
Max mengeratkan pelukannya pada Clara, dia mengusap pelan pucuk kepala gadis itu. Dia tidak ingin berdebat dengan wanitanya, tapi melihat wanita itu pulang larut malam ditambah lagi dua hari dari kemarin dia tidak dapat menghubungi wanita itu membuat sesak didadanya sehingga dia tidak bisa mengontrol amarahnya.
"Max, aku lelah. Bisakah kita beristirahat dan mengakhiri perdebatan kita?" Clara menatapnya dengan sendu.
"Ya honey. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud menuduhmu, tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat aku tidak bisa menghubungimu". Lelaki itu menatap lembut pada wanitanya. Kali ini wajahnya tidak setegang saat dia menunggu Clara diluar tadi. Dia berusaha membuat gadis itu nyaman dipelukannya.
Clara mengukirkan senyum yang manis pada lelaki itu.
"Oh ya Max, kau pasti lelah. Apa kau mau aku masakkan sesuatu?" Bujuk wanita itu padanya.
"Hm, apa kau ingin menyuapku?" Canda Max padanya.
"Ah tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Anggap saja aku membayar kesalahanku padamu".
"Baiklah kalau begitu, lakukanlah hal yang bisa membuatku melupakan kemarahanku."
"Tunggu sebentar ya. Aku akan buatkan sesuatu untukmu."
Wanita itu segera menuju ke dapur, dia menyiapkan perlengkapan memasaknya juga bahan-bahan memasak seperti ayam, susu, keju dan bumbu memasak lainnya.
Gadis itu tetlihat piawai melakukan pekerjaannya dan dalam waktu setengah jam wafel ayam kesukaan Max telah tertata indah didalam piring saji.
"Tada... tuan Max, pesanan anda telah siap. Silakan dimakan." Goda wanita itu padanya.
Lelaki itu terkekeh hingga memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi, karena kelakukan Clara yang seperti seorang koki.
"Hm... aromanya sangat enak. Aku akan mencobanya." Max segera mengambil makanannya kemudian memotong wafel ayam buatan Clara dan menyuapkan potongan wafel itu ke mulutnya.
Clara memperhatikan lelaki itu sambil menopang dagu. Menunggu reaksi Max atas makanan yang diberikannya.
"Hm... dellicious." Ujar lelaki itu sambil menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya untuk mengungkapkan bahwa masakan kekasihnya itu sangat enak.
Clara sangat senang mendengarkan pujian lelaki itu. Sebenarnya bukan pujian itu yang utama baginya, tapi melihat amarah yang memudar dari wajah lelaki itulah yang membuatnya bahagia.
Tentu saja sebagai pasangan pasti keharmonisan dalam suatu hubungan adalah hal yang terpenting. Adakalanya disaat pasangan merasa terabaikan, yang lain harus mengalah demi menjaga perasaan pasangannya.
Ditempat berbeda Reynold,Victory,Evan dan Ayesha baru saja sampai dihotel. Mereka menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat, melepas penat setelah seharian jalan-jalan.
Reynold merebahkan tubuhnya ke ranjang. Entah kenapa malam itu dia tidak bisa tidur dan kepalanya hanya diisi dengan wajah cantij dan senyuman manis Clara. Masih teringat dalam ingatannya bagaimana wanita itu mengarahkan dan mengajak mereka jalan-jalan ke tempat terindah di kota London.
Hatinyapun tergerak untuk menghubungi gadis itu.
Reynold mengambil handphonenya kemudian mencari kontak Clara dan menghubunginya. Beberapa kali dia menghubungi nomor itu, tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin gadis itu sudah tidur. Lagi pula sekarang sudah larut malam, pasti dia sudah berada dialam mimpi. Namun, hatinya tidak bisa diajak kompromi. Diapun mengirimkan pesan singkat pada gadis itu.
Lima menit hingga sepuluh menit tidak ada jawaban. Mata Reynold mulai mengantuk dan akhirnya dia terlelap.
Di seberang sana, Maxy dan Clara baru saja tidur tapi dia terjaga karena mendengar bunyi ponsel berdering.
Siapa itu yang menelpon malam-malam begini? Berisik sekali. Gumamnya sambil melihat ke atas nakas. Ternyata ponsel Clara. Melihat pancaran cahaya dari ponsel itu dia segera mengambil ponsel itu. Terlihat dari notifikasinya sebuah pesan masuk dari seseorang.
Reynold : Hai Clara apa kau sudah tidur?"
Tidak perlu membuka pesan itu karena bisa terbaca dengan jelas.
