Menikah Dini

Menikah Dini
Kelucuan Baby Anindya


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, segala daya upaya telah dilakukan Vico dan Silvi untuk pencarian baby twins tapi sayang. Pencarian mereka tidak menemukan titik terang. Kemana lagi mereka harus mencari putri mereka?


Sementara itu, baby Anindya telah semakin menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.


Bayi mungil itu telah menunjukkan lengannya yang  semakin kuat. Saat Silvi sedang memangkunya untuk bermain, bayi mungil yang cantik itu mulai bisa menggunakan sikunya untuk mengangkat badannya, tanpa harus bertumpu ke samping.


"Anak mama pinter banget, sejak kapan ya, kira kira putri cantik mama sudah mulai bisa melakukannya?"


Ucap Silvi pada baby Anindya yang mulai mencoba menopang tubuh mungilnya dengan sikunya.


Bayi mungil itu meracau kegirangan seolah meanggapi ucapan sang mama. Kembali lagi bayi mungil itu menggunakan siku untuk menopang tubuh bagian atasnya dengan kuat, seakan iya ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah mulai memiliki kemampuan untuk menopang tubuhnya, menandakan perkenmbangan motorik pada anggota tubuh bagian atasnya berfungsi dengan baik.


Sesekali dia terjatuh karena tak kuasa menyeimbangi kekuatan dirinya dengan tubuh mungilnya yang masih ringkih. Silvi yang melihat kondisi bayinya itu tanggap dan memegangi sang bayi agar tak terjatuh.


"Eh... anak papa lagi apa ni? Aktif bener ni."


Vico yang baru saja selesai mandi melihat keaktifan bayinya mencoba menyapanya.


Sang bayipun merespon dengan berteriak kegirangan seakan dia berkata "pa, lihatlah aku telah bisa menggerakkan tubuhku." 


"Pinternya kamu nak. Lagi nyoba menopang badannya dia ya sayang."  Tukas Vico pada Silvi sambil menatap gemas bayinya.


"Iya ni mas. Dari tadi dia semangat banget buat menggerakkan badannya. Walaupun masih sering jatuh tapi aku pegangin biar ga kaget dianya mas."


Silvi sangat protektif melindungi bayinya agar tidak terluka.


"Iya sayang. Sini sebentar papa mau gendong kamu. Duh... beratnya anak papa. Udah mulai gembul ni kesayangan papa." Ujar Vico yang keberatan menggendong bayinya.


"Terakhir berat Anindya berapa yang?"


"Kemarin habis imunisasi beratnya 5,5 kg mas."


"Wah... pantesan berat. Anak papa gemoy banget ni." Ujar Vico sambil mencium pipi putri kecilnya.


"Iya mas. Dia kuat banget nyusu makanya gemoy. Aktif lagi." Tukas Silvi sambil mengusap pelan kepala putrinya.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Jaga bocil baik-baik ya sayang." Ucap Vico sambil meletakkan bayinya ke stroller.


Silvi melepas kepergian suaminya dari rumah sambil membawa baby Anindya di dalam stroller. Saat di depan pintu rumah dirinya menangkup punggung tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu dan lelaki itupun membalas dengan mengecup puncak kepala wanitanya. Lalu segera berangkat ke kantor.


***


Ditempat berbeda, Reynold dan Clara sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Di sebuah hotel mewah mereka telah menyiapkan resepsi pernikahan mereka.

__ADS_1


Reynold yang terlihat begitu tampan dengan setelan jas hitam didampingi Clara yang mengenakan gaun Ball gown berwarna basic putih dengan detail motif warna-warni yang memberikan kesan modern, dilengkapi dengan crown cantik dan tatanan rambut sanggul croissant chignon yang simple nan elegan berada diatas pelaminan yang di dekorasi dengan hiasan bunga berwarna putih senada dengan gaun yang dikenakan  Clara menampilkan kesan mewah suasana pernikahan mereka. Semua mata tertuju pada Reynold dan Clara, karena malam itu mereka bak pangeran dan putri raja.


Abimana, Safira dan Mr. Anderson yang menatap anak-anak mereka begitu terharu, karena saat ini anak-anak mereka telah resmi menikah dan dua keluarga telah menjadi satu.


Disela-sela kebahagiaan mereka, tiba-tiba saja datang seseorang menghampiri Abimana.


"Pak, maaf ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada bapak." Ujar lelaki itu pada Abimana sambil berbisik ditelinga Abimana.


"Jean, ada apa katakan padaku."


Sambil melihat ke arah semua pengunjung untuk memastikan keamanan. Lelaki itu mengajak Abimana untuk bicara berdua dengannya.


"Maaf pak, saya ingin membicarakan ini empat mata saja pada bapak." Tukas lelaki yang bernama Jean.


