
Vico masih merasa penasaran dengan nama Fredy yang dijelaskan polisi padanya. Dirinya pun berpikiran untuk mencari tahu data tentang dokter Fredy.
Vico segera menuju ke ruang arsip di rumah sakit dan menanyakan tentang orang itu.
"Maaf mbak, saya mau menanyakan sesuatu. Apakah dokter Fredy merupakan dokter tetap di rumah sakit ini mbak?" Tanya Vico pada seorang petugas rumah sakit yang menjaga ruang Arsip.
"Benar pak, dokter Fredy memang dokter tetap di rumah sakit ini, tapi beliau sudah resign dari beberapa hari yang lalu." Jelas suster itu pada Vico.
"Apa, resign? Tapi kenapa dia resign dari rumah sakit ini?" Vico menjadi penasaran dengan ucapan suster tersebut.
"Iya pak. Katanya istrinya masih dalam masa pemulihan karena gangguan depresi. Jadi untuk mengoptimalisasikan perawatan istrinya, dokter itu resign dan memokuskan pada kesehatan istrinya."
Aneh, mengapa tiba-tiba dokter itu resign dan bersamaan dengan kepergiannya penculik itupun menghilang. Semakin menguatkan dugaan Vico kalau dokter itu memang telah menculik anaknya. Tapi, untuk apa? Sungguh ini membuatnya merasa aneh.
"Oh ya suster, saya boleh meminta data identitas beliau?" Tanya Vico lagi pada suster itu.
"Untuk apa pak?"
"Saya mau mencocokkan data beliau dengan seseorang."
"Mohon maaf pak, kami tidak bisa memberikan data anggota rumah sakit begitu saja tanpa ada surat izin, karena itu merupakan privasi." Jelas suster itu.
Vico terdiam mendengarkan ucapan suster itu. Benar juga yang dikatakan olehnya, tidak mungkin pihak rumah sakit memberikan data anggota rumah sakit begitu saja, takut nanti terjadi penyalah gunaan.
Sejenak Vico, berpikir bagaimana caranya dia bisa mendapatkan data dokter Fredy supaya bisa memecahkan permasalahannya?.
Ketika Vico sedang sibuk dengan pikirannya, seseorang datang menghampirinya.
"Vico, kamu ngapain disini?" Sapa seorang dokter pada Vico.
"Eh dokter Surya, saya lagi butuh bantuan ni untuk mencari tahu identitas seseorang." Jelas Vico padanya.
"Kamu mau mencari tahu tentang siapa Vic?"
"Saya sedang mencari data tentang dokter Fredy, karena saya ingin memastikan dokter Fredy terlibat penculikan anak saya atau tidak?" Tegas Vico pada dokter Surya.
"Hah? Anak kamu diculik, gimana ceritanya sampai kamu berpikir dokter Fredy yang menculik anak kamu?"
"Ceritanya panjang dok, jadi beberapa hari yang lalu anak-anak saya diculik dan setelah diselidiki ditemukan bahwa nama Fredy yang menculik anak saya."
Dokter Surya masih merasa heran dengan penjelasan Vico. Bukankah yang bernama Fredy itu banyak, mengapa Vico bisa mencurigai dokter Fredy?
"Maaf pak Vico. Ini sangat aneh sekali, apa anda yakin dokter fredy penculiknya? Secara dokter Fredy itu anggota dari rumah sakit ini tapi dia sudah resign dari beberapa hari yang lalu."
"Saya tahu itu dok, saya cuma minta data tentang doktet Fredy. Saya cuma mau memastikan dokter itu pelaku penculikan itu atau tidak? Hanya saja suster diruang arsip itu tidak mengizinkan saya mendapatkan datanya," ujar Vico sambil menunjuk ke arah suster yang berjaga.
__ADS_1
"Jadi anda membutuhkan data identitas dokter Fredy? Ya sudah mari saya bantu." Ajak dokter itu pada Vico.
Jelas saja dokter itu bisa membantu Vico karena dia adalah pemilik rumah sakit itu dan dokter itu memiliki kuasa untuk mengizinkan Vico mencari tahu tentang data dokter Fredy.
Setelah lama mencari akhirnya Vico mendapatkan data yang sesuai dengan yang diberikan polisi padanya. Langsung saja Vico membawa salinan data yang didapatkannya ke kantor polisi.
"Pak polisi bagaimana ini? Data yang saya bawakan cocokkan dengan data penculiknya?" Tanya Vico pada polisi yang bertugas sambil memberikan salinan data yang diperolehnya.
Polisi yang mendapatkan laporan dari Vico langsung melacak data yang diberikan Vico, benar saja apa yang mereka lihat ternyata datanya tidak cocok.
"Ini hanya nama saja yang sama, tapi data dirinya sangat berbeda." Jelas polisi pada Vico.
"Apa? Yang benar pak? Itu data asli dari rumah sakit tempat dokter Fredy bekerja pak. Bagaimana mungkin berbeda?"
"Anda lihat sendiri ini, datanya sangat berbeda pak Vico. Hanya nama yang sama tapi data kelahiran dan domisilinya berbeda. Ini bukan orang yang sama."
Ferdy memang sangat picik, ternyata dia telah mempersiapkan semuanya dengan matang, sebelum pergi meninggalkan Indonesia, Fredy telah menyuruh seseorang untuk meretas data orang hilang yang memiliki nama serupa dengannya. Data itu dibuat semirip mungkin seperti kartu tanda pengenal yang asli sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa itu data orang lain yang dimilikinya.
