
Marinka sedang menikmati makan siangnya bersama teman-teman arisannya. "Jeng, hari ini dandanan kamu cantik banget," puji seorang temannya pada dirinya.
"Iya ni jeng Sisca, kayak ga tahu aja. Namanya juga istri CEO pastinya dandanannya harus selalu fresh dong," celetuk salah satu dari mereka yang duduk diantara Sisca dan Marinka, sambil terkekeh bersama.
"Iya itu kalung juga kinclong amat yak," ujar seorang lagi sambil memperhatikan kalung berlian yang dimelingkar indah dileher jenjangnya.
"Aduh, jeng Sisca,jeng Vani, Jeng Lani bisa aja. Kalian juga pada cantik dan fresh. Ni juga kado ultah pernikahan dari mas Adi," wajah Marinka memerah sambil memamerkan kalungnya.
tiba-tiba saja handphonenya bergetar. Marinka langsung mengambilnya dari tas dior berwarna hitam miliknya kemudian menekan tombol hijau.
"Halo"
"Maaf bu. Ini saya Debi sekretaris pak Adi, saya mau kasih tahu kalau pak Adi sekarang ada di rumah sakit Harapan Kasih. Mohon segera ke sini bu," jelas seorang wanita padanya.
"Apa? Rumah Sakit? Mas Adi kenapa?!!" Marinka tiba-tiba histeris dan wajahnya berubah menjadi tegang.
"Pak Adi kena serangan jantung bu."
"Ya sudah saya ke sana sekarang juga."
Telponnya diputuskan sepihak oleh Marinka.
Dia memasukkan handphonenya ke dalam tas kecil dior itu kembali. "Jeng, kayaknya saya ga bisa lanjut kumpul-kumpulnya. Saya mesti ke Rumah sakit," dirinya bergegas beranjak dari tempat duduknya.
"Siapa yang sakit jeng?" tanya Sisca penasaran melihat wajah panik Marinka.
"Mas Adi," jawabnya singkat. Dengan terburu-buru Marinka menuju ke parkiran untuk mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
Teman-temannya yang tadinya bergembira melihat Marinka yang melongos pergi begitu saja, hanya saling menatap bingung pada Marinka.
Marinka benar-benar tidak bisa tenang saat megendarai mobilnya. Hatinya sangat gelisah dan cemas. Dia melajukan mobilnya dengan sangat tinggi, jantungnya berdegub menjadi sangat kencang saat mendapat kabar buruk tentang suaminua. Lampu merah menghadang jalannya,membuatnya hilang kesabaran dan membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Belum lagi kemacetan ibu kota membuatnya semakin panik. Bahkan Marinka hampir saja menabrak seorang penyebrang jalan yang melintas bersama anaknya.
Marinka benar-benar dibuat sport jantung. Matanya terbelalak sambil menginjak remnya. Terdengar bunyi menciut dari ban mobilnya, si penyebrang jalanpun ikut terkejut bukan main, hingga menghentikan langkahnya kemudian memeluk balita yang menyebrang bersamanya.
"Kamu ga apa-apakan nak?" wanita muda itu memeluk tubuh mungil anaknya sembari memeriksa tubuh balitanya. Lalu menatap ke arah Marinka.
Marinka yang merasa panik, mengklakson si wanita itu agar segera beranjak dari tempat penyebrangan. Dengan kesal si wanita melangkahkan kakinya untuk segera menjauh. Dasar orang kaya sombong. Bukannya minta maaf malah dia yang marah, gerutu wanita muda itu menatap ke arah mobil Marinka.
Setelah melewati waktu kurang lebih satu setengah jam akhirnya dia tiba di rumah sakit.
"Bu Marinka," sapa Debi yang baru saja akan masuk ke pintu rumah sakit.
__ADS_1
"Debi, gimana keadaan suami saya?"
"Pak Adi udah ditangani sama dokter bu. Ini saya abis tukar resep dokter buat obat dari apotek bu,"
Marinka melihat obat yang dibawa oleh Debi. "Antarkan saya ke ruangannya sekarang," pinta Marinka pada sekretaris berambut sebahu dan berkulit putih itu. Debi segera mengantarkan Marinka ke ruang inap Adi.
Baru saja masuk ke ruangan itu dia langsung memeluk erat tubuh suaminya. Saat ini Adi sedang tertidur karena obat penenang yang diberikan dokter padanya.
"Dokter gimana keadaan suami saya?" Marinka masih terlihat panik dan khawatir akan keadaan Adi.
"Pak Adi hanya kelelahan dan banyak pikiran bu. Jadi beliau mesti banyak istirahat. Saya baru saja menyuntikkan obat penenang tadi," jelas dokter itu.
Marinka menatap wajah suaminya yang kini tak berdaya di bangsal rumah sakit.
Silvi yang baru saja melihat handphonenya mendapatkan notifikasi dari Marinka.
