Menikah Dini

Menikah Dini
Rebeca Kembali !!!


__ADS_3

"Saya mau bertemu pak Arya Hadinata pemilik perusahaan ini," ujar Vico pada lelaki itu.


"Saya Arya Hadinata," lria paruh baya itu menunjuk dirinya.


"Syukurlah saya bisa bertemu bapak disini. Sebelumnya saya minta maaf kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Tadinya saya ke sini mau melamar kerja di perusahaan bapak, tapi saya lihat ada tang ga beres di koperasi ini, jadinya saya coba bantu mbak ini tadi. Perkenalkan saya Vico Darmawan," tukas Vico sambil mengulurkan tangannya.


"Oh iya, kalau begitu kita bicara diruangan saya aja mas," ujar Arya menyambut uluran tangan Vico.


Merekapun kini berada di ruangan kerja Arya. Terlihat wajah sumringah Arya saat memeperhatikan lelaki yang duduk dihadapannya.


"Mas Vico. Saya mau ucapin terimakasih untuk bantuannya tadi, kalau ga ada mas Vico mungkin ga tahu gimana pegawai saya tadi,"


"Iya pak kebetulan saya baru masuk tadi tapi melihat kejadian perampokan itu saya jadi niat bantu aja."


Lelaki paruh baya itu menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, mas Vico tahu kantor ini dari mana?"


"Saya temannya Hans, jadi kemarin pas di bengkel sempat cerita-cerita  tentang pekerjaan jadi Hans bilang disini ada lowongan pekerjaan,"


"Iya mas, emang kami lagi butuh marketing diperusahaan ini. Kebetulan kitakan bergerak dibidang retail lebih tepatnya jual beli mobil jadi saya lagi butuh marketing pemasaran, kalau boleh tahu masnya tamatan apa?"


"Saya masih SMA pak, paling dalam tahun ini saya baru lulus sekolah."


Lelaki itu sempat berpikir, karena Vico masih bersekolah tapi menimbang anak itu telah membantunya dia malah jadi simpatik pada pemuda itu.


"Hm, ga apa-apa mas. Mas Vico mau kalau kerja di marketing? Kira-kira sebelumnya pernah bekerja dibidang tersebut?"


"Saya sich dulu cuma dibengkel jadi montir pak."


"Wah itu bagus, kayaknya saya juga butuh montir dech. Nanti mas Vico saya promosiin jadi kepala bengkel disini aja. Biar cocok sama basic pekerjaan mas Vico sebelumnya."


"Saya sich mau pak. Mau banget malahan."


"Ya udah, masnya besok bisa datang pagi ke kantor saya?"


"Maaf pak begini sayakan masih sekolah dan dalam dua minggu ini saya ujian buat kelulusan sekolah jadi saya minta dispensasi sampai tamat dulu bisa pak?" tanya Vico sambil sedikit ragu.


"Baiklah, tidak masalah. Saya tunggu kamu sampai bisa bekerja disini." Tukas Arya padanya.


Betapa senangnnya hati vico karena dia bisa mendapatkan pekerjaan ditempat itu. Secara tempat itu lebih dekat dengan rumahnya dibanding bengkel tempat dia bekerja dulu jadi akan lebih baik baginya bekerja ditempat itu.


***


Adi sedang sibuk mengecek laporan keuangan di kantornya, akibat ulah Johan dan Farah perusahaan Adi mengalami kerugian cukup besar tapi untungnya Adi masih bisa mengendalikan anggaran pengeluaran perusahaan.


Tok... tok... tok...


Seseorang diluar sana mengetuk pintu ruang kerja Adi.


"Ya masuk,"


Deby membuka pintu itu dan berujar "pak, tadi resepsionis bilang ada tamu yang mau menemui bapak?"


"Siapa?" Adi mengernyitkan dahinya. Rasanya hari ini dia tidak ada janji dengan siapapun tapi mengapa ada tamu yang hendak menemuinya?


"Saya kurang tahu pak. Katanya teman lama pak Adi."


"Ya sudah, kamu suruh masuk ke ruangan saya."


"Baik pak."


Deby segera memanggil wanita itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang bisa dikatakan modis diumurnya yang sudah berkepala empat itu. Cantik, elegan dan glamour. Lelaki manapun yang memperhatikannya pasti akan terpesona.


Wanita itu mengetuk pintu ruang kerja Adi.


"Apa aku boleh masuk?" seorang wanita cantik menyembulkan kepalanya di pintu.


"Iya, silakan masuk," tukas Adi sambil memperhatikannya.