"Baiklah. Aku akan segera menemuimu."


Jean segera undur diri dan menunggu Abimana di parkiran.


"Mas, ada apa kok Jean tiba-tiba mendatangi mas?"


"Mas juga ga tahu sayang, kayaknya ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakannya. Kamu tunggu disini bersama yang lainnya ya. Nanti aku kembali lagi." Pinta Abimana pada istrinya.


"Ya sudah mas lanjut aja menemui Jean. Aku akan tunggu disini, tapi jangan lama-lama ya."


Abimana bergegas menuju ke parkiran, dimana Jean telah menunggu kedatangannya.


"Jean, apa yang ingin kau bicarakan?" Abimana mensejajarkan tubuhnya dihadapan orang kepercayaannya itu.


"Pak, gawat data perusahaan kita di retas." Ucap lelaki itu dengan berhati-hati.


Lelaki itu tidak ingin permasalahan di perusahaan Abimana Group diketahui oleh seorangpun ditempat itu.


"Apa? Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah Reynold sudah memberikan kepercayaan pada Victory untuk menghandle perusahaan?"


"Iya pak, tapi entah apa sebabnya data perusahaan telah diretas oleh seseorang, ini akan sangat berbahaya untuk perusahaan kita tuan."


"Aneh sekali bagaimana perusahaan kita bisa kebobolan begitu? Kau cari tahu penyebabnya. Jangan sampai berita ini menyebar ke relasi ataupun rival kita. Ini akan berbahaya." Titah Abimana pada Jean.


Benar yang dikatakan Abimana, itu sangat berbahaya. Jika colleganya mengetahui hal itu pasti semua kontrak dan kerja sama ysng telah terjalin akan dibatalkan karena tidak akan ada perusahaan manapun yang mau bekerjasama dengan perusahaan yang akan segera collabs. 


"Baik tuan, saya akan mencari tahu penyebabnya." Tukas lelaki itu mematuhi titah tuannya.


"Oh ya. Jangan sampai Reynold mengetahui hal ini dulu. Dia baru saja menikah, aku tidak ingin hal ini akan merusak kebahagiaannya." Ujar Abimana lagi.

__ADS_1


"Iya tuan saya akan menjaga supaya berita ini tidak tersebar pada siapapun."


Abimana yang baru saja mendapatkan kabar buruk tentang perusahaannya merasa gelisah dan kebingungan. Dirinya dihadapkan pada dilema, apakah harus menyelidiki permasalahan yang terjadi di peruhaannya ataukah akan tetap berada di resepsi penikahan putranya.


"Mas Abi" Suara seorang wanita tiba-tiba memanggil namanya.


Abimana yang sedang dilanda kecemasan terperanjat mendengar suara itu. Wanita yang baru saja memanggilnya itu ternyata istrinya sendiri.


"Safira, bagaimana kamu tahu mas ada disini?" Tanya Abimana pada sang istri yang menghampirinya.


"Tentu saja aku tahu mas. Sebenarnya tadi aku mengikutimu, karena aku merasa khawatir sama kamu mas." Jelas wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dalam pandangannya itu.


"A... apa? Kamu mengikutiku? Apa kau mendengarkan semua pembicaraanku dengan Jean?"


Abimana mendadak gugup dengan kedatangan Safira saat ini.


"Iya mas. Aku mendengar semuanya. Aku tahu kau menemui orang kepercayaanmu mas."


Abimana terhenyak dengan ucapan sang istri. Dia merasa akan segera luluh kedalam tanah saat mendengarkan ucapan istrinya.


"Jadi benar mas, perusahaan kita sedang dalam masalah?"


"Iya sayang, ada yang meretas data perusahaan." Ucap Bimana sambil.mengusap wajahnya kasar.


"Lantas bagaimana? Di sana juga ada Victory apa dia tidak bisa menanggulanginya?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku hanya berharap Victory akan menyelesaikan permasalahan ini.


"Apa mas sudah menghubunginya?"


"Aku sudah menghubunginya tapi telponnya tidak aktif." Jelas Abimana pada Safira.


"Lalu bagaimana mas?"


"Sekarang kita akan melanjutkan dulu resepsi pernikahan mereka. Jika suasana sudah aman kita akan beri tahu Reynold  tentang ini semua."


"Iya mas. Kita harus menyelesaikan urusan pernikahan ini."


Safira langsung menyetujui ucapan sang suami.


Mereka tidak ingin merusak kebahagiaan putra mereka yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan menjadi berantakan dengan masalah yang baru saja mereka hadapi.


Safira dan Abimana memutuskan untuk menutupi dulu dari Reynold. Kemudian mereka masuk kembali ke acara resepsi pernikahan itu.

__ADS_1


__ADS_2