Lelaki itu merasa heran dengan nama yang ada didalam ponsel itu. Reynold? Siapa lelaki itu? Apa mungkin itu klien Clara yang dari Indonesia itu? Dia bertanya-tanya dalam hati.
Sedikit merasa kesal karena melihat nama seorang laki-laki didalam ponsel tunangannya itu, Maxy melemparkan ponsel itu ke atas nakas. Dia benar-benar kesal, apa mungkin Clara berbohong padanya? Dia harus mencari tahu siapa itu Reynold? Dan apa hubungannya dengan wanita yang berada disisinya saat ini?
Berbagai pertanyaan terbesit dipikrannya namun dia tidak mau membangunkan wanita itu dan memutuskan untuk kembali tidur saja.
***
Adi dan Rebeca baru saja keluar dari ruangannya. Adi mengajak wanita itu untuk makan siang bersama ke sebuah restoran. Adi segera memanggilkan waiters kemudian memesankan makanan dan minuman.
"Adi, aku lihat sepertinya tadi kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu." Rebeca membuka percakapan.
"Iya, selama beberapa hari ini aku sakit dan perusahaan aku serahkan kepada Johan adikku, tapi dalam waktu yang singkat dia malah membuat perusahaanku nyaris saja bangkrut." Ujar Adi dengan mimik wajah yang sedikit kesal.
"Hah? Bagaimana bisa seperti itu?" Rebeca tercengang dengan apa yang diucapkan Adi.
"Kau terkejutkan? Jangankan dirimu. Aku saja tidak menyangka saudaraku sendiri akan berbuat curang." Jelas Adi kembali.
"Apa yang telah dia lakukan sampai perusahaanmu mengalami kerugian besar?"
"Dia menggelapkan uang perusahaan. Kau tahu, Johan menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadinya dan dia juga mengambil aset perusahaan untuk dirinya."
"Aku tidak menduga Johan akan berbuat seperti itu." Ucap wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya begitulah, dari dulu dia sangat ingin sekali menjadi pemilik perusahaan ini, tapi karena dulu dia masih kuliah jadi papa memberikan kepercayaan padaku untuk mengelola perusahaan."
__ADS_1
"Yes, I see that."
"Sekarang aku benar-benar bingung, jika hutang-hutang perusahaan tidak bisa aku tebus dalam waktu yang singkat, bisa-bisa perusahaanku hancur." Keluh Adi dengan raut wajah lesu.
"Kau tidak perlu khawatir. Bukankah kita berteman? Anggap saja kita adalah sahabat dan kalau kau butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu."
Rebeca memberikan penawaran.
"Ahm, tidak usah Rebeca. Aku tidak ingin menyusahkanmu. Aku hanya ingin meluapkan kekesalanku saja, untuk saat ini semua masih terkendali dan aku rasa aku masih bisa menghandle semuanya bersama anggotaku." Tegasnya pada Rebeca.
Terang saja Adi berkata seperti itu. Bukan bermaksud menolak hanya saja dia merasa tak enak pada Rebeca. Mereka baru saja bertemu setelah belasan tahun dan sekarang malah minta bantuan Rebeca. Tentu saja Adi merasa sungkan.
***
Vico baru saja sampai dirumah. Dia sangat senang, karena hari ini dirinya telah diterima di perusahaan papanya Hans.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. Tidak perlu waktu lama, panggilannya dijawab.
"Halo"
"Halo Hans, ini gur Vico."
"Iya Vic, ada apa? Tumben lo nelpon gue."
"Hans, gue cuma mau ucapin terimakasih sama lo. Hari ini gue diterima di perusahaan papa lo."
Vico begitu antusias menceritakan kebahagiaannya.
"Wah... selamat ya, kalo gitu lo mesti traktir gue dong." Kelakar Hans padanya.
"Tenang. Apa sich yang ga buat lo. Asal lo bisa luangin aja waktu buat gue pasti gue bakal traktir lo."
"Ok. Besok siang kita ketemuan."
"Siap. Kebetulan gue juga ada ujian disekolah besok, jadi pulang sekolah kita ketemu di cafe ya."
"Oke siap bro."
Pembicaraan merekapun terputus.
Silvi baru saja selesai merapikan dirinya. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia menghampiri suaminya.
"Kayaknya kamu lagi bahagia ya mas?" tanyanya sambkl memperhatikan Vico.
Lelaki itu menghadapkan wajahnya pada wanitanya.
"Hm, apa ya. Aku juga ga tahu, apa mas dapat bonus dari bengkel?" Wanita itu mencoba menebak.
