Menikah Dini

Menikah Dini
Curhatan Silvi


__ADS_3

"Dokter Raka, maaf kita bicaranya di ruang tunggu saja. Istri saya keadaannya tidak stabil saya takut kalau saya tinggal nanti dia malah histeris lagi," ucap Fredy sambil mengajak dokter itu duduk di ruang tunggu.


"Baiklah saya mengerti. Langsung saja ya pada pokok pembicaraannya, baby Shafa harus dioperasi secepatnya agar kondisinya tidak semakin memburuk."


"Iya dok. Saya sudah persiapkan semuanya. Masalah biaya berapapun akan saya bayar asalkan anak saya bisa diselamatkan," Fredy kini sangat menggantungkan harapannya untuk kesembuhan anaknya pada dokter yang bertugas menangani penyakit dalam itu.


"Baiklah, secepatnya kami akan melakukan tindakan operasi."


Tidak butuh waktu lama, Fredy langsung mengurus pendaftaran untuk operasi ginjal baby Shafa. Kemudian dia menghampiri Mila.


"Mas dari mana kok aku ditinggal?" Mila baru saja bangun dari tidurnya.


Fredy mendekati Mila dan merangkul wanita itu, "Maaf, aku ga ninggalin kamu kok, tadi dokter Raka ke sini. Dia bilang Shafa harus segera di operasi. Jadi aku sekalian mendaftarkan operasi untuk Shafa."


"Jadi Shafa udah bisa dioperasi mas?" Ada sedikit harapan tersirat dari tatap mata wanita itu.


"Hm, sebentar lagi tim medis akan mengecek kondisi Shafa dan kebetulan ada donor ginjalnya juga ada." Jelasnya sambil menatap mata wanita itu.


"Syukurlah mas. Semoga aja baby Shafa kuat ya." Dia mengulas senyum kecil diwajah sendunya.


Fredy menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan bayinya yang berada di inkubator.


Tim medis telah mempersiapkan peralatan operasi. Sekarang, bayi mungil itu sedang dibawa menuju ruang operasi. Terlihat wajah sepasang suami istri itu harap-harap cemas, mereka mengiringi bayi mereka hingga menuju ruang operasi.


"Bapak... ibu... mohon menunggu diluar ya. Baby anda akan kami operasi dulu." Ujar seorang perawat yang berada di depan pintu ruang operasi.


Langkah Fredy dan Mila tertahan dipintu masuk karena mereka harus menunggu tim medis mengoperasi babynya. Lelaki itu mengajak istrinya duduk diruang tunggu. Terlihat lampu merah yang sedang menyala pertanda operasi sedang dimulai, keduanya kini hanya bisa pasrah dan berdo'a semoga operasi berjalan dengan lancar. Baby Shafa bisa hidup normal kembali.


***


Silvi baru saja mendatangi Adi, "gimana keadaan papa? Udah enakan pa?" Anak itu memperhatikan papanya yang masih terlihat lemas.


"Beginilah nak. Papa masih belum kuat, tapi papa senang udah bisa kembali ke rumah," lelaki itu berusaha duduk agar merasa lebih nyaman.


Dengan sigap Silvi membantunya meletakkan bantal dipunggung Adi. Gadis itu menatap lekat wajah papanya, " maafin Silvi ya pa, gara-gara Silvi papa jadi ngedrop. "


" Ini bukan salah kamu, papa cuma kecapean kok," dia melukiskan senyum tipis.


Keadaan Adi sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi saat ini dia memang harus bed rest dulu.


Silvi sangat ingin sekali bercerita tentang apa yang telah dijelaskan Marinka padanya, tapi melihat kondisi Adi yang belum begitu stabil dia hanya bisa memperhatikan wajah itu dengan tatapan sendu.


"Ada apa nak, kenapa kamu ngeliatin papa seperti itu? Apa ada yang mau kamu ceritakan pada papa?" Adi mensejajarkan tatapannya pada Silvi, dia menangkap ada sesuatu yang ingin diutarakan oleh putrinya pada dia.

__ADS_1


Silvi menunduk dan membuang nafas berat. Ingin sekali dia menceritakan semuanya tapi semuanya terasa berat dalam situasi seperti ini.


"Silvi, cerita aja sama papa kamu ga usah takut gitu." Tukas Adi.


"Hm, sebenarnya aku mau cerita sama papa, tapi aku takut nanti papa malah kepikiran,"


"Cerita aja papa pasti dengerin,"


"Ahm, begini pa. Kemarin mama bahas tentang rencana pernikahan aku sama Vico, tapi mama minta aku buat menandatangani surat perjanjian pra nikah,"


"Apa? Perjanjian pra nikah?"


Silvi mengangguk pelan, "dan papa tahu tidak isi suratnya seperti apa?"


"Memangnya bagaimana isi perjanjiannya?"


Silvi menunjukkan pada Adi surat perjanian yang telah dibuat oleh pengacara Gerald. Adi merasa ada yang janggal dengan surat perjanjian itu.


"Satu tahun pernikahan? Apa maksud mama kamu membuat perjanjian seperti ini?"


