Menikah Dini

Menikah Dini
Pembuat Onar


__ADS_3

"Mama, aku ga apa-apa kok. Aku baik-baik aja. Mama ga perlu khawatir," Reynold mencoba menenangkan mamanya.


"Tapi beneran kamu baik-baik aja?" tanya Safira kembali, merasa ada yang disembunyikan putranyà darinya


.


"Iya ma, kalau mama ga percaya mama bisa tanya sama Victory."


Reynold menghamparkan pandangannya pada Victory.


"Iya tante, Reynold cuma kecapean jadi dia mesti dirawat," jawab Victory sekenanya.


Abimana dan Lyora yang memperhatikan Safira langsung mendekat kepada Reynold, mereka menghampiri Reynold.


"Kamu ga bohong kan?" selidik Abimana.


"Iya pa. Ni papa lihat aku sehat kan." Reynold mencoba untuk berusaha tetap kuat.


Meskipun luka dikepalanya akibat pemukulan yang dilakukan Jack sudah mengering, tapi tetap saja dirinya masih belum terlalu kuat. Meskipun tetap berusaha menguatkan diri dihadapan keluarganya.


Lyora menatap ke arah Clara yang duduk disofa.


"Kak, cewe bule itu siapa?"


"Itu teman aku. Lebih tepatnya rekan bisnisku. Dia kebetulan di sini ngurusin kerjaannya, sekaligus mengunjungi aku."


"Hai." Lyora melontarkan senyum pada wanita itu.


Clara membalas senyuman Lyora kemudian menghampiri papa dan mama Farel yang masih berada di dekat Farel.


"Hello mom, dad," sapa gadis itu pada kedua orang tua Farel sambil mengulurkan tangannya. Abimana dan Safira menyambut tangan gadis itu.


Tidak ada kecurigaan sedikitpun pada mereka melihat keadiran Clara. Semuanya terlihat baik-baik saja. Andai saja mereka tahu apa yang terjadi pada gadis itu dan Reynold, mereka pasti akan lebih khawatir dari sekarang. Mungkin juga akan menyalahkan Clara atas apa yang terjadi pada Reynold. Untung saja semua bisa diatasi oleh Victory.


***


Vico telah kembali bekerja seperti biasa, setelah menikmati masa liburnya. Hari ini dia begitu semangat bekerja karena perasaan hatinya yang begitu bahagia. Bagaimana tidak, semenjak kembali dari dokter kandungan dan bisa melihat perkembangan janin kembar yang ada dalam kandungan Silvi.


"Vico, lah cerah benar tu muka. Abis dapat rejeki nomplok lo?" tiba-tiba Denis nyeletuk pada Vico.


"Ah mas Denis bisa aja, tapi kalau dibilang dapat rejeki ya mungkin juga ma," jelas Vico padanya.


"Emang rejeki apa Vic?" Denis mulai penasaran.


"Rejeki anak mas."


"Hah, anak? Emang lo udah nikah Vic?"

__ADS_1


Vico tersenyum dan mengangguk pasti.


"Udah mas dan sekarang istri saya lagi hamil anak pertama kami,"


Denis hanya tercengang masih belum percaya dengan pengakuan Vico.


"Kenapa mas? lok malah bengong gitu?"


"Haha gue masih ga percaya aja lo udah nikah. Gue pikir lo baru selesai sekolah."


Vico hanya tersenyum mendengarkan ucapan temannya itu. Memang pada dasarnya dirinya telah didewasakan oleh waktu dan apapun yang akan dihadapinya saat ini dia harus siap mental.


Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar, seperti ada orang yang menyelusup ke perusahaan saat itu.


Vico dan Denis yang berada didalam ruangan merasa terusik mereka bergegas keluar menuju ke arah suara gaduh. Terlihat beberapa orang lelaki tak dikenal datang ke perusahaan, mereka bukan klien ataupun partner bisnis, dengan arogan mereka menerobos masuk ke kantor itu dalam keadaan sempoyongan dan langsung membuat keonaran. Mereka membuat kegaduhan bahkan mengacak-acak kantorl.


"Mas mas ini jangan masuk sembarangan. Ini kantor loh mas."


Seorang resepsionis memperingatkan mereka namun tidak digubris dan mereka malah menerobos masuk ke dalam ruangan kantor, kemudian salah seorang dari mereka berteriak.


"Mana yang namanya Vico !!!" lelaki bertato naga dilengannya dengan penampilan urakan mengenakan baju kaos dan celana jeans robek itu mencari keberadaan Vico.


Mendengar ada keributan diluar, Vico dan Denis yang berada diruangan kerja mereka langsung keluar dari ruangan mereka.


"Ada apa ini?" Denis merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Vico yang memperhatikan orang itu, langsung menjawab.


"Saya Vico, mas-mas ini ada keperluan apa?"  Tanyanya merasa heran.


"Oh jadi lo orangnya."


Bug!!!


Tiba-tiba saja lelaki itu melayangkan hantaman ke wajah Vico, sontak saja Vico yang tidak pasang kuda-kuda terhuyung.