"Hai Adi Leonardo. Sudah lama kita tidak bertemu ya," wanita itu mwnghampiri Adi dan mengulurkan tangannya.


"Maaf ibu ini siapa ya?" dia mematut wajah wanita itu mencoba mengingat apakah pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.


Wanita itu berdecih "Apa kamu benar-benar sudah melupakanku?"


"Maaf kita pernah bertemu dimana?" Adi membuka kacamatanya dan memperhatikan wanita itu.


Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan menyibakkan rambut ikalnya ke depan. Kemudian menampilkan senyuman dengan lesung pipinya yang dalam.


"Kamu? Rebeca?"  tunjuk Adi sambil memajukan tubuhnya ke arah meja didepannya.


"Untunglah kau masih mengingatku," wanita itu tersenyum dengan manis.


Mana mungkin Adi melupakannya, Rebeca, namanya Rebeca Violina adalah teman kuliah Adi. Perempuan itu merupakan primadona dikampus dan setiap pria tergila-gila padanya. Begitu juga dengan Adi yang merupakan salah satu pilihan Rebeca.  Mereka sempat menjalin hubungan yang cukup lama, tapi takdir tidak berpihak pada mereka, karena Adi harus kuliah di Amerika jadi merekapun berpisah dan sempat lost contact.


"Kamu kemana saja? Aku sudah menghubungimu berkali-kali semenjak aku pergi ke Amerika tapi malah kontakmu diganti dan aku tidak tahu sama sekali."


"Tenanglah Adi, aku akan menjelaskannya padamu. Setidaknya biarkan aku duduk dulu," tukas wanita itu padanya.


"Hampir saja aku lupa, karena shock melihatmu dihadapanku aku sampai lupa menyuruhmu duduk. Ayo duduklah dan ceritakan padaku alasanmu."


Kini wanita itu duduk dihadapan lelaki itu. Adi memandangi setiap jengkal dari wajah wanita itu. Tidak ada yang berubah dia masih secantik yang dulu, hanya saja kini wanita itu terlihat lebih matang dalam usia.


"Maafkan aku Adi, aku harus menemui dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kabarmu? Apa keluargamu baik-baik saja?" Wanita itu sedikit berbasa basi.


"Aku? Ya seperti yang kau lihat aku saat ini sendiri." Ujar wanita itu datar.


"Maksudku bagaimana anak dan suamimu?"


"Anak? Ya aku memiliki anak tapi dia di Amerika dan sebentar lagi akan kuliah, kalau anakmu bagaimana?"


"Anakku juga seumuran dengan anakmu tapi sudah menikah."


"Bagaimana bisa?" Wanita itu membelalakkan matanya karena terkejut.


"Nanti saja kita bahas itu. Oh iya seingatku dulu kau menikah dengan Fabian yang pengusaha kaya raya itukan? Bagaimana kabarnya?" Adi mengalihkan pembicaraan mereka.


Wanita itu menghela nafas berat. "Hm, ya aku memang menikah dengannya, tapi kami telah berpisah. Dia lebih memilih wanita bule itu dibandingkan aku."


"Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung tentang itu. Aku pikir hubunganmu dengannya masih baik-baik saja."


"Tidak mengapa Adi. Lagi pula aku sudah tidak memikirkannya lagi."


"Lantas, apa yang membuatmu kembali ke Indonesia setelah lima belas tahun di Amerika."


"Itulah yang menjadi alasan utamaku ke sini. Kau tahu ayahku adalah salah satu investor di perusahaanmu dan sekarang ayah memintaku untuk mengelola bisnisnya."


"Benarkah? Siapa ayahmu? Dari dulu aku tidak pernah tahu tentang keluargamu, karena kau juga selalu menutupi tentang hubungan kita dan juga keluargamu dariku." Wajah lelaki itu menyiratkan kekecewaannya.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan hubungan kita, aku hanya belum siap mengenalkanmu pada ayah waktu itu karena kita masih kuliah. Bagiku akan lebih baik aku mengenalkanmu pada ayah ketika kita telah sama-sama mapan," sesal wanita itu.


Benar juga yang dikatakannya, jika dia mengenalkan Adi saat itu pasti yang ada hanya sebuah penolakan dari ayahnya atau keluarga besarnya tapi kalau mereka melihat kesuksesan Adi saat ini pasti mereka sangat setuju dengan pilihan anaknya, namun sayang itu tidak mungkin karena Adi telah mempunyai keluarga yang harmonis.


"Ya aku paham itu, tapi aku penasaran siapa ayahmu?"

