpa menyapa sang menantu yang baru saja duduk disana.
"Iya ma, " jawab Silvi singkat. Dia tidak ingin membahas Daren di meja makan demi menjaga perasaan sang suami.
__ADS_1
"Mas aku ambilin ya makanannya," pungkas Silvi sambil mengambilkan makanan untuk sang suami. Dia sengaja ingin mengalihkan pembicaraan sang mama.
"Oh ya Vic, sekarang ini anak kamu kan udah mulai gede, kamu masih ingatkan dengan janji kamu, kalau Silvi masih bisa melanjutkan kuliahnya lagi?" Marinka memberikan pertanyaan dengan nada sinis.
"Iya ma, aku masih ingat. Aku juga lagi mencari informasi buat beasiswa ke sana. Kebetulan aku sama Silvi memang berencana buat kuliah," jelas Vico dengan tenang pada mertuanya.
"Bagus dong kalau begitu, kasian Silvi kelamaan dirumah pasti bosan, dia juga mau lanjutin kuliah lagi buat mengejar cita-citanya, bukannya begitu nak?" ucap Marinka pada anaknya.
"Ma, biarin Vico makan dulu, kasian dia udah cape-cape pulang kerja malah diajuin banyak pertanyaan," Adi mencoba menengahi percakapan antara mertua dan menantu itu.
Marinka hanya mengedikkan bahunya sambil melanjutkan makannya. Silvi yang mengerti akan keadaan sang suami langsung menggenggam tangan suaminya untuk memberikan ketenangan padanya. Vico hanya mengulas senyum tipis padanya.
Selesai makan malam Vico duduk di balkon kamarnya sambil menatap ke langit malam. Dirinya menghiruo dalam udara malam sambil menatap ke atas langit.
Silvi yang melihat suaminya berada di balkon langsung memeluknya dari belakang sambil meletakkan kepalanya dibahu sang suami.
Vico yang melihat sang istri berada di belakangnya ingin membalikkan tubuhnya menghadap sang istri tapi wanita itu menahannya.
"Biar seperti ini dulu mas. Aku pengen kita seperti ini," pinta sang istri sambil memejamkan mata dan memeluk erat pinggang sang suami dari belakang.
Vico mengerti dan membiarkannya tetap seperti itu. Vico mengusap pelan punggung tangan sang istri dan merasakan nyaman bersamanya.
"Maafkan mama ya mas. Mama kadang suka bikin mas Vico kesal," ucap Silvi sambil berbisik.
"Ga apa-apa sayang. Aku bisa ngerti kok, maaf ya gara-gara aku kamu harus jadi istri dan ibu dalam usia muda. Yang harusnya kamu bisa nikmati untuk meraih cita-cita kamu tapi ... "
"Ssssttt jangan bicara seperti itu mas. Aku menikmati semuanya dengan ikhlas mas. Aku ga merasa terbebani,"
"Aku cuma pria biasa yang ga bisa kasih kamu banyak kebahagiaan. Maaf aku cuma bisa seperti ini," lirih lelaki itu sambil menghela nafas.
"Mas, pasti mendengarkan percakapan di meja makan tadi ya? Makanya mas bicara kayak gini sama aku," tebak Silvi mencoba mengerti isi hati sang suami.
Vico hanya diam tak menjawab, tapi cukup membuat Silvi mengerti tanpa perlu mendengar jawaban lagi.
"Dengar mas, kita udah melewati berbagai rintangan dalam hubungan kita dan kita bisa melaluinya bersama sejauh ini. Jadi jangan pernah berpikir aku akan berpaling dari kamu, karena setelah aku menikah dengan kamu, satu-satunya orang yang menjadi bagian dari hatiku ini cuma kamu mas," bujuk wanita itu sambil membalikkan tubuh suaminya dan menatap dalam pada netra pria itu.
__ADS_1
"Makasih sayang aku senang mendengarnya. Aku harap kita bisa seperti ini selamanya," pungkas Vico sambil memeluk sang istri.