Vico menggelengkan kepala.
"Hm, terus apa?" Tanya Silvi penasaran.
"Tadi aku ke perusahaan papanya Hans dan aku diterima bekerja disana." Lelaki itu bercerita sambil menggenggam tangan wanita dihadapannya.
"Wah bagus itu mas. Aku ikut senang mendengarnya." Uajr silvi sambil mengusap punggung tangan suaminya.
"Iya sayang, rejeki baby kita ni." Tukas Vico sambil mengusap pelan perut istrinya.
"Kamu ngerasain sesuatu ga?" Tanya Silvi merasakan ada pergerakan diperutnya.
"Iya sayang. Si debay kayaknya nyahut. Ni barusan dia bilang makasih papa." Kelakar Vico pada istrinya.
Walaupun sebatas gurauan tapi cukup membuat Silvi senang. Memang setiap orang punya cara tersendiri untuk membuat bahagia pasangannya. Begitu juga Vico yang selalu ingin membahagiakan Silvi.
"Sayang kok aku tiba-tiba kangen sama ibu dan Zahra ya?" Tanya Vico sambil memperhatikan Sivi.
"Iya mas, udah dua minggu sejak kita nikah kamu ga ngunjungin ibu. Gimana kalau besok abis pulang ujian kita mengunjungi ibu saja?" Usul Silvi padanya.
"Iya sich, maunya begitu tapi aku kayaknya ada janji sama Hans. Diakan udah bantuin aku supaya bisa kerja di perusahaan papanya, jadi aku pengen traktir dia gitu. Itung-itung buat ucapin terimakasih." Jelas Vico sambil mengusap dagunya.
"Ya udah, kalau begitu kita nemui Hans dulu, sekalian ngumpul sama Riana. Kangen loh aku buat ngumpul bareng kayak dulu lagi." Silvi mendekatkan tubuhnya ke arah Vico.
"Hm boleh juga tuch. Besok abis ujian kita nongkrong sama mereka terus kita mengunjungi ibu, tapi kita menginap dirumah ibu ya." Lelaki itu merangkul bahu istrinya.
Silvi menganggukkan kepala menyetujui permintaan Vico.
"Ok, kalau begitu sekarang kita tidur ya. Udah malam, si debay pasti ngantuk ni." Ujar Vico sambil mengusap perut Silvi.
***
__ADS_1
Riana dan Vina sekarang telah sampai dirumah mereka. Riana segera membereskan belanjaan mereka.
"Ma, ini belanjaan mama mau aku taruh dimana?"
"Iya Ri, kamu taruh dikamar kamu aja dulu ya. Mama mau istirahat dulu." Ujarnya sambil masuk ke dalam kamar.
"Mama ga makan malam dulu?" Tanya Riana sambil menata belanjaannya.
"Mama ga lapar nak. Kamu sama papa kamu duluan aja."
Vina menaruh tasnya di atas kursi riasnya. Dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Sepertinya Vina sangat lelah setelah seharian berbelanja bersama putrinya.
Dimeja makan Hermawan dan Riana sedang menikmati makanana mereka.
"Ri, mama kamu mana? Ga ikut makan bareng kita?" Mata Hermawan mencoba melihat ke sisi ruangan itu mencari keberadaan istrinya.
"Mama dikamar pa. Katanya ga lapar dan capek jadinya langsung tiduran aja."
"Oh ya udah kalau begitu."
Mereka melanjutkan makan malam mereka hingga selesai. Merasa kasihan kepada istrinya yang belum makan Hermawan berinisiatif membawakan makanan dan minuman Vina ke kamarnya.
Sesampainya dikamar.
"Ma... ini papa bawain makanan untuk mama," ujarnya sambil membawakan nampan berisi piring makan yang tertata diatasnya nasi putih, ayam goreng, sayur sup dan segelas air putih ke atas nakas.
Vina belum terlalu lelap dalam tidurnya, mendengar suara suaminya dia membuka matanya perlahan, kemudian duduk.
"Loh mas, kok malah dibawain makanannya ke kamar?"
"Ya ga apa-apa, tadi kata Riana kami cape abis shopping terus langsung tidur. Kan kalau ga makan nanti kamu lapar. Jadinya aku bawain aja makanan kamu." Ujar lelaki itu padanya.
Senang sich punya suami seperti Hermawan. Meskipun sibuk dengan urusan pekerjaannya di kantor masih bisa menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada istrinya. Bagaimana tidak? Hal-hal sederhana yang dilakukan pasangan justru akan membuat hubungan dan ikatan emosional semakin dekat.