__ADS_1


Tanya Adi merasa penasaran dengan pertanyaannya yang belum terjawab dari tadi.


"Mr. Clarkson ... Mr. Clarkson Anderson adalah ayahku."


Adi mengingat kembali memorinya tentang Mr. Clarkson Anderson. Ya lelaki itu adalah salah satu investor yang berpengaruh mengantarkan proyeknya waktu itu.


"Jadi Mr. Clarkson itu ayahmu?".


Wanita itu menganggukkan kepalanya.


"Waw ini benar-benar kebetulan sekali. Aku bekerjasama dengan ayahmu dan sekarang aku dihadapkan dengan putrinya secara langsung sebagai rekan bisnisku."


Adi menggelengkan kepala terkejut sekaligus kagum pada wanita itu. Dunia benar-benar sempit baginya saat ini, dia dipertemukan kembali dengan wanita dimasa lalunya. Semoga saja itu bukanlah pertanda buruk untuk kehidupannya.


***


Silvi dan Marinka sedang berada di mall, mereka sedang berbelanja untuk perlengkapan baby Silvi nantinya. Karena saat ini usia kandungannya telah tiga bulan Silvi ingin mempersiapkan kebutuhan babynya.


"Hai jeng, waduh ga nyangka kita ketemu disini." Seorang wanita dan anak gadisnya menghampiri Marinka dan Silvi.


"Eh, jeng Vina." Marinka nengulas senyum ramahnya.


Riana yang melihat Silvi langsung memeluknya sembari mempehatikan dan mengusap perut Silvi yang sedikit membesar.


"Maaf ya jeng. Waktu pernikahan Silvi ga bisa hadir, soalnya kemarin itu lagi liburan ke Jepang."


"Duh orang orang kaya. Liburannya ke Jepang." Marinka berkelakar.


"Maaf ya Sil, aku ga bisa datang, tapi aku punya hadiah buat kamu." Ujar Riana sambil mengenggam tangan Silvi.


Bukan hanya kebetulan mereka bertemu. Memang  sebenarnya Riana dan mamanya memang sengaja ingin membelikan kado untuk Silvi dan mengantarnya ke rumah Silvi tapi karena sudah bertemu langsung, Riana memutuskan untuk memberikannya pada Silvi.


"Ga usah repot-repot Ri," ujar Silvi padanya.


"Ga ini tadikan abis belanja rencananya mau mampir ke rumah kamu tapi kayaknya udah terlalu sore ga enak juga. Kebetulan udah ketemu kamu jadinya aku kasih ke kamu aja." Riana mengambil sebuah kotak dari tasnya dan memberikan hadiahnya pada Silvi.


Silvi menerima hadiah itu dan langsung membukanya. Ternyata itu adalah sebuah kalung. "Wah ini cantik sekali."


"Langsung dipakai aja," tukas Vina pada gadis itu.


Riana segera membantu Silvi mengenakan kalung itu ke leher jenjang milik Silvi. Kalung itu terlihat cantik bertengger dileher jenjang gadis itu.


Masih saja. Perasaan itu terasa kembali. Kenapa setiap kali mata itu bertatapan dengan matanya ada hal yang terasa sangat dekat baginya namun tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Sekilas pikiran itu muncul dibenak Vina.


"Ma... mama... mama kenapa?" Riana mengguncang pelan lengan mamanya.


Vina tersentak, lamunannya seketika buyar. "Tidak nak. Mama ga apa-apa."


Vina masih menatap Silvi dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ma, pulang yuk udah sore." Pinta Riana pada mamanya.


Vina hanya menganggukkan kepala.


"Jeng, ga mampir dulu ke rumah?" Ajak Marinka.


"Kapan-kapan aja jeng saya mampir. Udah terlalu sore. Kasian papanya Riana pasti udah nungguin," tukas wanita itu.


Akhirnya mereka berpisah ditempat itu. Silvi dan Marinka merasa heran, dengan Vina yang seketika diam saat menatap mata Silvi. Sebenarnya apa yang dia pikirkan?


"Silvi, kamu ngerasa ga ada yang aneh dari tatapan tante Vina tadi?"


"Iya ma, aku ngerasa sich cuma aku ga tahu apa yang dia pikirkan sama tante Vina. Kayaknya dia mau bilang sesuatu tapi entah apa?"

__ADS_1


Mereka saling menatap bingung, tapi mereka mengakhiri pertanyaan yang bermunculan dipikiran mereka dengan memutuskan kontak mata kemudian pulang bersama.


__ADS_2