Sementara data aslinya aman dan tidak teridentifikasi dalam tindak kejahatan yang dilakukannya, sehingga dirinyapun aman dalam bertindak.
"Kalau bukan dokter Fredy. Siapa orangnya?"
Vico benar-benar bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena semuanya menjadi buntu.
"Baiklah kalau begitu pak. Saya permisi dulu, saya mau mengantar istri saya pulang dulu." Tukas Vico.
"Maafkan kami pak Vico. Kami belum bisa membantu banyak." Ujar polisi itu pada Vico.
Vico yang merasa kecewa berjalan gontai menuju ke mobilnya, kemudian melajukan mobil dengan pikiran yang kacau. Dirinya mengemudikan mobil dengan cepat untuk segera menemui Silvi yang berada di rumah sakit, karena saat ini Silvi sudah dibolehkan pulang oleh dokter.
***
Dirumah sakit, Marinka, Adi beserta Hermawan dan Davina sedang menunggu kedatangan Vico. Tampak raut wajah penuh harap dari para orang tua itu untuk mendapatkan penjelasan dan sedikit harapan mengenai keberadaan baby twins.
Baru saja Vico sampai di depan pintu ruang inap,mereka berdiri untuk menyambut kedatangan Vico.
"Vico gimana apa kamu udah dapatkan informasi tentang penculik itu nak?" Tanya Adi pada menantunya.
"Apa benar dokter muda itu yang menculik baby twins?" Timpal Davina yang begitu ingin tahu tentang keadaan anak-anak itu.
Vico menghela nafas berat, dirinya menjadi lemah tak berdaya karena kecewa yang dirasakannya. Dirinya hanya mampu menatap dengan wajah sedih pada mereka yang bertanya.
"Jawab mas, kenapa kamu dian aja? Penculik anak kita udah ditemukan belum?" Silvi yang masih berada di brankar ikut mencecarkan pertanyaan.
"Maafkan aku. Aku gagal menemukan anak kita." Ucap Vico sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Apa? Gimana bisa, bukannya tadi kamu udah mendapatkan identitas pelakunya, yang kamu bilang dokter itu?" Tanya Hermawan penasaran.
"Tadinya memang begitu om, tapi ternyata datanya berbeda." Jelas Vico dengan singkat.
"Beda gimana?" Adi ikut menanyakan.
"Orang itu bermain cantik pa. Dia udah meretas data seseorang yang telah lama hilang dan sekarang kita tidak bisa menemukan orang itu, karena dia menghilang." Jelas Vico dengan lirih.
"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini? Gimana nasib cucu-cucuku nanti? Apa anak-anak itu akan baik-baik saja?" Keluh Marinka yang lemas mendengar kabar dari Vico.
Adi yang melihat istrinya melemah memegangi istrinya agar tidak terjatuh.
"Ini ga mungkin mas. Anak-anakku menghilang?" Silvi beruraian air mata, kecewa dengan yang telah terjadi pada anak-anaknya.
"Aku udah berusaha sayang. Aku pikir aku bisa menemukan mereka, tapi...." ucapan lelaki itu terhenti begitu saja. Suaranya tercekat ditenggorokan akibat menahan tangis.
Benar-benar menyakitkan, jika anak-anak itu tidak dapat ditemukan lagi.
"Sekarang kita cuma bisa memohon sama Tuhan, semoga anak-anak itu berada dalam lidunganNya. Papa yakin dimanapun mereka berada pasti Tuhan selalu menjaga mereka." Ucap Adi untuk menenangkan hati orang-orang didekatnya.
Hati siapa yang takkan hancur saat buah hati yang dinantikan menghilang begitu saja. Belum sempat merasakan jadi orang tua seutuhnya untuk para bayi mungil itu. Sekarang harapan untuk mendapatkan bayi-bayi itupun seakan pupus.
"Sekarang kita pulang saja dulu. Silvi harus istirahat. Sebaiknya kita menenangkan pikiran dulu. Nanti kita cari lagi anak-anak itu." Tukas Adi.
Kemudian merekapun bersiap-siap untuk kembali ke rumah dan menyelesaikan semua yang berkaitan dengan administrasi dan biaya rumah sakit.
***
Sementara itu Fredy,Mila dan kedua bayi kembar telah sampai di Singapura. Freďy berhasil meloloskan diri dari kejaran polisi karena dia telah mengelabui semua orang dengan data palsu.
Dirinya merasa aman untuk sementara waktu dan untuk saat ini dia memilih apartemen sebagai tempat tinggalnya, supaya lebih aman dan kegiatannya tidak terganggu oleh siapapun.
"Tuan ini kunci apartementnya dan untuk barang-barang bawaannya akan kami antarkan ke ruangan anda." Ujar resepsionis yang baru saja memberikan kunci apartemen pada Fredy.
"Terimakasih nona. Ini tips untukmu." Tukas Fredy sambil memberikan uang sewa apartemen dan sedikit tips untuk resepsionis itu.
"Terimakasih tuan." Ujar wanita itu sembari mengulas senyum simpul.
Kemudian Fredy beserta istri dan anak-anak menuju ke apartemen mereka diiringi oleh pelayan yang membawakan koper mereka.
Sesampainya di apartemen.
"Mas, aku mau mandiin anak-anak dulu kasian mereka pasti gerah."
"Iya sayang, aku bantu ya. Kamu pasti susah kalau memandikan dua bayi kembar sendirian. Biar aku bantu." Mila tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dan mereka segera membersihkan baby twins bersama-sama.
__ADS_1