"Mas baik banget. Harusnya mas ga perlu repot-repot bawain makanan segala. Lagian aku kan ga sakit mas," Vina mendekat ke arah suaminya kemudian memeluknya singkat.
"Aku tahu kamu ga sakit. Aku cuma pengen bikin kamu senang aja. Sekarang kamu makan dulu ya." Bujuknya sambil mengambil sendok kemudian menyuapi istrinya.
Vina sangat senang atas perlakuan suaminya. Diapun memakan makanan itu dengan lahap dan menghabiskan tiap suapan yang diberikan suaminya. Kemudian mengakhiri dengan meminum air putih yang telah dibawakan suaminya.
"Makasih ya mas. Aku kenyang banget ni," icapnya sambil mengusap perutnya yang terasa kenyang.
Hermawan mengulas senyum dibibirnya mendengar perkataan istrinya.
"Oh ya, sekarang kalau kamu ga keberatan coba ceritain sama aku sebenarnya kamu ada masalah apa?"
Lelaki ini memang sangat mengenal watak istrinya. Tidak biasanya Vina tiba-tiba mengasingkan diri dengan alasan capek, karena secapek apapun dia, pasti tetap bisa meluangkan waktu untuk hanya sekedar makan bersama.
"Loh kenapa mas nanya kayak gitu?"
"Vina, aku kan suami kamu. Aku tahu banget sikap kamu, kalau kamu kayak sekarang ini pasti lagi ada masalahkan? Ayolah Vin, cerita aja sama suamimu ini." Lelaki itu mendekatkan kursinya ke hadapan istrinya dan mengusap pelan punggung tangan istrinya.
"Hm, begini mas. Aku merasa ada yang mengganjal saja didalam hatiku."
"Memang kamu merasakan apa?"
"Itu mas. Aku beberapa kali ketemu sama Silvi, tapi kenapa ya setiap kali melihat matanya, aku ga merasa asing sama anak itu? Sepertinya aku sayang banget sama dia. Sama kayak aku menyayangi Riana." Jelas Vina mengingat kembali wajah Silvi.
Terhenyak. Hermawan benar-benar terhenyak mendengar pernyataan istrinya. Dia tidak menyangka wanita itu akan berkata seperti itu padanya. Ada hati yang tercubit, namun dia tidak mampu menjelaskannya pada wanita itu.
"Ahm, mungkin itu cuma perasaan mama saja, karena Riana juga bersahabat dengan Silvi jadi wajar saja mama merasa dekat dengan anak itu," ujar Hermawan meyakinkan istrinya.
"Mungkin juga mas," jawab Vina singkat.
"Sekarang kita tidur yuk. Kamukan cape tadi katanya," Hermawan mendekati istrinya kemudian merangkulnya untuk mengajak wanita itu ke ranjang mereka.
Vinapun mengikuti ajakan suaminya dan beranjak dari tempat duduknya. Merekapun memejamkan mata untuk segera beristirahat.
Baru saja akan memejamkan matanya,seseorang menghampirinya Hermawan. Lelaki itu menghiba dan memohon padanya.
"Tolong aku, berikan anak itu padaku. Aku janji jika kau memberikan anak itu padaku, aku tidak akan mengusik hidupmu lagi."
"Jangan seperti itu, anak itu anakku, bagaimana mungkin aku memberikannya padamu?" Hermawan menggendong bayi perempuan itu dengan erat.
"Aku mohon bantu aku sekali ini saja. Aku sangat membutuhkan anak itu. Jika aku pulang tidak membawa anak itu aku tidak tahu harus berkata apa pada istriku. Wanita itu benar-benar dalam keadaan hancur sekarang. Tolong aku," Lelaki itu terus memohon dengan air mata berlinang.
Hermawan merasa sesak didadany melihat lelaki itu terus memohon dan menangis dihadapannya, dia menyuruh lelaki itu duduk dihadapannya kemudian memberikan bayi itu padanya.
"Anakku!!!" teriak Hermawan. Diapun terjaga dari tidurnya.
__ADS_1
Untung saja hanya mimpi gumamnya dengan nafas tersengal-sengal. Entah kenapa dia bermimpi seperti itu. Mimpi itu terasa sangat nyata dan membuatnya menjadi gelisah. Dia mengusap kasar wajahnya dan mengambil air didalam teko kemudian menuangkannya ke dalam gelas dan meminum air itu dengan sekali teguk.
Benar-benar aneh. Apa maksud mimpi itu? Hermawan tidak ingin memikirkan lebih lama lagi diapun memutuskan untuk kembali tidur.