"Apa-apaan ini?" Denis mencoba menghentikan lelaki itu memukul Vico, tetapi lelaki itu malah semakin brutal dan membenturkan kepala Vico ke tembok, kemudian mencekik leher Vico serta menendang ulu hatinya.


Sontak saja Vico terjatuh dan tak berdaya dihadapan lelaki itu.


"Itu akibatnya kalau lo coba-coba deketin cewe gue." Ujar lelaki bertato itu dengan penuh kebencian pada Vico.


"Hei, lo jangan kurang ajar ya!"


Denis mencoba membantu tapi kawanan preman itu malah menodongkan senjata ke arah mereka.


"Jangan coba-coba lo, atau gue hancurin kantor ini!!!" Salah seorang kawanan preman itu mengancam dengan menodongkan belati ke arahnya.

__ADS_1


Denis memundurkan langkahnya agar benda tajam itu tidak mengenai tubuhnya.


Suasana kantor menjadi tegang dan para karyawan dibuat panik, sampai-sampai Arya selaku atasannya ikut keluar ruangan karena mendengarkan suara ribut-ribut dari dalam ruangannya.


Vico tetap bersikap tenang dan sengaja memberi kode kepada para karyawan untuk tetap tenang dan tidak panik dengan menggunakan ekor matanya.


Bukan takut atau tidak ingin melawan, karena ini adalah jam kantor jadi Vico tidak ingin ada masalah dalam pekerjaannya.


Salah seorang karyawan yang mengerti dengan bahasa tubuh Vico langsung paham dan berbisik pada Arya selaku atasan mereka agar menyuruh security membuka cctv dan mengamankan file video cctv.


Otomatis dengan adanya rekaman cctv akan mempermudah Vico untuk membuat laporan kepada polisi.


Selang setengah jam setelah aksi keributan itu berlangsung, security menghubungi polisi, bersama dengan pihak berwajib security datang menghapiri mereka kemudian melerai pemuda mabuk dan kelima temannya. Mereka dibekuk dan dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.


***


Setelah membereskan para preman itu, Vico yang babak belur dibawa ke rumah sakit untuk segera diobati. Di rumah sakit Vico minta dilakukan pemeriksaan visum untuk memberikan laporan pada pihak kepolisian.


"Dokter, bantu teman saya. Dia baru saja diserang oleh orang tak dikenal."


"Iya tuan, mari saya bantu."


Dokter itu segera memapah Vico kemudian merebahkan tubuh lelaki itu diatas brankar dan mulai memeriksanya.


Dokter yang saat itu sedang bertugas memeriksa Vico adalah dokter Fredy. Dirinya tidak mengetahui kalau Vico adalah menantu Marinka, karena keadaan darurat dokter itu lansung memerika kondisi tubuh Vico


Dokter itu memeriksa bagian tubuh Vico yang memar dan mengecek apakah ada luka dalam atau tidak.


Saat pengecekan Vico mengalami pusing dan mual akibat benturan dikepalanya. Untung saja tidak ada luka serius atau keretakan tulang pada anggo tubuhnya  "untuk meredakan rasa sakit yang anda alami saya akan berikan resep antibiotik pencegah rasa pusing dan anti nyeri. Nanti kalau misalkan anda muntah-muntah hebat kembali langsung saja ke igd terdekat."  Tukas dokter Fredy padanya.


Setelah memeriksa kondisi tubuh Vico, ada jeda waktu untuk mendapatkan hasil visum, Vico harus menunggu beberapa hari ke depan untuk mendapatkan hasil yang akurat.


"Benar-benar aneh, kenapa lo bisa diserang begitu ya Vic?" Denis merasa heran dengan kejadian dikantor tadi.


"Entahlah mas, aku juga ga tahu. Aku aja ga kenal sama mereka," ujar Vico mengancingkan kemejanya, karena memang saat melakukan visum tadi harus ada pemeriksaan detail dibagian tubuh yang terluka.


"Tapi lo yakin kan Vic ga ada masalah sama orang. Soalnya tadi kalau gue perhatikan tuch cowo yang menghajar lo kayaknya cemburu gitu."  Ujar Denis sambil mengusap pelan dagunya.


Sekarang otaknya mulai berpikir layaknya seorang detektif.


"Ga lah mas, mana mungkin aku ada hubungan sama perempuan lain. Akukan udah nikah mas." Jelas Vico.


"Gue curiga ni, atau mungkin ada cewe yang naksir sama lo ya Vic?"


"Ga tau juga sich mas, yang jelas aku ga tahu apa-apa tentang masalah ini. Aku cuma pengen selesaikan semua secepatnya. Biar ga ribet."  Tukas Vico diiringi dengan anggukan Denis.


Memang saat ini yang ada dipikiran Vico adalah bagaimana supaya para preman itu segera dilakukan pemeriksaan dan dalang dari pemukulan itu segera ditangkap.

__ADS_1


__ADS_2