[Mama: Silvi cepat datang ke rumah sakit papa kamu kena serangan jantung]
Silvi bergegas menuju ke rumah sakit diantarkan dengan mobil oleh pak Suryo.
"Ma, gimana keadaan papa?" Silvi berlari ke arah Marinka tanpa menghiraukan kondisinya yang sedang hamil muda.
Debi,Airin dan Risma yang dari tadi menemani Marinka hanya memperhatikan Silvi, karena kondisi Silvi saat inilah mereka jadi bergosip tentang dirinya sehingga membuat Adi jadi terkena serangan jantung seperti sekarang ini.
Mereka saling menatap merasa tidak enak berlama-lama ditempat itu dan takut kalau nanti Marinka menanyakan penyebab Adi sampai berada di rumah sakit. Akhirnya mereka bertiga beranjak pergi dari hadapan mereka secepatnya.
"Jadi itu ya anaknya sibos?" tanya Risma dengan wajah penasaran.
Debi dan Airin hanya menaikkan bahu mereka sambil menatap bingung.
"Gue ga tau jug sich, tapi kemungkinan iya, " jawab Debi sekenanya.
***
Farel baru saja sampai dirumahnya. Dirinya benar-benar panik saat bertemu dengan Vico saat di bengkel. Dia takut kalau semua kekacauan yang terjadi pada Vico dan sepupunya Silvi. Dia menenangkan dirinya sejenak disofa, mengingat kejadian video yang diedarkannya. Untung saja dia telah meretas video itu dengan cepat kalau tidak pasti akan jadi masalah besar untuk dirinya.
"Kamu udah pulang nak?" tanya Farah menghampiri putranya.
"Eh, mama. Iya ni ma," jawab Farel sambil menoleh ke arah Farah.
Johan baru saja pulang dan bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Papa punya kabar bagus," ujarnya dengan senyum penuh makna.
"Roman-romannya papa lagi senang ni," tebak Farel melihat wajah papanya yang terlihat sangat cerah. Tidak seperti biasanya selalu memperlihatkan wajah dinginnya.
"Iya dong. Emangnya kalian ga mau tahu apa yang bikin papa sesenang ini?"
"Emang papa senangnya kenapa?
"Adi masuk rumah sakit,"
"Emang papa senang lihat saudara papa masuk rumah sakit gitu"
"Ya ga gitu juga kali. Papa kasian juga lihat dia dirumah sakit tapi kejadian di kantor tadi yang bikin papa senang," bibirnya melengkung ke atas penuh kebahagiaan.
"Emang mas Adi kenapa sich mas?"
"Tadi tu entah dari mana asalnya tiba-tiba video syur Silvi dan Vico tersebar ke seluruh karyawan kantor,"
"Kok bisa sich mas?" Farah menunjukkan ekspresi bingungnya.
"Ya mana aku tahu sayang, yang jelas tadi dia kelihatan shock banget. Apalagi pas karyawannya ngegosipin dia. Bikin dia kepikiran jadinya kena serangan jantung," jelas Johan pada mereka.
Farel hanya terdiam. Dia sadar akan perbuatannya kali ini benar-benar kelewat batas. Farel tidak pernah menduga perbuatannya itu bisa membuat pamannya itu sampai berada dirumah sakit. Padahal video yang diunggah di web waktu itu sudah diretas olehnya, tapi bisa tersebar luas.
"Terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Farah pada suaminya.
"Kata dokter udah mendingan ga sampai parah, tapi satu hal yang paling bikin aku senang karena mulai besok untuk sementara waktu aku yang akan menghandle perusahaan,"
"Wah, kesempatan besar itu pa," wajah Farah terlihat berbinar mendengarkan ucapan suaminya.
"Iya, makanya aku bilang aku senang banget. Akhirnya impianku untuk mengendalikan perusahaan papa bisa tercapai," jelasnya lagi.
Terang saja dia berbicara seperti itu. Dari dulu Johan sangat ingin mengendalikan perusahaan itu,tapi karena dia lebih muda dari Adi. Makanya Adi yang mengelola perusahaan mereka.
"Tapi mas, tadi kamu udah liat keadaannya mas Adi belum?
"Udah kok, tadi pas dia pingsan di kantor aku ikut bantu gotong dia ke ambulance dan di rumah sakit aku juga udah nungguin dia. Cuma tadi aku langsung pulang dan ga ketemu sama Marinka dan Silvi anakya," jelasnya pada Farah.
"Wah kalau begitu besok aku sama Farel mesti ke rumah sakit dong," tukas Farah sambil memperlihatkan senyum sinisnya.
Farel hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan kedua orang tuanya. Mereka sangat senang melihat orang lain terluka dan hal ini yang membuat Farel jengah. Dia selalu dituntut untuk mengikuti semua ambisi dari kedua orang tuanya yang serakah itu.
__ADS_1