"Entahlah pa. Mama cuma bilang aku harus tetap kuliah di Amerika, suka atau tidak aku harus ikuti perkataan mama,"


Adi menghela nafas berat. Dia paham sekali istrinya itu memang keras kepala, kalau sudah membuat keputusan tidak ada yang boleh membantah. Bukannya Adi menerima begitu saja keputusan istrinya, hanya saja dia berpikir ada baiknya jika dijalani saja dulu. Lagi pula Silvi dan Vico masih terlalu muda menjalani pernikahan. Berharap saja semoga semuanya bisa baik-baik saja.


"Silvi, kamu yang sabar ya. Mama kamu berbuat seperti itu bukan karena ingin menyakiti kamu. Hanya saja mama kamu belum siap dengan keadaan kamu. Dia terlalu shock saat tahu kamu hamil. Mama kamu sangat kecewa dan menyuruhmu menggugurkan kandunganmu, tapi percayalah mama kamu bukanlah orang yang jahat. Dia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu."


Nyaman, itu yang dirasakan Silvi saat ini. Baginya dekapan papanya saat ini adalah sumber kenyamanan dan ketenangannya, hanya papanya yang sangat memahami perasaannya. Dari sejak pertama dia mengenal lelaki, papanya lah orang yang selalu ada untuknya. Memang benar yang dikatakan orang kebanyakan. Ayah itu adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan karena meskipun ayah memegang tangan putrinya untuk sementara waktu, tetapi dia memegang hati anak perempuannya selamanya.


***


"Nah ini dia orangnya, gue cari kemana-mana taunya ada disini," lelaki itu menghampiri dirinya yang masih terhanyut dalam pikirannya.


"Woy... malah bengong," lelaki itu menepuk pundak Vico.


"Apaan sich ganggu aja lo," Vico memperlihatkan wajah masamnya.


"Gue datang ke sini mau service mobil. Noh si camry butuh perawatan. Bantuin gue dong," Hans menunjuk ke arah mobilnya.


"Gue lagi bete banget. Ngapain juga lo suruh gue yang service. Tuch ada anak-anak laen."


"Gue maunya lo. Abisnya gue nyaman aja pake mobil kalau lo yang benerin,"


Vico hanya mendengus. Diapun menuju ke mobil camry yang dibawa Hans kemudian mengecek kondisi mobil itu.

__ADS_1


Hans duduk memperhatikan Vico yang sepertinya lagi malas untuk diajak bicara.


"Gue denger kemarin tante Marinka ke sini?"


"Emang lo tahu darimana?" Vico masih sibuk dengan peralatannya.


"Noh, anak-anak cerita katanya tante Marinka marah-marah ke sini."


"Rese tuch anak-anak apa pada diomongin. Padahal ga perlu dibahas," ujar Vico sambil memperbaiki mobil itu.


"Ya. Biasalah. Lo pikir cuma cewe doang yang kang gosip. Cowo juga suka gosip kali," ejek Hans padanya.


"Sialan lo!" Vico tersenyum sambil tetap bekerja.


"Emang ributin apaan lo sama emaknye Silvi?"


"Dia mau gue tanda tangani perjanjian pra nikah."


"Lah, ide siapa itu?"


"Ide tante marinkalah siapa lagi?"


"Gimana ceritanya bisa buat perjanjian pra nikah segala?" Hans mulai kepo.


"Dia pengen gue nikahin Silvi minggu depan dengan syarat pernikahannya cuma setahun."


"Gila setahun doang buat apaan coba? Emang lo setuju?" Tanya Hans lagi.


"Ya terpaksa setuju. Abisnya dia ngancem gue," ujar Vico sambil meletakkan peralatannya, kemudian duduk didekat Hans.


"Emang ngancem apaan?"


"Dia bawa visum pemerkosaan terus bilang ke gue kalau gue ga setuju menikah secepatnya dengan persyaratan yang dia kasih. Dia bakal penjarain gue,"


"Kok gitu ya tante Marinka."


Vico hanya menaikkan bahunya menanggapi perkataan Hans.


"Emang rencana nikahnya kapan?" tanya Hans lagi.


"Minggu depan!"


Hans langsung melongo mendengarkan jawaban Vico. Dadakan sekali. Bukankah itu sangat mendesak sekali? Vico pasti belum mempersiapkan dirinya.

__ADS_1


Hans merasa iba padanya tapi mau bagaimana lagi Vico harus bertanggung jawab pada Silvi kalau terus menunda pastinya akan memperparah keadaan.


Vico sendiri saat ini juga bingung mau melanjutkan langkahnya karena saat ini dia memang belum siap untuk menikah. Bukan karena tidak mau bertanggung jawab hanya saja keadaannya yang belum matang. Vico harus membantu meringankan beban orang tuanya belum lagi adiknya Zahra masih sekolah dan butuh banyak biaya. Vico benar-benar bingung harus apa namun pasrah dengan tuntutan Marinka, yang dipikirkannya saat ini adalah menghubungi Silvi untuk membicarakan hal ini.


__ADS_2